
"Ada lagi yang ingin berakhir seperti dia?"
Tidak ada yang menjawab, karena melihat lantai aula yang hancur saja sudah suatu kengerian.
Ali, dengan rasa kesal yang membara dalam dirinya, menjambak rambut Robi dan memukulnya sekali, dua kali.
Bum! Bum! Bum!
"Itu untuk Karna." Sekali lagi Ali memukul wajah Robi, "itu untuk pria yang ada di sana." Ali memukul lagi, "itu untuk tuan rumah pertemuan ini." Dan lagi, "itu orang-orang yang kau buat ketakutan." Dan terakhir, pukulan yang lebih keras dari sebelumnya, "itu untuk alasan yang belum aku pikirkan. Aku hanya mau memukulmu saja."
Wajah Ali dipenuhi oleh amarah. Sedang Wajah Robi, sudah tidak dikenali.
"Demi apa kau melakukan ini?" Ali berteriak, suaranya penuh dengan kekuatan. "Di mana kau berlatih? Dan siapa yang melatihmu?"
Robi sudah sangat ketakutan. Bukan hanya Robi dan anggota gengnya semua orang ketakutan melihat amarah dari Ali, termasuk Vino.
Robi ingin menangis, ia hanya ingat rumah, ia ingin pulang.
Berbisik, mengancam, "Apa kau pikir itu akan membuatmu lebih kuat dariku? Jika kau tidak memiliki informasi yang aku butuhkan, kau tidak akan berakhir hidup seperti ini!"
Ali menahan amarahnya, tetapi tekadnya semakin kuat. Dia memandang Robi dengan tatapan tajam. "Aku sudah tidak peduli dengan siapa kau dilatih atau seberapa hebat ilmumu. Aku berdiri di sini untuk mengatakan bahwa, jika geng kecilmu menggangguku, tidak akan ada ampun!"
Ia berdiri. Ali menatap tajam ke arah Indra, seorang pria yang dikenal sebagai dalang di balik perbuatan Robi. Ali merasa kemarahannya memuncak, mengetahui bahwa Indra telah membayar Robi untuk mengganggu kehidupannya lagi.
Dengan langkah mantap, Ali mendekati Indra. Indra berusaha mundur, ingin masuk ke tengah gerombolan geng badak batu. Akan tetapi, geng itu seakan mematung, tidak bergerak, untuk memberi ruang meski Indra berteriak histeris.
"Dengarkan baik-baik, Indra," Ali mengancam dengan suara yang bergetar oleh amarahnya. "Jika kau berani mengacau lagi atau melakukan seperti ini, aku tidak akan ragu untuk membunuhmu. Enyahlah, dan jangan pernah berani terlihat olehku!"
Indra gemetar, sampai tak terasa pakaian bawahnya telah basah oleh kencingnya.
"Sekarang, semuanya pergi!" Teriak Ali, mengusir Indra termasuk anggota geng.
"Robi, aku tau kau akan membalasku nantinya. Jika saat itu tiba, bawa sekalian gurumu!" Ucap Ali saat Robi melewatinya dengan cara dibopong.
Setelah pertempuran berakhir, suasana di aula pertemuan kembali kondusif. Ali merasa lega melihat Karna masih bernapas, tidak mengalami luka fatal akibat pertarungan dengan Robi. Dia mendekati Karna dengan hati lega.
"Bagaimana kondisimu, Karna?" tanya Ali dengan penuh perhatian.
__ADS_1
Karna tersenyum lemah sambil mengusap darah di ujung bibirnya. "Saya baik-baik saja, Tuan Ali. Terima kasih sudah menuntaskan dendamku." Ia berusaha untuk berdiri, menahan kesakitan itu.
Ali mengangguk dengan tulus.
Sementara itu, Ali melihat Vino, menghampiri, berdiri di dekatnya.
"Tuan Vino," panggil Ali dengan lembut. "Aku ingin berterima kasih atas bantuanmu untuk perusahaan keluargaku, dan aku mau berbicara banyak hal tentang itu. Namun sepertinya, aku harus mengantar Karna ke rumah sakit sekarang."
Vino mengangguk dengan penuh pengertian. "Tentu saja, Nak Ali."
Ali memberikan jabatan tangan kepada Vino, ekspresi mereka penuh dengan rasa hormat dan persahabatan.
"Kalau begitu aku segera pamit, Tuan Vino," ucap Ali dengan senyum hangat. "Aku akan menghubungimu jika ada apa-apa."
Setelah berpamitan dengan Vino, Ali menggandeng lengan Karna, memastikan bahwa Karna yang terluka itu aman.
Sekali dua kali Karna batuk berdarah. "Tuan Ali, bisa Anda lepaskan lenganku? Saya merasa tidak enak."
"Diamlah! Perutku lapar, aku ingin segera pulang."
"Akan saya antar Anda."
***
"Ali, kau pulang? Dari mana saja kau seharian ini?" Sapa Nirmala melihat kedatangan Ali.
"Aku bekerja, Bu. Memangnya dari mana lagi?"
"Oh... Kalau sudah beres-beresnya, segera buatkan aku nasi goreng."
"Apa tidak ada makanan?" Tanya Ali. Perutnya sudah lapar, ia juga ingin beristirahat sebentar.
"Ada, tapi ibu mau nasi goreng, jadi buatkan untuk ibu!"
"Aku akan segera kembali."
Belum juga Ali melangkah, "ke mana?" Tanya Nirmala sedikit membentak. "Aku memintamu buat nasi goreng."
__ADS_1
"Aku lelah, aku akan membelinya di luar." Jawab Ali.
Mertua Ali berkata dengan nada merendahkan, "Uang yang kau hasilkan pasti tidak seberapa. Sekarang Angel tidak bekerja. Jadi, jangan buang-buang uangmu begitu saja. Aku ingin kau membuatkan nasi goreng untukku." Ucapnya, lalu mulai bergumam, "sudah untung aku tidak minta yang aneh-aneh."
Meskipun hatinya ingin memberontak dan membeli makanan di luar, Ali memutuskan untuk menahan diri dan menjawab dengan penuh kesabaran.
"Tentu saja, Bu. Aku akan segera memasak nasi goreng untukmu." Kata Ali dengan lembut. Ia tidak mau Nirmala tersinggung.
Ali berjalan menuju dapur dengan langkah perlahan. Dia menghela nafas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan pikiran dan mengubah rasa frustrasi menjadi energi yang positif. Dia membuka lemari dapur dan mulai mengambil bahan-bahan yang diperlukan untuk memasak hidangan yang diminta Nirmala.
Saat Ali mulai memasak nasi goreng di atas kompor, Angel mengetahuinya.
"Kamu kenapa masak? Aku sudah masak tadi." Ucap Angel.
"Ibu, yang memintaku."
"Kemarikan, aku akan membantumu. Sekarang, kamu bersih-bersih, lalu istirahat. Aku tidak mau suamiku sakit."
Ali tersenyum, "baiklah, tapi bagaimana kalau kita memasak bersama?" Pintanya penuh harap.
Begitulah akhirnya, mereka memasak bersama, bersenda gurau, juga melakukan perbincangan kecil.
Ali dan Angel berdiri berdampingan di dapur, sibuk memasak nasi goreng untuk Nirmala.
"Ali, aku punya kabar yang kurang sedap. Sepupu kita, Diego, dia tidak mau melanjutkan sekolah." Ucap Angel membuka tema pembicaraan.
Ali tampak tidak mendengarkan, saat ini ia malah fokus memperhatikan setiap lekuk garis wajah istrinya.
"Sudah banyak saudara yang mencoba membujuknya, tapi dia tetap keras kepala. Tahu kan Diego seperti apa?" Angel berhenti menghentikan gerakannya. "Bagaimana menurutmu?"
"Cantik sekali," ucap Ali melihat mata Angel secara langsung. "Oh, maksudku. Itu bukan hal yang baik." Gerak gerik Ali jadi kaku. Ia menyerobot spatula yang digenggam Angel.
Angel mengangkat alisnya. Dia tahu kalau Ali tidak mendengarnya saat berbicara.
"Mungkin aku bisa mencoba berbicara dengannya. Siapa tahu dia mau mendengarku." Ucap Ali kikuk.
Angel memandang Ali membandingkan sifat Ali dan sepupunya. "Oke, kamu coba. Mungkin sifat naif dan keras kepalamu cocok dengannya. Kalian kan sama-sama seperti itu. Kerjanya cuma mengkhayal!"
__ADS_1
"Ahahah... mengkhayal, ya?" Ali mengangguk angguk, "oke, aku akan melakukan yang terbaik, Angel. Supaya kamu tidak lagi membandingkan ku dengan sepupumu itu."