Good Husband

Good Husband
Kesepakatan


__ADS_3

“SADAR NGGAK TADI APA YANG KAMU LAKUIN ITU?”


Hamzah memarahi atas kebodohan yang Cempaka ingin lakukan beberapa menit lalu. Sekarang tangannya sedang di obati oleh Indah.


“SEPERTI ORANG NGGAK PUNYA AGAMA TAU!”


Cempaka hanya diam menunduk. Hatinya terasa lebih sakit. Ia sedang stres sekarang, tetapi Abi tetap menyalahkannya.


“Abi mau menjodohkan kamu itu juga pilih-pilih orang. Hanafi bukan orang sembarangan. Kamu itu perempuan yang beruntung bisa menikah sama dia.”


“Iya sayang, Hanafi itu baik kok.” Indah yang sedang menggulung perban di pergelangan putrinya mencoba Hamzah menasihati Cempaka dengan lembut.


Air mata menetes lagi dari peluk mata yang masih sembab itu. Cempaka tidak bersuara, ia hanya menyalurkan kesakitannya melalui air mata.


Hamzah memegang dada kiri yang terasa berdenyut. Napasnya juga agak sesak. Hamzah tahu sekali kalau penyakitnya mulai kambuh. Ia buru-buru meninggalkan kamar Cempaka.


Di depan pintu ada Hanafi yang masih menunggu. Ia yang mengetahui kesehatan pria tua itu sudah tidak sesempurna dulu ikut khawatir melihat Hamzah berjalan tergesa-gesa sembari memegangi dadanya.


“Om nggak apa-apa?” tanya Hanafi dengan suara pelan.


Hamzah menggeleng, “Saya baik-baik aja. Saya hanya ingin ke kamar sebentar.”


Hanafi mengangguki permintaan Hamzah. Untungnya Juwita dan bayinya sudah kembali ke kamarnya. Kalau tidak bisa ketahuan penyakit yang sedang Hamzah rasakan.


“Ingat! Jangan begitu lagi ya sayang!” ujar Indah menutup kotak P3K yang telah selesai ia gunakan.


Tangan Cempaka sudah terbungkus rapi dengan perban. Darahnya telah berhenti mengalir. Cempaka masih diam saja dan tidak ada niat untuk menjawab ucapan ibunya.


Indah yang paham dengan perasaan gadis itu mengusap kepala Cempaka dengan rasa sayang yang tulus.


“Umi tinggal dulu ya.” Indah beranjak dari tepi kasur dan berjalan keluar dari kamar.


Di depan pintu kamar Indah juga bertemu Hanafi. Pria itu masih setia di sana.


“Tante, saya boleh bicara sama Cempaka berdua aja?”


Indah mengulum bibir sebelum menjawab pertanyaan calon menantunya. Ia juga menoleh sekilas ke arah gadis yang masih menatap ke jendala.


“Boleh, silakan!” Indah memberi jalan untuk Hanafi lewat.


Pria berkemeja oranye itu melangkah dengan pasti menghampiri Cempaka yang duduk di pinggir ranjang dengan mata memandang ke luar jendela.


Hanafi melihat terlebih dulu ke pintu kamar yang sengaja di buka lebar. Indah yang masih ada di depan, lantas segera pergi. Ia mengerti maksud tatapan Hanafi. Pria ini benar-benar ingin bicara berdua dengan Cempaka.


“Saya tau perasaan kamu. Tadinya, saya juga merasakan seperti yang yang rasakan sekarang.” Cempaka tidak menggubrisnya, “tapi karena sesuatu saya setuju dengan niat kedua orang tua kita.”

__ADS_1


“Maaf, saya belum bisa menjabarkannya sekarang ke kamu, tapi suatu hari pasti kamu akan mengerti.”


Tatapan Cempaka kosong. Ia seperti patung sekarang. Namun, Hanafi yakin Cempaka pasti mendengarkan ucapannya.


“Cempaka, saya datang ke kehidupan kamu sama sekali nggak berniat menghancurkan hubungan kamu dan Arfan. Maaf sekali kalau keputusan ini nggak kamu suka. Maka dari itu saya punya jalan tengah untuk masalah kita. Agar saya juga bisa menebus rasa berasalah ini.”


Hanafi berhasil membuat Cempaka menoleh padanya. Dengan mimik wajah yang datar Aka bertanya, “Apa itu?”


Pria ini menarik napas sejenak, kemudian menekuk kedua kaki. Merendahkan diri agar posisinya dan Cempaka sama. Hanafi bak pangeran yang bersimpuh di depan tuan putri.


Ia menatap Cempaka serius, “Kita tetap jalani perjodohan ini.”


Mendengar itu Cempaka membuang muka. Ia muak dengan perjodohan tak masuk akal itu.


“tapi kamu bebas untuk tatap menjalani hubungan dengan Arfan. Saya nggak akan melarangmu. Terpenting di depan orang tua kita, kamu dan saya bisa berperan sebagai layaknya sepasang suami-istri.”


Cempaka menatap Hanafi kembali, “Bapak sungguh-sungguh?”


Hanafi mengangguk tanpa keraguan  yang tersirat dari wajahnya, “Iya, asal kamu tetap mau menjalankan perjodohan ini dan kamu berjanji nggak akan melukai dirimu sendiri lagi.”


“Mengapa?” Satu alis Hanafi terangkat, “mengapa Bapak mau menjalankan perjodohan ini? Bahkan Bapak nggak keberatan saya sama Arfan tetap berpacaran.”


“Saya hanya ingin menyenangkan orang tua kita. Bagi saya ayah dan Bunda adalah segalanya. Kamu juga pasti nanti paham dengan tujuan saya ini.”


Hanafi kembali berdiri dan merapikan celana serta kemejanya.


Sebenarnya yang dibicarakan Hanafi, Cempaka juga mengetahuinya. Namun, tadi pikirannya terlalu gila. Ia sudah tidak bisa berpikir jernih karena paksaan sang ayah untuk menikah.


“Saya pamit dulu. Sampai bertemu di kampus.” Hanafi berjalan keluar dari kamar gadis berambut panjang itu.


Cempaka menoleh ke belakang, memerhatikan sosok Hanafi yang makin jauh dan hilang setelah melewati pintu.


Cempaka masih tidak menyangka masih ada orang yang sangat mementingkan orang tuanya dan melupakan kebahagiaannya sendiri. Hanafi dengan ikhlas menerima perjodohan. Bahkan demi perjodohan berlangsung ia rela Cempaka tetap berpacaran dengan Arfan. Ini gila.


 


...****************...


 


Kedua kaki di bawah meja itu bergerak tidak mau diam. Ia gelisah. Sesekali sembari menulis Cempaka melirik lelaki yang duduk berhadapan dengannya. Sedari tadi ia ingin mengajak Arfan berbicara. Namun, rasa ragunya terlalu besar.


“Ada yang mau diomongin?” ternyata cowok yang sedang mengerjakan tugas itu sadar jika dirinya diperhatikan sedari tadi.


“Aku mau kasih tau sesuatu ke kamu.”

__ADS_1


Arfan memberhentikan kegiatannya sejenak, “Apa? Omongin aja!”


“A-aku dan Pak Hanaf menyepakati perjodohan kami,” ujar Cempaka dengan perasaan yang takut-takut. Ia takut Arfan akan marah.


Benar saja seketika ekspresi cowok di depannya itu berubah, “Kenapa kamu terima? Aku udah bilang ‘kan, tolak. Bilang ke Abi! Kamu udah nggak cinta sama aku?”


“Aku cinta sama kamu. Udah berapa kali juga aku tolak. Bahkan aku pengen bunuh diri aja karena Abi nggak pernah dengerin penolakan aku.”


“Terus hubungan kita bagaimana? Kamu mau ninggalin aku dan menikah sama Dosen itu?” nada bicara Arfan mulai meninggi.


Beberapa orang yang melintas bahkan sampai menoleh ke arah dua sejoli yang sedang berdebat di taman samping gedung fakultas ini.


Cempaka menggeleng, “Aku nggak mau kayak gitu, tapi aku terpaksa Arfan. Kalau kamu memang nggak mau aku menikah sama Pak Hanaf, kamu aja yang nikahin aku. Ayo kita minta restu sama Abi!”


“Lagi-lagi kamu malah memaksa aku buat nikahin kamu. Kamu tau sendiri aku baru selesai PKL. Bahkan aku belum KKN dan belum selesai kuliah. Aku belum punya pekerjaan. Aku nggak siap menikah dengan keadaan begini.”


Arfan mengatur emosinya, “Terserah kamu. Aku udah pasrah.” Nada bicaranya kini kembali lembut.


Cempaka meraih sebelah tangan kekar yang selalu menggenggam tangannya itu.


“Kamu tenang aja. Aku nggak akan tinggalin kamu. Aku mengerti posisi kamu saat ini. Aku itu cintanya cuma sama kamu.”


“Nanti juga kamu melupakan aku kalau udah menikah dengan Dosen itu.”


Cempaka mengulas senyum tipis. Ia menggelengkan kepala.


“Aku nggak akan lupain kamu. Kalau kamu selalu jaga hubungan kita. Aku dan Pak Hanaf memang akan menikah, tapi beliau nggak melarang aku tetap jadi pacar kamu.”


Arfan jelas terkejut mendengarnya. Suami mana yang rela istrinya tetap pacaran walau sudah menikah. Arfan pikir dosennya itu sudah tidak waras.


“Serius kamu?”


“Iya, kalau nggak kayak gitu, aku juga nggak mau kali langsung setuju.”


“Kamu kenapa nggak kasih tau aku langsung? Nunggu aku marah-marah dulu.”


“Aku Cuma mau mastiin kamu mau nggak menikah sama aku untuk gagalin rencana Abi ini, tapi setelah dengar alasanmu itu masuk akal juga. Kita nggak mungkin menikah dengan mental dan pekerjaan yang belum siap. Jadi, aku mau nungguin kamu sampai mapan.”


Arfan tersenyum, lalu mengacak rambut Cempaka penuh sayang.


“Makasih ya udah pengertian.”


Gadis itu ikut tersenyum, “Sama-sama. Ayo kita selesaiin lagi tugas kamu ini!”


Arfan meraih pulpen kembali. Mereka fokus mengerjakan tugas milik Arfan. Ya, tugas yang Cempaka kerjakan juga tugas Arfan. Pemuda itu meminta tolong untuk membantunya mengerjakan tumpukan tugas yang terbengkalai.

__ADS_1


 


...****************...


__ADS_2