Godaan Tetangga Seksi

Godaan Tetangga Seksi
Rumah Kosong


__ADS_3

Inggit menatap kosong rumah di depannya yang kini sudah ditumbuhi dengan banyak rumput tinggi. Merasa masih ada yang aneh, Inggit malah berjalan ke bagian belakang rumah tempat Angel dan Avin masuk.


Ternyata pintu halaman belakang benar-benar ada, sama seperti apa yang dilihatnya ketika sedang tak sadarkan diri kemarin. Inggit sangat terkejut, ia sampai membuka mulutnya lebar dan cepat-cepat menutupnya dengan kedua tangan. "Ternyata semua itu bukan mimpi. Semua itu nyata!" Mata Inggit berkaca-kaca dan bulu kuduknya meremang.


Inggit kembali teringat dengan Angel dan memikirkan keadaan Angel. Inggit merasa ingin mencari tahu kebenaran yang lebih banyak lagi, karena itu Inggit pun berniat masuk ke dalam rumah lewat pintu halaman belakang. Sayangnya, pintu halaman belakang terkunci rapat. Rumput yang tinggi dan keadaan rumah yang seakan tak terurus selama bertahun-tahun lamanya membuat rumah tersebut terlihat menyeramkan dan juga dikhawatirkan ada ular di dalamnya.


Dalvin menarik tangan Inggit dan mengajaknya pergi menjauh dari rumah tersebut. Bukan hanya Inggit saja yang memiliki memori tentang rumah itu, Dalvin juga. Bukan memori yang indah yang Davin ingat, memori yang membuatnya berada pada titik trauma yang berkepanjangan.


Dalvin mengajak Inggit menjauhi rumah tersebut namun Inggit melepaskan tangan Dalvin. "Lepaskan aku, Mas. Aku harus melihat rumah itu!" kata Inggit dengan keras kepala.


"Untuk apa? Kenapa kamu tahu rumah itu? Kamu tahu dari mana?" tanya Dalvin pada Inggit.


"Aku enggak tahu. Aku tiba-tiba seperti melihat orang yang aku kenal di rumah ini. Kemarin saat aku pingsan, aku seperti melihat seorang anak kecil yang tinggal di rumah ini. Aku penasaran, aku tak mengenal anak itu tapi kenapa dia hadir di alam bawah sadarku? Aku pikir apa yang aku lihat itu tak nyata tapi ternyata setelah aku datangi langsung semua ini bukan hanya mimpi semata. Taman kupu-kupu yang meskipun sudah berubah namun masih tetap sama dengan meskipun papan nama Taman Kupu Kupu yang sekarang terlihat berkarat. Rumah ini pun sama, memiliki pintu belakang seperti yang aku lihat di alam bawah sadarku. Aku penasaran apa yang sudah terjadi dengan anak kecil pemilik rumah ini. Bagaimana keadaannya?"


Dalvin berusaha menenangkan Inggit. Ia melihat ke kiri dan ke kanan serta memastikan tak ada yang mengikuti mereka seperti kemarin. "Kita bicara jangan di sini ya?" tanya kata Davin dengan wajah cemas.


"Kenapa? Memang apa yang salah? Bukankah rumah ini kosong?" tanya Inggit.

__ADS_1


Dalvin tak bisa mengatakan alasannya kepada Inggit seperti yang ibu panti katakan, Inggit mengalami hilang ingatan. Ia tak mau memaksa Inggit mengingat masa lalunya yang kelam. Inggit bisa hidup tenang seperti sekarang karen dia tidak mengingat apa yang ia alami di waktu kecil. Kalau sampai Inggit mengingatnya, Dalvin tak bisa membayangkan bagaimana kesedihan yang akan Inggit rasakan. Pasti akan histeris dan mungkin ia akan menyalahkan dirinya sendiri.


"Kamu bisa cerita sama aku apa saja yang sudah kamu lihat. Yang pasti, rumah ini sudah lama kosong. Kamu lihat saja rumputnya, sangat tinggi. Kamu juga lihat pintu belakangnya yang digembok dan sudah hampir karatan. Untuk apa kamu memaksa masuk? Kamu tak tahu 'kan ada hewan apa di dalam sana? Satu lagi, di rumah ini sempat terjadi peristiwa kelam di masa lalu."


"Bagaimana kamu bisa tahu? Memang peristiwa kelam apa yang terjadi?" Perkataan Dalvin malah membuat Inggit semakin penasaran. Ia mau mencocokkan apa yang sudah terjadi dengan apa yang dilihatnya di saat ia sedang pingsan.


"Aku dulu tinggal di dekat sini. Aku janji akan cerita semua sama kamu tapi tidak di tempat ini." Dalvin lalu menarik tangan Inggit. Sambil berjalan ia terus waspada seperti memantau situasi.


Dalvin terus menjauh dari TKP. Dalvin tak mau anak buah orang yang dulu membunuh orang tua Inggit mengetahui kalau Angel masih hidup. Bahaya.


Rupanya mereka sangat setia, mau dihajar seperti apapun juga tetap saja tidak mau membuka mulut. Berbagai siksaan sudah mereka lakukan namun dua orang itu tetap tidak mau mengungkapkan siapa yang sudah menyuruhnya. Calvin yakin, yang menyuruh mereka adalah salah satu orang yang memiliki power lumayan kuat. Bisa saja seorang pengusaha sukses atau juga seorang pejabat pemerintahan yang memiliki kuasa? Entahlah, Dalvin tak tahu.


Sampai sekarang, kedua orang itu masih disekap oleh Dalvin. Mereka masih tak mau mengungkapkan siapa yang sudah menyuruh mereka dan apa tujuan mereka mengikuti Dalvin dan Inggit. Untuk berjaga-jaga, Dalvin sengaja memasang kamera CCTV di sekitar rumah Inggit saat Inggit tidak ditemukan keberadaannya kemarin. Dalvin khawatir, di saat dirinya lengah ada orang lain yang sudah mengetahui keberadaan Angel dan berniat untuk melakukan kejahatan kembali.


Davin merasa pernah gagal melindungi Inggit di masa lalu. Kini, Dalvin berusaha sekuat mungkin untuk menjaga Inggit dan memastikannya tetap aman. Semula Dalvin tak mengira kalau Inggit mengajaknya ke Taman Kupu Kupu karena ingatan masa lalunya sedikit mulai kembali. Dalvin pikir Inggit hanya penasaran atas apa yang ia katakan waktu itu.


Setelah berada cukup jauh dari rumah tempat terjadinya pembunuhan kedua orang tua Angel yang disaksikan secara langsung oleh kedua mata Dalvin, Dalvin pun melepaskan tangan Inggit. Sambil tetap melihat ke kiri dan ke kanan untuk memastikan kalau tak ada yang mengikuti mereka, Dalvin baru duduk di samping Inggit dan bisa bernafas lega.

__ADS_1


"Aku enggak mau ya, kamu ke tempat itu lagi! Aku juga enggak mau kamu pergi ke taman kupu-kupu ini seorang diri. Ingat, mulai sekarang kalau kamu keluar rumah, kabari aku!" kata Dalvin dengan suara serius.


Inggit pikir Dalvin hanya terlalu posesif terhadapnya. Inggit tak tahu kalau Dalvin begitu takut terjadi apa-apa dengan Inggit. "Sudahlah, Mas. Aku sudah dewasa. Aku bisa pergi sendiri. Kamu tak usah terlalu khawatir seperti itu. Suamiku saja santai."


"Aku bukan suamimu ya! Kalau aku bilang nurut, ya kamu nurut. Aku enggak mau kamu pergi lagi ke tempat itu!" Dalvin terlihat tegas dan tak bisa dibantah. Hal ini membuat Inggit semakin penasaran.


"Memangnya kenapa sih aku enggak boleh ke rumah itu lagi? Mas, aku itu penasaran dengan apa yang aku lihat di saat aku sedang pingsan. Aku tuh kayak kenal rumah itu. Aku juga seperti kenal sekali dengan Taman Kupu Kupu. Tak mungkin dong semua itu hanya ilusi semata? Aku yakin ada sesuatu misteri yang harus aku pecahkan."


"Kamu tak perlu memecahkan misteri apa-apa. Kamu cukup hidup bahagia tak perlu memikirkan apa yang tak jelas seperti itu!"


"Bagaimana aku bisa hidup bahagia kalau ada sesuatu yang mengganjal dengan pikiranku? Aku tuh masih penasaran dengan apa yang terjadi hari itu, Mas!"


"Hari itu? Hari itu kapan?" Kedua kening Dalvin bertaut. Ia juga penasaran apa saja yang sudah Inggit ingat tentang masa lalunya.


"Hari di mana kejadian itu terjadi. Hari dimana Avin menyuruh Angel pergi."


****

__ADS_1


__ADS_2