
"Kalian kemana saja?" tanya Dalvin yang terlihat kesal karena tak berhasil melindungi Inggit.
"Ke ... Mall," jawab Inggit dengan jujur.
"Mall? Bukankah kalian akan lebih mudah tertangkap kalau ke tempat seperti itu?" kata Dalvin masih dengan raut wajah kesal.
Fandi yang baru turun dari mobil segera menjawab pertanyaan Dalvin. "Buktinya aman bukan? Tenanglah, Inggit itu istriku. Akan kulakukan apa saja demi melindunginya."
Dalvin menatap Fandi dengan tatapan tak suka. Kenyataan bahwa Inggit adalah istri Fandi tak bisa terbantahkan. Ia tak bisa berbuat apa-apa selama Inggit masih menikah dengan Fandi.
"Sekarang tidak apa-apa tapi nanti?"
Tak menanggapi perkataan Dalvin, Fandi malah berjalan ke arah rumah yang kini sudah agak bersih. Tak ada rumput ilalang yang kemarin tumbuh liar di halaman rumah. "Ayo kita masuk!" kata Fandi.
Dalvin menatap sebal dengan sikap Fandi yang seenaknya. Ia mengkhawatirkan keadaan Inggit. Saat tahu kalau Inggit dibawa Fandi, Dalvin langsung putar balik dan tak menemukan keberadaannya. Anak buah Dalvin yang masuk ke dalam Mall menemukan kalau mobil Fandi masih terparkir di Mall. Dalvin inisiatif langsung ke tempat tujuan mereka dan benar saja, Fandi datang dengan menggunakan mobil yang berbeda.
Inggit mendekati Dalvin dan menghiburnya. "Aku baik-baik saja kok. Tenanglah. Mas Fandi benar-benar melindungiku seperti apa yang ia katakan."
Senyum Inggit membuat kemarahan Dalvin mereda. "Aku hanya takut kamu kenapa-kenapa saat tak bersamaku."
"Aku akan baik-baik saja. Percaya padaku ya!"
"Sudahlah, ayo kita masuk! Jangan kelamaan di luar! Jangan juga keasyikan bermesraan dengan istri orang," sindir Fandi yang tak tahan melihat kemesraan Inggit dan Dalvin di depan matanya.
Inggit mengikuti langkah Fandi masuk ke dalam rumah yang penuh dengan kenangan masa kecilnya. Halaman yang dulunya ditumbuhi beraneka tanaman hias oleh Mama Nadia kini berantakan. Rumah yang dulu hangat kini bak rumah hantu. Tak ada yang mau mendekat karena pernah terjadi peristiwa pembunuhan di tempat ini. Desas desus kalau rumah ini angker semakin santer beredar membuat siapapun merasa merinding saat melewatinya.
Dalvin sudah membersihkan rumah ini. Untunglah rumah ini terletak di paling pojok. Tak ada yang begitu memperhatikan aktifitas yang terjadi saat rumah dibersihkan.
Inggit melewati halaman dan masuk lewat pintu depan rumahnya. Ruang tamu yang dulu rapi dengan beberapa lukisan karya Papanya kini kosong melompong. Tak ada ahli waris membuat barang-barang di rumah ini banyak dicuri orang masyarakat sekitar.
Masuk ke rumah ini berarti memutar memori indah dan kelam di masa kecil Inggit. Di ruang tamu inilah Papa dan Mama suka saling menggoda dan berlarian macam film India. Inggit tersenyum membayangkan adegan romantis Papa dan Mamanya dulu.
Meninggalkan ruang tamu, Inggit masuk ke ruang keluarga. Tempat paling hangat di rumah ini namun menjadi tempat dimana kedua orang tuanya disiksa. Masih terekam dengan jelas di memori Inggit, Papanya yang berlutut dengan kedua tangan di belakang kepala. Wajah Papanya sudah babak belur dan Mamanya yang menangis dengan tangan terikat.
__ADS_1
Air mata Inggit mengalir deras. Dalvin maju dan menenangkannya. "Kalau tak sanggup, kita akan datang lagi lain kali."
Inggit menggelengkan kepalanya. "Tak apa. Aku sudah menyiapkan diri untuk datang ke rumah ini."
Fandi pun tak mau kalah. Ia maju dan menghibur Inggit. "Jangan memaksakan diri. Aku akan temani lain kali jika kamu mau ke rumah ini lagi."
"Dih, bisa banget nyari mukanya," sindir Dalvin dengan sebal.
"Kenapa? Masalah?" balas Fandi tak mau kalah.
"Sudahlah kalian berdua, jangan bertengkar! Aku mau masuk ke kamarku dulu!" Inggit meninggalkan dua lelaki di belakangnya yang saling mengejek. Inggit masuk ke dalam kamarnya dulu.
Kamar Inggit juga sudah kosong. Tak tersisa lagi barang-barang miliknya namun ada lukisan buatannya saat masih kecil dulu. Lukisan di dinding kamar terlihat estetik meski digambar oleh anak kecil. Beda memang kalau terlahir dari orang tua yang memiliki jiwa seni tinggi.
Inggit teringat memori saat melukisnya dulu. "Kenapa kamu menggambar ini?" tanya Papa Inggit.
"Agar aku tak lupa."
Papa Inggit tersenyum mendengar jawaban Inggit. "Masa sih anak kecil pelupa? Kalah dong sama Papa yang sudah tua?" ledek Papanya. Mereka pun tertawa dan saling mengejek.
Inggit terdiam sejenak lalu tiba-tiba ia berjalan cepat ke ruangan tempat Papanya biasa melukis dengannya dulu. "Ada apa?" tanya Dalvin yang melihat perubahan ekspresi di wajah Inggit.
"Aku sepertinya mengingat sesuatu," jawab Inggit.
Kembali memori saat melukis bersama sang Papa seakan terulang lagi. Sore itu setelah jalan-jalan di Taman Kupu Kupu, Papa Alvian mengajak Angel kecil melukis.
"Wah, bagus sekali lukisan Papa," puji Angel.
"Iya dong," jawab Papa Alvian sambil tersenyum bangga.
"Pa, apa arti lukisan Papa?" tanya Angel.
"Rahasia," jawab Papa Alvian.
__ADS_1
"Ih, Papa! Kok main rahasia-rahasiaan denganku sih?" gerutu Angel.
Papa Alvian tersenyum melihat anaknya yang memberengut kesal. "Artinya rahasia, Sayang. Bukan main rahasia-rahasiaan seperti yang kamu duga."
"Wah ... artinya rahasia. Memang rahasia apa yang tersembunyi di lukisan ini, Pa?" tanya Angel penasaran.
Tatapan mata Papa Alvian terlihat sedih. "Rahasia yang disimpan oleh seorang sahabat terhadap sahabat yang amat disayanginya. Sahabat yang telah berubah menjadi tamak dan serakah demi mendapatkan apa yang ia inginkan."
Angel menatap Papa Alvian yang terlihat sedih. "Sahabat Papa kah itu?"
Papa Alvian mengangguk. "Iya. Sahabat Papa sejak kecil."
"Seperti aku dan Avin?" tanya Angel dengan polosnya.
"Ya ... begitulah."
"Rahasia apa yang Papa simpan dalam lukisan ini?" tanya Angel penasaran.
"Kamu lihat titik kecil di sebelah sini? Jika kamu merobek titik kecil ini, maka kamu akan menemukan rahasia yang Papa simpan. Kamu harus ingat ya, Angel. Ini rahasia kita berdua. Hanya kamu yang tahu! Jangan pernah memberitahukan rahasia kita kepada orang lain. Ingat, kamu harus memegang janji ini ya!" pesan Papa Alvian.
Inggit memegang kepalanya yang berdenyut sakit. Dalvin dengan cepat menghampirinya. "Jangan dipaksa kalau kamu tak ingat. Tak apa."
"Ish, jangan pegang-pegang istri orang seenaknya!" Fandi mendekat dan mengusir Dalvin. Kini Fandi yang memegangi tubuh Inggit.
"Aku tak apa. Aku mulai ingat pesan Papa. Aku harus mencari sebuah lukisan."
"Lukisan? Lukisan apa?" tanya Fandi semakin penasaran.
"Sudah, jangan dipaksa. Jangan sampai kamu pingsan lagi. Sudah dua kali kamu pingsan karena mengingat masa lalumu. Tak apa. Jangan memaksakan dirimu mengingat lebih keras." Dalvin tak suka Fandi mendesak Inggit mengingat memori masa lalunya.
"Dua kali? Bukankah hanya sekali saja?" tanya Fandi.
"Tidak tahu bukan? Kalau kamu memang suami yang sayang sama Inggit, kamu pasti tahu kalau istrimu sudah dua kali pingsan karena teringat masa lalunya. Jangan sok peduli padahal kamu tidak benar-benar peduli!" Dalvin menatap sinis pada Fandi.
__ADS_1
"Aku tak apa. Aku ingat dimana lukisan tersebut."
****