
Inggit tentu saja heran dengan sikap Dalvin. Setelah membuatnya kecewa, Dalvin malah bersikap seolah mereka sudah lama tak bertemu padahal baru semalam mereka bertemu.
"Kamu kenapa sih, Mas?" tanya Inggit heran.
"Tak apa. Aku hanya ... sangat senang bertemu kamu lagi." Dalvin tersenyum dengan mata yang sudah tergenang air mata. "Aku senang ... bisa bertemu kamu lagi."
Kini air mata yang sejak tadi menggenangi mata Dalvin sudah menetes tanpa bisa ia tahan lagi. Inggit semakin heran dengan perubahan sikap dalvin yang tak biasanya ini. Dalvin yang biasanya ceria dan suka seenaknya, kini berubah menjadi Dalvin yang terkesan melankolis.
"Memangnya kita enggak pernah ketemu gitu? Bukankah semalam kita ketemu dan Mas terlihat senang banget ketemu dengan Kak Indah?" sindir Inggit. Rasa kesal Inggit kembali datang mengingat Dalvin yang ternyata adalah mantan kekasih Indah, kakak angkatnya di panti asuhan. Inggit melepaskan pelukan Dalvin.
"Indah itu hanya masa laluku. Dulu aku dekat dengan Indah karena kupikir ... Indah adalah orang yang kukenal, ternyata aku salah. Intinya aku dan Indah sudah tak ada hubungan apa-apa lagi. Kamu sendiri bagaimana? Apa Fandi menyakiti kamu lagi?" Dalvin memeriksa tangan dan wajah Inggit. Memastikan Angel-nya tak terluka sedikitpun.
"Aku tak apa, Mas. Mas Fandi memperlakukanku dengan baik bahkan Mas Fandi mengajakku baikkan," jawab Inggit dengan jujur.
"Apa? Baikkan? Terus kamu mau? Jangan mau ya! Dia sudah jahat sama kamu selama 3 tahun ini. Aku tak rela kamu baikkan lagi sama dia!" kata Dalvin dengan wajah serius.
Inggit mengerutkan keningnya. Dalvin memang suka ikut campur dan seenaknya namun sikapnya sekarang lebih terlihat seperti over protective. Benar-benar tidak seperti Dalvin yang Inggit kenal.
"Kenapa kamu yang tak rela, Mas? Kamu lupa kalau aku ini istrinya Mas Fandi?" Inggit menatap Dalvin dengan tajam. Dalvin seperti orang yang amnesia. Inggit mengangkat tangannya dan menempelkannya di kening Dalvin. "Tidak panas. Apa kamu habis terbentur sesuatu, Mas? Kamu tuh aneh tau. Kayak orang yang amnesia."
"Aku bukan amnesia, Git. Aku hanya baru mendapat harta karun. Aku bahagia sekali. Aku ingat kok kalau suami kamu menyebalkan dan suka menyakiti hati kamu. Sekarang, suami kamu sedang pergi kerja bukan? Ayo, kita jalan-jalan!" Dalvin seenaknya saja menarik tangan Inggit.
"Mas, tunggu. Apa sih narik-narik tanganku? Memang kita mau kemana? Mas enggak lihat aku pakai baju kayak begini?" Inggit melepaskan tangan Dalvin.
"Nanti Mas belikan di Mall baju yang baru. Kita mau jalan-jalan, ayo, kamu ikut sama Mas!" Dalvin kembali meraih tangan Inggit namun Inggit kembali menghempaskannya.
"Rumah aku belum dikunci. Ponsel aku di dalam. Kalau mau pergi, tunggu sebentar. Aku ambil ponsel dan dompet dulu!" Inggit masuk ke dalam rumahnya dan kembali tak lama kemudian.
__ADS_1
Dalvin menyambut Inggit dengan senyum tampannya. Dibukakannya pintu mobil untuk Inggit dan dipakaikannya seat belt. "Agar kamu aman selalu."
Dalvin pun mengemudikan mobilnya menuju Mall terdekat. Sesuai janjinya, Dalvin masuk ke dalam toko baju dan memilihkan baju yang bagus untuk Inggit. Dalvin juga membelikan tas yang mahal sebagai perayaan karena sudah bertemu lagi dengan Angel.
"Mas, kamu tak perlu membelikanku semua ini. Untuk apa?" Inggit sejak tadi melihat Dalvin sibuk memilih baju dan tas untuknya.
"Untuk kamu. Aku memang sudah berniat membelikanmu semua ini. Sekarang kamu coba deh. Aku mau lihat kamu memakai semua baju yang aku pilih!" Dalvin menyerahkan beberapa helai baju dan menyuruh Inggit mencobanya satu persatu.
Inggit menurut saja. Semua baju pilihan Dalvin terlihat cocok di tubuh Inggit.
"Oke. Aku mau beli semuanya!"
Mata Inggit membola mendengar Dalvin membelikannya semua baju mahal yang ia coba. Harga satu pc baju saja paling murah satu juta. Ini bukan satu atau dua baju tapi setumpuk. Inggit benar-benar tercengang dengan sikap Dalvin..
"Mas, untuk apa semua baju ini? Yang terpenting, bagaimana aku bisa membayar semuanya? Uang penjualan lukisan dan tabunganku pun tak cukup," protes Inggit.
"Aku yang mau beli, berarti aku yang akan membayarnya. Sudah, kamu tenang saja. Pakai baju ini ke tempat-tempat yang akan membuat kamu bahagia. Pakai baju ini saat kamu pameran lukisan. Kamu harus terlihat cantik, oke?" Dalvin mengambil sepasang flat shoes dengan hiasan batu berkilau di atasnya. "Berapa nomor sepatu kamu?"
Dalvin lalu meminta pelayan toko membawakan nomor sepatu yang ia minta. Dalvin lalu berjongkok dan memakaikan Inggit sepatu pilihannya.
Baru kali ini Inggit diperlakukan begitu spesial oleh lawan jenisnya. Fandi yang suaminya selama 3 tahun pun tak pernah sekalipun berbuat seperti ini padanya.
"Wah, cantik sekali. Pas di kaki kamu," puji Dalvin sambil tersenyum, tampan sekali.
"Saya mau sepatu ini juga." Dalvin lalu berjalan ke kasir dan membayar semua belanjaan hari ini.
Mata Inggit membulat melihat total belanjaan yang harus Dalvin bayar. Sebuah jumlah yang besar hanya untuk membeli baju, tas dan sepatu. Inggit yang biasanya dapat tas dari donatur merasa amat bersyukut menerima semuanya. Dalvin keluar dari toko dengan banyak barang belanjaan di tangannya.
__ADS_1
"Mas, aku tak bisa menerima semua ini tanpa membayar. Bagaimana aku bisa membayar semua ini, Mas?" tanya Inggit yang merasa tak enak hati.
"Aku sudah bilang kalau aku memang mau membelikannya untuk kamu. Kalau kamu tak enak hati, kamu bisa membayarnya dengan diri kamu." Dalvin menatap serius ke arah Inggit.
"Diri aku?" Inggit menutupi dadanya dengan kedua tangannya.
Dalvin tersenyum melihat ulah Inggit. "Tenang, aku tidak mesum seperti yang kamu pikir. Mencicipi kamu sekali saja sudah membuatku ketagihan, bahaya. Aku tak mau ketagihan sebelum kamu resmi berpisah dengan suamimu. Aku mau kamu temani aku jalan, kamu setuju?"
"Hanya menemani jalan saja?"
"Memangnya mau kamu apa? Mau yang lain?"
"Bu-bukan itu maksudku."
Dalvin tersenyum menggoda. Ia menatap Inggit dengan tatapan penuh kasih. "Aku mengerti. Aku sudah cukup senang bisa jalan dan membahagiakan kamu. Ayo, kita lanjutkan jalan-jalan kita!"
Baru saja Dalvin hendak mengajak Inggit jalan, ponsel miliknya berbunyi. "Aku angkat telepon dulu ya!"
Dalvin menjauh sedikit dari Inggit dan mengangkat ponselnya. "Ada apa?"
"Lapor, Bos. Sejak tadi ada yang terus mengikuti Bos."
Dalvin pelan-pelan menengok agar tak mencurigakan. Ia menangkap dua orang pria sedang berpura-pura mengobrol sambil memperhatikannya. "Arah jam 2?"
"Betul, Bos."
"Biarkan saja dulu. Aku ingin tahu siapa mereka dan apa yang mereka inginkan, Aku atau Inggit. Kalian tetap awasi kami, terutama Inggit. Jangan sampai lengah. Ingat, keselamatan Inggit yang utama!"
__ADS_1
"Siap, Bos!"
***