
Hanafi termenung sembari menyetir mobil untuk kembali pulang ke rumah bersama keluarganya. Ia jadi teringat pertanyaan dari Cempaka di restoran tadi.
Bapak tuh cowok. Udah dewasa kenapa nggak cari calon istri sendiri aja?
Untuk Hanafi yang memang tidak berpengalaman dalam mendekati wanita pertanyaan itu sangat menohok dan membuatnya berpikir keras untuk menjawab. Makanya, tadi ia hanya diam.
Cempaka tidak mengerti mengapa Hanafi menurut saja dengan mau sang ayah. Ia juga tak paham kalau keseharian pria ini lebih banyak belajar dan bekerja untuk masa depannya. Sampai tidak terpikir kalau ia perlu mendekatkan diri dengan lawan jenis.
Namun, memang pada dasarnya Hanafi menjaga jarak atau tidak mau sama sekali merajut asmara dengan siapa pun. Kalau suatu saat ia ingin menikah. Ia akan langsung mempersunting calon istrinya tanpa berpacaran lama terlebih dulu.
Hanafi memang sangat keras dengan pendiriannya.
Mengetahui Cempaka mempunyai pasangan pastinya Hanafi akan membatalkan perjodohan mereka. Ia tidak ingin mengganggu siapa pun.
“Naf, kamu melamun?” Aisyah—ibu kandung dari Hanafi menyentuh lengan anaknya. Perlakuannya membuat pria yang menyetir perlahan memasuki kompleks perumahan itu tersadar.
“Nggak kok, Bun.”
“Jangan melamun kamu masih nyetir. Lagian mikirin apa sih?”
Hanafi memilih menepikan kendaraannya yang hampir sampai di depan rumah. Ia menatap Ayah yang duduk di belakang dan Bunda yang ada di sebelah Hanafi.
“Ayah sebelumnya Hanaf minta maaf.” Mendengar itu Adam duduk tegak dan mendekat, “Hanaf mau perjodohan ini dibatalkan aja.”
“Mengapa kamu berubah pikiran, Nak?” Adam jelas bingung dengan ini.
“Bunda pikir keputusanmu benar.” Ternyata Aisyah menyimpan sesuatu yang tidak ia suka dengan perjodohan suami dan teman suaminya, “Cempaka itu sepertinya juga nggak suka sama kamu. Lihat aja tadi ia kelihatan terpaksa menghadiri makan malam. Lebih sering cemberut.”
“Bunda...” Adam menatap istrinya, “jangan memanas-manasi Hanaf!”
“Siapa yang manas-manasin sih, Ayah? Kenyataannya begitu. Untuk apa menikah dengan orang yang dari awal nggak suka sama anak kita.” Wanita berhijab ini menatap anak semata wayangnya, “kita udah sekolahin Hanaf sampai keluar negeri. Kalau ingin calon istri aja itu pasti banyak yang mau sama Hanaf. Lebih baik dari Cempaka itu.”
“Saya percaya sama Hamzah. Dia pasti mendidik anak-anaknya menjadi anak soleh-soleha. Cempaka itu anak yang baik. Mereka hanya belum dekat aja.”
“Ayah, Bunda, Hanaf tetap nggak mau melanjutkan perjodohan ini. Cempaka memang anak baik, tapi dia udah punya pacar. Hanaf nggak mau mengganggu hubungan orang.”
Jelas Adam terkejut, “Hamzah nggak pernah bilang kalau Cempaka berpacaran.”
“Tuh, teman Ayah nggak jujur orangnya. Masih mau menjodohkan anaknya sama orang begitu?” Aisyah menatap ke depan kembali.
Adam seperti terpukul. Hingga tidak lama ia berkata lagi, “Ya udah, besok Ayah akan bilang dengan Om Hamzah untuk membatalkan semua ini.”
Hanaf mengangguk. Menghadap ke depan kembali dengan tangan memegang setir. Ia melajukan kendaraan roda empat itu menuju rumah yang sudah ada di depan mata.
...****************...
“Kenapa Abi nggak bilang kalau tadi itu kita makan malam sama orang yang mau dijodohin sama Aka?” sampai di rumah Cempaka udah mengamuk-amuk minta penjelasan dari orang tuanya yang telah membohonginya.
“Kalau Abi bilang apa kamu mau?” Cempaka terdiam, “Nggak ‘kan? Pasti kamu cari cara biar nggak datang.”
Hamzah menjatuhkan diri pada sofa empuk di depan televisi, “Nggak Abi kasih tau aja kamu banyak alasan untuk nggak hadir.”
Juwita dan Indah memantau dari kejauhan, anak dan bapak itu sedang berdebat di ruang keluarga.
__ADS_1
“Aka jelas nggak akan datang. Karena Aka dari awal udah menolak nggak mau dijodohin. Aka itu udah punya pacar Abi. Kenapa sih nggak restuin aja Arfan sama Aka?”
Cempaka yang masih berdiri itu terlihat menggebu-gebu sekali. Wajahnya memerah karena kesal.
“Duduk kamu!”
“Nggak mau.”
“DUDUK!”
Karena takut habis dibentak seperti itu Cempaka menurut untuk duduk di sofa satunya.
“Kamu minta restu untuk pacaran sama Arfan?”
“Iya, kalau bisa sampai menikah?”
“Kamu yakin bocah yang masih bau pesing itu akan menikahimu?”
“Abi...” Cempaka merengek tidak suka, “Arfan itu udah cukup dewasa dengan umur segitu. Dia cuma muda setahun dari Aka.”
“Aka itu keras kepala sekali ya Umi?” bisik Juwita yang membuat Indah menoleh padanya.
“Kamu tau sendiri adikmu itu kayak apa.” Kemudian Indah meninggalkan tempat persembunyiannya. Juwita menyusul pergi dari sana.
“Tapi sejak kenal dia pergaulan kamu tambah nggak bener. Dari pernah pulang subuh dengan keadaan mabuk, sering pulang malam, suka bolos, dan nilai kuliahmu anjlok. Kamu pikir Abi nggak tau apa yang kamu perbuat di luar sana?”
Cempaka menunduk. Apa yang baru saja Hamzah jabarkan tepat sekali. Ia memang senakal itu sekarang.
“Belum lagi kata Umi kamu suka meninggalkan shalatmu ‘kan? Mau jadi apa kamu? Mau masuk neraka?”
“Apa?”
“Maafin Aka.”
Hamzah menghela napas, “Bagaimana pun seorang ayah ingin anaknya mendapat pasangan yang terbaik, Ka. Abi mau kamu dapat suami yang bisa membimbing kamu seperti Abi yang mendidik kamu sedari kecil. Mungkin sampai saat ini Abi belum bisa jadi orang tua yang baik. Mendidik anaknya dengan baik, tapi Abi mau kamu jadi lebih baik.”
“Aka paham Abi, tapi bisa nggak perjodohannya dibatalkan aja?”
“Nggak bisa. Kamu harus menikah dengan Hanaf setelah KKN-mu itu selesai.”
“Aka nggak cinta sama Pak Hanaf!”
Hamzah berdiri, “Cinta itu nanti juga akan datang sendiri kalau kamu udah kenal dia.”
“AKA TETAP NGGAK MAU NIKAH!” teriak Cempaka karena Hamzah sudah pergi dari hadapannya.
...****************...
BYURRR
“Olive!” teriak Kalya terkejut saat Olive menyemburnya dengan jus, “jorok banget.”
Olive tidak sengaja melakukan itu. Ia membantu Kalya membersihkan lengannya yang basa.
__ADS_1
“Sorry, Kal. Gue kaget denger cerita Aka."
“Tapi lo serius Ka mau nikah sama Pak Hanaf?” tanya Ayumi yang sedang ikut bergabung dengan teman-teman Aka yang lain.
Cempaka meletakkan jari telunjuknya ke depan bibir, “Jangan keras-keras nanti banyak yang denger! Gue nggak mau nikah sama itu orang.”
“Sumpah gue kaget banget dengernya. Kenapa harus lo sih, Ka? Kenapa nggak gue aja gitu yang dijodohin sama itu Dosen. Ini impian gue banget.” Olive bertanya dengan satu tarikan napas.
“Kalau posisi ini bisa di tuker. Udah gue tuker aja sama lo, Liv.”
“Terus Arfan gimana? Dia tau soal ini?” tanya Kalya.
“Dia tau gue mau dijodohin.” Cempaka mengaduk-aduk minumannya, “tapi dia belum tau kalau itu orangnya Dosen gue sendiri.”
“Kalau udah menyangkut Abi lo, gue udah bingung harus kasih solusi apa,” ujar Ayumi yang mengerti bagaimana keluarga Cempaka selama ini.
“Gue udah minta tolong sama Pak Hanaf langsung buat bantu. Kalian bertiga doain aja semoga ini semua batal.”
“Aamiin,” sahut Olive dan Kalya bersamaan.
“Dan gantinya sama gue,” sambung Olive menunjukkan cengiran.
“huuuuh!” sorak Kalya menoyor kepala Olive.
“Maaf.” Keempat perempuan itu terdiam, melihat ke arah sumber suara, “boleh pinjem Cempakanya sebentar?”
Olive yang terpesona itu mengangguk-angguk. Suaranya seperti tidak bisa keluar untuk menjawab pertanyaan itu.
“Boleh, Pak. Silakan,” jawab Kalya tersenyum.
“Mau ngapain?” tanya Cempaka yang tidak langsung berdiri dari duduknya.
“Ada yang mau saya bicarakan sama kamu. Ikut saya sebentar aja!” Hanafi berjalan lebih dulu keluar dari kantin.
Cempaka melihat ketiga temannya, kemudian menyusul Hanafi. Mereka berhenti di dekat taman tidak jauh dari kantin.
“Bapak mau ngomongin apa sama saya?”
“Tentang perjodohan kita. Saya udah bahas ini lagi sama ayah. Beliau setuju kalau perjodohannya dibatalkan. Saya nggak akan ganggu hubungan kamu sama pacarmu itu.”
Seketika gadis berambut panjang yang hari ini kepang satu itu tersenyum cerah. Seperti kejatuhan bulan. Mimpi apa Cempaka semalam? Tidak dapat diduga.
“Seriusan, Pak?”
“Iya, Ayah saya akan membicarakan ini sama Abi kamu hari ini. Kami udah sepakat membatalkan perjodohan itu.”
Cempaka meraih sebelah tangan Hanaf. Bersalaman dan mengguncang tangan besar itu sangat kuat. Cempaka bahagia sekali hari ini.
“Terima kasih, Pak. Makasih banyak.”
Baru ini Hanafi melihat senyum Cempaka yang berseri-seri. Tidak ada kepalsuan di sana. Sekarang Hanafi tahu seberapa besar perasaan mahasiswinya itu pada sang kekasih.
Hanafi menarik tangan yang terlalu lama Cempaka genggam, “Sama-sama. Kalau begitu saya permisi.”
__ADS_1
Gadis ini mengangguk sembari tidak berhenti tersenyum. Setalah Hanafi semakin jauh, Cempaka berlari ke dalam kantin kembali. Ia akan menceritakan kabar baik ini pada teman-temannya.
...****************...