
Inggit meminta agar anak buah Dalvin pergi berjaga di depan karena ada yang mau ia tunjukkan. Dalvin mengikuti permintaan Inggit. Kini hanya ada mereka berdua saja di dalam rumah orang tua Inggit.
"Kita tak bisa lebih lama lagi di rumah ini, Git. Bahaya. Aku takut orang suruhan Om-nya Fandi akan datang. Anak buahku mungkin akan kalah kalau melawan mereka," kata Dalvin yang sedikit cemas.
"Tenanglah. Aku tak akan lama. Ayo, ikut aku!" Inggit masuk ke dalam kamar orang tuanya kembali. "Sebenarnya harta karun yang Papa sembunyikan bukan yang Mas Fandi bawa tadi." Inggit menunjuk tulisan kecil yang hanya bisa terbaca jika orang dewasa berlutut.
Dalvin mendekat dan membaca tulisan kecil yang tertera. "Apa ini?"
"Pesan Papaku. Cara membacanya adalah dengan menggunakan media cermin."
Dalvin mendekat dan mencoba membaca tanpa cermin. Memang orang biasa agak sulit membacanya.
"Aku yang artikan saja. Kita tak bisa terlalu lama di rumah ini. Artinya adalah di sudut sebelah kanan, kotak kedua."
"Maksudnya apa?" tanya Dalvin semakin tak mengerti.
"Untunglah rumah ini sudah kosong jadi mudah mencarinya." Inggit pergi ke sudut kamar sebelah kanan lalu mencari lantai kedua. "Di bawah sini. Bisa bantu aku memukulnya?"
Dalvin mengangguk lalu memukul lantai yang Inggit tunjukkan, ternyata lantai tersebut bisa terangkat saat dipukul. Di dalamnya ada kunci kombinasi. Inggit memutar kombinasi sesuai tanggal lahirnya dan rasanya Dalvin tak percaya saat lantai yang tadi terangkat bisa dibuka dan ternyata di dalamnya ada brankas rahasia yang disembunyikan kedua orang tua Inggit.
"Wow, pintar sekali kedua orang tua kamu! Kamu juga pintar, bagaimana kamu bisa menebak kata sandinya?" puji Dalvin.
"Tentu saja tanggal lahirku, mudah bukan? Mungkin Papa sudah menduga hal seperti ini akan terjadi pada kami, sejak lama Papa mengajariku tentang kunci kombinasi." Inggit terkejut melihat isi dalam brangkas tersebut. Inggit mengambil sebuah lukisan kecil yang ada di dalamnya. Ada emas batangan dan sertifikat rumah serta tanah peninggalan kedua orang tuanya.
Inggit menangis sedih melihat betapa kedua orang tuanya amat menyayanginya. Sekian lamanya Inggit lupa kalau ada orang tua yang selama ini begitu mencintainya karena amnesia yang dideritanya.
"Papa ... Mama ...." Air mata terus mengalir di pipi Inggit. Dalvin memeluknya dan menenangkan Inggit.
"Mereka tak pernah meninggalkanmu tanpa apa-apa. Mereka sangat menyayangimu, Git," kata Dalvin seraya mengusap lembut rambut Inggit.
"Iya, Mas."
__ADS_1
"Git, ingat, kita tak bisa berlama-lama di rumah ini. Ayo, bawa semua dan kita pergi ke tempat yang aman!" kata Dalvin.
Inggit menghapus air matanya. "Iya, Mas." Inggit memasukkan berkas ke tas yang ia bawa. Dalvin menyembunyikan lukisan di balik jaketnya agar tak ada yang tahu.
Dengan menggandeng tangan Inggit, Dalvin membawa Inggit keluar dari rumahnya.
"Kita akan kemana sekarang, Mas? Aku tak mungkin pulang ke rumah lagi." Inggit menunduk sedih. "Aku ... sudah diceraikan oleh Mas Fandi. Aku tak menyangka, Mas Fandi akan sejahat itu padaku."
"Kamu tak perlu khawatir. Rumahku banyak. Aku akan membawa kamu ke tempat yang aman. Aku janji tak akan membiarkan mereka menyentuhmu seujung kuku pun!" kata Dalvin dengan sungguh-sungguh.
****
Fandi tersenyum sambil mengemudikan mobilnya. Di sampingnya sebuah lukisan langka karya a.n yang terkenal sudah berhasil ia dapatkan. Kini Fandi bisa bernafas lega. Perusahaannya selamat hanya karena sebuah lukisan.
Fandi teringat saat ia mengikuti Inggit dan Dalvin yang pergi menemui kolektor seni waktu itu. Fandi yang tak sabar menunggu di parkiran mobil, memutuskan untuk turun dari mobil dan menghampiri istrinya yang pergi bersama lelaki lain.
Hati Fandi kesal karena Inggit tak lagi menjadi istri yang penurut semenjak mengenal tetangga baru mereka. Fandi sudah membelikan rumah baru, Fandi juga selalu memberi uang bulanan yang cukup. Kenapa Inggit bukannya makin menurut namun semakin banyak maunya.
Saat hendak masuk ke dalam restoran, Fandi berpapasan dengan seseorang yang dikenalnya. "Om!" panggil Fandi.
Fandi menghampiri Om yang amat diidolakannya tersebut. "Om habis meeting?"
"Habis bertemu seseorang. Kamu ... mau makan siang?"
"Tidak, Om. Aku mau mengomeli istriku yang sedang pergi bersama tetangga sebelah rumah untuk menemui kolektor seni."
"Loh, jangan-jangan istri kamu adalah Inggit?" tebak Pak Sumanto.
"Om kenal?"
"Jelas Om kenal, kami habis ketemuan. Jadi benar istri kamu adalah Inggit?"
__ADS_1
"Benar. Kenapa, Om?"
Pak Sumanto menurunkan nada suaranya. Ia mendekat dan berbicara sambil berbisik pada Fandi. "Om curiga, Inggit adalah anak Alvian yang selama ini menghilang."
"Bagaimana mungkin, Om? Inggit anak yatim piatu. Dia selama ini tinggal di panti asuhan. Tak mungkin dia anak orang yang selama ini Om cari!" elak Fandi.
"Tak ada yang tak mungkin. Om minta kamu terus mengawasi istrimu dan kabari Om jika ada kemajuan!"
"Baik, Om."
Fandi tak menyangka kalau ternyata Inggit memang anak yang selama ini Om-nya cari. Ingatan Inggit yang mulai kembali membuat Fandi mencoba lebih dekat dengannya. Ia mau Inggit percaya kalau dirinya adalah suami yang amat mencintainya.
Sampai akhirnya Inggit pingsan dan mengingat semuanya. Untuk memastikan kebenaran feeling Om-nya, Fandi bertanya pada Dalvin.
Setelah mendapat jawaban dari Dalvin, Fandi mengabarkan Pak Sumanto kalau ia punya informasi penting. Fandi tak bodoh, ia yang sedang terlibat masalah sabotase meminta Pak Sumanto membantunya. Pak Sumanto menggunakan koneksinya untuk membantu Fandi. Perjanjian pun dibuat, Fandi harus memyerahkan lukisan milik Inggit dan Pak Sumanto akan membantu perusahaan Fandi lepas dari masalah hukum.
Fandi pergi ke kantor Pak Sumanto dengan senyum lebar di wajahnya. "Lihat, aku menepati janjiku bukan, Om?" Fandi tersenyum lebar karena berhasil mendapatkan lukisan yang diincar Om-nya sejak lama.
"Mana, sini Om lihat!" Pak Sumanto menerima lukisan yang Fandi berikan. "Wow ... ini benar lukisan asli Alvian. Hebat kamu bisa mendapatkannya!" Pak Sumanto merabaa lukisan asli sahabatnya dulu. Memang kemampuan melukis Alvian tak perlu diragukan lagi.
"Jangan lupa tepati ucapan Om!" tagih Fandi.
"Tenang saja!" Pak Sumanto lalu membuka bingkai lukisan dan mengelurkan lukisan tersebut. Fandi hanya mengamati apa yang Om-nya lakukan dalam diam.
Pak Sumanto sudah mengeluarkan lukisan dan kini sedang mencari sesuatu. Kosong, hanya ada kanvas lukisan dan bingkai saja. "Loh, kenapa tidak ada?"
"Tidak ada? Apa yang tidak ada, Om?" tanya Fandi dengan kening berkerut.
"Kamu yakin lukisan ini adalah lukisan yang disembunyikan oleh Alvian?" tanya Pak Sumanto dengan wajah kesal.
"Yakin, Om. Tempat menyembunyikannya saja agak susah. Aku bahkan harus dorong bersama Inggit. Om tahu sendiri sejak bertemu dengan Om, aku terus bersandiwara di depan Inggit, sampai aku mengarang cerita tentang Naura," jawab Fandi.
__ADS_1
"Ini bukan lukisan tempat Alvian menyembunyikan apa yang Om cari!" Wajah Pak Sumanto merah karena marah. "Pasti istri kamu sudah berbohong! Cepat cari dia!"
****