
Ali memasuki rumahnya dengan rasa rindu yang mendalam, bahkan pada rumput yang tumbuh di halaman depan. Setiap langkahnya menuju pintu utama dipenuhi dengan keinginan untuk kembali memeluk kenangan indah yang pernah ia miliki di dalam rumah ini. Seperti yang selalu ia bayangkan, rumah itu tetap megah dan memancarkan keanggunan yang tak tergoyahkan.
Saat pintu rumah terbuka, Ali disambut oleh kehangatan dan kenangan yang hidup di setiap sudut ruangan. Tidak ada yang berubah. Sentuhan tangan Ali pada dinding rumah membuatnya merasakan getaran masa lalu dan cinta yang pernah ada di sana. Rumah itu telah menjadi saksi setiap tawa, setiap tangis, dan setiap momen berharga dalam hidupnya.
Ali berjalan menyusuri koridor-koridor yang akrab, melewati ruangan-ruangan yang penuh dengan kenangan. Di ruang tamu, ia dapat merasakan keceriaan keluarganya saat berkumpul bersama. Di ruang makan, ia teringat akan hidangan lezat yang disajikan dan suara tawa yang mengisi udara. Di kamar tidur, tempat ia bermimpi dan merenung dalam ketenangan malam, ia merasa seperti kembali ke waktu yang lalu.
Setiap benda di rumah itu memiliki cerita sendiri-sendiri. Lemari tua di sudut ruang keluarga menyimpan kenangan tentang pakaian yang pernah dikenakan saat momen-momen bahagia. Meja kayu di ruang tengah menampung jejak tangan yang terukir di atasnya saat keluarga berkumpul untuk merayakan hari besar. Bahkan bunga-bunga di halaman belakang membawa aroma yang familiar, mengingatkan Ali pada hari-hari menyenangkan yang dihabiskan di taman itu.
Ali tersenyum dalam kehangatan rumahnya. Rumah itu adalah titik pusat dalam hidupnya, melambangkan kebersamaan, kebahagiaan, dan cinta. Meskipun waktu terus berlalu dan dunia terus berubah, rumah itu tetap ia anggap menjadi tempat perlindungan yang tak tergoyahkan.
Ali melangkah menuju taman belakang. Ia benar-benar rindu melihat seisi rumah.
Di taman rumah, Ali ditemani Neli, duduk bersama sambil berbincang. Ali melihat Neli penuh kekhawatiran dan bertanya dengan lembut, "Neli, mengapa kamu sampai menggunakan narkoba? Apa yang terjadi?"
Neli menundukkan kepala, terlihat sedih dan terbebani oleh rahasia yang ia sembunyikan. Setelah sesaat, Neli akhirnya mengangkat wajahnya dan menjawab dengan suara lirih, "kak Ali, perusahaan ayah terus mengalami kerugian. Aku merasa terjebak dan tidak tahu bagaimana mengatasinya. Aku merasa seperti tanggung jawab ini terlalu berat bagiku."
Ali merasa hatinya terenyuh mendengar pengakuan Neli. Ia menyadari bahwa adiknya telah berjuang sendirian dengan beban yang begitu besar. Ali menarik Neli ke dalam pelukannya dengan penuh kasih sayang. Ia ingin memberikan kekuatan dan pemahaman kepada adiknya bahwa sudah ada dirinya di sini.
"Lelah itu wajar, Neli," ucap Ali dengan lembut. "Kita semua pernah merasakannya. Tapi, menggunakan narkoba bukanlah solusi yang tepat. Kakak akan membantumu mencari cara untuk mengatasi masalah ini. Bersama-sama, kita bisa menghadapinya. Percayalah."
__ADS_1
Neli menatap mata Ali, mencari kekuatan dan harapan dalam kata-katanya. Ia menyadari bahwa kakaknya memiliki tekad yang kuat. Neli kemudian menggenggam tangan Ali dengan erat dan berkata, "kak Ali, bisakah kamu mengambil alih perusahaan keluarga ini? Kamu lebih kuat dan lebih berpengalaman dalam menghadapi masalah bisnis. Aku tidak sanggup. Bahkan untuk menjaganya saja aku tidak mampu."
"Jika perusahaan masih ada, berarti kamu mampu, Neli. Aku akan membantumu!" Ucap Ali.
"Kakak tahu? Bahkan untuk membayar gaji karyawan saja kita harus menggadai rumah." Kata Neli, ada penyesalan di suaranya.
Ali berpikir. Menyambungkan semua yang ia lihat dan dengar. Ternyata, ibunya sampai memiliki hutang untuk perawatan Neli karena ini.
Ali merasakan tanggung jawab yang begitu besar melekat pada permintaan Neli. Namun, ia juga menyadari bahwa ini adalah saat yang tepat untuk berdiri bersama dan memperbaiki situasi yang rumit ini. Ali menatap Neli dengan kepastian dalam matanya.
"Neli, kamu adalah adikku dan aku akan melakukan apa pun untuk membantumu," kata Ali dengan tekad yang bulat. "Aku tidak akan mengambil alih perusahaan ini. Aku cuma mau kita akan bekerja sama, bekerja dengan keras untuk memperbaiki keadaan dan membuat perusahaan milik ayah bangkit kembali. Aku percaya bahwa kita mampu melaluinya bersama-sama."
Neli tersenyum sambil mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Ia merasa diberikan sebuah harapan baru, terutama dengan kehadiran Ali yang mengambil peran yang begitu penting dalam hidupnya. Namun rasa bersalah yang ada di hati Neli mulai keluar.
"Itu semua bagian dari masa lalu, Neli. Aku sudah melupakannya. Dan jangan pikirkan masalah itu lagi, karena hotel itu sudah jadi milik kakak kembali!" Ali menepuk dadanya dengan bangga.
Ada campuran rasa bingung dan tak percaya di hati Neli.
"Kakak, bercanda?"
__ADS_1
"Tidak. Hotel itu memang dari awal milik kakak. Kenapa harus orang lain yang memilikinya?"
"Syukurlah." Ucap Neli.
"Besok kakak akan langsung ke perusahaan ayah. Kakak harap tidak melupakan ajaran ayah."
Ali dan Neli terus berbincang dan bercanda di taman halaman rumah mereka. Suasana yang hangat dan penuh keakraban mengisi udara. Meskipun perbincangan mereka terkadang serius, mereka juga mampu menemukan keceriaan dalam setiap momen bersama.
Ali sangat bahagia melihat Neli yang terlihat jauh lebih baik dan dengan senyum polosnya yang menghiasi wajah. Ia menyadari bahwa perbincangan mereka telah membawa harapan dan semangat baru dalam kehidupan adiknya. Ali juga merasa lega bahwa keputusannya telah meringankan beban di pundak Neli.
Tidak jarang mereka juga saling berbagi cerita, mengingat kembali kenangan masa kecil mereka yang penuh kebahagiaan. Tawa riang mereka menggema di taman, membawa kehangatan dan kegembiraan.
Saat matahari mulai terbenam, mereka berdua duduk berdampingan di bawah pohon besar di taman. Mereka menatap langit senja yang indah, merasakan kedamaian dan kebahagiaan yang mengalir di antara mereka. Ali merasa bersyukur atas momen-momen seperti ini, ketika ia dapat melihat Neli tersenyum dan menemukan kembali keceriaannya.
"Neli, aku senang melihatmu tersenyum lagi," ucap Ali dengan hangat. "Kamu kuat, dan aku tahu kamu akan melewati semua ini dengan baik."
Neli menatap Ali dengan mata penuh rasa terima kasih. "Terima kasih, kak Ali. Kamu adalah kakak terbaik yang pernah ada! Tapi jangan menghilang lagi!" Ucap Neli memanjangkan bibirnya.
Ali tertawa, "iya, tidak akan lagi!"
__ADS_1
Saat senja bertransformasi menjadi malam, Ali dan Neli berjalan bersama menuju pintu masuk rumah, membawa kehangatan dan kebersamaan dalam hati mereka.
Di dalam rumah yang penuh cahaya dan kehangatan, Ali dan Neli tahu bahwa masa depan mereka akan menjadi lebih cerah dan penuh kebahagiaan.