
“Cempaka masih di dalam?” tanya Arfan pada salah satu mahasiswi yang kebetulan keluar dari kelas. Cowok itu celingukan mencoba mengintip ke dalam untuk memastikan sendiri sembari pertanyaannya di jawab.
“Cempaka udah keluar dari tadi.”
“Oh gitu, thanks.”
Gadis itu mengangguk, setelah urusannya dengan Arfan selesai ia segera melanjutkan langkah.
Arfan bergeser sedikit menjauh dari kelas Cempaka. Ia mengeluarkan ponselnya tanpa sadar sedari tadi seseorang memerhatikan gelagatnya.
Ketika Arfan melangkah kembali setelah menyimpan ponsel. Orang yang dari tadi memata-matai Arfan ini membuntuti cowok itu.
“Gara-gara mengikuti Arfan. Saya tau kamu di mana.”
Setelah dipaksa untuk bercerita akhirnya Hanafi berterus terang bagaimana ia bisa menemukan Cempaka.
“Bapak juga tau nama pacar saya sekarang?”
“Om Hamzah yang kasih tau.”
Cempaka mengusap wajahnya gusar. Ia stres berada dalam satu mobil dengan Dosennya ini.
“Terus kenapa Abi nyuruh Bapak yang antar saya pulang? Jelas-jelas Bapak sendiri yang bilang kalau perjodohan kita dibatalkan.”
Hanafi yang fokus menyetir itu menoleh sekilas ke sebelahnya, “Perjodohan itu nggak jadi batal. Kamu tetap calon istri saya.”
Cempaka hampir tersedak air liurnya sendiri. Ia sungguh terkejut mendengarkan penuturan Hanafi.
“Bapak bilang apa barusan? Coba ulang!”
“Kamu mengalami ketulian?”
Cempaka menggeram, “Udah ulang aja apa susahnya!”
“Kamu tetap calon istri saya. Mungkin nanti Abi akan memberi tau kamu.”
Gadis bersweater rajut ini menjambak rambut sendiri, frustrasi. Ia duduk menghadap ke Hanafi. Sembari menunjuk-nunjuk ia berkata, “Bapak ini mau jadi PHO? Bapak ‘kan tau saya udah punya pacar. Saya cinta banget sama Arfan. Apa Bapak mau menikahi orang yang nggak cinta sama Bapak?”
Tiba-tiba mobil yang dikendarai Hanafi berhenti mendadak hingga kepala Cempaka terbentur dashboard.
Ia meringis sembari mengusap kepalanya, “Iih... Bisa nggak sih pelan-pelan kalau ngerem itu? Kalau saya celaka bagaimana?”
“Udah sampek di rumah kamu.”
Cempaka melihat ke depan. Benar saja sekarang mereka ada di depan pagar rumah. Namun, Cempaka tetap marah pada Hanafi.
“Nanti kamu akan mengerti mengapa saya berubah pikiran,” tutur Hanafi sebelum turun dari mobilnya.
__ADS_1
...****************...
Hanafi dan Cempaka dihadapkan pada Hamzah yang meminta mereka untuk berkumpul di ruang tamu terlebih dulu. Ini kesempatan untuk Cempaka meminta penjelasan ayahnya.
“Abi bukannya perjodohan ini udah batal?” Cempaka menuntut kejelasan atas semua kejadian yang baru saja ia alami.
“Siapa yang bilang?”
“Pak Hanaf beberapa bulan lalu.”
Hamzah memandang Hanafi yang kebetulan menatapnya. Ia sebenarnya tahu, karena Hanafi sudah menjelaskan semuanya kemarin. Ayah dua anak ini menatap si bungsu kembali.
“Abi nggak membatalkannya. Hanafi cuma salah paham. Malah sekarang Abi ingin memberi tahu kalian kalau pernikahan akan berlangsung dua minggu lagi.”
Kedua bola mata Cempaka seperti ingin keluar dari tempatnya. Ia tidak berpikir akan secepat ini.
“Untuk pesta itu udah Abi urus. Besok kita akan pergi ke KUA untuk melengkapi data. Kalian tinggal ukur baju dan siapkan mental. Oh ya, jaga kesehatan juga. Agar acara bisa berjalan sesuai yang udah kita direncanakan.”
“Siap, Om.”
“Aka menolak keras!” Cempaka lantas berdiri untuk menentang keputusan sang ayah, “Aka cintanya sama Arfan, Abi. Aka akan menikah, tapi sama Arfan bukan Pak Hanaf.”
Air mata meluncur membasahi pipi Cempaka. Ia berlari hingga hampir menabrak Indah yang membawa nampan berisi minuman. Gadis itu pergi ke kamarnya.
“Apa ini nggak terlalu memaksa Cempaka ya, Om? Saya berpikir pernikahan itu harus kesepakatan dua orang. Sedangkan Cempaka nggak mau ini dilakukan.” Hanafi benar-benar merasa tidak enak hati. Sebenarnya ia tidak ingin juga ada di posisi ini. Namun, mau bagaimana lagi.
Indah meletakkan dua cangkir ke atas meja. Ia menyimak pertanyaan dari calon mantunya itu.
“Nak Hanaf tenang aja. Nanti Umi bantu bujuk Cempaka ya.”
Hanafi tersenyum canggung dengan menganggukkan kepala. Setelahnya Indah melipir pergi dari tempat itu.
“Benar kata Umi. Cempaka hanya butuh dibujuk. Tubuhnya memang udah besar, tetapi Cempaka itu masih suka ke kanak-kanankan. Kamu harus sabar menghadapinya. Om juga akan coba kasih dia pengertian.”
Lagi, Hanafi mengangguk saja.
...****************...
“Abi itu nggak sayang sama Aka.” Cempaka yang ada di kamarnya, duduk di pinggir ranjang sembari menangis tersedu-sedu, “sebenarnya, Aka ini anak Abi bukan sih? Aka ini udah besar. Kenapa untuk pernikahan juga harus diatur? Aka tau kok yang mana yang baik dan nggak.”
__ADS_1
“Abi sama Umi selalu anggap Aka masih kecil. AKA INI UDAH GEDE!” Cempaka berteriak di kalimat akhirnya, hingga orang di luar kamarnya bisa mendengar.
Cempaka masih menangis dengan keras. Ia yang sedang menatap jendela besar di depannya teralihkan saat mendapati gunting tergeletak di atas nakas. Tangisnya tiba-tiba saja meredup.
Ia melihat ke arah pintu kamar yang tertutup rapat sebelum mendekati gunting itu. Sekarang gunting tajam itu sudah ada dalam genggamannya.
“Kalau Abi memang nggak butuh pendapat Cempaka. Lebih baik Aka mati aja.”
Yang ada di dalam isi kepala Cempaka sekarang adalah akan menyayat pergelangan tangan sampai tidak bisa bernapas lagi. Ia memilih bunuh diri saja dari pada harus menikah dengan orang yang tidak ia cintai.
Cempaka juga meraih ponselnya terlebih dulu. Membuka room grup chat yang tergabung dengan tiga temannya. Ia meninggalkan pesan di sana.
Cempaka: Maafin gue yang banyak salah sama kalian. Semoga kita bertemu lagi di kehidupan selanjutnya. Gue titip pesan aja buat Arfan. Gue cinta banget sama dia. Tolong maafin gue.
Olive: Lo ngetik apa, Ka? Kok ngaco begini. Mabok seblak ya lo?
Kalya: Nyebut lo, Ka. Ngetik kayak udah mau ke mana aja. Gue nggak maafin dosa lo!
Ayumi: Ka, kenapa? Mau cerita? Apa ada sangkut pautnya sama kejadian tadi di kampus?
Kalya: Ada apa sih?
Ayumi: Nanti gue ceritain, Kal. CEMPAKA JANGAN NGELAKUIN ANEH-ANEH YA BESTIE! AWAS LO! GUE SAMPERIN KE RUMAH LO!
Cempaka sudah membuang benda pipih itu ke atas kasur tanpa peduli lagi dengan balasan dari teman-temannya.
Gunting itu sudah ada di atas pergelangan tangannya. Bergeser sedikit maka tangan itu akan tergores. Cempaka masih menangis saat ini. Tangisannya tidak sekeras tadi.
“Astagfirullah, Aka!” itu teriakan Indah. Ia syok saat masuk ke kamar Cempaka sudah melihat darah mencuat keluar dari kulit yang terluka.
Wanita paruh baya itu membuang gunting ke lantai. Ia menarik Cempaka ke dalam pelukannya. Gadis itu menangis kembali sangat keras. Ia meluapkan emosi yang masih sesak pada dadanya.
“Apa yang kamu lakukan, Nak?” Indah ikut terisak. Ia memeluk dan berusaha menenangkan anak bungsunya.
Hamzah dan Hanafi yang masih berbincang di bawah sampai berlari ke lantai dua saat mendengar teriakan Indah. Juwita yang membawa bayinya yang ikut menangis karena terkejut juga berlari ke kamar Cempaka saat itu juga.
...****************...
__ADS_1