
Mata yang terlihat sayu itu berusaha menegarkan diri untuk terus terbuka. Belum lagi bawah mata yang tampak menghitam menjadikannya terlihat sangat lelah. Kepala itu hampir saja terjatuh ke meja, kalau tidak ditahan oleh sebuah telapak tangan besar.
“Kalau kamu ngantuk mending pulang dulu. Terus istirahat!”
Cempaka menggeleng. Ia mengangkat kepala dan berusaha membuka mata selebar mungkin untuk menatap layar laptop di depannya.
“Nggak, habis ini aku masih ada jam kuliah.”
“Coba deh ngaca. Itu mata kamu udah kayak panda. Jangan dipaksa kalau udah capek. Nanti sakit, bagaimana?”
Cempaka menatap pria yang ada di sampingnya itu, “Aku belum bisa istirahat kalau tugas ini belum selesai Arfan.”
“Udah berapa hari kamu nggak tidur.”
“Tiga hari ini aku kurang tidur.”
“Kalau gitu setelah jam terakhir kamu pulang terus tidur dulu. Baru lanjut lagi. Kalau sampek sakit berhari-hari kamu nggak bisa ngerjain tugasnya.” Arfan menghela napas, “lagi itu dosen ngasih tugas banyak banget, tapi waktu mepet banget.”
Cempaka bersandar pada kursinya setelah menyeruput es jeruk yang tinggal setengah gelas. Ia memijat pelipis yang terasa berdenyut.
“Aku bakal ikutin saranmu. Kayaknya selain tidur aku butuh hiburan juga. Rasanya stres banget.”
“Besok malem pergi dugem sama aku mau?”
Gadis berkaus lengan pendek serta rompi berwarna krim itu mendelik, “Kamu mau aku kena amuk Abi lagi? Inget nggak waktu pertama kali aku ikut kamu. Pulang keadaan mabuk sampek didiemin Abi seminggu.”
“Aku ‘kan cuma saran. Menurutku dugem itu bisa ngilangin stres. Kamu tinggal atur aja mau pulang mabuk atau nggak. Pinter-pinternya kamu, selama Abi nggak tau kamu nggak akan kena marah.”
Cempaka menggeleng ribut, “Aku nggak mau. Lebih baik aku pergi shopping sama Kalya dan Olive.”
Arfan menggeser duduknya kini menghadap ke sang kekasih, “Ayolah, ikut aku besok malem. Kamu nggak perlu mabuk. Udah lama loh kamu nggak temenin aku. Aku pastiin nggak akan ketauan Abi.”
Cempaka menggeleng untuk kedua kalinya. Ia tetap menolak ajakan itu.
“Di sana banyak temen-temenku yang bawa pacarnya. Cuma aku yang nggak pernah. waktu kamu ikut dugem beberapa temenku nggak datang. Masa kamu tega biarin aku sendiri dan digoda para cewek.”
Seketika Cempaka duduk dengan tegak. Menatap lekat lelaki di hadapannya.
“Kamu suka digodain cewek-cewek di club?”
“Sering.” Arfan mencebikkan bibir, memasang eyes puppy, dan mengangguk pelan. Gemas.
__ADS_1
“Ih, aku nggak suka. Aku bilang apa lebih baik kamu berhenti dugem deh. Cari kegiatan lain. Apa nggak ada tempat nongkrong yang lain?”
“Teman-temanku maunya di sana.”
Cempaka menghela napas, “Oke, buat besok malem aku ikut, tapi kamu harus janji nggak akan tergoda sama cewek-cewek itu! Aku nggak bisa awasin kamu terus.”
Arfan mengambil kedua tangan Cempaka. Menggenggamnya erat, lalu mengecup punggung tangannya dengan lembut.
“Aku janji sayang.”
Siapa yang tidak luluh diperlakukan semanis itu. Cempaka merasa perutnya dipenuhi kupu-kupu sekarang.
Arfan menurunkan tangan kekasihnya kembali, lalu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan.
“Sayang, lima menit lagi Dosen aku masuk kelas nih. Aku duluan ya!”
Cempaka mengangguk, “Iya, aku paling ke kelas setengah jam lagi. Semangat belajarnya sayang!”
Arfan meraih ranselnya, kemudian menunjukkan senyuman manis.
“Iya, makasih sayangku.” Arfan mengacak sekilas rambut Cempaka, lalu berlari meninggalkan kantin.
...****************...
“Cempaka bangun, Nak!” suara begitu lembut masuk ke pendengaran gadis yang sedang terlelap ini. Usapan lembut di kepala juga ia rasakan, “Udah magrib sayang. Shalat dulu yuk!”
Gadis yang tidak berganti pakaian sepulang dari kampus itu menggeliat. Ia mulai merasa terusik. Perlahan mata yang terpejam itu terbuka.
“Umi...”
“Ayo bangun mandi terus shalat magrib! Nggak baik tidur magrib-magrib begini.” Indah memukul sekilas bokong putrinya.
“Aka capek Umi. Baru juga tidur dua jam,” ujarnya dengan mata masih malas untuk terbuka sempurna.
“Ini masih untung Umi yang bangunin. Kalau Abi udah diseret kamu ke kamar mandi.”
Mendengar itu mata Cempaka terbuka lebar, lantas ia juga lekas duduk.
“Jangan panggil Abi, Umi! Aka udah bangun kok nih.”
Indah tertawa sembari menggelengkan kepala, kemudian ia berdiri.
__ADS_1
“Kalau gitu Umi tinggal ya.” Cempaka mengangguk, “awas kalau tidur lagi!”
“Nggak Umi...”
Melihat Indah yang sudah pergi dan kembali menutup pintu dengan rasa malas yang masih ada Cempaka beranjak dari ranjangnya.
Sepulang dari kampus Cempaka mengerjakan tugas yang belum selesai. Sesudah shalat ashar ia memutuskan untuk tidur terlebih dulu dan terlelap sampai magrib datang.
...****************...
“Kamu lagi sibuk, Naf?” tanya seseorang di depan pintu kamar yang terbuka setengah.
Pria berkaus hitam dan celana training itu menoleh ke sumber suara. Ia tersenyum menatap pria tua di depan pintu.
“Nggak juga, Yah.” Hanafi menggeser kursi kerjanya. Ia memfokuskan diri ke arah sang ayah, “ada apa, Yah?”
Pria berumur yang tidak bisa dibilang muda lagi itu melangkah masuk ke kamar. Ia mendudukkan diri di tepi ranjang. Hanafi mendekatinya dan duduk bersebelahan.
“Ayah ingin berbicara tentang perjodohanmu.”
“Bagaimana Yah kelanjutannya. Apa gadis itu mau sama Hanaf?” Lelaki ini mengusap tengkuknya, “Hanaf ‘kan nggak berpengalaman soal mendekati perempuan.”
Adam mengusap pundak putra semata wayangnya, “Kamu tenang aja. Ayah si perempuan udah mengatur semuanya. Rencananya kalian akan kami pertemukan dulu, lalu pernikahan akan dilangsungkan setelah anaknya Hamzah selesai dari KKN-nya.”
“Dia masih kuliah?”
Adam mengangguk, “Iya, tapi katanya sebentar lagi akan skripsi dan lulus.”
Hanaf mengangguk paham. Adam tiba-tiba merogoh saku celananya.
“Menurut Ayah, kamu harus lihat calon istrimu.” Adam mengeluarkan secarik kertas foto, “putrinya Hamzah cantik sekali.”
Hanaf menerima foto yang ayahnya berikan. Ia tersentak saat melihat sosok manis di dalam selembar kertas itu. Benar-benar tidak terduga. Apa ini yang dinamakan takdir? Hanaf seketika takjub dengan skenario dari tuhan.
“Kamu tidak menyukainya?” tanya Adam saat melihat ekspresi Hanaf yang sedikit berbeda.
Hanaf menggelengkan kepala, “Nggak Ayah, Hanaf suka. Dia gadis yang cantik. Semoga kami berjodoh ya, Yah.”
“Amin...”
...****************...
__ADS_1