Good Husband

Good Husband
Malam Pertama yang Gagal


__ADS_3

Hanafi sedang sibuk di meja kerjanya menyiapkan berbagai peralatan yang akan dibawa ke kampus besok. Pria ini akan mulai bekerja kembali.


Cempaka yang baru keluar dari kamar mandi memakai piama terlihat canggung duduk di pinggir ranjang. Pikirannya berkelana, memikirkan dugaan-dugaan sehabis ini Hanafi akan meminta jatahnya.


Mungkin kemarin malam Cempaka bisa melewati malam pertama mereka dengan alasan kelelahan, tetapi untuk malam ini ia harus beralasan apa lagi? Cempaka menatap punggung suaminya sembari menelan saliva dengan susah payah. Ketika Hanafi berbalik ia berlonjak kaget, lantas membuang muka.


Hanafi mengerutkan dahi. Ia sadar kalau baru saja Cempaka memerhatikan dirinya. Makin Hanafi mendekat rasa gugup makin besar dirasakan Cempaka.


“Kamu nggak tidur? Besok kuliah ‘kan?”


Cempaka menoleh, kini ia mendapati suaminya telah naik ke atas ranjang dengan menarik selimut.


“Ku-kuliah, Mas. Ini m-mau tidur.” Cempaka bergegas menaiki ranjang dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Ketika Hanafi bergeser untuk memperbaiki posisi duduknya Cempaka berseru, “Jangan mendekat! Saya nggak mau melakukannya sama Mas.”


Kalimat itu terlontar dengan cepat dari bibir ranum milik Cempaka. Hanafi jelas saja kebingungan.


“Maksud kamu?”


Gadis yang sudah berbaring ini memberanikan diri untuk membuka mata. Ia sempat memejam karena sangat takut.


“Mas nggak mau minta itu?” Dahi Hanafi berkerut, “itu loh kalau orang udah nikah.”


Kerutan yang menghilang dari dahi menandakan pria itu telah paham maksud istrinya.


“Saya nggak bakal macam-macam. Kamu tenang aja. Kapan kamu siap aja.”


“Ini bukan masalah saya siap atau nggaknya. Saya nggak mencintai Mas jadi saya nggak akan melakukan itu. Saya akan jaga diri saya sampai saya menikah dengan Arfan.”


Setelat memperingati Hanafi, gadis ini memutar tubuh memunggungi suaminya. Ia juga masih menutupi seluruh tubuh dengan selimut.


Hanafi terdiam. Entah mengapa rasanya sesak sekali. Istrinya tidak akan mau melayani dirinya. Walau sejujurnya Hanafi masih grogi bersama Cempaka apa lagi ingin melakukan hal-hal setelah menikah. Namun, ditolak oleh istri sendiri itu menyakitkan.


Akhirnya, Hanafi memutuskan untuk segera tidur saja. Besok masih banyak pekerjaan akan ia jalani.


...****************...


Cempaka baru saja sampai di kampus. Ia berangkat bersama Hanafi, tetapi mereka memilih berpisah di parkiran karena Aka ingin mencari kekasihnya terlebih dulu. Dari kemarin Arfan tidak bisa dihubungi. Cempaka takut terjadi sesuatu dengan lelaki itu.


“Lihat Arfan nggak?” tanya Cempaka kepada salah satu mahasiswa yang dia kenal adalah salah satu teman sekelas Arfan.


Pemuda itu mengangguk, “Ada, tunggu sebentar! Gue panggil dulu.”


Cempaka menunggu Arfan di depan kelas. Ia bersabar sampai akhirnya cowok itu keluar dari kelasnya.


“Kamu udah kuliah lagi?”


Cempaka berhambur memeluk kekasihnya. Ia rindu Arfan-nya, “Kenapa kamu nggak balas pesan dari aku?”

__ADS_1


“Aku masih BT sama pernikahan kamu dan Pak Hanaf.”


Gadis yang rambutnya itu dikepang satu mendongakkan kepala. Ia menatap Arfan dengan pandangan sedih.


“Maaf, ya. Aku nggak bisa menolak lagi.” Cempaka melepaskan pelukannya, “tapi aku itu tetap pacar kamu. Pernikahan aku sama Pak Hanaf itu cuma status aja.” Gadis ini berbicara dengan suara dipelankan takut terdengar oleh orang lain. Namun, untungnya koridor sedang sepi sekarang.


Cempaka menangkup wajah Arfan. Mengusap-usapkan ibu jarinya ke pipi cowok yang lebih tinggi ini.


“Jangan BT-BT lagi! Kita itu masih pacaran. Aku juga nggak mau putus dari kamu.”


Kedua sudut bibir Arfan tertarik ke atas. Ia mulai menebar senyum pada kekasihnya. Arfan menganggukkan kepala.


“Tapi untuk seminggu ke depan kamu nggak usah jemput dan anter aku pulang.”


“Kenapa? Suami kamu melarang?”


“Bukan itu, tapi aku lagi di rumah mertua. Takut kalau rahasia kita ketahuan sama mereka. Nanti aku bakal nggak bisa ketemu kamu selamanya. Tolong mengerti ya sayang!”


“Oke, cuma seminggu ini.”


Cempaka menggenggam kedua tangan Arfan, “Selesai kuliah kita jalan ya!”


“Aku lagi nggak ada uang. Mama belum transfer lagi,” ucap Arfan.


“Pakek uang aku aja dulu. Toh, sama aja ‘kan?”


“Oke.”


...****************...


“Assalamu’alaikum!”


Hanafi mendorong pintu ke dalam. Ia melangkah memasuki rumah besar yang dominan bernuansa putih. Dari dalam seorang wanita berhijab menyambutnya.


“Waalaikumsalam.” Hanafi mencium punggung tangan ibunya, “Cempaka mana? Nggak pulang bareng?”


“Tadi dia izin sama Hanaf mau main sama temen-temennya, Bun.”


“Terus kamu percaya?”


Dahi Hanafi berkerut mendengar pertanyaan sang ibu yang merasa aneh.


“Ya percaya, Aka mana mungkin bohong sama Hanaf.”


“Kamu jangan mudah percaya sama istrimu itu. Bagaimana pun kalian menikah tanpa saling mencintai. Kamu juga tau sendiri kalau sebelum menikah dengan kamu Cempaka itu memiliki pacar. Kalau dia di luar itu selingkuh sama pacarnya gimana? Bunda nggak mau kamu disakiti anak bau kencur kayak Cempaka.”


“Astagfirullah, Bun. Nggak baik curigaan berlebih sama menantu sendiri! Cempaka memang pergi bersama teman-temannya.” Hanafi terpaksa membohongi ibunya.


Siang tadi ia sudah menerima pesan dari Cempaka. Gadis itu bilang, ia akan menghabiskan waktu bersama Arfan. Hanafi tidak mungkin bercerita jujur. Semua sudah ia sepakati bersama istrinya itu.

__ADS_1


“Bunda bukan mau menuduh yang nggak-nggak, tapi melihat sikap Cempaka pertama kali bertemu di restoran bikin Bunda selalu was-was memikirkan nasib kamu. Awas saja dia menyakiti kamu. Bunda udah berusaha menerima dia apa adanya. Bunda cuma nggak mau kamu dipermainkan wanita.”


Hanafi mengulum bibir, kemudian tersenyum. Ia menarik Aisyah ke dalam dekapannya. Ia sangat menyayangi sang ibu. Hanafi jadi merasa bersalah karena Aisyah hanya mengkhawatirkannya.


“Kenapa kamu memilih menerima kesepakatan itu?”


Hanafi mengusap-usap punggung wanita berhijab ini, “Suttth! Bunda nggak boleh ngomong gitu. Bukannya kita nggak akan membahasnya lagi?”


Aisyah jadi terdiam. Tiba-tiba dari depan pintu utama terdengar suara Cempaka mengucap salam. Ibu dan anak itu melepaskan pelukan mereka, lalu menjawab salam dari Cempaka.


Gadis yang baru pulang itu menyalami ibu mertua dan suaminya.


“Dari mana kamu?” tanya Aisyah membuat Cempaka terkejut karena ditodong pertanyaan.


“Kerja kelompok, Bun.”


Aisyah sengaja bertanya ulang. Tidak bermaksud apa-apa hanya ingin mendengarkan alasan dari Aka. Namun, bertapa kagetnya jawaban Cempaka tidak sama dengan Hanafi.


Hanafi melirik Cempaka, sedangkan yang dilirik tidak paham.


“Mengapa jawabanmu dan Hanaf berbeda? Jadi, jawaban siapa yang benar?” Aisyah menatap kedua orang itu bergantian.


Cempaka juga ikut menatap Hanafi dan akhirnya mereka saling pandang.


“Kalian itu sekongkol buat bohongin Bunda ya?”


“Nggak gitu, Bun.” Hanafi mencoba menenangkan ibunya, “Hanaf nggak bohong sama Bunda. Mungkin Aka takut Bunda marahin karena pergi bermain sama temen-temennya. Jadi, dia berbohong.”


Pria berkemeja itu melirik lagi istrinya. Ia memberi isyarat agar Cempaka mengalah saja dan bilang dia yang berbohong.


Cempaka menundukkan kepala sembari memainkan jari telunjuk dan menatap ujung sepatu.


“Maaf, Bunda. Sebenernya, Aka yang bohong. Aka main sama temen-temen setelah selesai jam kuliah. Buat reflesing aja.”


“Kali ini nggak bohong?” Aisyah memerhatikan sorot mata kedua anaknya.


Cempaka menganggukkan kepala dan mulai berani menatap wajah mertuanya.


“Bener, Bun. Maafin, Aka ya.”


“Baiklah, Bunda maafkan kamu. Jangan sering-sering main sama temen-temenmu itu! Ingat! Kamu bukan perempuan single lagi. Kamu udah punya suami yang wajib kamu layani dan temani di rumah.”


“Iya, Bun.”


Setelah menasihati menantunya Aisyah pergi dari ruangan itu. Hanafi dan Cempaka juga berlalu ke kamar mereka.


“Mas kenapa nggak kasih alasan yang bagus sih? Nggak enak banget bilang saya main-main di luar,” ujar Cempaka setelah meletakkan tasnya di meja.


“Saya hanya terpikir itu saat Bunda bertanya. Salah siapa kamu nggak memberikan saya alasan setelah izin?”

__ADS_1


Cempaka berdecih mendengar kalimat yang keluar dari mulut suaminya. Cempaka memilih mengambil baju ganti, kemudian masuk ke kamar mandi lebih dulu sebelum Hanafi menyerobotnya.


...****************...


__ADS_2