Godaan Tetangga Seksi

Godaan Tetangga Seksi
Membujuk Inggit


__ADS_3

Inggit terlihat sangat bersemangat mengikuti pameran seni yang diadakan oleh salah satu rumah seni terkenal di kalangan para seniman. Beruntung Dalvin memiliki koneksi orang dalam sehingga memudahkan Inggit mendaftar untuk mengikuti pameran seni yang hanya diikuti oleh seniman tertentu saja. Karya seni Inggit lolos kualifikasi bukan karena koneksi Dalvin tapi karena karya Inggit memang memiliki keunikan tersendiri.


Setiap pengunjung bisa membeli karya seni yang dipamerkan. Banyak pengamat seni yang datang menikmati beragam karya seni yang dipamerkan hari ini. Rupanya banyak pula yang berhenti di depan lukisan dan patung tanah liat buatan Inggit.


"Wow, bagus sekali lukisannya. Melihat lukisan ini mengingatkan saya dengan lukisan salah seorang pelukis terkenal yang kini sudah tak pernah menelurkan karya barunya lagi. Goresan, warna dan arti yang tersemat dalam lukisan kalian kurang lebih mirip. Hanya saja karya dari Mbak Inggit ini terkesan lebih berjiwa muda. Saya suka. Saya mau beli lukisan ini!" ujar salah seorang kolektor seni.


Inggit senang karena hasil karyanya laku terjual dengan harga yang lumayan mahal. Ia tak menyangka kalau bakat seninya akan disukai oleh orang lain. Pujian demi pujian pun dialamatkan untuk Inggit.


Dalvin menunggu Inggit dengan setia selama berada di pameran sampai pameran selesai. Dalvin juga mengantar Inggit sampai rumah. Ia senang melihat Inggit begitu bahagia tak sedih lagi karena ulah suaminya. Ada tujuan hidup dalam sorot mata Inggit kini, tak lagi terlihat pasrah dan menerima nasib seperti sebelumnya.


"Kamu keren, Git! Aku bangga sama kamu!" Dalvin tersenyum seraya mengacak rambut Inggit.


"Semua karena Mas Dalvin yang membuatku mau melangkah maju. Terima kasih ya, Mas."


"Sama-sama. Mulai sekarang kamu bisa mengerjakan karya seni yang kamu suka. Berkreasilah sesukamu, Git. Aku yakin, selain mendapatkan kebahagiaan, kamu juga bisa mendapat pemasukan. Banyak yang menyukai karya kamu loh. Itu artinya kamu memang hebat. Semangat Inggit!"


Inggit tersenyum senang mendengar pujian dan kata semangat dari Dalvin. Semangat dalam dirinya kembali bertambah saja, semua berkat Dalvin.

__ADS_1


Rupanya di rumah, Fandi sudah pulang. Fandi mendapati rumahnya kosong. Fandi mencari keberadaan Inggit namun tak menemukannya. Ada rasa khawatir dan tak enak karena Inggit tak kunjung pulang sampai malam.


Saat mendengar suara mobil, cepat-cepat Fandi keluar rumah dan mendapati Inggit turun dari mobil Dalvin sambil tersenyum senang. Keduanya begitu akrab membuat Fandi tak suka melihatnya.


"Aku masuk dulu ya, Mas Dalvin. Terima kasih banyak atas bantuannya hari ini!" kata Inggit sambil tersenyum. Hanya tersisa sedikit patung buatan Inggit, sisanya semua laku terjual habis hari ini.


"Iya. Jangan lupa kamu persiapkan untuk pameran selanjutnya ya!" Dalvin melirik ke arah Fandi yang menatapnya dengan tajam seakan mau melahapnya hidup-hidup.


Inggit berjalan santai memasuki rumah. Ia melewati Fandi begitu saja. Di dalam rumah, Fandi menanyakan kemana Inggit pergi seharian ini.


Inggit tak menjawab pertanyaan Fandi dan langsung mengunci pintu kamarnya dengan rapat. Fandi menghela nafas kesal. Ia menahan emosinya. Percuma menggedor pintu Inggit, istrinya akan tetap bersikap acuh. Perang dingin antara keduanya masih berlangsung.


Fandi ingin memarahi Inggit namun teringat ancaman Inggit untuk bercerai membuat Fandi urung melakukannya. Ia tak mau berpisah dari Inggit. Sudah 3 tahun mereka menikah dan Inggit selalu bersikap baik padanya. Fandi tak mau bercerai karena Fandi sudah merasa nyaman dengan Inggit. Inggit adalah istri yang baik dan layak dipertahankan menurut Fandi.


Kini Inggit selalu bersikap sangat dingin dan menghindar dari Fandi, membuat Fandi mengalah. Fandi ingin baikkan dengan Inggit. Fandi sadar kalau dirinya memang sudah keterlaluan dengan Inggit. Ia mau memperbaiki semuanya sebelum terlambat. Sebelum Mamanya menjodohkannya dengan wanita lain lagi. Inggit lebih baik karena tak banyak menuntut dan sangat sabar. Fandi pun mulai memperbaiki dirinya.


"Git, aku buat roti bakar nih. Ayo kita sarapan bareng," ajak Fandi meski ia tahu Inggit tak akan mengiyakan ajakannya.

__ADS_1


"Git, sabun cuci dimana ya? Pakaian kotor biar aku saja yang cuci. Kamu lanjutkan saja melukisnya."


"Git, mau jus mangga tidak? Aku buatkan ya buat kamu!"


"Git, mau aku belikan apa nanti pulang dari kantor? Kalau kamu malas masak, kita pesan di luar saja menu yang kamu suka. Kamu mau apa?"


"Git, mau nonton konser musik tidak? Aku bisa carikan tiket."


Berkali-kali diacuhkan tak membuat Fandi patah semangat. Ia terus mencoba membujuk Inggit. Di saat Inggit sedang melukis, Fandi kembali mendatanginya. "Git, ada restoran baru di dekat rumah kita. Konsepnya bagus. Kita makan malam di sana ya? Please ... kita sudah lama loh tidak makan malam di luar!"


Awalnya Inggit masih fokus dengan lukisannya namun Fandi yang tak kunjung pergi membuat konsentrasinya buyar. Ia menatap ke arah Fandi. Suaminya terlihat menatapnya penuh harap agar ia mau ikut.


"Baiklah. Ayo kita pergi," kata Inggit.


Senyum di wajah Fandi merekah. "Serius? Oke. Aku siap-siap dulu ya!"


***

__ADS_1


__ADS_2