Good Husband

Good Husband
Sebuah Hukuman


__ADS_3

Ketika membuka pintu yang mengarah pada taman di samping rumah, Juwita terkejut melihat adik iparnya tertidur sembari duduk di samping pintu. Ia meletakkan terlebih dulu selang yang dibawanya dari dalam untuk penyiram tanaman.


Juwita berjongkok, menyamakan posisi dengan Cempaka. Ia mengguncang pelan tubuh sang adik.


“Aka bangun! Ngapain kamu tidur di sini?”


Cempaka yang merasa terusik perlahan menggeliat sembari merengek halus. Mata cantiknya mulai terbuka. Ia menatap sekeliling sebelum berhenti tepat di depan wajah Juwita.


“Kak Juwi!”


“Kamu kenapa bisa tidur di sini?”


Cempaka mencoba menerawang ke kejadian sebelumnya. Sehabis berpisah dengan Arfan, ia lantas kembali ke rumah. Namun, saat ingin membuka pintu. Pintunya terkunci. Ingin masuk lewat jendela kamar, jendelanya ada di atas balkon. Cempaka tidak mempunyai akses untuk masuk ke rumah. Hal hasil ia memutuskan tidur di pintu samping.


Juwita tertawa sembari menutup mulut mendengarkan cerita dari Cempaka.


“Kak Juwi jangan ketawa! Aka menderita malah diketawain.” Bibir tipisnya itu menekuk ke bawah.


“Maaf, salah siapa kamu pulang larut malam?” Juwi teringat sesuatu. Ia menepuk tangan Cempaka hingga bersamaan terkejut, “Jangan-jangan pintu ini memang sengaja dikunci sama Abi. Biar kamu nggak bisa masuk saat pulang.”


“Waduh, berarti Abi sadar kalau aku telat pulang.”


Juwita mengangguk dengan ekspresi wajah yang tegang, “Waktu makan malam juga Kakak lihat muka Abi itu BT. Denger-denger dari Umi karena perjodohan kamu dibatalkan sama sahabatnya Abi.”


“Gawat!” Cempaka mengecek jam dari ponselnya. Masih pukul enam pagi. Ia cepat bangkit begitu pun Juwita yang kembali berdiri, “Aka harus cepat masuk mumpung Abi belum turun buat sarapan.”


Juwita memberi jalan adik iparnya itu untuk melewati pintu. Namun, langkah kecil dari kaki Cempaka dihentikan dengan Hamzah yang berpapasan dengan dirinya.


“Dari mana kamu? Anak gadis pagi-pagi begini baru pulang!”


“Abi, Cempaka bisa jelaskan.”


Juwita yang ada di belakang Cempaka meringis saat melihat mimik wajah mertuanya yang penuh dengan amarah.


...****************...


“Abi maafin Aka! Aka janji nggak akan ngulangin lagi. Abi... Hari ini Aka ada kuliah. Kalau Aka dihukum Aka nggak akan bisa ikut mata pelajaran hari ini.” Cempaka menggelengkan kepala ribut, “Aka nggak mau absen lagi Abi. Bisa-bisa nilai Aka kurang.”


Baru saja Hamzah melayangkan sebuah hukuman yaitu Cempaka tidak boleh keluar dari rumah selama dua hari ini. Pria itu juga mengatakan tidak akan memberi uang bulanan bulan depan untuk putrinya.

__ADS_1


“Biarkan saja! Itu risiko yang harus kamu tanggung. Abi nggak peduli. Siapa suruh kamu pulang pagi?”


“Abi, Aka ‘kan udah jelasin. Aka nggak pulang pagi. Cuma karena nggak bisa masuk jadi Aka tidur diluar.”


“Itu karena kamu pulang larut ‘kan?”


Cempaka menundukkan kepala, “Maaf, Abi.”


“Bagaimana lagi Abi harus membatasi pergaulanmu? Kamu itu udah dewasa harusnya bisa berpikir sendiri. Kalau nggak baik jangan dikerjakan!”


“Iya, Abi.”


“Kalau dibilangin iya-iya, Maaf, tapi masih diulang.” Hamzah yang berkacak pinggang itu menghela napas berat, “pasti karena kamu juga ‘kan perjodohan dibatalkan? Kamu yang minta sama Hanafi biar bisa batal?”


Cempaka mengangkat kepala, lalu menggeleng cepat.


“Aka nggak ada begitu.”


“Terus dari mana Hanafi tau kalau kamu udah punya pacar?”


Cempaka mencoba memutar otak agar bisa menjawab pertanyaan dari sang Ayah.


“Kamu tau?” Hamzah menunjuk putrinya yang berdiri di depan dia, “kamu udah kehilangan calon suami yang baik. Hanafi itu pria soleh dan pintar. Berbeda dengan Arfan. Kamu udah menyia-nyiakan calon suami yang paling sempurna.”


Gadis yang masih berpakaian sama seperti kemarin, bahkan belum bersih-bersih ini tertegun mendengar perkataan Hamzah. Entah mengapa rasanya mendengar suara lembut sang ayah membuat hati Cempaka bergetar. Namun, Cempaka rasa bukan hanya itu. Kalimat dan kata-kata yang membuat darah gadis ini berdesir saat mendengarkan penuturan itu.


“Sekarang kamu masuk ke kamar. Mandi! Bersihkan tubuhmu itu! Setelah itu kamu nggak boleh pergi ke mana-mana. Umi dan Kak Juwita akan mengawasi kamu!”


Dengan rasa semangat yang memudar Cempaka menjawab ucapan ayahnya, “Iya Abi.”


Setelah itu ia melangkah meninggalkan ruang keluarga. Tidak sengaja berpapasan dengan Danish yang sudah rapi menggunakan kemeja serta jas kantornya. Cempaka hanya menatap abangnya itu sekilas tanpa senyum. Danish yang tahu mengapa adiknya seperti itu menyikapi biasa saja.


...****************...


Denting jam dinding dan suara keyboard menemani Cempaka yang berkutik mengerjakan tugasnya di depan laptop. Untung saja ia sudah melakukan riset dan wawancara sebelumnya untuk bisa menyelesaikan tugas esai. Kalau tidak bisa-bisa akan gagal ikut KKN. Apa lagi sekarang ia tidak boleh keluar rumah dengan alasan apa pun.


Cempaka menghela napas panjang, “Bosan.”


Gadis berpiama itu menoleh pada jam dinding. Baru pukul sebelas siang, tetapi rasanya sudah seperti seharian dikurung.

__ADS_1


Baru akan melanjutkan untuk mengerjakan tugasnya lagi, Cempaka dialihkan perhatiannya dengan sebuah pesan yang masuk ke ponselnya.


Olive: Aka kenapa nggak masuk?


Cempaka buru-buru membalas pesan dari Olive. Ia baru mengabarkan Arfan tentang dirinya yang dihukum Abi. Mungkin, kedua sahabatnya ini tidak bertemu dengan Arfan di kampus tadi.


Cempaka: Gue di hukum Abi nggak boleh keluar dari rumah selama dua hari karena ketahuan pulang larut malem habis dugem sama Arfan kemaren.


Olive: lo juga sih ngapain coba dugem kelamaan.


Cempaka: Arfan susah dibujuk buat anter gue pulang.


Olive: emang lo lebih baik sama Pak Hanafi aja. Eh tapi jangan deng doi punya gue hehe...


Cempaka tersenyum kecut menanggapi pesan terakhir Olive, kemudian ia tidak membalasnya lagi. Gadis itu menutup laptopnya, lalu melangkah mendekati jendela. Hari ini begitu cerah. Enak kalau dipakai untuk berjalan-jalan. Cempaka sangat bosan ada di kamar dan cuma mengerjakan tugas.


Aka mengambil uang dari dalam dompet. Ia berpikir akan ke mini market terdekat sembari berjalan-jalan santai di sekitar kompleks untuk mengusir rasa bosan ini.


Ketika menuruni anak tangga ia bertemu dengan Umi. Aka tersenyum, “Umi, Aka keluar sebentar ya?”


Mendengar itu jelas Umi langsung melarangnya, “Nggak boleh. Kamu itu masih kena hukuman Abi. Ingat nggak boleh keluar rumah.”


“Cuma mau ke mini market kok Umi.” Cempaka menunjukkan pakaian yang melekat di tubuhnya, “lihat Aka masih pakai piama. Nggak mungkin jauh-jauh pakai baju kayak gini.”


“Kamu mau beli apa?” Indah menadahkan sebelah tangan, “sini biar Umi aja yang belikan. Kamu bisa tunggu di rumah.”


Cempaka menggelengkan kepala, “Nggak perlu Umi. Masa Aka nyuruh Umi. Bisa durhaka nanti. Lagian cuma beli cemilan.”


“Sejak kapan kamu mikirin bakal durhaka? Ini juga maunya Umi kok. Umi nggak merasa kamu suruh. Umi cuma menjalankan tugas dari suami.”


“Umi...” si bungsu merengek manja.


“Udah sana balik ke kamar! Jangan coba-coba mau kabur!”


Dengan kaki yang sengaja dientak-entakkan dan bibir yang melengkung ke bawah, Cempaka memutar arah untuk kembali ke kamarnya.


“Mau coba-coba akal-akalin Umi.” Indah mengibas hijab besarnya, “Nggak bisa lah yaow.”


...****************...

__ADS_1


__ADS_2