Good Husband

Good Husband
Perintah Abi


__ADS_3

“Kenapa lo pasrah gitu aja? Menikah itu kalau bisa satu kali untuk seumur hidup, Naf. Sekarang lo buang pilihan berharga lo?” Mavin bertanya sembari masih mengecek dokumen-dokumen yang ada di atas meja.


Hanafi berkunjung ke tempatnya bekerja. Katanya, ingin curhat yang sangat mendesak hingga tidak bisa menunggu lagi sampai jam makan siang, padahal Mavin inginnya berbincang sembari menyantap makan siang.


“Kalau lo ada di posisi gue mungkin juga bingung saat itu.” Lelaki yang duduk di sofa panjang nan empuk ini tertegun. Mengingat kejadian semalam, “Om Hamzah bahkan sangat memohon sama gue. Dia segitu percayanya ke gue sampek nggak berubah pikiran buat jodohin anaknya sama gue.”


“Anaknya cantik nggak sih? Jadi penasaran.”


“Itu loh cewek yang gue ceritain ke lo beberapa bulan lalu. Cewek yang nyangka gue tukang ojek.”


Mavin tersentak dengan mata membesar melihat ke arah Hanafi duduk, “Serius?”


Hanafi mengangguk dan tawa Mavin pecah saat itu. Ia tertawa sampai perut terasa sakit dan sudut mata berair sedikit.


“Apa sih nggak lucu!”


“Ini lucu banget.” Mavin berusaha menghentikan tawa karena wajah Hanafi sudah masam, “fix sih kalian memang jodoh.”


“Bisa dengan mudah gitu lo nyimpulin.”


“Coba lo pikir lagi! Bisa kebetulan gitu loh, ini udah kayak judul sinetron. Si tukang ojek ternyata calon suamiku.” Tawa Mavin kembali terdengar memenuhi ruang kerjanya.


Hanafi berhasil dibuat senyum-senyum oleh leluconnya.


“Terus-terus gimana keputusan terakhir Pak Dosen? Kata lo waktu itu perjodohannya batal karena calon lo itu punya pacar? Lo nggak mau ganggu hubungan orang.”


“Iya bener. Gue ngebatalin itu, tapi semalem gue terima lagi. Ternyata Om Hamzah itu sakit dan dia ingin gue tetap jadi menantunya. Dia cuma mau anak bungsunya mendapatkan laki-laki yang baik. Karena menurut Om Hamzah pacar anaknya ini bukan pria yang seperti dia inginkan. Pacar anaknya membawa dampak negatif buat anaknya ini.” Hanafi bersandar dengan mata menatap lurus ke depan, “saat gue bilang, gua terima lagi tawarannya, di situ gue lihat dari matanya, ada sosok ayah yang menaruh harapan besar ke gue. Ia seperti lega kalau anaknya akan menikah sama gue. Rasanya, semalem gue ikut bahagia.”


“Gue beruntung punya sahabat kayak lo, Naf.” Hanafi menoleh, mimik wajahnya seakan bertanya, kenapa? “lo orang yang baik banget. Lo nggak mentingin ego sendiri. Bahkan lo ngelupain kebahagiaan dan kenyamanan lo demi orang lain. Kalau gue ada di posisi lo. Mungkin, gue bakal memilih untuk egois dan mentingin diri gue.”


“Gue nggak seperfect itu.” Hanafi membenarkan jasnya, “kadang kalau sendirian gue juga pengen egois, tapi rasanya ini memang alur hidup yang udah digarisi oleh Allah buat gue jalanin, tapi satu pikiran gue sekarang, Cempaka apa bisa terima gue? Dia bilang sendiri sangat mencintai pacarnya.”


“Namanya Cempaka? Cakep.” Mavin tersenyum, “gue bakal bantu buat luluhin hati Cempaka buat lo. Untuk apa dia cinta kalau sama orang yang salah, bukan?”


Hanafi mengangguk samar.


 


...****************...

__ADS_1


 


Cempaka sedang asyik mengobrol dengan Ayumi dan Olive di taman depan gedung fakultas hukum. Mereka berbincang ringan sembari sesekali di selingi tawa.


“Jadi hubungan lo dan Arfan udah direstuin Abi?” tanya Ayumi sebelum memasukkan makaroni pedas ke dalam mulutnya.


Cempaka menggeleng, “Belum, gue udah cerita belum sih kalau gue pulang malem sampek dikunciin dari luar ke lo?”


Ayumi yang asyik mengunyah menggelengkan kepala.


“Lo cerita ke gue sama Kalya aja deh kayaknya, Ka.” Olive membantu Cempaka mengingat-ingat.


“Oh iya ya, waktu itu uang bulanan gue sampek di-stop dan KKN pakek uang sendiri. Abi sama sekali nggak kasih toleransi karena gue pulang malem. Di situ juga Abi kayaknya tambah nggak suka sama Arfan.”


“Jadi sekarang hubungan lo sama Arfan ke depannya gimana?”


Cempaka mengedikkan bahu, “Nggak tau, tapi masih usaha sih minta restu sampek nanti gue sama Arfan siap nikah.”


“Sayang, ayo pulang!” ketiga gadis itu menoleh ke arah sumber suara.


Cempaka memang sudah menunggu kedatangan Arfan. Ia tersenyum, lalu menyimpan ponsel ke dalam tas.


“Gue duluan ya, guys!” sesudah mendapat anggukan kedua temannya, Aka lantas berdiri.


Keempat orang itu jelas terkejut mengetahui siapa yang menahan langkah Cempaka untuk pergi. Apa lagi Olive yang sampai menganga dan mata seperti ingin keluar dari tempatnya.


“Apa-apaan sih, Pak Hanaf?” Cempaka menghempaskan tangan agar genggaman Dosen itu terlepas, tetapi Hanafi memegangnya erat, “lepasin!”


“Lepasin tangan pacar saya, Pak!” Arfan mulai bersuara. Ia tidak suka dengan apa yang baru saja Hanafi lakukan kepada Cempaka.


“Cempaka harus pulang dengan saya!”


Dahi Cempaka berkerut. Mengapa sangat tiba-tiba sekali?


“Maksud Bapak?”


Hanafi yang tadinya menatap Arfan kini beralih menatap Cempaka. Tatapannya tidak setajam pada Arfan.


“Abi menyuruh saya mengantarkanmu pulang.”

__ADS_1


“Kok bisa? Bukannya perjodohan kita udah batal?”


“Nanti akan saya ceritakan padamu. Sekarang ikut saya untuk pulang!”


“Nggak mau!” Cempaka memberontak sampai tangannya kembali bebas dari genggaman Hanafi, “saya mau pulang sama pacar saya!”


“Tapi kata Om Hamzah, kalau kamu nggak pulang sama saya uang bulananmu akan dihentikan lagi.”


Cempaka yang sudah ingin mengajak Arfan bergegas pergi, menunda langkahnya setelah mendengar penuturan Hanafi. Ia menatap Dosen itu dengan perasaan kesal setengah mati.


“Bapak bohong ‘kan? Pasti cuma mau takut-takutin saya kayak tugas esai waktu itu.”


“Saya nggak bohong.” Arfan merogoh tas kerjanya. Mengambil ponsel. Membuka pesan yang ada di ponsel, kemudian mengulurkan pada Cempaka, “kalau nggak percaya lihat aja sendiri pesan dari Abi kamu.”


Dengan kasar Cempaka mengambil alih benda pipih itu. Membaca sebuah pesan terakhir yang Hamzah kirim pada mantu idamannya.


“Abi kenapa sih selalu mengancam uang bulanan?” rengek Cempaka yang ditatap tragis oleh Olive dan Ayumi.


Ia mengembalikan handphone Hanafi dengan perasaan malu karena Dosennya ini benar dan tidak bermaksud menipu.


Hanafi menerima ponselnya, lalu menyimpan kembali ke dalam tas. Ia menunggu keputusan Cempaka tanpa memaksa lagi.


“Udah kamu tenang aja sayang. Nanti aku bakal bantu bilang ke Abi.” Arfan mencoba menenangkan kekasihnya.


Cempaka menggeleng ribut, “Nggak bisa sayang. Abi itu masih nggak suka sama kamu. Dia nggak akan mengubah keputusannya.”


“Aku akan usahakan cara apa pun.”


Lagi, Cempaka menggeleng. Perlahan ia melepaskan genggaman kekasihnya. Dengan mata berkaca-kaca Aka berucap, “Maaf, aku harus pulang sama Pak Hanaf. Sekali ini aja.”


Arfan terpaksa rela mengikhlaskan kekasihnya untuk pergi dengan pria lain. Kesal, ingin sekali ia menghajar Dosen itu. Namun, ini masih di kampus. Bisa-bisa ia terkena sangsi.


“Jangan macem-macem lo sama cewek gue!”


Ancaman Arfan tidak membuat Hanafi gentar. Lagi pula siapa yang ingin macam-macam. Hanafi masih ingat dosa dan neraka.


“Udah jalan duluan!” bentak Cempaka ketika Hanafi masih diam di tempat. Lelaki itu tersentak sedikit, kemudian melangkah lebih dulu.


Cempaka melambaikan tangan pada kedua teman perempuannya. Setelah itu berganti ke Arfan dengan tatapan sedih. Ia mengekori Hanafi menuju parkiran.

__ADS_1


 


...****************...


__ADS_2