Good Husband

Good Husband
Ada Apa dengan Arfan?


__ADS_3

Arfan memasukkan beberapa buku ke dalam ransel. Tiba-tiba ponsel yang ada di meja belajar bergetar. Arfan memang sengaja pasang mode getar pada handphone-nya.


Tertera nama teman di layar ponsel itu. Arfan sengaja tidak memberi nama yang sebenarnya. Ia tersenyum, lalu mengangkat panggilan itu.


“Halo, Safira. Ada apa?”


[ Besok ada waktu kosong nggak, Fan? Gue mau ajak lo ketemu temen gue buat kerja sama kita. ]


“Ada kok. Buat lo apa sih yang nggak.”


[ Gombal aja lo! Nanti ada yang cemburu gue kenal tampol. ]


Arfan tertawa. Ia menjepit ponsel antara pipi dan bahunya.


“Siapa sih yang berani marah-marah sama gue?”


[ Jadi single, nih? ]


“Menurut lo gimana?”


[ Ah, gue nggak yakin sama bentukan lo. ] Safira yang ada di seberang sana tertawa, [ udah ya, sampek ketemu besok Arfan jelek.]


“Nge—“ Belum sempat Arfan membalas panggilan itu sudah putus sepihak.


Arfan tidak henti-henti memandang ponsel sembari tersenyum seperti orang yang sedang kasmaran.


Sejak bertemu lagi di sebuah club malam, Arfan dan Safira semakin dekat. Bahkan ingin menjalankan bisnis bersama.


Safira anak yang ramah dan mudah bergaul, sedangkan Arfan memanfaatkan ini untuk mengenal gadis itu lebih jauh lagi. Apa Arfan berpikir jatuh cinta pada Safira? Tidak tahu, tapi sejauh ini ia nyaman berteman dengan gadis periang itu.


 


...****************...


 


“Kamu itu bagaimana jadi istri jam segini baru bangun. Suami kamu ini butuh sarapan sebelum pergi mengajar.”


Cempaka yang baru bangun dari mimpi indahnya sudah terkena siraman rohani dari sang ibu mertua.


Hanafi yang duduk di meja makan sembari menyantap sarapannya masih diam memperhatikan saja.


“Maaf, Bunda. Aka kesiangan. Biasanya kalau ada jadwal kuliah siang. Aka memang bangunnya siang,” terang gadis dengan rambut bak singa itu.


“Dari sini ke depan kamu harus ubah kebiasaan itu! Untung masih ada Bunda. Bagaimana kalau nggak? Pasti Hanaf berangkat kerja dengan perut kosong.”


“Nggak usah repotlah, Bun. Sekarang udah canggih. Bisa aja Mas Hanaf pesan gofood,” jawab Cempaka menggaruk-garuk kepala.


“Kamu itu Bunda nasihatin biar nggak ngulangin lagi. Malah nunjukin Bunda.”


“Kenapa sih ibu-ibu itu selalu mempermasalahkan masalah begini? Bikin mood jelek aja.” Cempaka memutar tubuh, “udahlah, Aka nggak mau debat, Bun. Mandi dulu ya!” kemudian ia kembali melangkah ke lantai dua.


“Lihat itu istri pilihan Ayahmu!” Aisyah menunjuk ke arah Cempaka pergi, “kenapa juga kamu harus mau? Bunda memang udah yakin perempuan ini nggak tulus sama kamu. Masih aja dipaksain.”


Hanafi berdiri dan menghampiri ibunya. Ia merangkul sang ibu sembari mengusap-usap lengannya.


“Udah-udah, Bun. Aka itu belum terbiasa. Lagian Hanaf nggak apa-apa kok kalau memang harus pakai pesan online.”

__ADS_1


Aisyah mendongak menatap putranya, “Tuh, kamu malah belain dia. Sebel!”


“Nggak kok. Nanti Hanaf bantu nasihatin Aka ya.”


Aisyah hanya mengangguk setelah dibujuk putra semata wayangnya.


 


...****************...


 


Cempaka keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia meraih ponsel yang tergeletak di atas meja rias. Dari semalam Arfan susah untuk dihubungi. Pagi ini Cempaka mendapat balasan pesan dari kekasihnya itu.


Arfan: Maaf sayang baru aku balas. Hari ini kita nggak bisa ketemu dulu. Aku ada janji sama temen untuk mengurus bisnis.


Cempaka mengerutkan kening. Selama ini Arfan tidak pernah membahas soal akan menjalankan bisnis bersama Cempaka.


Dengan cepat jari-jari tangan Cempaka membalas pesan itu.


Cempaka: Bisnis apa? Teman kamu yang mana? Kok nggak pernah cerita?


Pesan itu terkirim terlihat dari ceklis dua yang ada di aplikasi. Namun, satu menit Cempaka menunggu balasan kembali tidak ada tanda-tanda kalau pesannya itu akan dibalas lagi.


Akhirnya Aka memutuskan menyimpan dulu ponsel dan beralih ke hair dryer untuk mengeringkan rambut yang masih setengah basah itu.


Benar-benar tidak ada balasan lagi dari kekasihnya sampai saat perkuliahan Cempaka di mulai.


“Aka simpan dulu handphone-nya!” ujar Hanafi yang siang ini mengisi jadwal di kelas istrinya.


Sejak pernikahannya dengan Hanafi, Arfan mulai tidak ada waktu untuk Cempaka. Arfan seperti menghindari kekasihnya sendiri. Cempaka tidak bisa begini. Ia khawatir dengan apa yang dirasakan Arfan sekarang.


Ketika iseng mengecek ponsel diam-diam tanpa sepengetahuan suaminya. Cempaka merasa senang mendapat balasan dari Arfan. Namun, cemberut lagi sesudah membaca isinya.


Arfan: aku nggak bisa kasih tau lewat chat. Nanti aja kalau kita bertemu akan aku ceritakan.


 


 


TUNG!


 


 


Cempaka sampai tersentak. Semua yang ada di kelas juga ikut terkejut. Aka melihat suaminya yang menatap ke arahnya. Barusan saja Hanafi melempar spidol ke meja Cempaka.


“Saya sudah bilang saat jam pelajaran tidak boleh memainkan ponsel. Simpan dulu!”


“Nggak boleh galak-galak sama istri,” ucap Cempaka yang membuat teman perempuannya menahan tawa.


Hanafi memerhatikan sekitar. Semua mata tertuju padanya. Ia melangkah mendekati gadis yang tidak bisa menempatkan posisinya sesuai keadaan.


“Ini kampus. Status kamu itu mahasiswi sama dengan yang lain.” Hanafi menunjuk seisi kelas, “kamu nggak spesial di sini.”


Cempaka mencebikkan bibir ketika mendengar kalimat yang terlontar dari pria berkemeja yang berdiri di hadapannya itu.

__ADS_1


“Simpan ponsel kamu atau nanti saya sita!”


“Iya, Pak. Udah saya simpan,” jawab Cempaka penuh penekanan.


Ketika pria itu berbalik menghadap papan tulis sembari kembali menjelaskan pelajaran yang sempat terputus, Aka mengepalkan tangan ke udara seperti ingin menghajar suaminya. Namun, saat Hanafi berbalik ia pura-pura menggaruk kepala.


 


...****************...


 


“Mas!”


Teriakan kencang Cempaka membuat Hanafi yang berjalan di parkiran untuk mendekati mobilnya terhenti. Pria itu berbalik memastikan apa benar ia yang sedang dipanggil.


Cempaka berlari kecil sampai di sebelah suaminya. Ia menatap Hanafi dengan sedikit mendongak.


“Ini masih di kampus. Panggil saya Bapak!”


“Ih katanya, harus panggil Mas. Sekarang suruh Bapak lagi. Maunya apa sih?”


Hanafi menghela napas. Ia harus terus sabar dengan gadis yang sekarang menjadi istrinya ini.


“Kalau di area kampus atau sedang pelajaran kamu harus panggil saya, Bapak. Di rumah kamu boleh panggil saya, Mas. Karena saya ini suamimu. Paham?”


Gadis dengan outher denim itu mengangguk, “tapi kenapa sih kalau di kampus saya nggak bisa dispesialin? Percuma dong saya punya suami Dosen?”


Hanafi terkekeh kecil. Ia mengacak rambut gadis yang lebih pendek darinya itu. Tiba-tiba Aka merasakan sengatan kecil di hatinya.


“Jadi istri Dosen itu nggak ada pengaruhnya buat keberadaan kamu di sini. Kamu tetap mahasiswi yang harus jalanin tata tertib kampus sampai wisuda.”


Kali ini Cempaka yang menghela napas, “Saya pikir akan istimewa.”


Hanafi tertawa sembari menggeleng-gelengkan kepala. Ia berjalan meninggalkan Cempaka yang masih berdiri di tempatnya.


“Pak! Saya mau bareng,” teriak Cempaka lagi mengejar Hanafi yang sudah sampai di tempat mobilnya terparkir.


“Kamu tumben nggak bareng Arfan?” tanya Hanafi tanpa menatap istrinya. Ia sibuk memperhatikan jalan di depan sana.


Cempaka bersandar ke jok. Ia mencari posisi nyaman sebelum menjawab pertanyaan pria di sampingnya.


“Katanya, ada janji sama temen untuk bisnis bersama.”


“Benerkah?” Sekilas Hanafi menoleh, “bagus itu. Dia mulai mau buka usaha.”


“Tapi saya merasa aneh.”


“Aneh kenapa?”


Cempaka mengedikkan kedua bahu, “Nggak tau juga.”


 


 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2