
“Aka di mana? Umi sama yang lain mau berangkat. Kenapa kamu belum pulang udah malam begini?”
Cempaka membaca pesan dari ibunya yang sampai lima menit lalu, kemudian ia segera membalasnya.
Cempaka: Maaf Umi, Aka tadi ngerjain tugas esai dulu. Umi sama yang lain langsung pergi aja. Nanti Aka nyusul. Jangan lupa share loc Umi. Makasih Umi cantik ❣️
Cempaka memeriksa kembali handphone setelah alamat tujuan yang Indah kirimkan. Gadis itu segera memberi tahu sopir taksinya.
Cempaka memang benar pergi untuk menemui narasumber yang ingin ia wawancarai untuk tugas dari Hanafi. Namun, Arfan mengajaknya untuk quality time sebelum pemuda itu pergi bermain dengan teman-temannya. Entah sengaja atau bagaimana Arfan seperti mengulur waktu. Hingga kini Cempaka masih ada di jalan, terjebak macet.
“Terima kasih, Pak!”
Setelah membayar, Cempaka bergegas turun. Ada setengah jam perjalanannya menuju restoran yang Indah sudah beri tahu sebelumnya.
Ketika masuk ke dalam Cempaka disambut dengan pondokan khas sunda. Tampak asri dan berbeda dengan restoran lain. Cempaka mencoba mencari di mana keluarganya. Melihat Juwita melambaikan tangan Cempaka tersenyum.
Sebelum pergi menghampiri pondok yang ditempati keluarga besarnya untuk makan malam bersama, Cempaka jadi berpikir, mengapa rasanya kalau dilihat dari tempatnya berdiri. Jumlah keluarganya lebih banyak.
“Apa Abi ngajak saudara yang lain juga?” Dahi Cempaka berkerut. Ia hanya dapat melihat punggung-punggung saja dari sana. Karena penasaran ia dengan cepat mendekati pondok itu.
“Aka dat— Pak Hanaf?”
Bukan hanya Cempaka yang terkejut melihat tamu yang sedang makan bersama dengan keluarganya, tetapi keluarga besarnya sama kagetnya.
Hanafi yang memang sudah tahu siapa calon istrinya hanya menatap dengan ekspresi datar.
“Kamu kenal Hanafi?” tanya Hamzah. Ia benar-benar belum memberitahu sama sekali siapa calon untuk anaknya. Hamzah mau pertemuan ini jadi momentum Cempaka mengenal calon suaminya.
Cempaka menoleh ke arah ayahnya, “Dia Pak Hanaf, Abi. Dosennya Aka.” Ia menatap Hanafi kembali, “Pak Hanaf ngapain di sini? Makan sama keluarga saya lagi.”
...****************...
Cempaka duduk canggung berhadapan dengan Hanafi. Sekarang semua sudah tahu kalau Cempaka mengenal Hanafi sebagai Dosennya di Kampus. Begitu sebaliknya, Cempaka juga tahu kalau keluarga Hanafi adalah teman lama dari ayahnya.
Sekarang Cempaka meyakini benarnya peribahasa, dunia hanya selebar daun kelor. Benar-benar sempit sampai harus Hanafi yang menjadi anak teman dari Hamzah.
“Kamu kenapa nggak cerita kalau Cempaka ini mahasiswi kamu?” tanya Adam pada putranya.
“Maaf Ayah, Hanaf memang sengaja nggak kasih tau Ayah atau Bunda. Hanaf bingung.”
“Bingung kenapa, Naf?” kali ini pertanyaan datang dari Hamzah, “bukannya bagus kalian sudah saling mengenal. Apa lagi ternyata selama ini sering bertemu di lokasi yang sama. Ini akan membuat kalian lebih mudah pendekatan.”
Cempaka menoleh ke arah Hamzah, “Maksud Abi?”
__ADS_1
“Kamu belum mengerti juga, Ka?” Hamzah mengarahkan kelima jarinya untuk menunjuk Hanafi, “Hanaf ini anak temen yang mau Abi jodohin sama kamu. Bagaimana, tampan ‘kan? Pilihan Abi bagus ‘kan?”
Untuk kali ini Cempaka lebih syok. Ia pikir ini hanya teman Hamzah biasa karena beberapa hari ini sang ayah tidak membahasa perjodohannya.
“Abi...” Cempaka menggeram membuat Danish menahan malu.
Hamzah mendekat ke telinga putrinya, “Jangan buat Abi malu! Kalau sampai kamu buat kekacauan di sini. Uang bulanan kamu nggak Abi kasih selama tiga bulan.” Bisik pria paruh baya itu.
Cempaka kalah kalau sudah diancam dengan keuangannya. Iya tersenyum pada ibu dan ayah dari Hanafi.
“Bagaimana Hanafi, kamu siapnya kapan?” tanya Hamzah membuat Hanafi menatap ayahnya.
“Abi kenapa buru-buru amat?” kali ini Cempaka protes, “biarin kita saling kenal dulu. Taaruf kayak Bang Danish sama Kak Juwi gitu.”
“Bukannya kalian udah sering bertemu di kampus.”
“Beda Abi. Aka nggak tau kalau Pak Hanaf ini calon yang Abi bilang. Aka nggak deket sama Pak Hanaf. Dia juga Dosen baru di Kampus.”
“Biarkan Hanafi yang memutuskan waktunya.”
Cempaka berdecih. Mengapa suaranya tidak dianggap di sini, padahal yang menjadi calon pengantin itu dirinya.
Hamzah tersenyum ke arah calon menantunya, “Bagaimana Hanaf?”
“Om pikir ‘kan kamu mau dicepatkan setelah lihat putri Om yang cantik ini.” Hamzah dan beberapa orang tertawa. Kecuali Cempaka yang pasang wajah cemberut dan Hanafi yang canggung.
Hanaf tampak malu-malu, lalu membenarkan posisi duduknya, “Kalau menurut saya, kita nggak perlu cepat-cepat Om. Biarkan saya mengenal Cempaka dan begitu pun sebaliknya. Soalnya saya nggak mau memaksa Cempaka. Kalau putri Om merasa nggak cocok sama saya, saya nggak masalah kalau perjodohan ini dibatalkan.”
“Iya benar Hamzah. Kita nggak bisa memaksakan mereka. Karena ke depannya mereka yang akan menjalankan rumah tangga,” tambah Adam.
Hamzah jadi khawatir. Jangan-jangan keluarga temannya ini akan sungguh-sungguh membatalkan perjodohan, sedangkan menantu idaman Hamzah itu ada di Hanafi. Apa lagi setelah bertemu langsung, Hamzah semakin yakin atas pilihannya.
“Jangan sampai batal!” Hamzah merangkul Cempaka yang duduk di sebelahnya, “Cempaka udah merasa cocok sama kamu.”
Cempaka mendelik, menatap tidak percaya pada sang ayah. Ingin marah, protes dan mengacak-ngacak pondok ini. Namun, Cempaka harus mengurungkan itu dari pada uang bulannya terancam. Ia tetap akan protes setelah sampai di rumah.
“Menurut saya, Pak Hamzah, biarkan saja anak-anak ini mengenal lebih dulu. Selesai KKN itu ‘kan masih lama. Dari situ mereka bisa memutuskan lagi ke depannya.” Ibu Hanafi yang dari tadi menyimak saja, kini mengeluarkan pendapatnya.
“Baiklah, nggak apa-apa kembali ke rencana awal.”
“Biar Cempaka juga bisa fokus ke KKN-nya dulu, Om.” Hanafi tersenyum tipis.
“Iya bener kamu. Biar si bocil ini fokus belajar.” Hamzah mengusap-usap kepala putrinya.
__ADS_1
...****************...
Obrolan panjang itu berlangsung alot. Hingga tiba-tiba Hanafi meminta izin untuk ke toilet. Cempaka yang masih berusaha menghabiskan makan malamnya jadi teringat sesuatu.
“Aka juga mau ke toilet.”
Gadis itu cepat turun dari atas pondok dengan tangan kanan yang kotor. Ia lekas menyusul Hanafi.
“Pak Hanaf!”
Hanafi yang benar-benar berjalan ke arah toilet itu berhenti melangkah, kemudian berbalik badan.
“Ada apa, Cempaka?”
Cempaka yang hanya tinggi sedagu Hanafi berhenti di depannya. Ia menatap Dosennya itu tidak suka.
“Bapak kalau udah tau mau dijodohin sama saya kenapa nggak nolak?”
Hanafi membenarkan posisi tempatnya berpijak. Ia menghadap ke Cempaka. Menatap intens lawan bicaranya.
“Begini, awalnya saya juga nggak tau kalau kamu itu yang akan dijodohkan dengan saya. Ayah hanya bilang kamu anak temannya, cantik dan baik akhlaknya. Anak temannya itu yang terbaik buat saya. Saya berpikir kalau pilihan Ayah memang benar. Maka itu saya nggak pernah menolak keinginan Ayah saya yang satu ini.”
Cempaka memutar bola matanya malas sesudah mendengar penjelasan Dosennya itu.
“Sekarang Bapak udah tau ‘kan? Saya harap Bapak bantu saya membatalkan perjodohan ini. Karena dari awal saya nggak mau dijodohkan sama siapa pun.”
Hanafi mencoba mencerna lebih dalam perkataan gadis di hadapannya.
“Bapak tau nggak sih saya ini udah punya pacar. Namanya Arfan dan saya sangat mencintainya. Kalau Bapak masih nekat buat menikah sama saya. Itu artinya Bapak merusak hubungan orang lain. Jadi, perusak hubungan orang itu nggak baik, Pak.”
Baru tadi pagi Hanafi melihat Cempaka dan kekasihnya di koridor kampus, pastinya ia sangat tahu kalau gadis berambut panjang yang terkuncir ini sudah mempunyai tambatan hati. Ia tidak mau mengganggu hubungan mereka. Apa lagi menjadi penyebab berakhirnya hubungan asmara sejoli itu.
“Iya, saya akan bicara sama Ayah. Kamu tenang aja.”
“Begitu dong.” Cempaka menghela napas, “saya jadi nggak susah sendirian lagi sekarang buat nolak kemauan Abi. lagian, Bapak tuh cowok. Udah dewasa kenapa nggak cari calon istri sendiri aja?”
Hanafi tidak menjawabnya. Ia hanya menatap Cempaka.
Cempaka mengibaskan sebelah tangan, “Sudahlah, itu bukan urusan saya.”
Gadis itu kembali ke arah pondok tempat keluarganya berkumpul, sedangkan Hanafi masih diam di tempat sembari memerhatikan punggung Cempaka yang semakin menjauh.
...****************...
__ADS_1