
Cempaka berjinjit-jinjit mendekati pintu rumahnya. Pintu besar berwarna coklat itu terbuka lebar. Terdengar Hamzah sedang berbincang dengan Hanafi.
Cempaka menghela napas. Ia sedikit takut akan masuk ke rumah. Awas saja Hanafi setelah ini.
“Masuk Aka!” Cempaka yang menempel pada dinding itu tersentak mendengar suara sang ayah, “Abi tau kamu lagi di situ. Cepat masuk!”
Dengan rasa gugup bercampur takut, Cempaka melangkah masuk sembari mengulas sebuah senyum.
“Assalamu’alaikum, Abi, Mas.” Cempaka mencoba beramah-tamah.
“Waalaikumsalam, duduk kamu!” dengan tegas Hamzah memerintahkan putrinya.
Indah mencoba mengintip dari dalam. Wanita itu menggeleng kecil, kemudian masuk kembali. Ia sudah tahu suaminya itu akan menginterogasi putri mereka.
“Dari mana aja kamu?”
Cempaka menatap Hanafi, “Loh, memang Mas Hanaf nggak kasih tau Abi? Tadi Aka udah izin kok.”
“Kata Hanafi kamu ke rumah Ayumi, tapi Abi nggak percaya begitu aja. Jadi, Abi suruh Hanafi ke sini.” Hamzah menjeda kalimatnya, “kamu pasti pergi sama Arfan ya?”
Cempaka menggeleng ribut.
“Terus tadi suara motor siapa?” pertanyaan Abi membuat Aka menggigit bibir bawahnya. Mengapa ia tidak sadar kalau mobil Hanafi ada di rumahnya? Kalau tahu seperti itu ia turun di depan gerbang kompleks aja, “Abi denger ada suara Arfan dan Abi juga hafal motor pacar kamu.”
Cempaka menundukkan kepala. Ia tidak bisa mengelak lagi.
“Kamu akan menikah seminggu lagi mengapa masih berhubungan dengan laki-laki lain? Putuskan Arfan!”
Cempaka menatap Hamzah sendu. Dengan cepat ia menggelengkan kepala kembali.
“Aka nggak mau putus Abi. Kenapa sih? Kalau nikah ya tinggal nikah aja.”
“Heh!” Hamzah membentak putrinya, “Kamu pikir Hanaf itu robot yang nggak punya perasaan? Di mana hatimu sebagai wanita?
Cempaka mencebikkan bibirnya, “Lagian—“
“Tenang Om!” Hanafi memotong perkataan Cempaka, “biarkan Aka membereskan hubungannya sama Arfan pelan-pelan. Saya mengerti kok kondisi mereka.”
Hanafi menatap Cempaka. Ia menggeleng pelan seperti memberi kode pada gadis itu agar tidak membocorkan kesepakatan mereka. Akhirnya, Cempaka mengurungkan diri untuk membela dirinya sendiri.
“Om nggak enak sama kamu dan orang tuamu, Naf. Kalian semua punya perasaan. Masa calon istrimu dibiarkan aja punya hubungan dengan laki-laki lain?”
“Saya nggak apa-apa, Om. Pernikahan ini juga belum dimulai. Arfan dan Aka pasti butuh waktu untuk menyelesaikan hubungan mereka. Saya masih punya tenggang rasa sampai pernikahan dilaksanakan.”
“Denger Cempaka! Calon suamimu itu begitu baik. Coba kalau orang lain mana terima kamu seperti tadi,” ujar Hamzah dengan bola mata membesar. Ia sudah menahan-nahan amarahnya. Takut-takut kalau kelabasan jantungnya akan kumat lagi.
“Maaf, Abi. Aka akan selesaikan ini semua.”
Cempaka mengantarkan Hanafi sampai ke depan mobilnya yang diparkir.
“Kamu jangan bocorkan ke siapa-siapa tentang kesepakatan kita ini,” ucap Hanafi dengan suara dipelankan.
“Tapi sahabat-sahabat saya sama Arfan udah tau, Mas. Nggak apa ‘kan?”
Hanafi menghela napas panjang, “Beri tau mereka agar menyimpan rahasia ini!”
“Siap!” Aka memberi hormat seperti bawahan ke komandannya.
“Kalau ini sampai ke telinga orang tua kita. Terutama Om Hamzah, kamu mungkin benar-benar nggak bisa berhubungan lagi sama Arfan. Saya udah kasih kamu kebebasan. Jangan salah bertindak! Atau akan merugikan kamu sendiri.”
__ADS_1
“Iya, Mas. Makasih banyak ya.” Baru kali ini Hanafi mendapat senyum yang tulus dari Cempaka. Gadis itu terlihat sangat bahagia.
Kalau kebahagiaan Cempaka hanya Arfan, Hanafi tidak bisa mengusiknya. Ia akan sangat merasa bersalah jika lagi-lagi gadis itu melukai dirinya sendiri.
Cempaka sampai melupakan kalau tadi ia ingin memaki-maki calon suaminya, tetapi karena Hanafi telah membantunya amarah itu sekarang sudah sirna entah ke mana.
...****************...
Cempaka membagikan undangan pada teman-temannya di kelas. Semua orang terkejut mendengar kalau Cempaka akan menikah dengan Dosen mereka. Kecuali Kalya dan Olive yang sudah tahu lebih dulu.
“Ini lo nikah beneran sama Pak Hanaf dosen kita, Ka?”
“Ya iyalah, sama Hanaf yang mana lagi? Pak Hanaf yang dulu gue kira tukang ojek itu.”
“Nggak nyangka lo bisa jodoh sama dia,” celetuk seorang laki-laki yang duduk di sudut ruangan.
“Lo aja nggak nyangka apa lagi gue?” Cempaka menunjuk teman-teman yang ada di kelas itu, “kalian harus dateng pokoknya!”
Cempaka kembali ke mejanya. Sebentar lagi Dosen akan masuk untuk mengisi jadwal pelajaran mereka siang ini. Pandangan gadis itu beralih ke Olive. Temannya itu menangis.
“Lo kenapa, Liv?”
Kalya yang duduk di belakang Olive mengedikkan bahu ketika Cempaka menatapnya.
“Gue sedih... Pak Hanaf yang gue suka malah mau nikah sama temen gue sendiri.”
“Kalau posisi ini bisa dituker, gue rela tuker posisi sama lo,” balas Cempaka sembari bertopang dagu.
“Lo itu orang yang beruntung Aka bisa sama Pak Hanaf. Gue iri, gue bilang.”
Kalya tertawa mendengar penuturan Olive yang lucu, “Udah hapus air mata lo itu. Nggak enak dilihat Dosen.”
Olive menghapus air mata menggunakan tisu, kemudian berkaca melihat betapa mengenaskan wajahnya.
“Make up gue berantakan...”
“Buruan touch up lagi!”
Cempaka kini juga tertawa karena ulah Olive. Ada-ada saja gadis itu.
...****************...
“Jangan banyak gerak!”
Hampir setengah jam Indah membantu anak bungsunya untuk bersiap-siap. Cempaka sengaja mengulur-ngulur waktu. Sebenarnya ia tidak mau ikut ke rumah Hanafi atas memenuhi undangan makan malam keluarga.
Cempaka takut dengan calon mertuanya. Terutama ibu dari Hanafi. Ketika pertemuan di sebuah restoran beberapa bulan lalu dengan Aisyah membuat Cempaka tak nyaman sekaligus canggung. Wanita dewasa itu seperti tidak menyukainya.
Susah sekali ingin menikah dengan orang yang baru dia kenal belum lama ini. Kalau bersama Arfan, Cempaka lumayan dekat dengan orang tuanya. Walau pun Dewi jarang terlihat di rumahnya.
“Ini Aka udah diem, Umi. Kenapa nggak diiket biasa aja rambutnya? Kenapa harus disanggul?”
__ADS_1
“Biar terlihat ayu. Jadi orang tua calon suamimu itu senang memandangmu.”
“Tapi ‘kan jadi ribet dan lama, Mi.”
“Ini udah mau selesai kok.”
Cempaka segera berdiri. Ia sudah pegal dari tadi duduk dengan posisi tegap. Gadis itu tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin. Ia terlihat begitu cantik malam ini dengan dress merah jambu dan rambut disanggul modern.
Cempaka mengambil potret mirror selfie, lalu mengirimkannya ke Arfan dengan pesan, Aku cantik ‘kan sayang?
Pesan itu terkirim, tetapi Arfan tidak menanggapinya. Lebih tepatnya Arfan tidak membaca pesan itu. Karena status whatsapp menunjukkan aktif tiga jam yang lalu, Aka tidak mempermasalahkan pesannya yang tidak dibalas kekasihnya itu. Mungkin saja Arfan sedang sibuk.
“Ayo berangkat Aka!” Indah muncul lagi dari balik pintu setelah tadi meninggalkan Cempaka.
“Iya, Umi.” Cempaka meraih tasnya, lalu menyusul keluar dari kamar.
Di lantai dasar sudah ada Abi, Bang Danish, Kak Juwita serta anaknya. Cempaka dan Umi datang bergabung.
“Ih gemas banget sih Asha,” ujar Cempaka mencubit pelan pipi keponakannya. Bayi perempuan itu tidak kalah nyentrik dari sang tante.
“Makasih Aunty!” balas Juwita yang suaranya diubah menjadi anak-anak.
“Udah siap semua ‘kan?”
“Udah, Abi,” jawab Danish mewakilkan.
“Inget, Aka! Jangan bikin malu Abi di sana! Mengerti?” Dengan tegas Hamzah memperingati anak bungsunya.
Cempaka mengangguk, “Siap, Bi!”
“Kalau kamu sampek bikin ulah, Abi akan sita kartu kredit dan handphone-mu itu!”
“Abi nggak asyik nih mainnya ancaman mulu.” Cempaka mengerutkan bibir.
“Kalau Abi nggak tegas kamu bisa berulah.”
“Tapi Cempaka takut Bi sama ibunya Mas Hanaf. Kayak mau terkam, Aka.”
“Alasan aja kamu. Aisyah itu baik dan lembut orangnya. Mana ada dia mau terkam kamu.”
“Aka yang merasakan Abi.”
“Udah-udah!” Indah merangkul putrinya kemudian mengusap-usap lengan guna menenangkan Cempaka, “kamu nggak perlu takut. Umi yakin kedua orang tua Hanaf suka sama kamu.”
“Ayo berangkat nanti kita terlambat lagi,” ujar Danish mengingatkan.
Serempak semua mengangguk. Mereka berjalan keluar rumah dengan Cempaka masih dipeluk oleh sang ibu.
Mobil dengan isi enam orang itu melaju meninggalkan pekarangan rumah. Sepanjang perjalanan Hamzah berdoa agar semuanya lancar sampai mereka kembali pulang.
...****************...
Author Note:
Kalo ada yg mau kasih saran atau kritik. aku sangat terima. jangan takut. kalau cocok akan aku pertimbangankan untuk dipakai.
Terima kasih ya udah rajin baca cerita aku ini. 🙏💕 karena pembacanya belum seberapa aku suka merhatiin yg sering like. Makasih banyak ya. Cerita ini tanpa pembaca bukan apa-apa.
__ADS_1