
Dua hari berlalu Hamzah sudah sangat baik dari sebelumnya. Ia hanya kecapekan dan tidak ada masalah oleh jantungnya. Hamzah masih bisa menyembunyikan penyakit berat yang sedang ia tanggung.
Sekarang masih pukul sembilan pagi. Pria yang sedang libur bekerja ini sedang menyiram tanaman di samping rumah sembari berjemur. Anak-anaknya sudah berangkat bekerja dan ke kampus. Di rumah tersisa sang istri, menantu dan cucu yang masih berumur delapan bulan.
“Koyo ngene rasane wong nandang kangen... Rino wengi atiku rasane peteng...” Hamzah bersenandung, membawakan salah satu lagu dari Didi Kempot sembari menyiram tanaman milik istrinya.
Tiba-tiba terdengar teriakan Indah dari dalam rumah, “Abi-Abi ada telepon nih!”
Jelas Hamzah tersentak, ia buru-buru mematikan keran air lalu melangkah ke dalam rumah. Indah sedang berjalan ke arahnya sembari membawa handphone yang sedari tadi berdering.
“Dari siapa, Umi?” tanya pria itu menerima benda persegi miliknya.
“Mas Adam.”
Seketika pikiran Hamzah menerawang jauh. Ia memang sedang menunggu kabar dari sahabatnya itu. Ia berharap semoga telepon ini membawa kabar baik untuknya.
“Makasih, Umi.”
Indah mengangguk dan memerhatikan suaminya yang kembali ke halaman samping. Ia tidak curiga kalau Hamzah memang sengaja menjauh ketika mengangkat telepon itu. Indah kembali ke dalam untuk menyelesaikan pekerjaannya.
“Assalamu’alaikum, Adam.” Hamzah menyambutnya dengan nada gembira.
[Waalaikumsalam, sahabatku.] Terdengar tawa kecil dari seberang telepon, [bagaimana kondisimu sekarang?]
“Alhamdulillah aku udah lebih baik. Beberapa hari ini cuma kecapekan aja. Kamu nggak perlu khawatir.”
[Bagaimana aku nggak mengkhawatirkanmu. Kamu pingsan di depan saya waktu itu, Ham.]
Pria berkaus rumahan ini melihat sekelilingnya. Takut pembicaraan itu terdengar oleh orang lain.
“Kamu telepon di tempat yang nggak ada orang ‘kan, Dam?”
[Tenang aja kamu. Aku sedang di kantor. Di ruangan sendiri. Nggak ada yang mendengar pembicaraan kita.]
Hamzah dapat bernapas lega, “Aku cuma nggak ingin kabar ini diketahui orang banyak.”
[Menurut aku, kamu harus memberitahu keluargamu itu! Dukungan keluarga bisa membantu penyembuhanmu.]
“Aku hanya ingin putriku menikah dengan pria yang benar-benar baik untuk bersamanya dan mendidiknya jika aku nggak ada, Dam. Pria yang bisa menggantikan posisiku mengawasi Cempaka. Aku hanya ingin itu sebelum nyawa dan ragaku ini terpisah.”
[Kamu kok ngomongnya begitu, Ham? Kamu harus optimis untuk sembuh.]
“Kamu menelepon hanya menanyakan kabarku aja?”
Terdengar tawa Adam kembali, [Aku hampir lupa tujuanku. Apa kita bisa bertemu hari ini, Ham? Katanya, Hanafi ingin berbicara langsung denganmu.]
__ADS_1
“Kamu udah sampaikan pesanku?”
[Iya, udah, tapi Hanafi minta untuk berbicara lagi denganmu. Kalau kamu punya waktu luang hari ini. Malam ini mampirlah ke rumahku. Kita sekalian makan malam bersama.]
“Aku mempunyai banyak waktu untuk itu. Aku pasti datang.”
Hamzah begitu bahagia bahkan terlihat sampai telepon sudah diputus. Malam ini ia akan menyiapkan diri untuk pertemuannya dengan Hanafi tentunya hanya ia sendiri.
...****************...
Cempaka begitu bahagia ketika bertemu dengan Arfan lagi di kampus. Selama KKN, ia susah bertukar kabar dengan Arfan atau pun keluarganya. Hari ini rasanya Cempaka ingin selalu ada di samping Arfan.
“Bagaimana PKL kamu?” tanya Cempaka yang bersandar sembari memeluk sebelah lengan kekasihnya.
Arfan yang asyik menyantap makanannya menoleh, “Lancar, aku dapat tambahan uang selama magang.”
“Lumayan dong, jadi kamu nggak perlu minta uang jajan sama Tante Dewi?”
“Mama masih tetap ngasih uang bulananku.” Arfan lanjut menyuap makan siangnya, “kamu sendiri gimana di sana? Kamu itu jarang ada kabar.”
Cempaka menjauhkan kepala dari lengan kekasihnya. Ia membenarkan posisi duduk. Kafe yang tidak terlalu ramai itu membebaskan mereka untuk bermesraan.
“Aku kira kamu nggak kangen sama aku.”
Gadis itu memajukan bibir dua centi, “Aku kangen banget. Bahkan aku sampai overthinking. Aku takut kalau jarang diperhatiin aku nanti kamu cari yang lain.”
Arfan tertawa. Cowok itu mengacak rambut Cempaka dengan sayang.
“Mana ada aku begitu. Aku sibuk sama kerjaanku. Aku nggak punya waktu untuk cari yang lain.”
“Tapi kamu nggak marah jarang dapat kabar?”
Cowok berkemeja biru toska ini memosisikan diri menghadap sang pacar. Ia menggenggam sebelah tangan Cempaka.
“Denger! Hubungan kita ini udah dewasa nggak perlu hal sepele di bikin rumit. Aku itu tau kamu sibuk KKN dan aku juga lagi sibuk magang. Jadi, aku memaklumi semuanya. Bukan berarti aku biasa aja itu benar-benar biasa. Aku juga rindu, tapi karena situasi aku mencoba memahami kamu.”
Cempaka jadi terharu mendengar penuturan lembut dari laki-laki yang usianya lebih muda setahun darinya. Aka tidak menyangka Arfan sudah semakin bisa berpikir dewasa.
“Arfan...”
“Iya?” Cowok itu tersenyum lembut.
__ADS_1
“Aku pengen dipeluk.”
Arfan tertawa, kemudian merentangkan tangan, menyambut kedatangan Cempaka. Kini dunia sudah seperti milik mereka berdua. Bahkan beberapa pasang mata yang memerhatikan sama sekali tidak mengusik Aka dan Arfan.
Arfan itu lelaki tampan dan manis sekaligus. Ia mempunyai rambut lebat yang sedikit panjang hingga menutupi dahinya. Sekenalnya Cempaka, Arfan ini cowok baik yang punya emosi kurang stabil. Ia kadang-kadang suka marah-marah, tetapi ia tidak pernah melukai Aka secara fisik.
Arfan Alfarizqi itu nama lengkapnya. Seorang pemuda berusia 21 tahun yang senang kebebasan. Arfan tumbuh di keluarga tidak lengkap. Kedua orang tuanya bercerai saat ia masih kecil.
Setahu Cempaka, ayah kekasihnya itu kedapatan berselingkuh dengan sekretarisnya. Maka itu ibunya memilih untuk mengakhiri hubungan. Sesudah perceraian hak asuh anak jatuh ke ibu Arfan. Sejak umur tujuh tahun Arfan hanya tinggal dengan sang ibu dan ia tidak mendapatkan lagi kasih sayang dari ayahnya.
Sampai sekarang ibunya tidak menikah lagi dan memilih fokus untuk berkarir serta mengasuh Arfan. Cempaka tafsirkan sendiri kalau Dewi –ibu kandung Arfan—trauma dengan pernikahan terdahulunya.
Ibu yang sibuk bekerja sampai lupa waktu. Kadang harus keluar kota dan meninggalkan Arfan dengan pembantu, membuat Arfan kecil tumbuh dengan senang kebebasan. Semua mempengaruhi tumbuh kembangnya. Jadi, Cempaka sangat tahu mengapa kebiasaan pacarnya itu seperti sekarang. Arfan masih sulit untuk mengubahnya.
“Terus kalau uang bulanan kamu selama sebulan nggak di kasih Abi kamu pakai apa saat KKN kemaren itu?”
Cempaka memberikan helmnya. Mereka sudah sampai lagi di kampus karena Cempaka bilang ia ada jam pelajaran sekarang.
“Aku pakai tabungan yang ada. Terus diem-diem Umi juga kasih uangnya ke aku sedikit. Untung ‘kan ya aku masih rajin nabung. Kalau nggak pacarmu ini udah jadi gembel saat KKN.”
Arfan tertawa mendengar cerita gadis yang berdiri di belakangnya.
“Maaf ya, gara-gara aku, kamu dihukum sama Abi.”
Cempaka menggeleng sembari tersenyum, “Ini bukan salah kamu. Peraturan Abi memang ketat dan terkesan kolot. Padahal jam sebelas itu belum malem banget.”
Arfan membawa masuk kekasihnya ke dalam gedung kampus. Mereka tidak menyadari kalau dari arah lain Hanafi memerhatikan. Lelaki berkemeja serta memakai jas itu berperang dengan pikirannya sendiri. Hari ini ia harus mengambil keputusan lagi untuk masa depannya.
“Ayo... Bapak lagi lihatin Aka ya?”
Hanafi jelas tersentak saat Olive tiba-tiba sudah ada di sampingnya. Ia datang tidak sendiri, tetapi bersama Kalya.
Pria memiliki wajah tampan dan berkarisma ini dengan cepat berusaha terlihat biasa saja. Ia sangat pandai menutupi rasa canggungnya. Gawat, kalau ketahuan memerhatikan Cempaka dan Arfan yang berpacaran.
“Saya lagi lihat parkiran. Tertata dengan rapi. Mahasiswa dan mahasiswi yang membawa kendaraan sangat mematuhi cara parkir di kampus ini. Saya bangga.”
Olive dan Kalya merasa aneh dengan penuturan Dosennya itu. Mereka berpikir apa Hanafi segabut itu sampai mengomentari parkiran kampus?
Hanafi mengecek arloji di pergelangan tangannya, “Saya ada jam mengajar. Kalian semangat belajarnya! Saya permisi dulu.”
Kalya dan Olive tersenyum canggung sembari mengangguk. Mereka memerhatikan punggung lelaki yang pelit senyum itu berlalu pergi.
“Kayaknya Pak Hanaf punya masalah berat deh, Kal.”
Kalya mengedikkan bahu acuh tak acuh, “Mungkin, gue juga nggak tau.” Gadis itu melangkah lebih dulu meninggalkan Olive.
__ADS_1
...****************...