Godaan Tetangga Seksi

Godaan Tetangga Seksi
Bermain Harta Karun


__ADS_3

Inggit berdiri dengan dibantu Dalvin. Inggit pergi ke kamar kedua orang tuanya yang kosong melompong tanpa sedikitpun barang yang tersisa. "Ingat, kalau kamu tak sanggup, sudahi sampai di sini. Jangan memaksakan dirimu!"


"Ingat yang bisa kamu ingat mumpung kita ada di rumah ini," imbuh Fandi.


Dalvin menatap Fandi dengan tatapan kurang suka. "Jangan memaksa Inggit!"


"Aku tak memaksa. Aku hanya tak mau Inggit beberapa kali harus bolak-balik ke rumah ini. Rumah ini tuh sudah terasa angker tahu! Mau berapa lama kita di rumah menyeramkan ini lagi?" keluh Fandi.


"Kamu di luar saja. Biar Inggit, aku yang temani! Selama apapun dia, aku akan temani!" kata Dalvin dengan gusar.


"Lupa kalau dia istriku?" sindir Fandi.


"Tidak. Aku ingat tapi aku tak peduli. Bagiku, kesehatan Inggit yang utama melebihi apapun!" balas Dalvin.


"Sudahlah, kalian jangan bertengkar. Aku tak apa kok, hanya sedikit pusing saja. Ayo, kita lanjutkan lagi pencariannya!" Inggit lagi-lagi melerai perdebatan keduanya.


Inggit melihat kamar yang luas dan kosong ini. Dulu, Angel kecil suka bermain di kamar ini. Membuat kemah di dalamnya bersama Papa dan Mama yang juga ikut serta.


Sama seperti kamarnya, kamar Papa Alvian juga dihiasi lukisan indah hasil karya tangan emasnya. Sayang, karena tak terurus, lukisan tersebut terlihat usang. Inggit mendekati lukisan yang agak berdebu tersebut lalu mengelap debunya.


Tanpa sepengetahuan Dalvin dan Fandi, Inggit berpura-pura mengelap namun membaca tulisan kecil yang Papanya tulis. Jika orang lain yang membacanya, membutuhkan media cermin namun karena Inggit sudah terbiasa, ia dengan cepat membacanya.


"Di tempat ini Papa menyembunyikan rahasia itu. Ingat, jangan pernah memberitahu pada siapapun," pesan Pak Alvian pada Angel kecil.


"Memangnya apa yang Papa sembunyikan?" tanya Angel kecil dengan polosnya.


"Sebuah rahasia." Pak Alvian membisikkan sesuatu ke telinga Angel kecil. Angel mengangguk mengerti.


"Seperti permainan harta karun ya, Pa?" tanya Angel kecil.


"Benar. Kamu yang tahu dimana letak harta karun yang sebenarnya."

__ADS_1


"Aku tahu dimana letak harta karunnya," racau Inggit membuat Dalvin dan Fandi yang masih saling sindir terdiam.


Inggit pergi ke ruang tengah dan melihat lemari besar milik keluarganya masih kokoh berdiri di sana. Mungkin karena berat tak ada yang mau mengambilnya. Lemari tersebut juga terlihat kuno, menimbulkan kesan seram bagi yang tak tahu.


Inggit masuk ke dalam lemari tersebut dan menggeser bagian tengahnya. "Tolong bantu aku!"


Fandi maju duluan dan membantu Inggit menggeser lemari seperti yang Inggit lakukan. Lemari yang agak macet tersebut perlahan terbuka. Ternyata di dalamnya ada sebuah ruang kosong dan ... sebuah lukisan.


"Wow! Ada ruang rahasia ternyata!" Fandi berdecak kagum. Fandi maju dan mengambil sebuah lukisan. "Lukisan apa ini?"


"Lukisan yang selama ini banyak orang cari," jawab Inggit.


Fandi mengeluarkan lukisan tersebut dari dalam lemari dan membawanya ke tempat yang lebih terang. "Memangnya apa istimewanya lukisan ini? Biasa saja!" kata Fandi.


"Orang awam seperti kita tak akan mengerti. Hanya orang yang berjiwa seni yang mengerti." Dalvin mendekat dan menatap lukisan pembawa petaka tersebut. "Karena lukisan ini kedua orang tuamu sampai meregang nyawa, Git?"


Inggit menghampiri dan mengusap lukisan di depannya. "Iya. Menyedihkan sekali bukan?"


"Entahlah. Aku tak tahu. Entah alasan apa yang membuat Papa mempertahankan lukisan ini bahkan sampai bertaruh nyawa. Aku masih terlalu kecil untuk mengetahuinya." Inggit menatap lukisan yang tak pudar di makan waktu. Papanya bilang kalau menggunakan kanvas dan cat kualitas bagus, akan awet lama. Ternyata apa yang Papanya katakan memang benar kenyataan.


"Sekarang, mau kita apakan lukisan ini?" tanya Dalvin.


"Entahlah."


"Buat Om-ku saja!" jawab Fandi.


Dalvin dan Inggit berbalik badan. Terlihat Fandi tengah memegang ponselnya sambil tersenyum. "Om, lukisan itu sudah kutemukan. Cepat ambil!"


"Mas, maksud kamu apa?" tanya Inggit. "Siapa Om kamu?"


Dalvin maju dan melindungi tubuh Inggit. "Aku mengerti sekarang kenapa kamu bisa lolos dari mereka. Ternyata mereka memang komplotanmu?"

__ADS_1


"Komplotan? Maksud kamu apa, Mas?" Inggit kini menatap Dalvin yang terlihat marah.


"Git, ayo, kita tinggalkan tempat ini!" Dalvin menarik tangan Inggit namun sayang di pintu depan sudah ada dua anak buah yang tadi mengikuti Dalvin di makam. Mereka tidak terkecoh melainkan pura-pura terkecoh.


Fandi mengambil lukisan tersebut dan melenggang pergi dengan santai. "Terima kasih ya, Sayang. Tidak sia-sia ingatanmu kembali lagi. Aku pikir, kita bisa menjadi suami istri yang sebenarnya. Sayang, ternyata kamu adalah orang yang selama ini Om-ku cari. Inggit Katharina, mulai hari ini kamu aku ceraikan."


Fandi tersenyum puas bisa mendapatkan lukisan yang selama ini ia cari. Ia berjalan keluar meninggalkan Dalvin yang berusaha melindungi Inggit dari anak buah suruhan Om Fandi.


"Mas, kamu tega sama aku, Mas!" ratap Inggit dengan berderai air mata. Ia tak sangka, Fandi yang dipikirnya sudah berubah ternyata punya niat lain..


"Maaf, Git, semua ini demi perusahaanku yang sedang goyang karena kasus sabotase proyek Mangkudewa. Berkat Om-ku, perusahaanku selamat. Hanya ini yang bisa kulakukan demi mempertahankan perusahaan peninggalan Papaku. Terima kasih kamu sudah menjadi istriku selama ini. Aku tak akan melupakan semua jasamu. Kamu tenang saja, aku akan meminta Om-ku untuk membiarkanmu hidup." Fandi pergi meninggalkan Inggit yang menangis sedih. Sakit rasanya dikhianati orang yang selama ini dicintai.


"Fandi sialan, lihat saja pembalasanku nanti!" ancam Dalvin.


Fandi mengacungkan jari tengah ke arah Dalvin lalu pergi dengan senyum kemenangan di wajahnya. Dalvin menatap kepergian Fandi dengan penuh amarah. Anak buah suruhan Om Fandi masuk ke dalam rumah Inggit.


Dalvin berusaha melindungi Inggit. Beberapa kali ia terkena pukulan namun ia tak berhenti melawan. Ia terus melindungi Inggit sekuat tenaga.


Sambil menangis karena kecewa dikhianati, Inggit membantu Dalvin. Ia mengambil apa saja yang bisa dijadikan senjata untuk melawan. Tak lama anak buah Dalvin datang. Pertarungan yang semula tak imbang kini menemukan lawan sepadan. Anak buah Dalvin akhirnya berhasil menangkap anak buah suruhan Om Fandi.


"Tenanglah. Kita sudah aman!" Dalvin memeluk Inggit yang ketakutan. Inggit takut Dalvin terluka karenanya.


"Maafkan aku, Mas. Maaf ... karena aku memaksa kembali ke rumah ini, kamu jadi terluka. Maaf!" Inggit menangis karena merasa bersalah.


"Sudahlah. Aku tak apa. Yang penting kamu selamat!" Dalvin memastikan tak ada sedikitpun luka yang menggores Inggit. "Lelaki sialan itu ... tunggu saja pembalasanku!"


Inggit selalu mengingat pesan Papanya. "Jangan pernah percaya pada siapapun kecuali pada yang benar-benar tulus menyayangimu!"


"Tenanglah, Mas." Inggit lalu membisikkan sesuatu pada Dalvin.


"APA?"

__ADS_1


***


__ADS_2