Good Husband

Good Husband
Rumah Baru


__ADS_3

Sudah setengah jam Cempaka berkeliling mall bersama Aisyah. Kini mereka mampir ke supermarket untuk berbelanja bahan pokok kebutuhan Hanafi dan Cempaka di rumah baru. Rencananya pasutri itu akan pindah besok pagi.


“Lebih baik belanja dari sekarang. Biar besok ada bahan untuk kamu masak,” ujar Aisyah disela-sela mengambil sayuran.


“Bunda sama Ayah nggak apa kalau tinggal berdua aja?” Aisyah menoleh mendengar pertanyaan menantunya, “biasanya, Mas Hanaf ‘kan selalu bersama kalian.”


Sejujurnya Cempaka hanya berbasa-basi menanyai ini. Ia bersyukur akan terbebas dari pengawasan orang tua. Sesudah ini ia bisa meluangkan waktu lebih banyak untuk Arfan. Ia tidak ingin kehilangan kekasihnya.


Aisyah menghela napas, “Hanaf memang anak satu-satunya kami, tetapi sejak berkuliah di Australia kami udah biasa ditinggal. Apa lagi sekarang Hanaf udah beristri. Mau bagaimana pun Bunda harus bisa melepasnya.” Aisyah tersenyum, “kami masih bisa berkunjung sesekali ke rumah kalian. Nggak sejauh seperti ke Australia.”


Cempaka tertawa kecil mendengar penuturan sang Bunda yang sedikit dibumbui gurauan.


Selesai membeli sembako dan bahan masakan. Kedua wanita itu melipir ke arah toko perabotan. Aisyah sudah mencari-cari barang lain untuk mengisi rumah anaknya.


“Setau Bunda terakhir kali ke rumah baru Hanaf nggak ada ember.” Aisyah mengambil beberapa ember berbeda warna.


Belanjaan itu banyak sekali. Hingga Cempaka susah membawanya. Akhirnya, mereka meletakkan dulu barang-barang itu di mobil, lalu lanjut untuk mampir ke restoran. Aisyah membawa menantunya makan siang.


“Hanafi itu alergi dengan susu sapi. Bunda harap kamu selalu bisa mengingat ini. Karena kalau kelupaan bahaya sampek terkonsumsi.”


Disela-sela menunggu pesanan mereka sampai Aisyah bercerita sedikit tentang anaknya.


“Memang kalau sampek dikonsumsi efeknya apa, Bun?”


“Terakhir saat SMA sampek dirawat karena tubuhnya jadi memerah dan sulit bernapas. Kata Dokter, kalau telat sedikit lagi nyawanya tidak bisa diselamatkan.”


Cempaka baru tahu kalau suaminya punya alergi separah itu. Walau bagaimana pun ia harus ingat dengan pesan Aisyah. Bukan karena Cempaka mulai ada perasaan dengan Dosennya itu ini hanya demi kemanusiaan dan balas budi atas kebaikan Hanafi kepada Cempaka saja.


“Ternyata fatal juga kalau salah konsumsi ya, Bun.”


“Iya, kamu juga harus salalu mengingatkan Hanafi agar menjaga makanannya di luar!”


Cempaka mengangguki itu dengan tegas.


Percakapan itu terhenti ketika makanan yang mereka pesan sudah datang. Aisyah hanya sesekali betul mengajak menantunya bicara lagi saat makan.


...****************...


Hari yang ditunggu datang. Cempaka dan Hanafi pindah ke rumah pribadi mereka. Pasutri itu diantar oleh kedua orang tua Hanafi ke rumah baru mereka. Orang tua serta kakak dan kakak ipar Cempaka juga datang. Mereka memang sengaja meluangkan waktu di hari minggu ini.

__ADS_1


Cempaka membuka pintu salah satu kamar. Ia menatap isi dalam yang sudah rapi. Kamar itu dilengkapi kamar mandi juga.


“Ini kamar utamanya?” tanya Cempaka pada lelaki di sebelahnya.


Hanafi mengangguk, kemudian menatap wanita yang lebih rendah darinya.


“Iya, kamu suka?”


Cempaka mengangguk dengan mata masih memperhatikan kamar, “Suka.”


Gadis itu menghadap Hanafi sembari berkacak pinggang. Layaknya desain interior handal Cempaka menelisik sudut rumah dengan netranya.


“Dari semua yang saya perhatikan rumah ini desainnya lumayan bagus. Saya suka.” Setelah menyampaikan pendapatnya Cempaka beralih ke ruangan lain meninggalkan Hanafi yang tersenyum milihat kelakuannya.


Rumah baru mereka tidak terlalu besar. Hanya satu lantai yang terdiri dari tiga kamar. Namun, satu kamar yang lebih kecil akan dijadikan gudang oleh Hanafi.


Cempaka melongo melihat taman belakang cukup luas dan asri. Ada gazebo untuk bersantai di sore hari. Terdapat pohon belimbing yang menambah sejuknya taman itu. Cempaka suka, tetapi bagi gadis mageran ini kondisi rumah begini membuatnya harus menguras tenaga untuk berberes kedepannya. Tidak mungkin taman ini tak di rawat.


Cempaka berlari ke arah Hanafi yang sedang berbincang dengan Hamzah di ruang tengah.


“Mas-mas!” panggilan itu membuat percakapan kedua laki-laki ini terhenti, “apa saya boleh mendapatkan tukang kebun untuk menata taman kita?”


“Capek, Abi. Tamannya itu luas.” Cempaka mengilustrasikan seberapa luas taman belakang dengan kedua tangannya, “masa Aka yang beresin sendirian. Aka juga harus kuliah dan mengerjakan tugas.”


“Udah-udah, nanti kalau waktunya dirawat Mas akan sewa tukang kebun. Jangan berbicara keras dengan Abi seperti itu!”


“Habis Abi nggak ngertiin anak sendiri,” keluh Cempaka cemberut.


“Abi cuma mau kamu mandiri. Udah punya suami jangan kayak anak kecil lagi.”


Cempaka tidak membalas lagi. Ia melipir ke tempat lain. Hamzah menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan putri bungsunya.


“Kamu sabar-sabar ya sama Aka.” Hamzah menepuk-nepuk pundak menantu kesayangannya.


...****************...


Beres-beres rumah dengan dibantu banyak orang akhirnya selesai juga, sekarang Aisyah dan Indah sedang sibuk di dapur menyiapkan makan siang. Para pria ada di taman belakang, sedangkan Cempaka menghampiri Juwita yang ada di depan sedang menenangkan putrinya yang sempat menangis.


“Asha kenapa, Kak?”

__ADS_1


Juwita menoleh, tubuhnya bergerak ke sana kemari untuk mendiamkan anaknya.


“Biasa kalau udah siang rewel. Sepertinya mengantuk.”


Cempaka mengusap-usap pipi keponakannya, “Jangan bobo dulu asha, kita emam sama-sama dulu!”


Juwita tersenyum mendengarkan Cempaka berbicara menggunakan suara yang sengaja dikecilkan. Asha sudah reda tangisnya. Ia minta berpindah ke gendongan sang tante.


Dengan senang hati Cempaka mengambil alih tugas Juwita. Ia pun sudah rindu sekali dengan keponakan satu-satunya itu. Biasanya Cempaka selalu menyempatkan waktu untuk bermain dengan Asha di rumah. Sekarang karena sudah menikah Aka hanya bisa sesekali bertemu malaikat kecil itu.


Juwita menyenggol pelan lengan sang adik, “Gimana jalanin seminggu ini sama Hanaf? Orangnya baik?”


“Ya gitu.” Mata Cempaka mengukuti pergerakan Juwita yang ingin duduk di kursi yang ada pada teras rumah, “dia baik, tapi nggak gaul. Terlalu tua.”


“Tua gimana?”


“Masa aku ajak ke club nggak mau. Katanya, itu bukan tempat yang baik. Hanya dapat dosa ke situ. Udah kayak Abi yang ceramahin Aka.”


Juwita terkekeh kecil, “Udah bener kata suami kamu. Lagian mau apa ke sana?”


“Buat—“


Cempaka hampir saja keceplosan. Waktu itu ia pernah ingin mengajak Hanafi ke club hanya untuk bertemu Arfan saat malam hari. Pikirnya, kalau keluar bersama pria itu tidak akan ada yang melarang. Namun, Hanafi menolak dan rencana Cempaka gagal total.


“Buat?” kepala Juwita sedikit miring ke kiri, “buat apa?”


“Nggak kok, bukan apa-apa.” Cempaka menggeleng cepat.


“Lalu ke depannya mau gimana?” Dahi Cempaka mengerut ketika mendengar pertanyaan dari kakak iparnya, “kamu mau program anak sekarang atau tunggu lulus dulu?”


“Iih, apa sih, Kak! Aku belum mau punya anak!”


“Memang kamu nggak pengen bayi kayak Asha?”


Cempaka menoleh pada Asha. Bayi kecil itu tertawa ketika tantenya menatap dirinya, kemudian gadis ini kembali menatap sang kakak.


“Nggak! Saat ini Asha udah cukup buat aku.”


Cempaka berlalu masuk ke dalam rumah membawa keponakannya. Juwita menggeleng sembari tertawa. Ia tahu adik iparnya itu salah tingkah.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2