
Inggit merasa segar kembali setelah membersihkan tubuhnya. Ia tadi diantar oleh Mama Dalvin ke kamar tamu. Sebuah kamar yang besar dan nyaman. Karena kedatangan Inggit mendadak, Inggit dipinjami Mama Dalvin pakaian ganti. Pakaian yang dipesan untuk Inggit baru akan datang besok pagi.
Inggit bersyukur bisa berada di sekitar orang-orang baik. Inggit bisa tertidur pulas di tempat tinggal barunya. Pagi-pagi sekali Inggit sudah pergi ke dapur. Ia membantu Mama Dalvin membuatkan sarapan untuk orang rumah.
"Git, nanti tolong bawakan sarapan untuk Dalvin ya ke kamarnya. Anak itu kalau sudah bekerja tak akan berhenti, bahkan sampai lupa makan kalau tidak diingatkan!" kata Mama Dalvin.
"Mas Dalvin ... bekerja semalaman, Tante?" tanya Inggit.
"Sudah pasti. Anak itu tipikal orang yang penasaran. Kalau sudah penasaran, anak itu akan terus mencari tahu sampai ketemu. Kalau tidak, ia tidak bisa tenang. Tante sih sudah biasa dengan sifatnya yang seperti itu. Wajar saja kalau dia bisa menjadi pengusaha sukses di usianya yang masih muda. Dia tekun dalam mengerjakan sesuatu. Salah satu contohnya adalah mencari kamu,"
"Meskipun Dalvin terpuruk karena trauma melihat kedua orang tua kamu meninggal di depan matanya, yang membuat dia tetap bertahan adalah kamu. Dalvin terus mencari keberadaan kamu. Ia kembali lagi ke rumah itu lalu menelusuri satu persatu jejak yang tersisa. Kami enggak bisa menahannya. Dokter pun bilang, salah satu terapi terbaik adalah dengan membiarkannya menghadapi masa lalunya yang kelam,"
"Sekarang terbukti, setelah hampir 10 tahun lebih dia mencari, akhirnya dia bisa bertemu dengan kamu. Sebenarnya kami khawatir dengan keselamatannya, Papa Dalvin bilang, Papa akan melindungi Dalvin dari jauh. Selalu ada orang suruhan Papa yang mengikuti Dalvin kemanapun dia berada, karena itu, kemarin saat terjadi insiden yang tidak dinginkan, orang suruhan Papa langsung menghubungi kami dan langsung mengerahkan orang-orang untuk menyelamatkan kalian. Tante enggak bisa membayangkan kalau Dalvin sampai terluka lagi," kata Mama Dalvin panjang lebar.
Inggit semakin merasa bersalah. Semua ini karena dirinya yang ingin kembali lagi ke rumah itu. "Maafkan aku ya, Tante. Semua ini karena aku. Dalvin menuruti permintaanku untuk kembali ke rumah itu padahal Dalvin jelas-jelas tahu kalau kami akan sangat berbahaya kalau kembali ke rumah itu lagi. Aku hanya ingin mengembalikan seluruh ingatanku secara utuh. Maaf ya Tante, aku kembali mencelakakan Dalvin. " Inggit menundukkan wajahnya dan terlihat sekali penyesalan dalam dirinya.
__ADS_1
"Tante mengerti. Tante tidak menyalahkan kamu kok. Dalvin itu sudah dewasa, sudah bisa mengambil keputusan sendiri. Saat dia menginginkan kamu untuk kembali ke rumah itu, artinya dia sudah siap dengan semua konsekuensi yang terjadi. Sayangnya di antara kalian ada penghianat, untung kamu pintar bisa membedakan mana yang tulus menyayangi kamu dan mana yang berpura-pura tidak, semua yang kita lakukan hampir saja sia-sia." Mama Dalvin tersenyum hangat pada Inggit. Ia sama sekali tidak menyalahkan Inggit atas semua yang sudah terjadi. "Ya sudah, tolong kamu antarkan ke kamar Dalvin ya."
"Iya, Tante." Inggit pun membawakan sarapan untuk Dalvin ke atas. Inggit mengetuk pintu kamar Dalvin dan setelah diijinkan iaa masuk ke dalam.
Kamar Dalvin sangat luas. Dalvin sedang duduk di lantai yang beralaskan karpet tebal dengan laptop dan beberapa berkas yang berserakan di atasnya. Pakaiannya pun terlihat begitu santai, hanya mengenakan celana pendek dengan kaos tanpa lengan. Dari kejauhan saja Inggit sudah bisa melihat otot-otot kekar Dalvin yang menyembul dan begitu menggoda siapapun yang melihatnya.
"Pagi, Mas!" sapa Inggit dengan senyum di wajahnya.
"Pagi, Inggit Sayang! Sini!" Dalvin menepuk sisi sebelahnya yang kosong dan menyuruh Inggit untuk duduk.
Inggit tersipu malu mendengar ucapan Dalvin. "Kamu bisa saja, Mas. Sarapan dulu, Mas. Aku dengar, kamu semalaman begadang demi menyelesaikan masalahku. Maaf ya Mas, gara-gara aku kamu jadi super sibuk seperti ini. Aku sudah merepotkan banyak orang, Mas, dengan masalahku."
"Tak apa. Kecil ini bagiku. Aku sudah menemukan banyak bahan untuk menyerang mereka. Kamu jangan merasa bersalah seperti itu padaku. Bukan hanya kamu yang terlibat dalam masalah ini, aku juga. Papa begitu dendam pada mereka karena sudah mencelakakan nyawaku. Kesempatan ini tak akan kami sia-siakan. Barang bukti di lukisan Papa kamu adalah senjata untuk melawan mereka. Aku tak mau membiarkan orang seperti itu menjadi pemimpin negeri ini."
Dalvin lalu menikmati sarapannya dengan lahap. Setelah sarapannya habis, ia kembali bertanya pada Inggit, "Oh iya, Git, aku masih penasaran dengan cerita kamu. Kenapa kamu enggak pernah dibawa ke acara keluarga mereka? Kalau alasannya karena kamu itu memalukan, kayaknya enggak masuk diakal deh. Buktinya aku sering melihat Fandi ada di halaman majalah dengan kamu di sampingnya. Berarti kamu tidak terlalu memalukan bukan untuk dipamerkan di depan umum?" tanya Dalvin.
__ADS_1
"Sejujurnya bukan itu alasan utamanya, Mas. Keluarga besar Mas Fandi selalu bertanya kapan aku hamil? Mas Dalvin pasti sering mendengar berita tentang Mas Fandi yang dianggap tidak menyukai lawan jenis. Aku juga tak percaya dengan itu semua. Mas Fandi begitu mencintaiku, setidaknya itu yang aku tangkap saat ia mendekati dan melamarku. Ternyata, aku hanya dijadikan alat oleh Mas Fandi untuk menaikkan citra dirinya di depan publik. Aku sering ikut pemotretan dan wawancara. Mas Fandi memperlihatkan kepada publik Kalau kami adalah pasangan yang serasi dan saling mencintai,"
"Sayangnya, keluarga Mas Fandi itu begitu kritis. Setiap kali ada pertemuan, Mama Olla tak pernah mengijinkan aku untuk datang. Mereka selalu bertanya kapan aku hamil? Apa benar Fandi itu menyukai sesama jenis? Mama Olla enggak mau aku menjawab satupun pertanyaan mereka, karena itu aku enggak pernah datang," jawab Inggit dengan jujur.
"Ya ... kamu tinggal jawab saja, memang belum waktunya hamil. Kamu sudah periksa ke dokter? Kata dokter apa? Ya katakan saja sama mereka dengan jujur. Seharusnya kamu tuh bisa membela diri kamu agar mereka tidak terus bertanya."
Inggit tersenyum mendengar perkataan Dalvin. "Aku enggak akan bisa hamil, Mas."
"Loh, kenapa? Kalian 'kan suami istri, ya ... kalaupun kamu memang tidak berhasil hamil dengan cara yang biasa, kalian tuh bisa menggunakan bayi tabung atau metode-metode kesehatan lain untuk memiliki anak bukan?"
"Ya kalau memang kami suami istri yang sebenarnya, Mas. Nyatanya selama 3 tahun ini, Mas Fandi tak pernah menyentuhku."
Mata Dalvin membola mendengar perkataan Inggit. "Apa? Tidak pernah menyentuhmu? Maksudnya apa? Jangan bilang kalau kamu ini masih perawan?"
"Ya. Aku memang masih perawan."
__ADS_1
****