Good Husband

Good Husband
Pergi Bersama


__ADS_3

“Lo sampek mau bunuh diri, Ka?” Olive sedikit terkejut saat mendengar cerita Ayumi.


Ayumi mengangguk, “Gue sampek beneran dateng ke rumahnya. Ketemu sama Dosen itu, terus kata Umi, Aka ngelukain dirinya.”


“Gila lo, Ka. Ngaco bener sampek mau bunuh diri.” Kali ini Kalya yang berbicara.


Cempaka yang menopang kepala dengan kedua tangan masih menyimak obrolan ketiga temannya ini.


“Gue udah bingung kemaren harus gimana lagi.”


“Terus akhirnya?”


“Gue bakal nikah sama Pak Hanaf.”


Jelas saja ketiga gadis yang satu meja dengan Cempaka ini terkejut. Seketika mereka memikirkan kondisi Arfan.


“Lah, terus Arfan?” tanya Ayumi, Cempaka belum sempat bercerita banyak pada sahabatnya ini kemarin.


Cempaka mencondongkan dirinya lebih ke depan. Ia meminta teman-temannya juga mendekat.


Dengan suara berbisik ia memberi tahu ketiga temannya itu, “Ini rahasia kita ya, nggak boleh bocor ke mana-mana.” Mereka serempak mengangguk, “Pak Hanaf tetap ngebolehin gue pacaran sama Arfan.”


“What?” pekik Olive membuat yang lain menjauh darinya.


“Olive! Sakit nih telinga gue,” ujar Kalya menutup sebelah telinganya.


“Sorry, gue kaget aja. Kok mau ya begitu? Kenapa Pak Hanaf nggak milih gue aja sih?Jadi nggak perlu di duain.”


Cempaka kembali duduk dengan benar. Begitu pun yang lain. Aka mengedikkan kedua bahu, acuh tak acuh.


“Gue juga nggak ngerti. Yang penting hubungan gue sama Arfan tetap terjaga. Dia sih bodo amat. Siapa suruh mau-maunya ikutin permintaan Abi.”


“Tapi lo beruntung, Ka. Zaman sekarang mana ada cowok yang rela berkorban kayak Pak Hanaf itu,” ujar Kalya.


Ayumi yang sedang menyeruput minumannya mengangguk setuju.


“Gue aja merasa iri,” tambah Olive yang sangat diketahui menyukai Hanafi.


“Gue juga nggak minta dia harus kayak gitu kok. Dia yang mau. Jadi, biarin aja.” Cempaka meraih gelas minumannya. Dengan santai ia menikmati jus berwarna merah itu.


 


 


...****************...


 


Matahari sudah tinggi, tetapi belum terlihat tanda-tanda Cempaka akan meninggalkan kasurnya. Sesudah Shalat subuh gadis itu memutuskan untuk tidur lagi. Mumpung hari libur.


Gadis itu masih bergulung dengan selimut tebalnya. Ia juga melupakan ucapan Abi kalau hari ini akan fitting baju pengantin bersama Hanafi. Sebenarnya, ia malas untuk pergi.

__ADS_1


Apa lagi karena jadwal ini Cempaka sampai membatalkan jalan-jalannya dengan Arfan, padahal seminggu ini jarang bertemu Arfan karena kesibukan kampus.


“Cempaka bangun udah jam sembilan!” Indah datang, lalu membuka gorden yang masih menutupi jendala.


Sinar sang surya langsung menampar wajah Cempaka. Gadis ini menggeliat, kemudian membelakangi jendala. Tidak ada niat untuk bangun. Indah sampai geleng-geleng memerhatikannya.


“Ayo cepat bangun, Aka!” Indah menepuk bokong anaknya, “sebentar lagi Hanafi akan datang. Apa kamu nggak malu sama calon suamimu itu kalau masih banyak belek dan iler?”


Cempaka menutup telinganya dengan guling. Ia masih memejamkan mata.


“Aka nggak peduli, Mi. Kalau udah nikah juga dia bakal lihat Aka belekan dan ileran.”


“Kamu itu malah ngejawab. Ayo bangun!” karena susah tidak juga menuruti apa kata sang ibu. Indah menarik kedua lengan putrinya sampai berubah posisi menjadi duduk.


“BUKA MATA KAMU!”


Masih dengan rasa malas, Cempaka terpaksa membuka kedua kelopak matanya. Terdengar suara klakson mobil dari luar rumah.


“Itu Hanafi udah datang. Buruan mandi!”


“Iya, iya, bawel banget, Umi.” Cempaka menurunkan kedua kaki menyentuh lantai yang dingin.


Cempaka mengucek kedua mata, kemudian berkedip berkali-kali dan menatap ke arah Indah yang sedang membantu merapikan tempat tidurnya. Semata-mata agar Cempaka cepat menyelesaikan tugasnya.


“Mandi! Jangan lama-lama siap-siapnya. Kasihan Hanafi nunggunya. Kalau kamu sengaja lelet. Umi akan bilang ke Abi.”


“Iya, Umi.” Cempaka harus menurut kali ini. Apa lagi sekarang Abi ada di rumah. Bisa-bisa ancamannya uang bulanan lagi.


“Lama banget kamu.”


“Umi itu udah paling cepet. Biasanya Aka sampek satu jam siap-siap,” balas Cempaka dengan suara berbisik, tetapi ditekan.


“Udah jangan bertengkar! Nggak enk sama Hanaf,” ujar Abi menengahkan, “cepat pergi sana! Makin siang ini nanti kalian kemalaman pulangnya.”


Cempaka mengangguk, kemudian menyalami Umi dan Abi bergantian. Gadis itu keluar duluan dari rumahnya. Hanafi masih berpamitan dengan Indah dan Hamzah.


“Abi titip Aka. Hati-hati bawa mobilnya!”


Hanafi mengangguki nasihat Hamzah, “Siap Abi. Tenang aja saya akan jaga Cempaka sebaik mungkin.”


Setelah berucap salam Hanafi menyusul Cempaka yang sudah menunggu dengan berdiri di depan mobilnya.


 


...****************...


 


“BTW, kita mau ke butik mana ya, Pak? Saya taunya cuma disuruh fitting, tapi nggak dikasih tau di mana.”


Cempaka bertanya sembari mengatur radio mobil. Ia mencari siaran yang bagus.

__ADS_1


“Lisa Butik. Memang waktu ukur baju kamu nggak datang ke sana?” Hanafi yang menyetir sesekali menoleh pada calon istrinya.


Mata Cempaka menengadah, ia berusaha mengingat-ingat. Kalau tidak diukur bagaimana Umi memesankan baju? Namun, Cempaka merasa satu bulan ke belakang ini tidak pernah ukur untuk pakaian.


“Kayaknya saya nggak ada ngukur mau bikin baju deh, Pak.”


“Terus bagaimana bajumu bisa dibuat kalau nggak diukur dulu?”


Cempaka mengedikkan kedua bahu, “Saya juga nggak tau. Umi bilang tinggal fitting.”


Cempaka memang tidak pernah sadar. Setiap tidur ia seperti orang pingsan. Indah mengukurnya sebelum gadis itu pergi KKN. Tepatnya, saat Cempaka terlelap. Maka dari itu ia tidak pernah tahu.


“Omong-omong, jangan panggil saya Bapak kalau di luar kampus!”


“Terus apa? Om?”


“Memang saya terlihat setua itu?”


“Karena saya lebih suka brondong. Jelas Bapak terlihat lebih tua.” Cempaka bersandar ke jok mobil sembari menikmati musik yang mengalun dari radio, “lagian usia kita yang terpaut jauh ngebuat Bapak tuh kayak Om saya.”


Untungnya Hanafi punya kesabaran yang sangat besar. Kalau tidak Cempaka sudah ia turunkan saja di tengah jalan.


“Saya baru 30 tahun.”


“Saya 22 tahun. Berarti beda 8 tahun. Masih jauh, Pak.”


“Kmu panggil saya, Mas aja. Kalau di kampus baru Bapak seperti mahasiswi lain.”


“Oke deh Ba-Mas.” Cempaka memaksakan untuk tersenyum.


Hanafi mengganti channel radio ke siaran berita. Cempaka mengerutkan bibir atas tindakan lelaki di sampingnya.


“Kok diganti?”


“Kita perlu mendengarkan berita agar tau update-an terkini.”


Cempaka berdecih, lalu melipat kedua tangan di depan dada. Ia juga memandang ke luar jendela.


“Seleranya aja udah kayak orang tua.”


“Damn little girl!” umpat Hanafi memakai bahasa inggris dengan aksen Australianya.


Cempaka menoleh karena merasa dibicarakan, “B-Mas tadi bilang apa?”


“Nggak ada.” Hanafi menggeleng, “Kamu salah dengar.” Pria itu kembali diam dengan fokus pada jalanan di depannya.


 


...****************...


 

__ADS_1


__ADS_2