
Fandi terdiam mendengar cerita Dalvin. "Jadi menurutmu, Inggit, maksudku Angel, masih dalam bahaya?"
"Feelingku mengatakan demikian. Aku saja mencari keberadaan Inggit diam-diam karena sangat sulit sekali mendapatkan informasinya. Lebih baik kamu juga menyembunyikan identitas Angel. Cukup kita saja yang tahu," pinta Dalvin.
"Tentu. Aku akan melakukan apapun demi keselamatan istriku. Terima kasih atas informasinya, selanjutnya biar aku saja yang menjaga Inggit. Dia istriku, tanggung jawabku," kata Fandi dengan penuh keyakinan.
"Ya ... kita lihat saja nanti. Kamu tak bisa melarangku. Dia adalah wanita yang kucintai sejak dulu. Kalau dulu aku gagal melindunginya, sekarang tak ada yang bisa menghalangiku untuk menjaganya!" Dalvin mengatakannya dengan wajah serius.
Setelah pamit, Fandi jadi memikirkan perkataan Dalvin. Mungkinkah Dalvin akan merebut Inggit dari sisinya. Kalau dilihat bagaimana kerasnya usaha Dalvin mencari Inggit, bisa dipastikan kalau cinta Dalvin terhadap Inggit lebih dalam darinya. Fandi takut kehilangan Inggit. Fandi kembali ke rumah dan langsung memeluk Inggit.
"Jangan pernah pergi dariku, Git. Jangan tinggalkan aku!" pinta Fandi.
Inggit terdiam. Inggit yakin kalau Fandi sudah tahu bagaimana kisahnya dengan Dalvin. Inggit melepaskan pelukan Fandi dan menatap suaminya dengan lekat.
Semua kini sudah berbeda. Perasaan yang dulu begitu mendalam sampai rela diacuhkan selama tiga tahun kini terasa hampa. Penyebabnya tak lain karena pemilik hati Inggit yang sebenarnya sudah kembali ia ingat. Bagaimana dengan hubungannya nanti dengan Fandi, Inggit pun tak tahu. Satu yang pasti, Inggit memilih untuk mencari tahu penyebab kematian kedua orang tuanya.
"Kamu tahu bukan kalau aku sudah mengingat semuanya?" kata Inggit dengan tatapan sedih.
"Tidak, Git. Tak ada yang berubah meski kamu sudah mengingat semuanya. Kamu tetap istriku. Selamanya akan seperti itu!"
Inggit menggelengkan kepalanya. "Ada yang berbeda, Mas. Aku yang tak lagi sama. Seakan ada jeda kosong selama beberapa tahun ini karena aku yang melupakan semuanya. Kini saat aku mengingatnya kembali, aku merasa kalau aku harus mengisi kembali apa yang aku lupakan."
"Aku akan menemani kamu mengisinya, Git."
Inggit menggelengkan kepalanya. "Kamu tak bisa, Mas. Ada rasa marah dalam sini." Inggit menunjuk dadanya.
"Ada rasa dendam yang tak bisa aku lupakan. Aku harus mencari tahu kenapa kedua orang tuaku dibunuh. Kamu tak bisa membantuku karena hanya Dalvin yang bisa. Kami berdua adalah saksi hidup kejadian naas yang menimpa keluargaku. Dalvin sudah berjuang selama ini demi aku, lalu aku? Aku yang hilang ingatan tak berbuat apa-apa. Maaf, Mas. Aku tak bisa hidup seperti ini terus. Aku ingin mencari tahu semua kebenaran ini."
__ADS_1
"Mas akan tunggu. Sampai kapanpun itu."
"Jangan menungguku, Mas. Mungkin saja aku tak akan pernah kembali." Inggit tak mau memberi Fandi harapan.
Fandi kembali menarik Inggit dalam pelukannya. "Mas akan tunggu. Mas akan lakukan apapun demi melindungimu. Jangan pernah meminta pada Mas untuk menyerah. Lakukan apapun yang kamu mau tapi jangan meminta Mas melepaskanmu!"
****
Inggit duduk di ruang tamu rumah Dalvin. Ia siap mendengarkan semua cerita Dalvin. Kini Inggit sudah lebih tenang, tak seperti sebelumnya yang histeris. Hanya air mata yang menetes, menunjukkan betapa ia sangat sedih kehilangan kedua orang tuanya.
"Aku senang kamu sudah kembali, Gel. I miss you so much," kata Dalvin sambil tersenyum.
Ariel memaksakan senyum di wajahnya meski air mata terus menetes tanpa henti. "I miss you too. Maaf membuat kamu harus mencariku."
"Ini adalah bentuk tanggung jawabku sama kamu. Andai waktu itu aku tidak mengalami trauma pasti kamu sudah selamat. Papaku pasti akan melindungi kamu apapun yang terjadi. Maaf ya, aku telat." Dalvin berdiri dan duduk di samping Inggit. Ia lalu memeluk Inggit dengan erat. "I really miss you. Jangan pernah tinggalin aku lagi."
Dalvin melepaskan pelukan Inggit dan menatapnya dengan lekat. "Aku tahu sorot mata kamu tak pernah berubah sejak dulu. Mungkin sejak saat itu aku merasa kalau kamu adalah wanita yang selama ini aku cari. Aku tak bisa hidup tenang sebelum orang yang mencelakai kedua orang tuamu tertangkap. Apa ada yang bisa kamu ingat lagi? Aku mendengar foto dan sesuatu yang penting yang Papamu simpan sampai si tato macan dan naga itu nekat membunuhmu. Apa Papamu pernah mengatakan sesuatu?"
Inggit menggelengkan kepalanya. "Aku hanya mengingat hari dimana terakhir kali kita bertemu. Sisanya, aku lupa."
Dalvin menghela nafas dalam. "Kalau kamu tak ingat, sudahlah. Aku tak akan memaksa. Yang penting bagiku kamu masih hidup, sehat dan bahagia, meski aku tak pernah ada di memorimu."
Inggit meraih tangan Dalvin. "Maaf karena melupakanmu dalam memoriku. Sekarang, kamu akan selalu ada dalam memoriku. Maaf ... aku ... sudah menikah."
Dalvin tersenyum getir. "Mungkin kita memang tidak berjodoh? Tak apa, aku akan tetap menjagamu. Ingat, aku tetap tetanggamu bukan?"
Kembali rasa bersalah menghantui Inggit. Teringat saat mereka bermain ayunan dulu.
__ADS_1
"Avin, kenapa sedih? Ada yang bisa Angel lakukan agar Avin tak sedih?" bujuk Angel kecil.
"Tak ada. Kamu cuma anak kecil yang tak mengerti permasalahan orang tua!" kata Avin dengan judesnya.
"Ha ... ha ... ha ... Avin juga anak kecil tahu!" Angel menertawakan perkataan Avin, membuat Avin memanyunkan bibirnya.
"Tapi aku mengerti tentang perceraian," ucap Avin pelan.
"Perceraian itu apa?" tanya Angel dengan polosnya.
"Tuh 'kan kamu enggak tau apa itu perceraian. Makanya kamu masih disebut anak kecil!" Avin diam sejenak dengan tatapan mata sedih. "Papa dan Mamaku akan bercerai. Mereka akan berpisah. Aku sedih. Papa memintaku memilih mau ikut siapa."
"Bercerai? Kok begitu? Kenapa mereka berpisah? Tidak boleh, mereka tidak boleh berpisah. Biar aku yang akan bicara sama mereka! Mereka tak boleh membuat Avin sedih!" kata Angel sambil membusungkan dadanya.
Avin tersenyum melihat ulah gadis kecil nan polos di sampingnya. "Sok tahu kamu!" Avin mengusap kepala Angel dengan penuh kasih sayang.
"Aku memang tak tahu sih. Avin tenang saja, saat kita dewasa dan menikah nanti, aku tak akan menceraikan Avin. Kita akan terus bersama selamanya!" kata Angel.
"Menikah? Dasar anak kecil sok tahu!" Avin tertawa terpingkal-pingkal mendengar perkataan Angel. Tingkah menggemaskan Angel yang selalu membuat Avin mau bermain dengan anak perempuan kecil itu.
.
.
.
"Maaf ... aku melupakan janjiku sendiri," kata Inggit dengan tatapan sedih.
__ADS_1
***