Good Husband

Good Husband
Pernikahan


__ADS_3

“Ayo silakan masuk!” sambut Aisyah pada tamunya yang baru tiba.


“Kita langsung ke meja makan aja ya? Kita ngobrol di sana,” sambung Adam merangkul sahabat baiknya.


Hamzah mengangguki dan semua berjalan ke arah ruang makan. Dari arah berlawanan Hanafi baru turun dari kamar yang ada di lantai dua rumah. Ia menyalami Hamzah, Indah dan juga kakak-kakak Cempaka.


“Bagaimana perjalanan? Lancar atau terjebak macet?” tanya Adam sembari berbasa-basi.


“Lumayan, tapi kami nggak harus menunggu lama,” jawab Hamzah terus terang.


“Biasalah kalau untuk Jakarta,” tambah Aisyah tertawa kecil. Ia sibuk menuangkan air minum ke gelas masing-masing dengan dibantu oleh Indah.


“Silakan di makan. Masakan bojo-ku ini.” Lagi, Adam tertawa. Suasana cukup hangat. Namun, Cempaka hanya diam, sedangkan Hanafi memerhatikan gadis itu sesekali.


“Pasti masakan Mbak Aisyah enak nih. Dilihat aja udah menggiurkan. Iya ‘kan, Bi?” ujar Indah yang membuat pipi Aisyah menjadi bersemu.


“Ah, bisa aja kamu Mbak.”


“Udah-udah, ayo diambil makanannya!” Adam mempersilakan tamunya untuk menyantap hidangan yang telah tersedia.


Untuk beberapa saat mereka fokus pada makanan masing-masing. Hanya suara sendok dan piring yang saling beradu terdengar memenuhi ruang itu. Namun, tidak lama Hamzah membuka percakapan kembali.


“Bagaimana sama Hanafi udah siap untuk acara dua hari lagi?”


Hanafi mengangguk dengan senyuman tipis, “Insyaallah siap, Om.”


“Abi aja sekarang panggilnya sama dengan Aka! Nggak usah Om-Om lagi! Kamu ‘kan akan menjadi suami Aka. Secara nggak langsung juga anak Abi.”


“Iya, Abi,” ujar Hanafi masih malu-malu.


“Aka juga sama. Panggil Om sekarang Ayah aja,” tutur Adam yang membuat Cempaka tersentak.


Cempaka tersenyum canggung. Ia benar-benar tidak nyaman. Mana dari tadi Aisyah memerhatikannya.


“Kamu lagi nggak enak badan Aka?” mendapat pertanyaan dari Aisyah membuat Cempaka menggeleng cepat.


“Nggak kok Tante.”


“Kalau manggil Om Adam itu Ayah sekarang manggil Tante jadi Bunda aja.”


“Iya, Bunda.”


“Katanya, Aka takut sama kamu, Mbak.” Mendengar Indah yang membongkar rahasianya, Aka menoleh ke Umi yang duduk di sisi Abi.


“Takut kenapa?”


“Nggak kok Ta-Bunda. Umi bohong.”


“Bunda nggak akan marah kalau Aka jadi anak yang baik.” Hamzah menyenggol lengan anaknya, “Kalau boleh tau kenapa Aka bisa berubah pikiran untuk terima perjodohan ini? Kata, Hanaf saat itu Aka udah punya pacar.”


Cempaka menoleh terlebih dahulu ke Hamzah yang ada di sampingnya, kemudian menatap Aisyah kembali.


“Aka udah putuskan pacar Aka, Bun. Aka mau menurut sama Abi.”


Sebenarnya kalau bukan kesepakatan dari Hanafi mungkin Cempaka masih keras mementang perjodohan ini. Sampai sekarang hatinya masih diisi dengan nama satu orang yaitu Arfan.

__ADS_1


...****************...


 


Di tempat berbeda Arfan sedang berada di sebuah club. Club yang biasanya jadi tempat nongkrong cowok itu dengan teman-temannya.


Arfan meminum segelas kecil minuman berwarna gelap dengan sekali tegukan. Lidahnya ia julurkan sebentar ketika merasa terbakar di tenggorokan.


Entah sudah gelas ke berapa yang Arfan teguk. Namun, kesadarannya masih bisa ia kontrol. Ia sangat frustrasi mengingat dua hari lagi kekasihnya akan menikah dengan pria lain.


Arfan ingin dirinya yang bersanding di pelaminan bersama Cempaka. Namun, apa daya hubungan mereka tidak mendapat restu orang tua Cempaka.


“Hai, Bro!” seseorang menepuk bahu Arfan hingga ia menoleh ke belakang, “lo nggak bawa pacar lo ke sini lagi?”


“Dia lagi ada acara keluarga.”


Arfan mengetahui itu karena ia sudah membaca pesan terakhir yang Cempaka kirim sebelum berangkat ke rumah Hanafi. Arfan yang sangat menyayangi gadis itu seketika hancur mengingat sekarang ia adalah orang kedua di antara Cempaka dan Hanafi yang resmi menjadi suami istri sebentar lagi.


“Oh begitu, udah lama dia nggak kelihatan. Sering-sering ajak ke sini. Aka anaknya asyik.”


Arfan mengangguki permintaan temannya. Cowok yang menegur Arfan itu perlahan pergi meninggalkan Arfan kembali sendirian.


“Arfan?”


Suara yang tidak asing membuat fokus Arfan pada orang-orang yang sedang berjoget di lantai dansa buyar. Ia menoleh ke orang itu.


Sosok cantik dengan rok mini dan baju sedikit terbuka di bagian dada.


“Safira?”


“Kayak yang lo liat. Gue baik.” Arfan mengumbar senyumannya.


Safira ini teman satu tempat PKL dengan Arfan. Mereka tidak dekat, tetapi Arfan lumayan mengenalnya. Karena sesekali mereka pasti berinteraksi saat bekerja.


Mereka seusia. Menurut Arfan, Safira itu gadis manis yang cantik. Gadis itu termasuk orang yang ceria dan penuh senyuman. Jangan lupakan Safira orang yang mudah bergaul. Maka itu rata-rata ia mengenal mahasiswa yang satu tempat PKL dengannya.


“Lo sering ke sini?” tanya Safira memerhatikan sekitarnya.


“Ini tempat biasa gue nongkrong sama temen-temen. Lo baru ya ke sini?”


Safira mengangguk, “Iya, diajak sama sepupu gue eh dia malah ngajak ceweknya. Gue udah berasa nyamuk tau. Makanya, gue jalan-jalan sendiri nggak sengaja malah ngeliat lo.”


 


...****************...


 


Setelah makan malam dua hari lalu dan dipingit seharian di rumah maka tibalah Cempaka di hari yang membuatnya ingin kabur saja. Ini adalah hari pernikahannya dengan Hanafi.


Akad akan berlangsung di rumah Cempaka dan malamnya resepsi akan diadakan di sebuah gedung yang sudah disewa oleh Hanafi.


 


Cempaka: Arfan maafkan aku. Kamu pasti sedih ya hari ini aku menikah dengan Pak Hanaf, tapi kamu harus tau kalau aku masih sangat mencintaimu. Kita tetap masih bisa berpacaran kayak yang aku bilang waktu itu. Kamu masih ingat ‘kan?

__ADS_1


 


Cempaka mengirimkan pesan pada kekasihnya itu. Gadis yang sudah siap dengan riasan cantik pada wajahnya ini berusaha agar tidak menangis. Ia sangat sedih karena harus menikah dengan orang yang tidak ia cintai.


Di lantai dasar rumah, tamu-tamu sudah berkumpul. Akad hanya dihadiri oleh keluarga dekat dan sahabat dari Hanafi serta Cempaka.


Hanafi yang tegang itu mendapat tepukan di bahunya. Ia mendongak untuk menatap siapa pelaku yang mengejutkannya itu.


Ternyata itu Mavis yang datang dengan kekasihnya bernama Nisa. Mavis duduk bersimpuh di samping Hanaf.


“Gugup ya, Bro?”


“Udah tau pakek nanya lagi lo.”


Mavis tertawa kecil, “Santai aja, Bro. Inget malam pertamanya.”


Hanafi menepuk paha Mavis cukup kuat hingga menimbulkan bunyi. Pria itu merintih sembari mengusap pahanya.


“Salah gue di mana?”


“Mesum lo!”


“Ini lo yakin tetap bakal nikah? Lo sama tuh cewek ‘kan baru kenal. Apa lagi kata lo kemaren tuh...” Mavis sengaja berbisik di dekat telinga Hanafi.


Mavis tidak mengetahui kesepakatan Hanafi dengan Cempaka. Ia hanya tahu kalau Hanafi melakukan ini demi permintaan Hamzah.


“Gue yakin, bahkan lebih dari kata yakin. Gue udah serahkan semua sama sang pencipta. Gue harus jalanin ini.”


“Menurut gue, kalau setahun atau bahkan enam bulan hubungan lo nggak ada peningkatan lebih baik cerai. Dia nggak akan mau lo sentuh karena hatinya bukan untuk lo.”


Hanafi tertegun. Perkataan sahabatnya itu benar. Pernikahan ini mungkin tidak akan menghasilkan keturunan atau bahkan Hanafi yang akan ditinggal oleh Cempaka suatu saat nanti.


Acara pun akan dimulai. Pengantin wanita telah keluar dari kamarnya. Cempaka kini duduk bersanding di sebelah calon suaminya.


Hanafi sangat tampan dengan peci hitam melekat di kepalanya. Ketika pria itu menoleh, Cempaka buru-buru memandang ke arah lain.


“Sudah siap saudara Hanafi?” tanya penghulu yang duduk di seberang meja mereka.


Hanafi mengangguk, “Siap, Pak.”


“Mari kita mulai.”


Penghulu mengarahkan tangan Hamzah untuk menjabat tangan Hanafi. Cempaka dinikahkan langsung oleh ayahnya.


“Saya nikahkan dan kawinkan engkau saudara Hanafi Al Amin bin Adam Pratama dengan putri saya yang bernama Cempaka Dahayu binti Hamzah Saputra dengan maskawin berupa uang 50 juta dan seperangkat alat Shalat di bayar tunai.”


Ketika tangan itu dientakkan Hanafi lekas membalas ucapan calon ayah mertuanya, “Saya terima nikah dan kawinnya Cempaka Dahayu binti Hamzah Saputra dengan maskawin tersebut dibayar tunai.”


Seketika kata sah memenuhi ruangan itu bersamaan dengan air mata Cempaka yang menetes dari sebelah pelupuk matanya. Arfan tidak menghadiri pernikahan ini, tetapi ingatan Cempaka hanya ke lelaki itu.


Olive juga ikut terisak karena tidak rela melepas Dosen kesayangannya menikah dengan sahabatnya sendiri, sedangkan Ayumi dan Kalya memberi tepuk tangan karena kagum dengan Hanafi yang hanya sekali melakukan ijab kabul.


 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2