
Pak Sumanto tersenyum seraya menyapa Inggit dengan ramah. Inggit balas tersenyum pada kolektor seni yang katanya mengagumi hasil karyanya tersebut.
"Bapak juga ada di sini ya?" tanya balik Inggit seraya membalas uluran tangan Pak Sumanto.
"Iya. Saya juga anggota perkumpulan ini. Kamu ... datang bersama siapa? Temanmu yang waktu itu menemani?" tebak Pak Sumanto.
"Oh bukan, Pak." Inggit melihat Fandi berjalan mendekat. "Saya bersama suami saya."
Fandi datang sambil tersenyum pada Inggit.
"Mas, perkenalkan ini Pak Sumanto, kolektor seni yang menyukai lukisanku." Inggit memperkenalkan Pak Sumanto pada Fandi.
"Fandi, suaminya Inggit." Fandi mengulurkan tangannya dan disambut dengan Pak Sumanto.
"Istri Anda punya jiwa seni yang tinggi. Hasil lukisannya sangat indah," puji Pak Sumanto.
Fandi merangkul Inggit sambil tersenyum bangga. "Tentu saja, Pak. Inggit itu hobby sekali melukis. Saya mendukung hobbynya. Saya mau Inggit bahagia bisa menyalurkan hobby seninya tersebut."
Inggit memaksakan senyumnya mendengar perkataan Fandi. "Sejak kapan kamu mendukungku, Mas? Bukankah sejak dulu kamu tak pernah peduli padaku?" batin Inggit.
"Beruntung sekali ya Ibu Inggit memiliki suami seperti Bapak Fandi ini. Sudah sukses sebagai pengusaha, sukses juga menjadi kepala rumah tangga," puji Pak Sumanto.
Inggit semakin malas mendengarnya. Ia tahu kalau Fandi tidak seperti itu. Pak Sumanto kembali bertanya kapan Inggit akan mengadakan pameran lukisan lagi.
"Secepatnya, Pak. Nanti datang ya ke acara saya!" undang Inggit.
"Pasti. Saya adalah fans kamu nomor satu. Saya pasti datang." Pak Sumanto lalu pamit dan hendak menyapa rekan bisnisnya yang lain.
Fandi mengikuti Inggit yang mengambil minuman dan cemilan. "Git, kamu akrab dengan Pak Sumanto?"
"Tidak terlalu akrab sih. Beliau pernah membeli lukisanku dan bilang kalau lukisanku unik," jawab Inggit dengan jujur.
"Wah, kamu keren. Kamu tahu tidak siapa Pak Sumanto?" tanya Fandi dengan mata berbinar-binar.
Inggit mengangkat kedua bahunya. "Tidak tahu."
"Pak Sumanto itu ketua partai, Git. Beliau rencananya akan mencalonkan diri di pemilihan presiden berikutnya. Keren sekali kamu bisa punya fans sehebat dia!" puji Fandi.
__ADS_1
Inggit terkejut mendengar informasi yang Fandi berikan. Tidak ia sangka Pak Sumanto adalah orang hebat. Pantas selalu dikawal.
"Hi, Git!" Suara Dalvin menyapa Inggit dengan riang. "Kamu datang ke sini juga?"
"Hi, Mas. Justru aku yang mau bertanya, Mas datang ke acara ini juga? Kok selama beberapa kali aku datang tak pernah melihat Mas Dalvin sih?" tanya balik Inggit.
"Karena dia tak penting, makanya tidak diundang di acara besar seperti ini!" balas Fandi dengan nada tak suka.
"Sok tahu!" cibir Dalvin. "Aku malas datang. Kalau tahu ada kamu, aku selalu datang deh."
"Sudah, tak perlu datang sekalian. Perusak rumah tangga kayak kamu cuma membuat jelek perkumpulan ini saja!" jawab Fandi dengan pedas.
"Oh ya? Bukankah suami tak bertanggung jawab seperti kamu yang tak seharusnya datang dan memberi pidato? Tak pantas rasanya lelaki pengecut macam kamu memberi pidato di depan. Hanya merusak citra perkumpulan ini saja!" balas Dalvin tak mau kalah.
Inggit menghentikan perselisihan keduanya sebelum semakin besar. "Sudah ya, bapak-bapak. Banyak orang. Jangan membuat malu!"
"Cih, dia yang buat malu. Baru diundang ke perkumpulan saja kelakuannya sudah petantang-petenteng!" Fandi kembali menyulut kemarahan Dalvin.
Tak lama suara MC memanggil pemimpin salah seorang pengusaha muda yang sukses di beberapa sektor ekonomi. "Kami persilahkan kepada Bapak Dalvin Haris selaku pimpinan Haris Group untuk memberikan sambutannya!"
Haris Group adalah salah satu perusahaan besar yang bergerak dalam banyak sektor ekonomi. Haris Group memiliki banyak tambang minyak. Bukan hanya itu, beberapa usaha lain seperti expor impor bahan baku kebutuhan rumah tangga, bisnis hotel dan pariwisata yang terkenal di kalangan turis asing serta beberapa usaha lain menjadikan Haris Group tak bisa dipandang sebelah mata.
Pemimpin Haris Group selama ini jarang terekspose di muka publik. Ia selalu bekerja di belakang layar karena memiliki sifat introvert, tak suka bertemu banyak orang. Kini, Dalvin Haris memberanikan diri untuk tampil di muka publik.
Para wartawan sudah bersiap untuk mengambil gambar. Kesempatan ini tak akan mereka sia-siakan. Mereka menyebutnya Pangeran Haris, lelaki yang selalu misterius dan tak mau menunjukkan identitasnya.
Hari ini Dalvin berani mengungkap identitasnya. Ia yang sudah beberapa tahun menjadi pasien psikiater mulai memberanikan diri bertemu banyak orang. Dalvin harus menunjukkan diri. Ingatan Inggit sedikit demi sedikit mulai pulih. Hanya dengan menjadi orang yang berpengaruh di negeri ini, ia akan bisa melindungi Inggit nantinya.
"Kamu sudah tahu kalau lelaki menyebalkan itu adalah pemimpin Haris Group?" tanya Fandi pada Inggit.
Inggit menjawabnya dengan menggelengkan kepala. Inggit juga tak tahu identitas Dalvin. Baru hari ini ia mengetahuinya.
Inggit terpaku menatap gaya berpidato Dalvin yang sangat berwibawa. Jauh lebih hebat dari Fandi yang biasa berpidato. Aura kepemimpinan Dalvin begitu kentara.
Jantung Inggit berdegup kencang. Lelaki di depan sana adalah Dalvin yang sudah menciumnya. Lelaki yang punya masa lalu kelam dam entah bagaimana Inggit bisa mengetahuinya.
Inggit terdiam menyadari apa yang tiba-tiba melintas di benaknya. "Kenapa aku bisa tahu? Aku bukan cenayang. Aku juga tak mengenal Avin. Tunggu, apa aku memang ada di sana saat kejadian itu?" batin Inggit.
__ADS_1
"Gel, semangat!"
"Kamu pasti bisa, Gel!"
"Lari, Gel! Lari!"
Inggit memejamkan matanya yang terasa sakit sekali. Mimpi buruknya seakan menyatu. Suara lelaki yang menyemangatinya di dalam mimpi terdengar saat Dalvin sedang berpidato, bagai suara gong yang berbunyi kencang memekakkan telinganya.
Air mata Inggit menetes menahan sakit kepala yang ia rasakan. Inggit menutup telinganya yang terus mendengar suara kencang.
"Lagi, Gel! Lari! Selamatkan diri kamu!" Gerakan mulut tanpa suara yang Avin katakan membuat Inggit serasa berlari jauh.
"Mau kemana kamu?" Suara pria yang menangkap anak kecil terasa begitu menyeramkan. "Akhirnya ketemu juga!" Senyum di wajah pria menyeramkan itu terasa membekas di benak Inggit.
Inggit menutup telinganya dan berjongkok di lantai. "Jangan! Jangan tangkap aku. Jangan tangkap aku!" racau Inggit dengan sorot mata kosong dan keringat di kening yang bercucuran.
"Git, kamu kenapa?" tanya Fandi dengan nada cemas.
Inggit tak mendengar perkataan Fandi. Ia terus menutup telinganya sambil meracau tak jelas. "Aku harus kabur. Aku harus pergi. Aku harus menolong Papa dan Mama!"
Fandi memegang tubuh Inggit yang gemetar. Secara tiba-tiba Inggit menggigit tangan Fandi. "Aww!" Fandi mengaduh kesakitan.
"Aku harus pergi ... aku harus menyelamatkan Papa dan Mama!"
Lalu Inggit mendengar suara memekakkan dalam telinganya.
"Tiiiiiiiinnnnn!"
Suara klakson kencang mobil dan suara ban yamg berdecit saat rem diinjak.
"Tidaaakkkk!"
Brukkkk
"INGGIT!"
****
__ADS_1