
Inggit bimbang. Cinta manakah yang akan ia pilih? Fandi atau Dalvin?
"Aku ... belum bisa memutuskannya Mas," jawab Inggit.
"Kenapa? Bukankah ini yang kamu mau? Kamu sampai menggodaku agar menghamilimu, Git. Kenapa di saat aku ingin memulai semua yang baru, kamu malah meragu?" tanya Fandi.
Inggit tak bisa mengatakan kalau dirinya sudah tak punya perasaan lagi pada Fandi. Inggit tak bisa mengatakan kalau perhatian dan ciuman lembut Dalvin justru lebih membekas di hatinya. Mengukir nama Dalvin menggantikan Fandi yang selama ini terus mengacuhkannya.
"Kita pulang saja, Mas. Aku lelah. Masih banyak pekerjaan yang harus aku lakukan." Inggit berdiri dan meninggalkan ayunan yang semula memberinya ketenangan.
"Git, tunggu!" Fandi mengejar Inggit namun Inggit tetap melangkah menuju mobilnya. Inggit menutup dirinya dan tak mendengarkan alasan Fandi.
Fandi tersadar, kalau hati Inggit tak lagi tertuju padanya. Ia yang telah membuat rasa kagum dan perasaan sayang Inggit terhadapnya telah pergi.
****
Dalvin menatap makam di depannya dengan tatapan kosong. Hanya gundukan tanah tanpa batu nisan. Papan kayu menjadi penanda kalau pemilik makam adalah jasad tak bernama.
"Bapak tak tahu siapa nama anak itu. Bapak menunggu orang tuanya datang namun tak ada yang datang. Anak ini harus segera dimakamkan, kasihan jika dibiarkan terlalu lama," kata pemilik mobil yang menabrak Angel.
Dalvin mengusap matanya yang terasa memanas. Pencariannya selama bertahun-tahun harus kandas. Angel memang sudah tiada, mengikuti kedua orang tuanya yang sudah lebih dahulu mendahuluinya.
Rasa lelah kini begitu Dalvin rasakan. Cinta pertamanya ternyata memang sudah tiada. Sia-sia semua yang Dalvin lakukan selama ini.
__ADS_1
"Kamu ... tidak mau membongkar makam ini? Siapa tahu kamu tak mempercayai saya," tanya pemilik mobil.
Dalvin menggelengkan kepalanya. "Tak perlu. Saya tak mau mengganggu Angel yang sudah beristirahat dengan tenang." Dalvin berdiri dan hendak pergi.
"Tunggu!" Pemilik mobil membuat langkah Dalvin terhenti. Ia lalu membisikkan sesuatu yang membuat bola mata Dalvin terbelalak.
"Sungguh?" tanya Dalvin tak percaya. "Baik. Saya segera kesana!"
Dalvin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju sebuah tempat yang sangat dikenalnya. Tempat dimana ia mengenal Indah untuk pertama kalinya. Indah yang dipikirnya berhati bak malaikat namun ternyata tega mengkhianatinya.
Dalvin langsung menemui pemilik panti asuhan dan melakukan apa yang disuruh oleh pemilik mobil. "Saya diminta menemui Ibu. Boleh saya tahu dimana Angel berada?" tanya Dalvin dengan sorot mata penuh harap.
Pemilik panti menatap Dalvin penuh selidik. Pemilik mobil tak akan memberitahu keberadaan Angel jika dirasa orang yang mencarinya berniat jahat.
Senyum di wajah Dalvin pun menghilang. Ia seperti sedang menaiki rollercoaster. Diajak naik lalu diterjunkan ke bawah dengan cepat. "Sudah menikah?" tanya Dalvin dengan suara tercekat.
"Ya, satu hal lagi, Angel tak mengingat masa lalunya. Alasan Angel masih tetap hidup sampai saat ini adalah karena kami menyembunyikan keberadaannya. Angel juga bisa hidup tenang dan bahagia karena tak mengingat apa yang terjadi di masa lalunya. Bayangkan kalau Angel mengingat semuanya. Bukankah ia akan menderita?" kata pemilik panti sambil menatap Dalvin dengan tatapan menyelidik.
Pemilik mobil ternyata mengenal Angel. Saat menabrak Angel, pemilik mobil membawanya ke rumah sakit namun sayang Angel mengalami benturan di kepalanya dan hilang ingatan. Tak lama berita tentang keluarga Angel yang dibunuh secara keji membuat pemilik mobil memutuskan untuk menyembunyikan Angel. Dugaannya, Angel tertabrak karena berusaha kabur untuk menyelamatkan diri dari pembunuh yang mengincarnya. Demi keselamatan Angel, pemilik mobil memutuskan menyembunyikan keberadaan Angel dan membiarkan Angel hidup tanpa memori masa lalunya.
"Saya tahu. Saya janji tak akan mengatakan semua tentang masa lalu Angel. Saya ... hanya ingin menjaga Angel." Dalvin berusaha meyakinkan pemilik panti agar pemilik panti memberitahu dimana keberadaan Angel.
"Maaf, saya tak bisa mengatakan dimana Angel," tolak pemilik panti.
__ADS_1
"Termasuk kepada saya, saksi hidup atas dibunuhnya keluarga Angel?" Dalvin menatap pemilik panti dengan tatapan tegas dan serius. "Saya selamat karena bungkam. Dulu, saya tak bisa melindungi Angel tapi kini saya punya kekuatan untuk melindunginya. Tolong pertemukan saya dengan Angel. Saya tak bisa hidup dengan rasa penasaran terus seperti ini."
Pemilik panti menatap Dalvin dan menilai kejujuran dari sorot matanya. "Baiklah. Ini alamat dan identitas Angel selama ini. Berjanjilah untuk merahasiakan identitasnya. Biarkan Angel hidup bahagia."
Pemilik panti lalu menuliskan sebuah nama dan alamat kemudian memberikannya pada Dalvin. Mata Dalvin terbelalak membacanya. "Inggit Katharina?"
****
"Sudah kuduga kalau Inggit mirip dengan Angel. Tatapan matanya, senyumannya, cara berjalannya dan lukisannya. Ya Tuhan, kenapa aku lama sekali menyadarinya kalau sejak lama Angel ada di dekatku?" guman Dalvin sambil mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai ke rumah.
"Inggit!" teriak Dalvin begitu sampai di depan rumah.
"Inggit!" teriak Dalvin lagi dengan tak sabaran.
Tak lama Inggit keluar, wajahnya nampak kesal karena teringat bagaimana Dalvin membiarkan Indah menggenggam tangannya. Saat Inggit hendak protes, Dalvin meraihnya dalam dekapan.
"Oh My God Inggit, akhirnya aku menemukanmu!" Dalvin memeluk Inggit dengan erat seakan tak mau melepaskannya lagi.
"Menemukanku?" tanya Inggit.
Dalvin melepas pelukannya dan menatap Inggit dengan lekat. Tangan Dalvin menangkup wajah Inggit. Angel yang dicarinya kini sudah berubah menjadi gadis cantik nan memukau. "Aku Dalvin, entah kamu mengingatku atau tidak. Mulai sekarang aku yang akan menjagamu. Jangan pernah pergi dari sisiku, oke?"
****
__ADS_1