
Inggit menatap sebuah rumah mewah dan besar di depannya. Ia terpukau melihat betapa besarnya rumah yang dimiliki oleh Dalvin. Hati Inggit bertanya-tanya, kenapa Dalvin lebih memilih tinggal di samping rumahnya dibanding di rumah besarnya ini? Bukankah rumah ini lebih nyaman?
"Ini ... rumah kamu?"
"Iya. Lebih tepatnya rumah kedua orang tuaku."
"Berarti mereka tinggal di rumah ini dong?" tanya Inggit yang begitu terkejut dengan jawaban Dalvin.
"Betul. Justru karena ada mereka, kamu akan lebih aman. Ayo, kita masuk ke dalam. Biar aku perkenalkan kamu sama mereka!" ajak Dalvin.
Inggit agak takut bertemu dengan kedua orang tua Dalvin. Bagaimanapun mereka adalah orang hebat. Salah satu pebisnis yang sukses di negeri ini. Inggit merasa rendah diri. Siapa dirinya dibanding mereka?
Melihat keraguan Inggit, Dalvin mengulurkan tangannya. "Ayo, ada aku! Kamu tenang saja. Mereka baik, kok. Mereka enggak akan menyakiti kamu."
Inggit menyambut uluran tangan Dalvin. Dalvin tersenyum menenangkan Inggit yang nampak gelisah. Mereka lalu memasuki rumah mewah Dalvin.
Di dalam rumah sudah ada Mama dan Papa Dalvin yang terlihat cemas memikirkan keadaan putranya. Saat Dalvin mengabarkan kalau dirinya diserang, Papa Dalvin segera mengirimkan orang untuk mengawal anaknya. Papa dan Mama Dalvin tak mau anaknya trauma seperti dulu.
"Akhirnya kamu pulang juga, Vin!" Mama Dalvin langsung memeluk Dalvin. Papa Dalvin mendekat dan memeriksa keadaan putranya. Ada beberapa bekas memar di tubuhnya.
"Mereka sampai berani menyentuh kamu seperti ini? Akan Papa balas nanti! Beraninya mereka menyakiti kamu!" Papa Dalvin amat marah melihat anaknya terluka.
Kedua orang tua Dalvin terlalu fokus dengan keadaan Dalvin sampai tak menyadari keberadaan Inggit. "Ehem!" Dalvin berdehem agar kedua orang tuanya sadar. "Pa, Ma, kenalin, Inggit!"
Seakan tersadar, kedua orang tua Dalvin menatap wanita yang bersembunyi di belakang Dalvin. Meski agak kusut dengan kedua mata sedikit bengkak sehabis menangis, Inggit terlihat cantik dan imut.
"Inggit?" Mama Dalvin agak bingung.
__ADS_1
"Angel." Dalvin meralat ucapannya. "Angel mengalami amnesia karena kecelakaan waktu kecil. Ia dibesarkan di panti asuhan dan namanya berganti menjadi Inggit Katharina."
Mama Dalvin menatap Inggit dengan tatapan kasihan. Mama Dalvin memeluk Inggit dan mengusap punggungnya dengan penuh kasih sayang. "Ya ampun Angel. Malang nian nasib kamu, Nak. Yang sabar dan tabah ya, Nak!"
Air mata Inggit kembali merebak. Ada orang lain yang menyayanginya. Selama ini tak ada yang benar-benar menyayanginya. Suami yang berpura-pura mencintainya, mertua yang selalu menyiksanya dan adik ipar yang selalu berkata pedas. Inggit terharu, baru saja kenal, Mama Dalvin sudah terlihat begitu baik dan menyayanginya.
"Terima kasih, Tante."
Mama Dalvin melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Inggit. "Ayo, masuk dulu. Tante akan buatkan susu cokelat hangat untuk kamu."
"Iya, kita bicara di ruang keluarga saja!" imbuh Papa Dalvin.
Sambil digandeng tangannya oleh Mama Dalvin, Inggit merasa nyaman dengan keluarga Dalvin yang ramah. Inggit disuguhi banyak makanan dan susu cokelat panas yang lezat buatan Mama Dalvin. Inggit senang berada di tengah-tengah keluarga yang baik hatinya.
Dalvin menjelaskan semua yang terjadi pada Papanya. Dalvin lalu mengeluarkan sebuah lukisan yang sengaja disembunyikan oleh kedua orang tua Inggit.
Ternyata lukisan tersebut lumayan berat, seakan ada benda di dalamnya yang memang disembunyikan dengan rapat. Saat dibuka, benar saja, ada sebuah kepingan CD dengan beberapa pulpen yang berisi rekaman.
Dalvin mengambil laptop lama miliknya untuk memutar CD, sementara itu Papa Dalvin menyalakan pulpen agar mendengar percakapan yang terjadi.
"Alvian, kamu jangan naif deh jadi orang. Kamu bisa lebih sukses dan lebih kaya lagi jika terjun ke dunia politik." Suara Pak Sumanto yang membuat Inggit terbelalak kaget.
"Vin, kok suaranya seperti aku kenal?" tanya Inggit.
"Aku juga. Jangan-jangan dia adalah Om-nya Fandi? Coba kita putar CD-nya dulu!" Dalvin lalu memutar CD. Meski rekamannya tidak stabil namun terlihat jelas obyek dan subyek yang direkamnya.
"Pak Sumanto?" kata Inggit dan Dalvin kompak.
__ADS_1
"Loh, kalian sudah kenal sebelumnya?" Papa Dalvin juga ikut terkejut.
"Jadi Pak Sumanto adalah Om-nya Fandi?" Dalvin menatap Inggit dengan lekat. "Serius kamu tidak tahu? Bukankah kamu sudah menikah 3 tahun dengan Fandi? Memangnya kalian tak pernah ada pertemuan keluarga besar begitu?" Dalvin mengacuhkan pertanyaan Papanya. Ia malah lebih tertarik dengan jawaban Inggit.
Inggit menggelengkan kepalanya. "Aku tak pernah diajak ke pertemuan keluarga mereka."
"Kenapa?" tanya Dalvin dan Mamanya kompak.
"Karena ... aku dianggap memalukan untuk diajak ke acara penting seperti itu," jawab Inggit jujur. "Aku adalah anak yatim piatu, sedangkan mereka berasal dari keluarga kaya. Mama Olla tak mau aku sampai membuat malu keluarganya."
"Ya ampun. Tega sekali sih mereka! Sok kaya, sok bermartabat tapi kelakuan minus!" rutuk Mama Dalvin. "Kita harus beri keluarga mereka pelajaran! Mama sudah dendam kesumat sejak Dalvin kecil dulu!"
Dalvin kembali memutar CD yang berisi rekaman yang diambil secara diam-diam oleh Pak Alvian, Papa Inggit. Semula Pak Alvian sedang merekam momen keluarganya melukis di tepi danau. Tak lama gambar berhenti lalu menyorot beberapa pekerja yang sedang membuka gorong-gorong. Limbah hitam keluar dari dalam gorong-gorong.
Rekaman lainnya diambil Pak Alvian dari kamera yang disembunyikan di dalam tas miliknya. Pabrik milik Pak Sumanto yang berada tak jauh dari danau tempat biasa ia melukis disorot. Sampai sekarang pabrik tersebut masih berdiri namun danau yang dulu asri kini bak kali kotor karena tercemar.
"Wah, jadi pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh Pak Sumanto yang membuat danau jadi kotor dan tercemar. Kalau kita lepas video ini dan data yang Pak Alvian miliki, sudah dipastikan karir Pak Sumanto di kancah politik akan tamat," kata Dalvin.
"Bukankah terlalu beresiko? Biar bagaimanapun dia adalah calon pemimpin yang diusung oleh partai politik besar. Bagaimana kalau ini malah membahayakan kita?" tanya Mama Dalvin.
"Lalu Mama mau kita diam saja melihat semua ini? Ma, ada beberapa daftar suap dan bahan kimia berbahaya yang diproduksi pabrik ini. Kalau Pak Sumanto menjadi presiden, bukankah akan lebih sulit lagi untuk menangkapnya?" balas Dalvin.
"Sebaiknya kita simpan saja semua informasi yang kita miliki, Vin. Aku tak mau kamu berada dalam masalah karena semua informasi ini," kata Inggit.
"Tenanglah. Bukan Dalvin kalau tak bisa bekerja cerdas. Aku akan mengumpulkan lagi data dan bekerja sama dengan perusahaan yang dirugikan. Tenang saja, aku pasti bisa menghancurkan mereka!"
****
__ADS_1