Good Husband

Good Husband
Atur Pertemuan


__ADS_3

Cempaka tergesa-gesa menuruni anak tangga. Bahkan sepatu saja masih ia jinjing dan membiarkan kakinya tidak memakai alas kaki apa pun. Ia berlari ke arah ruang makan.


Gara-gara mencicil tugas esai yang punya tenggak waktu sedikit Cempaka sampai kesiangan bangun. Padahal hari ini ada kuliah pagi.


“Pagi semua!” sapa gadis itu pada anggota keluarga yang sedang menyantap sarapan mereka.


“Sarapan dulu, sayang!” ujar Indah yang akan mengambilkan sepiring nasi goreng untuk anak bungsunya.


“Nggak usah Umi!” tangan wanita paruh baya itu terhenti, “Aka buru-buru mau ke kampus. Bentar lagi masuk.”


“Harus sarapan nanti sakit perut,” ucap Indah.


“Aka minum ini aja.” Cempaka meraih gelas berisi susu yang ada di meja. Ia meneguknya sampai sisa setengah.


“Makan dan minum itu duduk.” Danish menasihati adik satu-satunya ini, “masuk ke mana coba itu?”


“Ya ke perut Aka lah, Bang.” Cempaka menggeser kursi, lalu duduk untuk memasang sepatunya, “Aka ini buru-buru. Nggak apa-apa lah sekali-kali minum berdiri.”


Indah menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan putrinya.


“Kalau dibilangin ngejawab aja,” sewot pria muda yang sudah rapi dengan setelan kemeja dan jasnya. Di sebelahnya ada sang istri yang sarapan sembari menyuapi anaknya.


“Cempaka!”


Mendengar panggil dari sang ayah, gadis yang masih sibuk dengan sebelah sepatunya yang belum terpasang itu, menolehkan kepala.


“Iya, Abi?”


“Nanti sepulang dari kampus langsung pulang ke rumah!”


Cempaka seketika teringat rencananya dengan Arfan malam ini. Kalau ia pulang pasti akan susah untuk keluar lagi.


“Memang ada apa ya, Abi?”


“Malam ini kita sekeluarga makan di luar.”


Cempaka terdiam memikirkan semuanya. Namun, sebelum gadis itu menjawab lagi, Indah berbicara lebih dulu.


“Jarang-jarang loh keluarga kita kumpul dan makan malam di luar. Terakhir kali waktu Bang Danish ulang tahun ‘kan?”


Cempaka mengernyit.


“Iya, bener itu kata Umi. Kalau kamu ada tugas. Tunda aja sebentar paling acara keluarga kita dua sampai tiga jam,” tambah Danish.


“Aka udah ada janji sama temen. Maaf ya, Aka nggak bisa ikut. Bukannya mengingkari janji itu dosa?”


“Siapa?” pertanyaan Hamzah membuat Cempaka menggigit bibir bawahnya, “pasti kamu mau main sama Arfan ‘kan?”

__ADS_1


Cempaka menggeleng ribut, “Nggak kok, Bi. Cempaka mau kerja kelompok sama temen.”


“Nggak ada alasan! Jam tujuh kamu harus ada di rumah!”


Dengan susah payah gadis itu menelan salivanya. Ia menatap kakak ipar yang hanya mengedikkan kedua bahu. Juwita tidak bisa menolongnya kali ini.


“Aka akan usahakan, Bi.” Cempaka berdiri dan menyalami satu-persatu anggota keluarganya. Tidak lupa untuk mencium sang ponakan yang duduk di kursi khusus batita.


“Ingat Cempaka, Abi nggak ada tolerasi untuk kali ini. Kamu harus bisa ikut makan malam bersama!”


Cempaka mengangguk, “Iya, Abi.”


“Kalau kamu nggak datang uang bulanan kamu nggak akan Abi kasih untuk satu bulan ke depan.”


Cempaka syok mendengarnya. Mana bisa ia tanpa uang bulanan. Mana bulan depan itu ada KKN. Gadis ini memilih segera pergi dan memikirkan ini di kampus saja.


“Abi kenapa nggak kasih tau aja ke Aka kalau kita mau mempertemukan dia sama calon suaminya?” tanya Danish setelah adiknya itu keluar dari rumah.


“Kamu lihat aja sendiri. Abi cuma minta makan malam aja dia masih banyak alasan. Bagaimana kalau dia tau semuanya. Pasti akan mencari cara agar nggak datang.”


Danish mengangguk-angguk. Kini ia paham akan semua rencana Abi. Hamzah sudah membicarakan rencananya kepada semua anggota keluarga kecuali Cempaka. Menurutnya, anak bungsunya ini tidak perlu tahu banyak karena ia belum melihat calonnya itu. Hamzah tidak ingin semua ini sampai gagal.


...****************...


Hanafi berhenti melangkah saat keluar dari salah satu koridor dan melihat Cempaka di ujung sana sedang memainkan ponsel di tangannya. Ia jadi terpikir dengan foto yang sang ayah tunjukkan semalam. Hanafi benar-benar tidak menyangka.


Cempaka merutuk kesal sesudah membaca pesan yang ada di handphone-nya. Sudah buru-buru dan kata ketua kelas Dosen yang mengajar pagi ini izin karena sakit. Ia hanya memberikan tugas.


“Kenapa nggak ngabarin dari semalem sih? Tadi ‘kan gue bisa sarapan dulu,” gumam gadis itu sendirian.


Tidak diduga Cempaka menoleh ke arah Hanafi. Membuat pandangan mereka bertemu, tapi Hanafi tidak mengalihkan pandangannya.


Cempaka jadi celingak-celinguk. Ia merasa ditatap, tetapi mengapa Dosennya itu tidak memanggil. Biasanya, kalau ada perlu pasti langsung meneriakinya. Seperti beberapa hari lalu.


“Sayang!”


Panggilan dari seseorang yang sudah tidak asing suaranya di telinga Cempaka, membuat gadis itu memutuskan kontak mata dengan sang Dosen.


Ia memilih menyambut Arfan, “Hai sayang!” Cempaka merentangkan tangan dan memeluk ke kasihnya di tengah koridor kampus yang tidak terlalu ramai.


Hanafi menunduk, Cempaka mempunyai kekasih. Sekarang satu pertanyaan berputar di kepala pria ini. Mengapa Cempaka masih mau dijodohkan kalau dia memiliki orang spesial?


“Nanti malam jadi ‘kan?” tanya Arfan dengan senyuman lebar.


Cempaka tidak langsung menjawab, “Ada yang mau aku omongin sama kamu.”


“Apa?”

__ADS_1


“Jangan di sini! Kita ngobrol di tempat lain aja.” Cempaka menarik tangan Arfan untuk mengikutinya, “ayo cepet!”


Arfan menurut saja pada kekasihnya. Cempaka yang sudah berjalan beberapa langkah itu mencoba menengok ke belakang. Ia penasaran apakah Dosennya itu masih memerhatikannya? Ternyata Hanafi sudah pergi berlawanan arah dengannya.


...****************...


Arfan menjauhkan pipet minuman setelah selesai menyeruput cappucino ice-nya. Ia sedikit kaget mendengar cerita Cempaka.


“Rencana kita ini udah dari kemaren loh kesepakatannya. Masa hari iniau dibatalin?”


“Mau gimana lagi, Fan. Abi sampek ngancem pakek uang bulananku kalau nggak ikut makan malem keluarga malem ini.”


“Sesudah acaranya aku jemput mau?”


“Kamu cari mati?”


“Udah tau Abi nggak seneng aku pergi malem-malem. Apa lagi itu sama kamu. Bisa dicoret aku dari kartu keluarga.”


“Terus gimana? Kamu bakal ngebatalin rencana kita?”


Cempaka mengangguk, “Bukan batalin juga. Kita tunda aja ya. Besok baru aku ikut kamu dugem. Malem ini kamu pergi sendiri aja.”


“Kita putus aja deh.”


Mulut Cempaka sampai terbuka mendengar penuturan sang kekasih yang tiba-tiba sekali.


“Ini masalah kecil, Fan. Kenapa sampek harus korbanin hubungan kita?”


“Selama ini aku memang nggak penting bagi kamu. Kamu paling susah diajak keluar malem sama aku. Lagian, kamu mau dijodohkan bukan? Untuk apa kita tetap lanjut kalau orang tua kamu nggak suka sama aku.”


Setetes air bening keluar dari mata kiri Cempaka. Air itu mengalir membasahi pipi mulusnya.


“Aku udah usaha menolak perjodohan itu karena sayang sama kamu. Aku nggak mau putus, Fan.” Sambil menangis Cempaka menggelengkan kepala. Ia tidak setuju atas apa yang baru Arfan tuturkan, “apa nggak bisa ini kita obrolin baik-baik? Aku akan ikut kamu besok.”


Arfan membuang napas kasar. Ia bersandar pada kursi yang kini didudukinya.


“Udah nggak usah nangis!” Arfan melihat sekitar kantin, “malu dilihatin orang.”


Cempaka mengusap pipi yang basah dengan air mata, “Kita nggak jadi putus ‘kan?”


“Kamu harus bisa bujuk Abi buat restuin hubungan kita. Aku selalu nggak tenang kalau ketemu Abi kamu.”


Dengan cepat Cempaka mengangguk, “Aku akan suruh Abi untuk restuin kita. Karena aku cuma mau nikah sama kamu. Aku nggak mau dijodohin!”


Arfan seperti acuh tak acuh saja pada gadis di hadapannya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2