
“Jadi, kamu kemarin ke mana?” tanya Cempaka sembari mengaduk-aduk minumannya. Matanya terfokus pada Arfan yang duduk di seberang meja.
Sepasang sejoli ini sedang menikmati makan siang di kantin kampus. Kebetulan sekali hari ini jadwal mereka sama.
“Udah aku bilang ‘kan ada janji sama teman yang mau bahas bisnis.” Arfan masih meneruskan menyantap makanannya.
Cempaka memajukan tubuh, lalu bertopang dagu, “Kamu mau buat bisnis apa?”
“Kafe.” Arfan lebih dulu menelan sisa makanan di mulutnya, “untuk tempat nongkrong anak muda. Makanan yang dijual juga bakal relatif lebih murah dan free wifi.”
“Kamu kenapa nggak pernah cerita-cerita kalau mau bikin bisnis?” bibir gadis itu tertekuk ke bawah.
Cempaka merasa sedih karena perlahan ia mulai tidak tahu kegiatan sang kekasih.
“Gimana aku mau cerita. Kita aja ketemu bisanya cuma sebentar-sebentar sejak kamu nikah. Kamu udah nggak kayak Aka yang aku kenal.”
Gadis dengan rambut dicepol itu memerhatikan sekitar. Ia risih orang-orang yang berlalu-lalang memperhatikannya dengan Arfan. Namun, Cempaka mencoba fokus pada Arfan.
“Kita bisa bicara lewat telepon. Aku nikah itu bukan penghambat hubungan kita.”
“Tapi kamu udah nggak bisa buat aku ajak pulang malam atau sekedar jalan lebih lama. Kamu beralasan takut dimarahin mertuamu itu,” ujar Arfan dengan suara meninggi sedikit.
“Pelan-pelan aja ngomongnya!” Arfan melanjutkan makannya lagi sembari menyimak penjelasan Akan, “Ini cuma sementara, Sayang. Selama aku tinggal di rumah orang tuanya Pak Hanaf. Kalau udah pindah ke rumah pribadi. Aku akan bebas lagi.”
“Nanti suamimu itu melarangmu.”
“Nggak, Pak Hanaf udah bilang kalau nggak akan ganggu hubungan kita.” Cempaka mengelus-elus lengan cowok di hadapannya, “kamu sabar ya. Setelah seminggu kita bisa bebas keluar. Secepatnya aku akan meminta cerai. Biar nanti bisa menikah sama kamu.”
Arfan meraih gelas minumannya, “Memang Abi bakal kasih izin kamu untuk cerai? Kalian itu dijodohkan. Mana mungkin bisa pisah begitu aja.”
“Pokoknya aku mau cerai. Aku nggak mau lama-lama jadi istrinya Pak Hanaf. Aku cuma mau sama kamu.” Arfan masih menyimak sembari meneguk minumannya, “kalau kamu udah mapan Abi pasti akan terima kamu.”
“Kamu support bisnis aku?”
Cempaka mengangguk dengan senyuman yang lebar, “Pasti.”
Sedangkan di tempat lain, Hanafi sedang berjalan di Koridor. Ia baru saja selesai shalat zuhur bersama rekan Dosen yang lain. Namun, sekarang ia hanya sendirian. Membawa sebuah kotak di dalam kresek berisi makanan. Ia akan makan siang di ruangannya saja.
“Pak Hanaf! Pak!”
Mendengar namanya dipanggil, Hanafi berhenti melangkah. Ia berbalik menghadap ke belakang. Pria itu kebingungan ketika seorang wanita yang diketahui adalah pengajar juga di kampus yang sama menghampirinya.
“Ada apa ya, Bu Ani?” tanya Hanafi. Ia merasa tidak ada urusan dengan Dosen itu.
“Tadi saya lihat istri Bapak berduaan sama laki-laki.”
Hanafi bergeming. Ia berpikir sejenak, kemudian mengingat kemungkinan-kemungkinan dengan siapa Cempaka di Kantin.
“Oh, itu temannya, Bu Ani.”
Wanita bernama Ani ini mengerutkan dahi, “Masa sih, Pak? Mereka kelihatan mesra. Saya dengar dari mahasiswi dan mahasiswa lain kalau itu mantan pacarnya. Pak Hanaf apa nggak cemburu?”
__ADS_1
Hanafi menarik kedua sudut bibirnya ke atas, “Mengapa saya harus cemburu? Saya tau kalau itu cuma temannya Cempaka. Saya tidak ingin membatasi pergaulannya, Bu.”
“Bagaimana sih, Pak. Saya kasih tau ya nih, maaf-maaf kalau ucapan saya menyinggung Bapak. Istri Bapak itu ‘kan masih terbilang sangat muda. Kalau anak muda masih menggebu-gebu keinginan mencoba ini dan itu. Dari pada dia salah pergaulan lebih baik dibatasi, Pak. Demi kelanggengan hubungan Bapak dan istri juga.”
“Sebelumnya, makasih banyak Bu Ani. Ibu sangat peduli sama saya. Saya akan coba pikirkan saran dari Ibu. Sekali lagi terima kasih.” Hanafi mengakhiri kalimatnya dengan senyuman.
“Sama-sama, Pak. Kita ‘kan rekan kerja. Jadi, saling mengingatkan.”
“Iya, Bu. Saya juga jadi bisa intropeksi diri. Oh ya, saya pamit duluan ya, Bu. Ingin makan siang. Setelah ini masih ada jam mengajar.”
“Oh iya-iya, Pak. Silakan!”
“Terima kasih sekali lagi, Ibu.”
“Sama-sama, Pak.”
Hanafi tersenyum, kemudian melanjutkan tujuannya. Bu Ani masih diam di tempat memerhatikan punggung Hanafi yang terus menjauh dari pandangannya.
“Harusnya, tegas sama istri. Udah dikasih tau kok santai sekali,” gumam Bu Ani yang merasa kalau penglihatannya tentang Cempaka dan Arfan itu benar. Mereka bermesraan.
“Permisi, Bu!”
Sedang mengomel sendirian seorang wanita tinggi, bertubuh langsing dan berwajah cantik menyapa Bu Ani. Jelas saja Bu Ani langsung tersenyum ramah.
“Iya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Bu Ani begitu lembut.
“Saya ingin bertanya. Ruangan Dekan sebelah mana ya?”
“Apa tidak ngerepotin?”
“Tidak kok. Ayo, Bu!”
...****************...
Hanafi menutup laptopnya ketika Cempaka memasuki kamar. Ia menoleh, netranya mengikuti langkah Cempaka.
“Saya mau bicara sesuatu ke kamu.”
Dahi Cempaka lantas mengerut, “Apa? Omongin aja.” Gadis itu sedang bersiap-siap untuk tidur.
Pria ini segera bangkit dan meninggalkan pekerjaannya. Ia melangkah ke sisi kasur yang ada di seberang sang istri. Cempaka sudah duduk bersandari di ranjang dengan kaki yang tertutup selimut.
Hanafi mendudukkan tubuhnya di kasur. Ia menatap serius ke Cempaka.
“Dua hari yang lalu saya mendapat kabar dari orang kampus kalau kamu sedang bersama laki-laki di kantin.”
Mata Cempaka refleks menatap langit-langit kamar. Ia mencoba untuk mengingat-ingat kejadian dua hari yang lalu.
“Oh, mungkin orang itu lihat Arfan. Memangnya kenapa, Mas?”
“Bisa nggak kalau kamu mau bertemu dengan Arfan itu jangan di kampus.”
__ADS_1
“Apa salahnya?” Cempaka yang terpancing emosi kini duduk menghadap sang suami, “bukannya Mas udah izinin saya tetap berhubungan sama Arfan meski kita menikah? Kenapa sekarang berubah pikiran?”
“Shuuttt!” Hanafi meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, “jangan keras-keras nanti terdengar Bunda dan Ayah.”
“Habis Mas ngeselin.” Cempaka menghela napas, lalu membuang muka. Ia merajuk.
Hanafi duduk bersila menghadap Cempaka, “Dengerin ya! Saya nggak larang kamu ketemu sama Arfan, tapi saya cuma minta kamu dan Arfan jangan bertemu di sekitar kampus. Kalau bisa jaga jarak di kampus. Karena orang sekitar terutama para Dosen tau kalau kamu itu istri saya.”
Cempaka sesekali melirik suaminya itu, sedangkan Hanafi masih serius menjelaskan maksudnya.
“Kamu nggak mau ‘kan kesepakatan kita ini diketahui oleh orang tua kita? Terutama Abi?”
“Iss, siapa sih orang kampus yang ngurusin hidup orang lain itu? Coba Mas kasih tau saya! Biar saya labrak aja.” Kali ini Hanafi yang menghela napas panjang, “gara-gara dia saya jadi repot cuma mau pacaran doang.”
“Kamu nggak perlu tau. Tinggal ikutin aja kata saya. Kalau kamu masih mau selamat dari Abi.”
“Demi Arfan, saya ikutin usul Mas.” Cempaka menatap Hanafi, “kita kapan sih bisa cerai? Males bener saya harus diam-diam pacaran sama Arfan.”
Mendengar pertanyaan yang terlontar sepontan dari sang istri membuat Hanafi merasakan sakit pada dadanya, padahal pernikahan ini ia jalankan hanya ingin mengabulkan permintaan Hamzah dan keinginan ayahnya juga. Ia ragu dengan perasaannya. Apa sudah menyukai Cempaka atau belum.
“Saya nggak tau. Mana mungkin baru menikah kita bercerai.”
“Udah ceraikan saja saya! Bilang aja kalau saya selingkuh. Ayo mas!”
Ketika Hanafi menolak dan kebingungan dengan paksaan sang istri untuk bercerai terdengar suara ketukkan pada pintu kamar. Seketika ruangan menjadi hening.
“Bunda boleh masuk nggak?” tanya orang yang ada di luar kamar.
“Boleh, Bun. Masuk aja!” jawab Hanafi sesudah mengetahui siapa yang datang.
Aisyah membuka pintu perlahan. Ia tersenyum dengan menyembulkan setengah tubuhnya ke dalam.
“Maaf ganggu, Bunda cuma mau nanya Aka. Besok Aka libur ke kampus ‘kan?”
“L-libur, Bun.” Cempaka menjawab dengan terbata-bata. Pikirannya sudah berkecamuk tentang beberapa hal tak terduga.
“Bunda mau ajak kamu belanja. Sekalian cari keperluan yang masih kurang untuk rumah baru kalian. Anggap aja girls time. Bagaimana? Mau ya!”
Cempaka tersenyum canggung, “Boleh, Bun.”
“Baiklah, jangan bangun kesiangan lagi! Kita akan berangkat pukul delapan pagi.” Aisyah melempar senyum pada anak laki-lakinya, “udah itu aja. Bunda pamit, selamat malam.”
“Malam Bunda. Good night!” balas Hanafi agak keras karena pintu sudah Aisyah tutup.
Ia beralih menatap Cempaka, “Ayo tidur! Nanti kamu telat bangunnya.”
Cempaka buru-buru merebahkan tubuh dan memakai selimut sampai di atas dada.
“Besok pagi bangunin saya ya, Mas! Saya udah pasang alarm, tapi takut nggak kebangun.”
“Iya, saya akan bangunkan.”
__ADS_1
...****************...