
Pemberitaan di media massa kini mulai ramai membahas tentang keterlibatan Pak Sumanto, calon presiden yang diusung oleh salah satu partai besar dalam pembunuhan pelukis terkenal Alvian Nugraha. Netizen mulai ramai dan mengawal kasus tersebut sampai terbongkar. Mau tak mau, kepolisian harus turun tangan. Citra mereka yang sudah terlanjur jelek di mata masyarakat harus diperbaiki.
Penyelidikan tentang kematian Alvian Nugraha kembali dibuka. Ada beberapa saksi yang ternyata melihat pada hari itu ada beberapa orang yang berdiri dan berjaga di depan rumah Alvian Nugraha. Tentunya saksi tersebut harus dilindungi.
Bukti rekaman yang disimpan oleh Alvian Nugraha pun mulai disebar oleh Dalvin. Ia tak mau barang bukti penting tersebut hilang jika hanya dirinya saja yang memegangnya. Kini, entah sudah berapa banyak netizen yang menyimpan dan mengupload kembali bukti tersebut. Pak Sumanto cs sudah tak akan bisa memusnahkan bukti kuat tersebut.
Surat perintah larangan ke luar negeri untuk Pak Sumanto pun sudah dikeluarkan. Polisi bergerak cepat dan langsung menangkap Pak Sumanto. Statusnya kini memang masih menjadi saksi namun tak lama lagi pasti akan berubah menjadi tersangka.
Rupanya, dari hasil otopsi ditemukan sidik jari yang rupanya melekat di tubuh Pak Alvian Nugraha. Karena tidak diketahui siapa pelakunya, sidik jari tersebut tetap disimpan dan menjadi misteri. Kini saat sidik jari tersebut dicocokan dengan Pak Sumanto, hasilnya 99% akurat. Pak Sumanto memang pembunuh orang tua Inggit.
Persidangan pun digelar setelah semua barang bukti lengkap. Akhirnya, Dalvin dan Inggit keluar dari persembunyian mereka. Persidangan yang dilakukan secara terbuka dan ditonton oleh jutaan orang di televisi dan aplikasi nonton streaming membuat terjadinya kecurangan semakin minim.
Dalvin bersaksi kalau dia melihat Pak Sumanto sedang menganiaya Pak Alvian Nugraha. Dalvin menceritakan secara rinci bagaimana kronologis kejadiannya sampai Pak Alvian Nugraha meregang nyawa demi sebuah lukisan. Ternyata di dalam lukisan tersebut menyimpan barang bukti kecurangan Pak Sumanto.
Saat Hakim bertanya apa buktinya kalau memang itu dilakukan oleh Pak Sumanto, Dalvin pun menyebutkan tato yang dimiliki oleh Pak Sumanto. Hakim lalu menyuruh penyelidik untuk memeriksa tato tersebut. Benar saja, tato tersebut masih ada sampai sekarang.
Saksi kedua adalah Inggit, yang tak lain adalah Angel, anak kandung dari Alvian Nugraha. Inggit pun bersaksi sama seperti Dalvin, dia melihat saat itu Papanya sedang disiksa namun karena mementingkan keselamatan dirinya, Dalvin menyuruh Inggit untuk kabur. Inggit sama seperti Dalvin, Inggit melihat wajah Pak Sumanto yang kala itu masih muda. Beberapa barang bukti pun diajukan oleh Dalvin sebagai pelengkap kesaksiannya dan Inggit. Hakim menerima semuanya.
__ADS_1
Proses persidangan yang terus dikawal oleh netizen tak berlangsung berbelit-belit. Banyak dari kubu saingan politik Pak Sumanto yang juga ingin Pak Sumanto hancur. Banyak yang memberikan bukti yang selama ini diam-diam mereka miliki tentang kecurangan Pak Sumanto. Sementara partai politik yang mengusung Pak Sumanto malah seakan cuci tangan, tak mau membela sama sekali calon yang mereka usung karena tak mau citranya di mata masyarakat semakin jelek.
Hakim pun memutuskan kalau Pak Sumanto bersalah karena sudah melakukan tindakan pembunuhan dan beberapa perbuatan melanggar hukum lainnya, seperti pencemaran lingkungan dan percobaan menghilangkan barang bukti. Pak Sumanto dihukum dengan hukuman mati.
Bagaimana dengan Fandi? Setelah Inggit mengajukan gugatan cerai secara resmi di pengadilan agama, Fandi berniat untuk rujuk kembali pada Inggit namun dengan tegas Inggit tolak. Berita tentang Fandi yang melakukan pernikahan hanya untuk menutup skandal buruk tentang dirinya pun menyebar di kalangan masyarakat. Apalagi kasus sabotase yang melibatkan perusahaan miliknya membuat nama Fandi semakin hancur dan perusahaannya juga terancam bangkrut.
Mama Olla dan Dara terus diburu oleh wartawan yang haus akan berita tentang Fandi. Mereka tak tahu harus bersembunyi di mana lagi. Perusahaan Fandi yang mulai oleng, membuat Mama Olla dan Dara tak ada pemasukan. Mereka menjual semua aset dan memilih untuk tinggal di luar kota. Mereka merasa Jakarta sudah tak ada tempat untuk mereka tinggal.
Saham perusahaan Fandi terus anjlok, Rezvan tak ada niat untuk membeli saham tersebut. Akhirnya, Inggit yang mengambil alih. Dengan harta peninggalan dari kedua orang tuanya yang ternyata banyak sekali, Inggit membeli saham tersebut dan kini Inggit menjadi pemilik saham terbesar di perusahaan Fandi.
Dengan kepintaran Inggit, perusahaan Fandi mulai bangkit dan bahkan lebih sukses dari sebelumnya. Inggit yang pintar meski tak pernah mengenyam bangku kuliah sebelumnya belajar keras dari Dalvin. Ia mau menjadi pemimpin yang bisa memimpin perusahaan dengan baik.
Dalvin pun bertambah sukses, seperti Inggit. Keberaniannya mengungkap kasus yang melibatkan calon terkuat membuat dirinya banyak diincar untuk diusung menjadi calon pemimpin berikutnya. Tawaran-tawaran politik mulai berdatangan untuk Dalvin.
"Mohon maaf sekali untuk semua tawaran politik yang datang ke saya, bukan saya sombong dan menolak tawaran. Saya merasa diri saya masih belum baik untuk menjadi pemimpin. Pemimpin itu harus yang pintar, bijak, adil dan mendengarkan suara rakyat, sedangkan saya merasa diri saya belum sanggup," kata Dalvin saat memberi keterangan pada wartawan yang terus memburu dirinya.
Walau Dalvin menolak, namun masyarakat yang begitu mengidolakan Dalvin seakan tak henti memberi dukungan untuknya. Sosial media Dalvin dipenuhi dengan bujukan dari masyarakat agar Dalvin maju sebagai gubernur, jika tidak mau menjadi presiden.
__ADS_1
"Bagaimana ini, Gel? Apa yang harus aku lakukan?" tanya Dalvin yang kini kembali memanggil nama Angel, nama Inggit yang sebenarnya.
"Lakukan apa yang menurutmu baik. Menjadi orang yang bermanfaat bagi sesamanya itu lebih baik. Masyarakat percaya sama kamu. Emban amanat yang masyarakat berikan, karena harapan mereka, kamu akan menjadi pemimpin yang baik dan memajukan kota ini," kata Angel yang setuju dengan masyarakat yang mendukung Dalvin.
"Kalau aku maju sebagai gubernur, apa kamu mau mendampingiku, ibu calon gubernur?" Dalvin mengeluarkan cincin berlian yang sudah ia siapkan untuk melamar Angel.
"Kamu ... melamarku?" Angel tak percaya dengan kejutan yang diterimanya.
"Sebenarnya sejak beberapa bulan lalu aku mau melakukannya namun kamu terlalu sibuk dengan perusahaan barumu itu. Aku tak mau mengganggumu. Sekarang, jika aku maju sebagai gubernur, tentu aku memerlukan ibu gubernur yang akan mendampingiku di setiap tugasku. Maukah kamu menerima pinanganku?" Dalvin berlutut dan memohon Angel menerima lamarannya.
Angel tersenyum, hatinya berbunga-bunga saat lelaki yang dicintainya melamarnya. "Mau banget. Kapan kita nikah?" Angel menerima cincin berlian Dalvin yang Dalvin pakaikan di jari manisnya.
"Besok mau?"
"Boleh. Tak perlu pesta, yang penting resmi, setuju?"
"Setuju!" Dalvin memajukan dirinya dan mencium Angel. "You are my Angel. I love you!"
__ADS_1
****