Hak Menantu Pengangguran : Kitab Pembunuh Naga

Hak Menantu Pengangguran : Kitab Pembunuh Naga
Keributan


__ADS_3

Vino berkata menggunakan pengeras suara, "Saudara-saudara, saya ingin memperkenalkan Ali, anggota baru dari serikat perdagangan kita. Dan Ali adalah seorang tamu istimewa di sisi saya malam ini." Ia menunjuk Ali.


Di malam penjamuan itu, Vino memberitahukan kepada semua orang bahwa Ali adalah anggota baru dari serikat perdagangan. Ali, dengan wajah yang sedikit terkejut, menerima pengumuman tersebut.


Semua mata di ruangan itu langsung memandang Ali. Mereka saling berbisik-bisik dan tidak menyangka bahwa seseorang seumur Ali bisa menjadi tamu istimewa di sisi Tuan Vino.


Ali melihat sekeliling, menganggukkan kepala.


Namun, Ali merasakan ada ketegangan di udara ketika tak sengaja melihat wajah Indra, orang yang mengambil hotel miliknya dulu.


Ali bergumam dalam hati, "Oh, Indra. Keluarga Intan juga anggota serikat ini ternyata?"


Tak disangka Indra balas menatap Ali. Seketika suasana di sekitar mereka terasa tidak nyaman. Percikan kebencian mulai dirasakan.


"Ada masalah, Nak Ali?" Tanya Vino melihat kerutan di wajah Ali.


"Sedikit. Ada teman lama yang tidak aku sukai di sini."


"Teman lama?"


"Halo, Ali." Indra mendekat, menyapa Ali. "Bagaimana kabarmu, pencuri!"


Awalnya sedikit orang yang mendengar perkataan Indra, namun karena kata yang tidak sedap itu dan keberanian Indra mengganggu tamu istimewa, berita itu menyebar layaknya tumbuhnya jamur.


"Apa maksud kata 'pencuri' itu Indra?" Ucap Vino, merasa tidak nyaman.


"Oh, maafkan saya tidak menyapa sebelumnya, Tuan Vino." Ia membungkuk, memberi hormat pada Vino. "Kalian semua tahu jika Hotel Sohoo adalah milik keluarga Intan bukan? Sayangnya Hotel itu telah dicuri... Dan pencurinya ada di depanku saat ini." Lanjutnya, menunjukkan raut merendahkan Ali.


Ali memilih untuk tetap diam, tidak ingin terprovokasi oleh kata-kata Indra.


Ali sadar bahwa mengamuk atau menunjukkan amarah tidak akan membawa manfaat apa pun dalam situasi ini. Di keramaian seperti ini. Ia memilih untuk menahan diri, menjaga ketenangan dalam hatinya.


"Apa semua yang di katakan Indra benar, Ali?"


Ali melirik Vino. "Itu benar. Aku yang merebut Hotel itu. Tapi sebelum kalian ketahui, hotel itu dahulu adalah milikku yang direbut olehnya."

__ADS_1


"Tidak ada bukti bahwa dia pemilik Hotel Sohoo sebelumnya. Kalian semua tahu jika hotel itu milik keluarga Intan!"


Akibat kata-kata Indra, telinga Karna merah kepanasan. Karna merasa sangat kesal dan emosinya memuncak.


Bum...


Indra terpental beberapa meter setelah dipukul Karna di wajahnya. Orang-orang yang menyaksikan itu seketika terdiam, tidak lagi membicarakan Ali diam-diam. Bagi mereka itu adalah pertunjukan menarik.


Karna, dengan wajah yang masih terbakar amarah, mendekati Indra yang masih tersungkur.


"Indra, apa yang kamu katakan tadi tidak benar dan sangat tidak pantas! Fitnahmu bisa merusak reputasi Tuan Ali!" Karna mengeraskan suara, hampir berteriak. "Aku ada di sana saat kau menandatangani penyerahan Hotel. Jika ada yang meragukan Tuan Ali, dan tidak terima silakan maju!"


Indra menatap Karna penuh kebencian. Ia masih ingat kalau Karna tiba-tiba menghianatinya tanpa sebab.


"Penghianat!"


"Pergilah, pulanglah. Aku melepasmu hari ini karena hubungan kita sebelumnya." Ucap Karna.


Namun Indra masih terlihat percaya diri.


Di tengah kejadian, Ali memutuskan untuk berbicara dengan Vino secara pribadi untuk mengatasi masalah ini.


Tuan Vino menjawab, "Tentu, Nak Ali."


"Aku merasa pertemuan ini tidak kondusif karena Indra. Dan aku merasa sangat tidak nyaman dengannya di sekitarku. Bisakah Anda mengusirnya sebelum aku kehilangan kendali?"


Tuan Vino melihat ekspresi Ali yang tenang sedikit berubah. Vino memahami situasi tersebut. Memang pertemuan ini sudah terlihat seperti kericuhan antar suporter.


Vino kemudian pergi ke arah Indra untuk berbicara dengannya.


"Tanpa mengurangi rasa hormatku pada kepala keluarga Intan. Maafkan saya Nak Indra. Saya ingin Anda meninggalkan pertemuan ini. Silakan kembali ke kediamanmu. Sampaikan juga salamku pada ayahmu."


Semua orang tercengang. Sekaliber keluarga Intan bisa diusir demi seorang Ali yang mereka tidak tahu asal usulnya.


"Ini penghinaan bagi keluarga intan!" Teriak Indra. Ia mengeluarkan ponsel, menekan tombol panggil. Dia berencana meminta bantuan pada Geng Badak Batu.

__ADS_1


"Kau sudah mendengar itu Indra. Sekarang pergilah!" Karna menggenggam tangannya sangat keras. Ingin sekali ia memukul wajah Indra sekali lagi.


Indra yang ketakutan, lari terbirit-birit keluar dari ruangan. Bersamaan dengan itu, layar di ponselnya sudah menunjukkan panggilan itu diterima.


Beberapa saat kemudian, Tuan Vino kembali ke Ali dengan senyuman di wajahnya.


"Sesuai permintaanmu, Nak Ali. Sekarang bisa saya dengar cerita lengkapnya? Agar aku bisa membelamu di hadapan semua pengusaha yang hadir."


Ali hanya diam. Ia bisa dengan jelas mendengar apa yang dikatakan oleh seseorang di ponsel Indra. "Kami akan segera tiba." Itulah yang didengar oleh Ali.


Kemudian Ali berucap, "Terima kasih banyak, Tuan Vino. Aku sangat menghargainya. Tapi sepertinya pertemuan ini tidak akan berjalan dengan mulus lagi."


Indra memasuki aula pertemuan kembali, kali ini bersama ratusan orang yang memenuhi ruangan. Penampilan mereka galak dengan setelah abu-abu berlambang badak di jaket mereka.


Kehadiran mereka mengintimidasi banyak orang di dalam ruangan, menciptakan ketegangan yang terasa di udara.


"Badak batu!" Gigi-gigi Karna bergemeletuk, mengetahui musuh bebuyutan Pemburu Naga. Ali mendengar itu.


Ali menyadari kehadiran anggota geng Badak Batu, namun dia memilih untuk tidak panik atau terpengaruh oleh atmosfer ketegangan. Dia memahami pentingnya menjaga ketenangan dan mempertahankan kontrol diri dalam situasi seperti ini. Atau jika tidak akan banyak korban yang tidak bersalah.


Sementara itu, Karna, yang juga menyaksikan anggota geng Badak Batu yang masuk bertambah banyak, merasa keringat dingin menetes dari dahinya. Dia membatin, "Jika aku tahu bahwa ini akan terjadi, aku pasti membawa pasukan bersamaku." Karna menyadari bahwa situasi ini bisa menjadi lebih berbahaya tanpa persiapan yang memadai.


Karna merasa penyesalan dan kekhawatiran, tetapi dia juga menyadari bahwa saat ini yang terbaik adalah mencari jalan terbaik untuk menghadapi situasi ini dengan bijaksana.


"Siapa yang memukul Indra?" Ucap Robi pemimpin geng badak batu


"Aku!" Jika yang lain menjauh dan memilih mendekat ke dinding, justru Karna mendekat dengan gagahnya.


Robi, pemimpin geng badak batu, menunjukkan ekspresi yang tenang namun penuh dengan ketegasan. Garis wajahnya yang tegas mencerminkan kekuatan dan keberanian. Matanya menyorot dengan tatapan yang tajam, menggambarkan kecerdasan dan pengamatan yang cermat. Bibirnya terlipat dalam senyum tipis, mengungkapkan kepercayaan diri yang tinggi.


"Karna... Ternyata kau yang memukul bosku?"


Karna menatap Robi, setitik keringat menetes dari keningnya.


"Sepertinya langit memberikan kesempatan bagus untuk geng kami." Ucap Robi penuh percaya diri. “Tanpa pemimpin, Pemburu Naga bisa apa?”

__ADS_1


Anggota geng badak batu menatap tajam Karna serentak. Mereka siap menerima perintah selanjutnya.


Robi mendekati Karna. Ketika mereka berhadapan, seketika suasana menjadi terisi dengan aura persaingan yang kuat. Keduanya saling menatap dengan pandangan tajam, menantang.


__ADS_2