Good Husband

Good Husband
Hiburan Malam


__ADS_3

Hamzah memegangi kepalanya yang berasa ingin pecah. Kedatangan sahabatnya ke sekolah tadi siang benar-benar membuatnya terkejut.


Pria paruh baya ini sangat kecewa atas pembatalan perjodohan yang sudah lama mereka rencanakan. Hamzah tahu ini pasti perbuatan Cempaka. Putrinya itu yang pasti sudah menghasut Hanafi. Hamzah yakin itu.


“Sudahlah Abi.” Indah mengusap-usap punggung suaminya, “mungkin memang belum jodohnya.”


“Anak itu memang beda dari Abangnya. Perempuan tapi susah sekali mengaturnya. Selalu membangkang.”


“Maaf ya Abi. Umi masih gagal mendidik putri kita.” Indah sebagai ibu jadi merasa bersalah. Bagaimana pun ia lebih banyak di rumah. Harusnya ia lebih bisa mengawasi Cempaka.


Pria yang masih memakai pakaian kedinasan itu menggeleng. Menatap sendu ke arah istri tercintanya.


“Umi jangan ngomong begitu! Umi udah berusaha yang terbaik buat anak-anak kita. Danish dan Aka itu juga anak Abi. Bukan harus Umi aja yang benar mendidik mereka, tapi Abi juga. Dulu Abi terlalu memanjakan putri kita. Mungkin, salah Abi di situ. Makanya, Cempaka jadi seperti ini sekarang.” Hamzah mengusap-usap kepala istrinya dengan penuh kasih sayang, “Umi jangan menyalahkan diri sendiri lagi ya!”


Indah tersenyum dan mengangguk. Ia merasa sangat beruntung mendapatkan suami seperti Hamzah. Ia adalah lelaki yang pengertian, dewasa, dan penyayang dengan keluarganya. Harapannya untuk Cempaka, agar kelak putrinya itu mendapatkan pria yang sebaik ayahnya juga.


“Kalau Aka udah datang. Suruh dia temui Abi!” Indah mengangguk, “ada yang ingin Abi bicarakan sama anak itu.”


“Iya, Bi. Mungkin, sebentar lagi anak itu pulang dari kampus.”


Hamzah mengangguk paham, kemudian berdiri dan meninggalkan ruang keluarga untuk membersihkan diri terlebih dulu.


...****************...


Hari ini Cempaka tidak pulang sesuai jadwal. Ia pergi bersama Arfan untuk memenuhi janji menemani kekasihnya itu dugem.


Setelah berpisah dengan teman-temannya dari kafe sesudah merayakan pembatalan perjodohan itu Arfan menjemputnya. Cempaka yang memang sedang bahagia tidak memikirkan risiko yang akan ia terima setelah ini.


“Jadi perjodohan itu benaran batal?” tanya Arfan dengan suara yang sedikit lebih keras. Suara mereka tertelan oleh dentuman musik yang dibawakan seorang DJ di depan sana.


Cempaka mengangguk sembari menerima minuman tanpa alkohol yang baru saja Arfan berikan padanya.


“Pak Hanafi sendiri yang bilang.”


“Pak Hanafi?” Netra Cempaka membuat saat menyadari ia salah berbicara, “itu Dosen yang kasih kamu tugas esai bukan? Dia orang yang Abi jodohkan sama kamu?”


Dengan ragu Cempaka mengangguk lagi. Ia menggenggam sebelah tangan Arfan.


“Yang penting perjodohan itu udah batalkan? Kamu jangan marah ya.”


Arfan mengalihkan pandangan. Meraih segelas minuman yang ada di atas bar. Ia meneguk minuman itu.


“Aku nggak marah.” Ia melihat ke arah Cempaka kembali, “untungnya perjodohan itu batal. Kalau nggak udah habis Dosen itu ditangan aku.”

__ADS_1


Cempaka meletakkan gelas yang ia pegang ke atas meja bar. Ia menggeleng ribut.


“Kamu jangan gegabah! Kalau kamu begitu bisa-bisa kamu yang kena skorsing. Bagaimana pun dia itu Dosen.”


“Aku nggak suka punya aku diganggu orang lain. Biarin mau dia Dosen atau rektor sekalian. Aku nggak takut.”


Melihat Arfan yang masih tidak ingin berbagi sesuatu miliknya dengan orang lain membuat hati Cempaka diam-diam menjerit bahagia. Senang mendapati reaksi kekasihnya yang masih peduli bahkan takut kehilangan.


“Kalau kamu memang nggak mau aku diganggu sama orang lain, ayo dong temui Abi lagi!”


Lagi, Arfan meneguk minuman berwarna gelap yang masih tersisa di gelasnya.


“Kenapa kamu malah diam?”


“Aku udah pernah bukan menemui Abi? Tapi dia malah ngusir aku.” Arfan menatap intens kekasihnya, “dia bilang aku itu pengaruh buruk buat kamu. Dia nggak suka sama aku dari pertama dia ketemu sama aku.”


“Bagaimana Abi nggak suka sama kamu. Liat!” Cempaka menunjuk sekelilingnya, “sekarang kamu ada di mana? Club Malam. Abi nggak suka kamu main di sini. Kalau kamu berubah jadi lebih baik Abi pasti terima kamu.”


Ekspresi lelaki di hadapan Cempaka itu berubah. Ia terlihat jengkel dengan pembahasan mereka, padahal ia ke club untuk mengusir penat setelah mengikuti pelajaran di kampus. Ini malah mendengar nasihat sang kekasih.


“Bisa nggak kita jangan bahas ini dulu? Aku ke sini buat senang-senang. Kalau kamu mau bikin mood-ku hancur aja mending tadi nggak usah ikut.”


Gadis dengan rambut tergerai ini menekuk bibir ke bawah. Perkataan Arfan membuat hatinya sedikit terluka.


“Maaf, aku nggak akan bahas ini.”


Cempaka menoleh, mendapati Arfan menatap diri. Kini mimik wajah lelaki itu terlihat biasa. Tidak seperti tadi yang penuh dengan emosi.


“Sorry, aku nggak maksud buat marah sama kamu.”


“Nggak apa-apa.”


“Kamu sudah makan? Mau aku pesankan makanan?”


Cempaka menggeleng, “Tadi aku udah makan sama yang lain di Kafe.”


Arfan mengangguk mengerti. Jari lelaki itu bergerak mengelus pipi Cempaka. Hingga seseorang mengejutkan mereka berdua.


“Woi, Fan!” seorang lelaki menepuk bahu Arfan, “jadi ini cewek lo?”


Arfan menarik tangannya dari pipi Cempaka, lalu berjabat tangan dengan temannya.


“Iya, dulu dia pernah juga ikut gue. Cuma lo nggak bisa kumpul waktu itu.”

__ADS_1


“Cantik.” Puji lelaki itu membuat Cempaka tersenyum tipis. Namun, tiba-tiba ia meringis karena perutnya di sikut oleh Arfan.


“Biasa aja lihatin cewek gue. Jaga mata lo!”


Lelaki itu cengengesan, “Namanya siapa?”


“Cempaka.” Arfan menjabat tangan temannya yang terulur ke Cempaka. Ia tersenyum lebar membuat Aka yang menyaksikan itu tertawa kecil.


“Posesif banget, Bro.” Lelaki itu melihat ke arah lain. Ia menepuk pundak Arfan untuk yang kedua kalinya, “ayo ke sana! Anak-anak udah pada dateng tuh.”


Arfan mengangguki ucapan temannya itu. Ia mengajak Cempaka untuk bertemu dengan temannya yang lain. Malam itu mereka nikmati untuk bersenang-senang.


...****************...


“Di sini aja!” Cempaka menepuk-nepuk bahu Arfan agar segera menghentikan laju motornya.


Cowok itu menepikan kendaraannya. Dengan kesadaran yang tidak lagi penuh. Namun, ia masih bisa mengendarai motor itu.


“Itu rumah kamu sedikit lagi. Kenapa berhenti di sini?” tanya Arfan setelah melepaskan helmnya.


Cempaka yang sudah turun mengembalikan helm pada kekasihnya, “Kalau di depan rumah bisa ketahuan Abi. Sekarang udah jam sebelas malam. Bisa-bisa aku kena introgasi. Aku mau masuk lewat pintu samping.”


Arfan mengangguk mengerti, “Kalau begitu hati-hati!”


“Kamu juga. Kamu mabok gitu. Bawa motornya jangan kebut-kebut! Yang penting selamet sampai di rumah.”


Lagi, Arfan mengangguk-angguk, “Iya sayang. Aku tau itu.”


“Ya sudah aku duluan. Sampai ketemu besok sayang.”


Ketika Cempaka ingin melangkah pergi, lengannya ditahan oleh Arfan. Hal ini membuat dirinya melangkah lebih dekat pada cowok itu.


Arfan berdiri, kemudian mendekatkan wajahnya. Cempaka jelas tersentak dengan apa yang lelaki itu lakukan. Ia mendorong kuat dada Arfan dengan cepat.


“Mau ngapain kamu?”


Arfan mendecih, “Aku cuma minta satu kali kecupan.”


“Aku ‘kan udah bilang. Aku nggak mau dicium atau sentuhan berlebihan lainnya sebelum kita menikah.”


Arfan mendesah halus dan kembali duduk di motornya. Walau terlihat bucin dengan Arfan, Aka masih membatasi gaya berpacarannya. Ia sangat melindungi dirinya. Selama ini ia dan Arfan tidak pernah berciuman. Namun, Aka sempat terpikir dan ragu saat ia mabuk waktu itu apa Arfan masih memegang kepercayaannya atau bahkan sudah mencoba bibir tipis itu? Aka tidak tahu. Sesadarnya Cempaka, ia belum pernah melakukannya.


“Ingat ya! Jangan lakukan kayak tadi lagi! Aku pulang dulu.” Cempaka kembali melanjutkan langkahnya yang tadi sempat tertunda.

__ADS_1


Arfan memasang helmnya kembali. Memutar arah motor. Ia melajukan kendaraan roda dua itu dari arah ia datang tadi.


...****************...


__ADS_2