Good Husband

Good Husband
Fitting


__ADS_3

Cempaka masih menunggu gilirannya untuk mencoba baju pengantin yang sudah terlebih dulu di pesan oleh Indah. Ia duduk di sebuah sofa sembari memainkan handphone.


Hanafi keluar dari ruang ganti sudah memakai kemeja dan celana dasar berwarna biru dongker. Seorang pelayan perempuan membantu Hanafi memasangkan jas yang berwarna senada dengan bawahannya.


“Udah, pas ya, Mas. Ada yang masih kurang nyaman?”


Hanafi mengangguki ucapan si pelayan toko, “ udah, Mbak. Semua udah cocok di badan saya. Terima kasih sebelumnya.”


“Sama-sama,” ucap pelayan wanita ini tersenyum hangat.


“Bagaimana menurut kamu, Ka?” Hanafi menghampiri Cempaka yang fokus pada ponsel genggam itu tanpa memedulikan calon suaminya.


Gadis yang dipanggil ini mendongak. Netranya seketika menangkap pemandangan yang begitu indah. Hanafi yang rapi dengan setelan jas biru dongker membuatnya terlihat sangat tampan. Cempaka akui dengan pakaian resmi ini, Dosennya itu terlihat berkali-kali lipat lebih tampan.


“Cempaka!” Cempaka merasa tertarik ke dunia nyata kembali saat Hanafi memanggilnya lebih keras, “kamu melamun?”


Dengan cepat gadis itu menggeleng. Barusan saja ia mengagumi sosok Hanafi. Cempaka berharap, semoga saja Hanafi tidak menyadarinya.


“Nggak kok, Mas.”


“Bagaimana dengan pakaian saya?”


“Bagus, benar ya kata orang-orang kalau pakaian mahal itu membantu tampang yang nggak seberapa. Pakek baju itu buat wajah Mas yang standar lebih naik tingkat. Cakep sedikit. Walau masih cakep Arfan,” ujar Cempaka memberi tanggapan palsu.


Hanafi tersenyum, “Terima kasih.”


Cempaka mengangguk-angguk, tetapi tetap heran karena Hanafi tidak menunjukkan kemarahannya. Kalau Arfan pasti sudah bad mood. Cempaka mencoba untuk mengalihkan perhatiannya pada handphone-nya kembali.


Hanafi pergi untuk mengganti pakaiannya kembali. Selanjutnya, Cempaka diarahkan untuk mencoba gaun pengantinnya.


Gadis itu tidak henti-henti protes tentang bajunya yang tidak nyaman. Untung saja pelayan itu sabar membantu Cempaka. Hanafi juga heran pakaian yang sudah cocok ditubuh gadis itu, tetapi ia bilang sempit. Tampak sekali Cempaka mencari-cari masalah.


“Kamu cantik pakai itu. Nggak kekecilan menurut saya.”


“Mas mana tau ‘kan saya yang pakai gaun ini.”


“Tenang aja, Mbak. Nanti gaunnya bisa dilonggarkan lagi. Saya usahakan sebelum acara, gaun ini udah siap,” ujar pelayan butik menengahi perdebatan dua orang itu.


“Nah gitu dong dari tadi.”


 


...****************...


 


Setelah satu jam lebih ada di butik, Cempaka meminta pada Hanafi untuk pergi ke restoran. Ia yang belum sarapan merasa lapar sekarang.


Pastinya Hanafi menuruti karena ia juga takut kalau Cempaka jatuh sakit. Mereka pergi ke restoran Italia yang tidak terlalu jauh dari butik.

__ADS_1


Cempaka yang menikmati spageti sesekali melirik Hanafi. Pria itu juga sedang menyantap makan siangnya.


“Ba-Eh Mas, kenapa sih nggak cari pasangan sendiri aja? Kayak orang zaman dulu aja dijodoh-jodohin. Mana pengantin wanitanya harus saya lagi.” Disela-sela aktivitasnya Cempaka mencoba menanyakan pertanyaan yang selama ini berputar di kepalanya.


Hanafi terbatuk-batuk, kemudian meraih gelas berisi pesanannya. Terlebih dulu ia meneguk minuman itu untuk meredakan batuknya.


“Saya tadinya belum terpikir ingin menikah secepat ini.”


Cempaka menggerak-gerakkan garpu di tangan, “Masa udah 30 tahun nggak terpikir mau menikah?”


“Mungkin karena udah lama tinggal di Australia jadi saya lebih ikut kebiasaan warga di sana. Di luar negeri menikah nggak berpatok pada umur. Saya juga selama ini hanya fokus belajar dan mencari uang.”


“Bilang aja kalau Mas nggak bisa deketin cewek atau...” Cempaka memajukan wajahnya, “Mas h*mo ya?” sambungnya dengan suara berbisik.


“Terus dipaksa deh nikah sama Om Adam biar anaknya kelihatan normal,” tambah Aka sembari mengaduk-aduk makanannya.


Hanafi tertawa kecil dengan menatap piring yang ada di dekatnya, lalu ia menatap Cempaka lagi sembari menggelengkan kepala.


“Saya 100 persen normal. Ini nggak ada keterkaitannya dengan orientasi seksual.”


“Terus?”


“Saya hanya mematuhi perintah orang tua. Lagi pula pilihan mereka pasti yang terbaik. Walau kamu benar, saya nggak bisa mendekati wanita.”


Cempaka terdiam. Penjelasan Hanafi tiba-tiba membuat hatinya mencair. Kalimat, Lagi pula pilihan mereka pasti yang terbaik. Terngiang-ngiang di kepala gadis ini. Hanafi mempercayai kalau Cempaka adalah gadis yang baik. Apa Cempaka sangat jahat telah mempermainkannya? Tetapi Cempaka tidak bisa memaksakan perasaannya.


“Saya pria yang kaku. Keseharian saya hanya bersama buku-buku saat masa kuliah dulu. Sekarang aja sibuk mengajar. Selama sekolah teman saya pun sedikit. Sampai sekarang saya hanya punya satu sahabat. Saya bukan orang yang pintar bergaul. Maka dari itu juga saya menyerahkan pilihan untuk calon istri pada kedua orang tua saya.”


“Halo, sayang!”


Mendengar kalimat yang terlontar dari bibir ranum milik Cempaka seketika membuat Hanafi tahu siapa yang menelepon gadis berambut panjang itu.


“Kamu udah di depan? Oke, aku bakal keluar dari restoran. Kamu tunggu di situ aja!” Telepon pun terputus.


Cempaka menyimpan handphone ke dalam tas. Ia juga menyeruput minumannya terlebih dulu.


“Saya pulangnya sama Arfan. Mas langsung pulang aja ya habis makan.”


“Kamu nggak akan pulang sama saya?” Hanafi menunjuk dirinya sendiri.


Cempaka menggelengkan kepala sembari menutup dan memakai sling bag-nya.


“Kalau Om Hamzah bertanya bagaimana?”


“Bilang aja Mas anterin saya ke rumah Ayumi. Kalau misal Abi telepon Ayumi itu gampang. Nanti saya akan kabarkan Ayumi.”


“Kamu menyuruh saya berbohong?”


Cempaka berhenti dari aktivitasnya, kemudian menatap tajam pria di hadapannya.

__ADS_1


“Sesekali doang nggak apa-apa, bantuin saya. Belajar jadi suami yang baik dari sekarang.” Cempaka berdiri, “udah saya pergi dulu, Bye!”


Gadis yang rambutnya tergerai itu berlari keluar restoran meninggalkan Hanafi serta makanan yang masih tersisa di atas meja.


Hanafi hanya bisa pasrah ditinggal mahasiswi sekaligus calon istrinya itu.


 


...****************...


 


“Kamu pasti senang ya pergi makan-makan sama Dosen baru itu?” tanya Arfan ketika mereka sampai di sebuah mall yang terletak di tengah kota.


Cempaka menggeleng cepat, “Nggak! Aku lebih seneng kalau jalan sama kamu kayak gini.” Gadis itu memeluk sebelah lengan kekasihnya. Ia bergelayut manja.


Mereka masih berjalan menyusuri mall tanpa peduli tatapan dari pengunjung lain. Cempaka merasa nyaman kalau sudah di dekat Arfan begini.


“Sekarang kita mau ke mana dulu?” Arfan menunduk untuk melihat gadis yang memiliki usia lebih tua darinya itu, “mau shopping?”


“Aku mau makan dulu. Nanti aja shopping-nya.”


“Bukannya kamu udah makan sama Dosen itu?”


“Makan sama dia buat nafsu makan aku hilang.” Cempaka mengusap perut, “aku masih laper sayang...”


“Oke, kita cari kafe.”


Cempaka tersenyum senang, padahal ia tadi makan dengan lahap walau tak sempat menghabiskan makanannya.


Kedua sejoli itu menghabiskan waktu berdua. Mereka pergi makan siang bersama, berbelanja, dan bermain timezone. Tidak terasa hari sudah sore. Matahari tidak sepanas sebelumnya. Arfan mengantarkan Cempaka sampai di depan rumah.


“Hati-hati ya sayang!”


Arfan tersenyum, “Siap, aku pulang ya.”


Cempaka mengangguk, kemudian melambaikan tangan saat motor milik Arfan melaju pergi. Ketika berbalik ingin masuk ke halaman rumah. Cempaka terkejut saat mendapati mobil Hanafi terparkir di halaman rumahnya.


“Kamu dari mana aja Aka?”


Gadis yang dipanggil ini menoleh pada seorang ibu yang menggandeng tangan anak berumur lima tahun.


“Itu loh calon suamimu datang, tapi kamu malah kelayapan sama laki-laki lain.”


Cempaka yang kesal karena Hanafi malah kembali ke rumahnya, kini lebih naik pitam saat mendengar tetangga dengan mulut lemes itu menasihatinya.


“Tante nggak usah ikut campur sama urusan keluarga saya deh. Rempong banget jadi tetangga.” Dengan tangan mengepal Cempaka memasuki rumahnya. Sepasang kakinya sengaja ia entak-entakkan.


“Saya ‘kan cuma kasih tau aja. Dasar anak zaman sekarang dikasih tau yang benar malah melawan.”

__ADS_1


 


...****************...


__ADS_2