Hak Menantu Pengangguran : Kitab Pembunuh Naga

Hak Menantu Pengangguran : Kitab Pembunuh Naga
Meeting Darurat


__ADS_3

Pagi hari di kantor PT Karunia, suasana gembira dan lega terpancar dari wajah-wajah para karyawan divisi keuangan. Mereka berkumpul di tengah ruang kerja untuk membicarakan Dicky, yang benar-benar mengenal Karna, ketua geng pemburu naga.


"Saya masih tidak percaya Manager benar-benar mengenal Karna, tapi berkat itu, kita semua selamat dari ancaman preman tadi malam."


"Jika bukan karena Manager, kita pasti sudah jadi gulungan daging. Manager benar-benar seorang pahlawan."


"Tapi kita tadi malam sempat mengumpat dan memukulinya. Bagaimana nasib kita selanjutnya, ya?"


"Saya yakin Manager tidak seburuk itu. Pasti kita akan dimaafkan."


Tak berapa lama, orang yang dibicarakan datang. Mukanya penuh dengan perban, juga ada lebam di area pipi yang belum sepenuhnya pulih.


"Apa yang kalian lakukan? Cepat kembali bekerja. Dasar para penjilat!" Dicky masih marah karena seluruh badanya remuk karena mereka.


"Manager, kami bermaksud meminta maaf atas kejadian tadi malam. Jika bukan karena Manager, kami tidak tahu apa yang akan terjadi pada kami."


"Benar, kita berhutang nyawa pada Manager. Saya pasti akan membalas rendah hati, Manager Dicky."


Semua mulai menyanjung dan menjilat Dicky. Menyanjung postur sempurna, badan bagus, wajah tampan, dan semua hal yang membuat Dicky senang meski semua adalah kebohongan kecuali kekaguman karena mengenal Karna. Tentu saja itu juga bohong karena dia tidak mengenal Bos geng pemburu naga.


"Manager, bagaimana Anda bisa mengenal sorang Karna? Kami orang biasa ini tidak akan bisa mengenal Karna bahkan jika diberi kesempatan hidup seratus tahun."


Dicky tersenyum bangga, "Betul sekali, kalian orang biasa. Mari duduk dan dengarkan ceritaku."


Semua karyawan duduk dengan antusias, menanti cerita dari Dicky. Maksudnya, kebohongan Dicky.


"Jadi begini ceritanya, malam setelah bekerja, saya berjalan pulang menuju apartemen saya. Saya melihat, beberapa preman mengepung dan mengancam Karna. Waktu itu saya tidak tahu siapa dia. Tapi Karna sepertinya tidak dalam kondisi baik. Dia babak belur."


"Itu mengerikan, Manager... itu mengerikan! Apa yang terjadi selanjutnya?"


Dicky menatap tajam, "Tenanglah, saya akan menceritakan lengkap." Semua mengangguk, "karena saya selalu membela yang ditindas, saya tidak punya pilihan lain untuk membantunya. Mula-mula saya mencari tempat yang tak terduga dan mengejutkan para preman tersebut."


"Wow, bagaimana Anda melakukannya? Apakah Anda menggunakan semacam bela diri tidak terlihat?" Celetuk salah satunya tanpa berpikir.


"Tidak. Saya menggunakan kecerdikan dan kebijaksanaanku. Dibalik bayangan, karena saya juga memakai setelan berwarna hitam, saya memukul preman-preman itu dengan balok kayu."


Mata karyawan itu semakin kagum, "Jadi, Anda berhasil menghalau preman-preman itu?" Bagaimana mereka melupakan fakta tadi malam? Entahlah.


"Ya, para preman itu menjadi ketakutan dan akhirnya pergi dengan cepat. Karna kemudian mendekat dan menawarkan pertemanan kepada saya. Dia memberi tahu saya bahwa geng pemburu naga akan melindungiku jika saya mau, saya juga bisa menjadi bagian dari mereka."

__ADS_1


"Lalu apa yang Anda lakukan setelah itu?"


"Dicky memejamkan mata, bertindak sok bijak. "Saya menerima tawaran Karna untuk bergabung dengannya dan menjadi bagian dari geng pemburu naga."


Mereka bersorak, "Luar biasa, Manager! Anda adalah pahlawan bagi kita semua!"


"Terima kasih, teman-teman. Saya merasa terhormat bisa memiliki kesempatan ini dan memanfaatkannya untuk melindungi kita semua. Jika terjadi apa-apa dengan kalian, jangan sungkan meminta bantuanku."


Di tengah kericuhan yang terjadi, Dicky masih menaruh dendam besar pada Ali. Ia melihat ke seluruh ruangan, menitik satu persatu wajah yang bisa ia lihat. Tidak ada keberadaan orang yang ia benci.


"Ke mana Ali?"


"Tidak tahu, Manager. Mungkin malu karena tidak membantu kita tadi malam."


"Baru satu hari sudah menghilang! Jika bertemu dengannya, akan saya pecat detik itu juga!"


"Benar, setahuku dia juga langsung menghilang setelah kedatangan Karna. Saking takutnya dia sampai lari terbirit-birit. Hahaha..." Sahut salah satu dari mereka, lalu tertawa bersama.


"Sudah cukup. Kita ada meeting. Saya tidak tahu kenapa bisa sepagi ini. Biasanya juga siang."


"Mungkin membahas keberhasilan divisi kita, Manager!"


Dicky dan yang lain memasuki ruang rapat dengan keceriaan pagi yang masih terpancar di wajah mereka. Namun, kegembiraan mereka langsung tergantikan dengan kejutan besar saat mereka melihat Ali, seseorang yang meninggalkan mereka tadi malam, duduk di tempat biasa yang biasanya diduduki oleh direktur utama.


Dicky terkejut, "Ali? Apa yang sedang terjadi di sini? Mengapa kamu duduk di tempat direktur utama?"


Ali membalas dengan acuh, menyilangkan tangan, "Oh, kalian sudah datang? Silakan duduk ke tempat masing-masing, kita mulai rapatnya!"


"Apa maksudmu?" Ucap Rio, membentak Ali.


"Benar! Berani-beraninya kamu muncul di depanku. Aku beri tahu dirimu. Kau dipecat! Pergi dari perusahaan ini!" Ucap Dicky.


"Kalian, bukankah sudah aku bilang untuk duduk di tempat masing-masing. Hari ini aku yang akan memimpin rapat."


"Sepertinya dia sudah gila, Manager. Setelah Anda memecatnya, dia sudah tidak mempunyai harapan lagi." Terdengar nada prihatin di sana


"Ali, kamu sudah saya pecat. Sekarang pergilah sebelum aku menghubungi pihak keamanan!"


"Manager Dicky, kamu tidak akan pernah bisa memecatku. Bagaimana mungkin bawahan sepertimu bisa memecatku?" Dengan santai Ali berbicara, tidak terdengar getaran disuaranya sama sekali.

__ADS_1


Semua kepala yang mendengar hal itu menjadi berurat. Mereka tidak suka dengan apa yang didengar dari orang yang mereka anggap gila itu.


"Dia benar-benar gila, seret dia keluar!" Perintah Dicky, serentak beberapa orang memegang kedua tangan Ali.


"Ayo keluar, Ali!"


"Kalian bahkan tidak akan pernah mempunyai kemampuan untuk menyeretku keluar dari ruangan ini. Tidak, bahkan membuatku berdiri dari tempat duduk sekalipun!"


Dengan wajah sangat merah Dicky memerintah, "buang dia keluar. Jika kalian kesulitan, pukul saja!"


Mereka mulai menarik Ali sekuat tenaga. Tidak akan butuh waktu lama, pikir Dicky. Tapi ia terkejut karena mereka sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuh Ali.


Tubuh Ali seakan lebih berat dari sebuah mobil. Mustahil menggeser sebuah mobil dengan tenaga seadanya. Jadi mereka beralih akan memukul Ali.


Bum...


Ali dengan cepat menghindari serangan mereka dan membalas dengan gerakan yang presisi dan kuat. Dia menggunakan keahliannya dalam bela diri untuk menghentikan upaya mereka untuk mengusirnya dari ruang rapat.


Dicky tercengang, tubuhnya gemetar, " Bagaimana kamu bisa melakukannya?"


"Sedikit-sedikit kamu mempertanyakan apa yang aku lakukan dan bisa aku lakukan. Kau tidak belajar sama sekali. Ternyata pikiranmu lebih tumpul dari perkiraanku."


"Kamu!" Dicky melayangkan sebuah pukulan. Sayangnya dengan mudah Ali membelokkan pukulannya hingga tangan Dicky menghantam wajahnya sendiri.


Dicky kesakitan. Belum sembuh lebam di hidungnya, sekarang harus mengeluarkan darah segar kembali.


"Kau kupecat!" Bentak Ali.


"Kau bukan pemilik perusahaan ini. Kau hanya karyawan biasa, Ali." Ucapnya memegangi hidung.


Cekrek.


Dicky melihat Neli, menganggap malaikat penyelamatnya datang. Dan pasti bisa mengusir Ali dengan kekuasaannya.


Di sana Neli mulai memasuki ruangan.


"Bu Neli. Tolong kami. Orang gila ini ingin mengacaukan meeting kita." Ucapnya menunjuk Ali.


Neli melihat Ali dan Dicky bergantian, tidak tau alasan Managernya terluka. Di samping itu, ia sadar dengan ucapan Dicky yang menyebut Ali orang gila.

__ADS_1


"Kata kakak meeting jam 9, sepertinya belum dimulai sama sekali. Apa karena gangguan dari orang gila ini?"


__ADS_2