
"Mau kemana kamu, Git? Masuk ke dalam!" perintah Fandi.
"Aku mau-"
Belum selesai Inggit bicara Fandi sudah memotong ucapannya. "Masuk!" bentak Fandi.
Dalvin tak suka melihat Inggit dibentak, ia pun turun tangan. "Hei, Bung! Jangan main bentak pada perempuan dong!"
"Heh, jangan ganggu rumah tangga orang lain!" balas Fandi tak mau kalah.
"Siapa yang ganggu. Kita lagi membicarakan pekerjaan. Anda saja yang berpikiran jelek," balas Dalvin.
"Enggak ada pekerjaan sampai menyuruh istri orang pergi di saat ada suamianya!" balas Fandi lagi.
"Suami yang mana dulu nih? Suami yang baik atau suami yang dzolim?"
"Heh, jangan sok jago ya! Kamu pikir aku takut!" Fandi maju dan hendak menonjok Dalvin.
Dalvin mengelak dan pukulan Fandi lolos darinya. Kesal karena Inggit selalu disakiti, Dalvin pun melayangkan pukulan namun Fandi juga mengelak.
"Stop! Berhenti kalian berdua!" teriak Inggit.
Dalvin menarik kemeja Fandi. Fandi juga menarik kerah baju Dalvin. Keduanya berhenti saat Inggit berteriak.
"Kalau kalian tak mau berhenti, aku panggil Pak RT nih!" ancam Inggit. Terpaksa Fandi duluan melepas kerah maju Dalvin. Ia warga baru dan tak mau terkena masalah kalau berurusan dengan RT setempat. Dalvin pun demikian, ia melepas kerah baju Fandi dengan kesal. Rasanya ia ingin tinju sampai muka Fandi bonyok saja.
"Mas, pergilah ke kantor. Aku akan pergi bersama Mas Dalvin," kata Inggit dengan tegas.
__ADS_1
"Tapi kamu tak bisa pergi dengan lelaki lain. Kamu istri Mas loh, Git!" protes Fandi.
"Aku tahu, Mas. Aku pergi dengan Mas Dalvin untuk urusan pekerjaan, bukan untuk urusan yang lain!" jawab Inggit.
Inggit kini menatap ke arah Dalvin. "Tunggu aku 10 menit lagi, Mas. Aku mau siap-siap!"
Inggit meninggalkan Dalvin dan Fandi yang saling melempar tatapan tak suka. Dalvin menjulurkan lidahnya pada Fandi karena menang satu langkah.
"Awas saja! Tak akan kubiarkan Inggit mendekati kamu lagi. Dia istriku!" balas Fandi.
"Oh ya? Inggit sendiri yang mau pergi sama aku, wek!" Dalvin kembali meledek Fandi.
Tak lama Inggit keluar rumah dan siap pergi bersama Dalvin. "Git, jangan pergi!" pinta Fandi. Tangan Fandi memegang lengan Inggit, melarangnya untuk pergi dengan lelaki tampan nan seksi itu.
"Maaf, Mas. Aku sedang mengejar masa depan karirku. Aku sudah pernah mengejar masa depan rumah tanggaku dengan Mas namun Mas tak peduli. Lebih baik aku mengejar yang pasti saja dalam hidupku. Aku pergi!" Inggit melepaskan tangan Fandi dan pergi menuju Dalvin.
"Ya, kalau itu memang benar suamimu. Bukan suami yang memperdayamu untuk melakukan pernikahan yang hanya sebatas akting semata."
"Darimana kamu bisa menyimpulkan hal itu?" tanya Inggit heran.
Dalvin mengeluarkan sebuah artikel dan memberikannya pada Inggit. "Dia belum bisa melupakan kekasihnya dan pernikahan kalian hanya untuk kedok semata. Benar demikian bukan?"
Inggit menatap foto Naura, artis terkenal yang selalu Dara bandingkan dengannya. Naura, wanita yang selama ini ada dalam hati Fandi dan tak akan pernah bisa Inggit geser posisinya.
"Jangan tanya darimana aku tahu. Aku punya orang dalam," kata Dalvin sambil tersenyum misterius.
Inggit semakin penasaran dengan Dalvin. Kenapa Dalvin tahu banyak hal dalam dirinya. Siapa Dalvin? Apa pekerjaannya?
__ADS_1
"Jangan menatapku begitu. Kebetulan saja aku tahu. Jangan berpikir yang tidak-tidak tentangku atau aku akan menciummu lagi seperti malam itu?" Dalvin kembali tersenyum sambil fokus mengemudi.
Inggit mengurungkan niatnya untuk bertanya. Bayangan meja besar di dapur dan ciuman Dalvin kembali melintas, membuat wajah Inggit bersemu merah. Inggit memilih diam menikmati perjalanan mereka bertemu calon kliennya.
Dalvin memarkirkan mobilnya di halaman sebuah restoran yang terletak di dekat pantai. "Kita sudah sampai." Dalvin membukakan pintu mobil untuk Inggit. Perlakuan spesial hanya untuk Inggit seorang.
Di dalam restoran, seorang bapak berusia sekitar 50 tahun sudah menunggu kedatangan Inggit. Dalvin memperkenalkan Inggit pada kolektor seni tersebut. Kolektor tersebut terlihat bak orang banyak uang. Terlihat dari aura yang terpancar dalam dirinya.
"Senang bisa bertemu dengan pelukis yang karyanya begitu memukau," puji kolektor seni tersebut.
"Terima kasih atas pujiannya. Saya merasa tersanjung karena karya saya bisa disukai orang hebat seperti Bapak," balas Inggit.
"Karya kamu mengingatkan saya dengan sahabat lama saya, Alvian Nugraha. Seorang pelukis terkenal yang hanya menuliskan identitasnya dengan inisial a.n," kata kolektor seni tersebut. "Saya Sumanto, kolektor seni yang hanya memilih seni berkualitas untuk dikoleksi."
"Saya Inggit, seniman baru dalam bidang ini. Maaf sekali saya kurang pengetahuan sampai tak tahu siapa Alvian Nugraha. Akan saya cari tahu nanti. Terima kasih sekali karena karya saya bisa dilirik oleh Pak Sumanto ...." Inggit dan Pak Sumanto mengobrol dengan akrab. Dalvin tetap di samping Inggit, menemani Inggit menggapai impiannya.
Inggit dan Pak Sumanto hanya berbincang-bincang tak lama. Pak Sumanto berjanji akan datang ke pameran berikutnya dan membeli karya seni milik Inggit. Pak Sumanto lalu pamit dan meninggalkan Inggit yang sangat bahagia karena karya seninya sudah diincar sang kolektor untuk dibeli, membuat Inggit semakin semangat untuk berkarya lagi.
Inggit lalu mengobrol dengan Dalvin. Ia mengungkapkan kebahagiaannya karena ada kolektor seni yang tertarik dengan hasil karyanya. Mata Inggit nampak berbinar saat membicarakan tentang seni, seperti menggambarkan impian besar dalam dirinya. Dalvin mendengarkan cerita Inggit yang terlihat bersemangat sekali sampai ada seseorang yang memanggil nama Dalvin.
"Dalvin? Benar itu kamu?" Seorang perempuan cantik berhenti di depan meja mereka. "Ya Tuhan, itu benar kamu!"
Inggit menatap wanita di depannya. Inggit sangat mengenalnya. Bagaimana tidak, mereka dibesarkan di panti asuhan yang sama. "Kak Indah?"
Dalvin terkejut melihat Inggit mengenal Indah, mantan kekasihnya yang dulu memutuskan hubungan dengannya dan memilih pergi bersama lelaki lain. "Kamu ... kenal dia?"
"Tentu saja, Kak Indah adalah Kakakku!"
__ADS_1
****