
Cempaka merasa persendiannya hampir putus dan tulang-tulangnya remuk setelah menjalani acara pernikahan seharian. Tidurnya malam ini rasanya masih sangat kurang. Namun, ia harus bangun pagi guna membereskan pakaian dan barang-barang yang akan dia bawa saat pindah ke rumah mertua.
Sementara Cempaka dan Hanafi akan bermalam di rumah orang tua Hanafi. Ini permintaan Aisyah sebelum Hanafi membawa istrinya ke rumah yang sudah ia persiapkan jika menikah nanti.
Pastinya dengan Hanafi yang sudah mempunyai rumah sendiri membuat Cempaka lebih tenang karena tidak akan lama berbaur dengan kedua mertuanya.
Ketika suara pintu terbuka, Cempaka menoleh. Ia pun merasa canggung atas kedatangan Hanafi. Gadis ini memilih fokus mengemas bajunya.
“Udah selesai belum, Ka?” tanya Hanafi menghampiri.
“Belum-lah, barang saya itu banyak Mas. Belum lagi nanti mau tinggal di rumah baru Mas itu. Berarti semua barang saya yang penting harus di bawa.”
Hanafi duduk bersila di depan koper yang terbuka, “Nggak perlu kamu bawa semua sekarang. Nanti kita cicil pindahkan ke rumah baru. Sekarang bawa yang sangat penting aja!”
“Ini semua yang lagi saya kemas tuh penting.” Cempaka menunjuk baju, alat make up, boneka, dan alas kakinya, “tapi saya masih capek jadi nggak bisa buru-buru. Sabar sedikit!”
“Baiklah, boleh saya bantu?”
Cempaka mengangguk cepat, “Boleh, dari tadi kek bilang gitu.”
Hanafi hanya tertawa kecil, kemudian saat ingin menggapai tumpukan pakaian istrinya, Cempaka dengan cepat menyembunyikan sesuatu.
“Apa itu?”
Cempaka menggeleng, “Bukan apa-apa. Cepet bantuin! Saya kerjain yang lain.”
Hanafi tidak terlalu ingin tahu dengan apa yang disembunyikan istrinya di belakang punggung. Ia lanjut memasukkan pakaian sang istri ke dalam koper.
Cempaka sendiri berbalik badan. Ia meringis ketika menatap pakaian dalam yang nyaris dilihat oleh Hanafi. Ia malu sekali kalau itu terjadi. Akhirnya, gadis ini memasukkannya ke tas yang lain.
Kegiatan kemas-mengemas selesai setelah satu jam. Cempaka dan Hanafi turun dengan Cempaka yang membawa satu tas jinjing serta tas laptop dan Hanafi harus mengangkat dua koper, lalu balik lagi untuk mengambil satu tas punggung serta sebuah boneka kelinci milik Cempaka.
Banyak sekali bawaan mereka. Namun, milik Cempaka lebih mendominasi.
“Kamu jangan bikin malu Umi ya di sana! Baik-baik sama Bunda. Bundanya Hanafi itu Bundamu juga sekarang,” tutur Indah menasihati putrinya.
“Iya, Umi. Mana mungkin Aka malu-maluin Umi sama Abi.”
“Omongan kamu itu nggak bisa dipercaya,” sambung Abi membuat Juwita yang sedang menggendong anaknya tertawa kecil. Cempaka sendiri cemberut mendengar penuturan sang ayah.
“Aka beneran Abi. Suuzan terus sama anak sendiri.”
“Ya udah jangan bertengkar.” Indah mengelus kepala anaknya, “hati-hati ya! Jika kalian udah pindah ke rumah yang baru kabarin Umi sama Abi. Nanti kami akan berkunjung ke sana.”
Cempaka mengangguk lagi. Indah menciumi anak bungsunya itu, kemudian gadis ini berpamitan pada Hamzah dan Juwita. Danish sudah pergi bekerja sedari pagi maka itu si sulung tidak bisa melepas adiknya.
“Jagain putri Umi ya, Naf! Umi percaya sama kamu.” Hanafi yang baru selesai mencium punggung tangan Indah, lantas mengangguk, “sabar-sabar ngadepin Cempaka. Kalau dia nakal nggak apa-apa kamu kasih hukuman seperti Abi kasih dia hukuman.”
“Umi kok gitu?” tanya Cempaka tidak terima. Indah dan Hanafi otomatis menoleh ke arah gadis berkemeja merah jambu itu.
“Biarkan, sekarang yang harus kamu turuti itu Hanaf. Hanaf ini ganti Abi jadi kamu harus nurut sama dia!”
Cempaka kembali menekuk bibir ke bawah. Hanafi tertawa kecil, lalu menjawab kalimat yang tadi mertuanya lontarkan.
“Baik Umi, Hanaf akan jaga Cempaka semaksimal mungkin. Umi nggak usah khawatir. Hanaf akan sayang Aka seperti Abi dan Umi sayang Aka.”
Indah tersenyum sembari mengusap sebelah lengan menantunya. Ia bisa tenang sekarang melepas Cempaka. Indah mengerti mengapa suaminya sangat ingin Hanafi menjadi menantu mereka.
Nasihat dari Hamzah juga terlontar untuk anak dan menantunya. Juwita juga menitip pesan pada Cempaka agar rajin-rajin di rumah mertua. Karena Juwita tahu sendiri kalau adik iparnya itu mageran. Terkadang kalau hari libur memilih bangun siang.
__ADS_1
Mobil milik Hanafi meninggalkan pekarangan rumah. Cempaka lekas menoleh ke belakang untuk melihat keluarga dan rumahnya. Cempaka sedih meninggalkan mereka, padahal ia masih bisa berkunjung kapan saja. Karena rumah Hanafi dan dirinya hanya memakan waktu perjalanan satu jam. Jika macet bisa lebih sedikit.
“Kamu nggak perlu sedih begitu! Kamu masih bisa main ke rumah Abi dan Umi.”
Cempaka berbalik, menghela napas panjang, kemudian menatap lurus ke depan.
“Tapi pasti nggak bisa setiap hari.”
“Ya iya, ‘kan kita punya tugas masing-masing. Kamu harus fokus dengan perkuliahan. Kamu mau lulus tepat waktu nggak?”
Cempaka kini menoleh untuk menatap suaminya, “Mau-lah. BTW, rumah barunya jauh nggak dari kampus?”
“Nggak, sekitar lima belas menit.”
“Ternyata Mas udah sesiap itu ya. Sampai beli rumah?”
“Saya beli rumah ini baru satu bulan dengan uang tabungan dan ditambah uang Ayah, tapi saya tetap harus ganti suatu hari nanti.”
“Kenapa? Itu ‘kan Ayah Mas sendiri.”
“Saya mau itu benar-benar dibeli dengan hasil jerih payah saya.” Hanafi menoleh sekilas ke istrinya, “tapi maaf, rumahnya nggak sebesar rumah kamu.”
Cempaka mencari posisi nyamannya, “Nggak masalah.”
Mereka pun hening. Tidak ada percakapan lagi hingga sampai di rumah orang tua Hanafi.
...****************...
Tidak ada pakaian berserak seperti di kamar Arfan. Ternyata Hanafi pribadi yang menjunjung tinggi kebersihan.
Eits, tunggu! Ini Cempaka ada di kamar Hanafi. Kamar pribadinya. Harusnya sih ia merasa beruntung karena bisa memijakkan kaki di kamar dosen yang baru-baru ini populer di kalangan mahasiswi. Namun, karena Cempaka tidak ada rasa apa pun ia terlihat biasa. Gadis ini hanya memeriksa beberapa ruangan di kamar yang ia akan tempati.
Kamar yang luas itu terdapat di lantai dua rumah, ada balkon dan kamar mandi dalam. Memiliki pendingin ruangan, televisi besar dan sebuah kulkas ukuran kecil. Kalau Abi mengurung Cempaka di kamar seperti ini mungkin ia akan betah saja.
Cempaka terkejut ketika mendengar Hanafi masuk dengan membawa satu koper dan ransel. Gadis yang berada di balkon itu, lantas berjalan masuk.
“Koper saya satu lagi mana?”
“Masih di bawah. Sebentar saya akan ambilkan.”
Cempaka mengangguk, kemudian lompat ke kasur ketika Hanafi sudah keluar kamar. Ia menikmati suasana di ruangan serba putih itu.
“Aka ayo turun! Bunda ajak kamu untuk masak bersama.”
Cempaka lantas duduk saat terkejut mendengar ucapan Hanafi. Pria itu mengemas pakaiannya.
“Pakaian kamu nanti aja dibereskan. Sekarang turun dulu sana!”
“Saya nggak mau. Buat apa saya harus turun?”
“Bunda mau ajak kamu masak untuk makan siang. Ada yang salah?”
Mata Cempaka bergerak tidak tenang. Seumur-umur yang Cempaka masak itu mie instan dan ceplok telur aja.
“Kamu nggak bisa masak?”
__ADS_1
“Bisa.” Tiba-tiba gadis itu turun dari kasur, lalu berjalan melewati Hanafi, “masak doang, gampil.”
Hanafi menggeleng-geleng melihat kelakuan Cempaka yang baru dia tahu. Pria ini akan selalu menyesuaikan diri dengan mahasiswinya itu agar Cempaka nyaman saat bersamanya.
...****************...
Ketika sampai di bawah Cempaka jadi ragu akan masuk ke dapur. Aisyah membelakanginya saat ini. Wanita itu tidak sadar akan kedatangan menantunya.
“Kenapa diem di sini Aka?” teguran Adam membuat Aka terlonjak kaget. Ia mengusap dada.
“A-ayah?”
Mendengar suara suaminya, Aisyah yang sedang memotong-motong bawang itu berbalik badan.
“Sana samperin Bunda! Kamu udah di tunggu.”
Cempaka tersenyum mendengar ucapan Adam. Ia mengangguk-angguk saja.
“Aka!” tatapan Cempaka tertuju pada Aisyah, “sini, Nak.”
“Iya, Bun.” Cempaka kembali menatap Adam, “Aka ke sana dulu ya Ayah.”
“Iya, semangat masaknya.”
Cempaka yang berusaha senyum saja berlari kecil menghampiri Aisyah. Wanita berhijab itu memberikan pekerjaannya pada menantunya.
Sepanjang pekerjaan Aisyah tidak memberi tugas yang berat untuk Cempaka. Untuk menentukan takaran bumbu masakan Aisyah sendiri yang mengerjakan sembari mengajari Cempaka.
“Nggak apa-apa kalau belum bisa masak. Bunda nggak marah kok. Asal mau belajar.” Tutur kata yang lembut seperti Indah membuat Cempaka seperti ada di rumahnya sendiri.
“Bunda tau ya kalau Aka nggak bisa masak?”
Aisyah tertawa kecil sembari menutup mulut memakai tangan, “Umi kamu udah beritahu Bunda. Dilihat dari gelagat kamu juga memang tidak bisa memasak.”
“Pantes aja.”
“Aka malu?” tanya Aisyah yang mendapat gelengan dari menantunya, “bagus kalau begitu. Nggak perlu malu. Nanti Bunda akan ajarkan terus Aka memasak.”
Cempaka menghela napas ketika Aisyah berbalik untuk mengaduk sayuran yang sedang di masak. Dia malas sekali kalau sudah disuruh belajar, tapi dipikir-pikir lagi ini tidak buruk. Hitung-hitung berlatih untuk menjadi istri Arfan.
Makan siang pun siap. Hanafi dan Adam tersenyum melihat banyaknya hidangan.
“Ini masakan kamu, Ka?”
Cempaka menggeleng, “Bukan, ini masakan Bunda semua.”
“Kamu nggak jadi bantu?” tanya Hanafi lagi dengan dahi berkerut.
“Cempaka bantu kok, Naf. Dia yang bersihkan sayur dan memotong-motong,” terang Aisyah agar anaknya tidak salah paham.
Semua kini menikmati hidangan yang telah tersedia. Mulai hari ini dan beberapa hari ke depan Cempaka belum bisa bertemu Arfan di rumah. Bisa gawat kalau ketahuan mertuanya.
...****************...
__ADS_1