
“Terlihat dari hasil rontgen lusa, jantung Bapak lebih membaik. Saya sarankan agar Bapak selalu jaga pola makan, jangan berpikir berat dan kecapekan.”
Pria paruh baya itu mengulas senyum tipis. Ia sangat bersyukur atas kesehatan yang terus membaik. Pingsan di sekolah dua hari yang lalu membuat kondisi kesehatannya jadi menurut drastis. Ia jadi takut kalau makin parah kondisi ini akan sampai ketelinga keluarganya. Ia tidak ingin membuat mereka bersedih.
“Menurut saya, Bapak coba ceritakan penyakit yang Bapak idap searang ini kepada keluarga. Karena menurut saya support dari keluarga itu juga menunjang kesebuhan Bapak,” ucap Dokter yang sudah satu bulan ini menagganinya.
Pria berkemeja itu tertegun. Ia memerhatikan sepatu fantopel yang melekat pada kedua kakinya. Sekarang kedua kaki ini masih tegar menopang tubuh, tetapi tidak tahu untuk setahun atau sebulan ke depan. Ia menatap sang Dokter kembali sembari menggeleng lemah.
“Saya pikir nggak perlu, Dok. Saya udah lebih baik sekarang. Mereka nggak perlu tahu.”
“Kalau begitu saya akan memberi resep kembali untuk Pak Hamzah minum.”
Dokter yang terlihat lebih muda sedikit dari Hamzah itu menuliskan sesuatu sebelum menyerahkannya ke tangan Hamzah.
“Diminum yang teratur ya, Pak! Terutama vitaminnya.”
Hamzah menerima selembar kertas, kemudian mengangguki ucapan sang Dokter.
“Terima kasih, Dok. Saya permisi.”
Dokter itu tersenyum sembari menganggukkan kepala. Ia ikut berdiri ketika pasiennya melangkah keluar ruangan.
Hamzah memerhatikan resep yang ada di tangannya sembari berjalan perlahan ke arah apotik rumah sakit. Tidak terbayang olehnya akan memiliki penyakit seberat ini. Apa lagi ia masih ada satu putri yang belum menikah. Semuanya jadi terpikir oleh pria paruh baya itu.
...****************...
Dua hari Cempaka absen dari perkuliahan. Bahkan Abi tidak membantunya untuk meminta izin pada Dosen. Hari ini pula adalah Hari terakhir untuk mengumpulkan tugas Esai. Sebelum seminggu lagi jadwal KKN keluar. Cempaka adalah orang terakhir. Kedua temannya sudah mengumpulkan tugas lebih dulu.
Cempaka menghela napas panjang. Ia gugup akan bertemu dengan Hanafi. Sejak dari pembicaraan waktu itu, hanya pada saat pelajaran saja lah Aka bertemu Hanafi selebihnya Dosen itu tidak pernah melintas di depan Cempaka.
Gadis yang membawa makalah itu mengetuk pintu perlahan sampai seseorang di dalam berbicara, “Silakan masuk!”
Cempaka baru berani membuka pintu ruangan yang selalu dihindarinya selama berkuliah. Ada Hanafi dan satu Dosen laki-laki di ruangan itu. Namun, karena tujuan Cempaka ke Hanafi, ia lantas menghampiri meja lelaki itu.
“Maaf, Pak. Saya mau mengumpulkan tugas.”
“Letakkan aja di situ!”
Dengan sangat hati-hati Cempaka meletakkan makalah di pelukannya ke atas tumpukan buku-buku yang ada di pinggir meja.
“Lain kali jangan terlalu mepet mengumpulkannya.” Hanafi kini melihat Cempaka, “kalau ada yang masih kurang susah untuk revisi.”
Cempaka meneguk salivanya dengan susah payah, “kalau misal perlu revisi dan nggak cukup waktunya bagaimana, Pak?”
“Kamu terima nilai apa adanya.”
__ADS_1
Lagi, Cempaka meneguk kuat salivanya. Ia tersenyum canggung.
“Terima kasih infonya, Pak. Saya permisi.”
Hanafi mengangguk, kemudian menatap laptopnya kembali. Kaki Cempaka melangkah gontai keluar dari ruangan Dosen. Ia pasrah akan dapat berapa tugas penambah nilainya itu. Kalau memang tidak bisa ikut KKN ya sudah. Ia harus terima jika harus menambah satu tahun lagi.
“Sayang!”
Gadis yang rambutnya terkuncir rapi itu tersentak ketika tiba-tiba ada tangan merangkulnya. Ia segera menoleh, lalu mengusap dada saat tahu pelakunya.
“Arfan! Aku kaget tau.”
Arfan cengengesan, “Maaf, kamu baru ngumpulin tugas ya?”
Cempaka mengangguk lesu. Tidak ada semangat hari ini, padahal masih pagi.
“Kenapa kamu nggak happy? Padahal udah selesai tugasnya. Harusnya sekarang kita party nggak sih? Buat rayain ini?”
“Nggak.” Jawaban singkat dari kekasihnya membuat dahi Arfan mengerut, “tugas aku itu nilainya belum tentu bagus. Aku takut kalau harus ulang satu tahun lagi. Bisa jadi mahasiswi jompo aku.” Mereka berjalan perlahan sembari berbincang ringan.
“Kamu nggak usah khawatir berlebihan begitu!” Arfan terlihat santai menanggapi, “nilai kamu pasti bagus. Aku tau pacarku itu pintar.”
Pujian dari Arfan berhasil membuat wajah Cempaka bersemu kemerah-merahan.
“Bisa aja kamu.” Cempaka teringat sesuatu, “kamu juga harus PKL ‘kan?”
Arfan mengangguk, “Iya, jadwalnya juga udah keluar.”
“Kamu yang semangat PKL-nya. Jangan jelalatan matanya! Awas PKL-nya dijadiin ajang cari selingkuhan. Fokus aja sama tugas kita dulu. Kamu fokus PKL, aku fokus KKN.”
Arfan kini tertawa renyah. Ia mengusak rambut Cempaka. Hingga sang empunya sedikit memanyunkan bibirnya.
“Aku nggak punya waktu untuk selingkuh sayang. Aku itu harus fokus sama PKL ini biar nilaiku bagus.” Arfan berkaca pinggang, “kamu yang jangan sampai CINLOK!”
“Sama siapa juga aku mau CINLOK. Aku ‘kan sayang dan cintanya cuma sama kamu.”
“Memang paling bisa.” Arfan mencebikkan bibir, kemudian tidak lama tertawa.
...****************...
“Umi... Bang Danish...”
Cempaka berlari sembari menyeret kopernya ke arah mobil keluarga yang terparkir di depan gerbang kampus. Gadis itu baru saja tiba dari menyelesaikan tugas KKN-nya selama dua bulan ini.
Ia sangat merindukan keluarganya setelah sekian lama meninggalkan rumah. Cempaka lega ia dapat mengikuti KKN tahun ini. Ternyata Hanafi hanya menakut-nakutinya saja. Buktinya ia bisa pergi.
Cempaka berhambur memeluk Umi sembari berceloteh, “Aka kangen banget sama Umi. Kangen, kangen, kangen banget.”
__ADS_1
Indah tertawa mendengar penuturan anak bungsunya, “Umi juga kangen sama kamu.” Ia menciumi pipi Cempaka.
Putri kecilnya yang dulu takut untuk tidur sendiri sekarang sudah sering meninggalkan rumah. Bahkan bisa berbulan-bulan. Cempaka sudah bisa mandiri dan bukan anak-anak lagi. Waktu terlalu cepat berlalu.
“Woi, whats up, Bang!” Cempaka menjabat tangan Danish, lalu mencium punggung tangannya. Melihat kelakuan sang adik, Danish hanya menggelengkan kepala.
“Kamu nggak ngompol saat di rumah Pak lurah ‘kan?” pertanyaan Danish membuat adiknya itu sewot.
“Ya kali udah gede masih ngompol.”
“Inget! Kamu berhenti ngompol saat kelas 5 SD.”
“Stttth!” Cempaka meletakkan jari telunjuk di depan bibir pria yang lebih tinggi darinya ini, “jangan keras-keras! Kalau orang yang kenal gue denger gimana?”
Setelah itu Cempaka celingak-celinguk memerhatikan sekitarnya. Takut benar ada yang mendengar penuturan Danish barusan.
“Udah ayo pulang! Apa kamu nggak capek habis perjalanan jauh?” Indah menengahi perdebatan kakak beradik itu.
“Capek Umi.” Cempaka memberikan koper ke Danish, “tolong ya, Bang!”
Danish membantu memasukkan koper pakaian itu ke dalam bagasi, sedangkan Cempaka langsung masuk ke dalam mobil bersama Indah.
Cempaka rindu dengan jalan yang biasa ia lewati sepulang dari kampus, padahal ia pergi tidak terlalu lama. Gadis yang duduk sendirian di belakang ini menatap sang ibu.
“Umi, kenapa Abi nggak ikut ngejemput Aka?” Cempaka mengingat-ingat sesuatu, “padahal hari ini minggu. Sekolah libur masa Abi nggak bisa jemput Aka. Apa Abi sibuk?”
Indah diam sejenak. Ia lupa belum memberi tahu Cempaka satu hal. Wanita berhijab syar'i itu menoleh ke belakang, “Abi sedang sakit. Udah tiga hari ini.”
“Hah, Abi sakit?” jelas Cempaka terkejut.
“Kamu jangan khawatir! Abi cuma kecapekan.”
Cempaka memajukan tubuhnya, “Abi ada di rumah atau rumah sakit Umi?”
“Abi cuma dirawat di rumah. Sekarang udah lebih baik dari pada kemarin.”
“Syukurlah.” Cempaka merasa lega.
“Tuh kamu jangan bikin Abi stres dan pusing mulu! Gara-gara mikir kamu tuh Abi begitu,” ujar Danish yang memfokuskan pandangan ke jalan. Karena ia sedang menyetir.
“Kok Aka?”
“Memang kamu ‘kan yang sering bikin ribut di rumah.”
Cempaka menekuk bibirnya ke bawah, kemudian Indah menengahi. Aka tidak bisa menyalahkan Danish. Bagaimana pun juga perkataan sang kakak memang benar. Bisa saja karena memikirkan Cempaka, Abi jatuh sakit saat ini.
...****************...
__ADS_1