Hak Menantu Pengangguran : Kitab Pembunuh Naga

Hak Menantu Pengangguran : Kitab Pembunuh Naga
Menagih Hutang


__ADS_3

Ali, langsung bergegas sendirian, tanpa seorang partner. Ia menuju alamat bengkel mobil yang sepertinya terletak di pinggiran kota.


Hari itu, terik matahari begitu menyengat, sehingga udara terasa panas seperti api. Keringat mengalir di wajah Ali saat ia berjalan menyusuri jalan-jalan yang dipenuhi debu.


Pria itu melihat sekitar, sepertinya Ali tersesat. Untunglah Ali berpapasan dengan seorang pria paruh baya yang berdiri di trotoar. Pria tersebut terlihat kepanasan dan bersandar pada dinding sebuah toko yang terlindung dari sinar matahari.


Ali mendekatinya dengan hati-hati.


"Permisi, maaf mengganggu. Bolehkah saya bertanya sesuatu?" Ali memulai percakapan dengan sopan.


Pria itu menoleh ke arah Ali dan menatapnya dengan ekspresi lesu. "Tentu, anak muda. Apa yang bisa aku bantu?"


Ali mengeluarkan secarik kertas yang berisi alamat bengkel yang dicarinya. "Saya mencari bengkel ini, tetapi sepertinya saya tersesat. Apakah Anda tahu di mana bengkel ini berada?"


Pria itu meraih kertas yang ditunjukkan Ali dan melihatnya sejenak. Ia mengangkat alisnya dengan pandangan tak tentu. "Bengkel ini, huh? Kamu sungguh ingin mencari bengkel ini?"


"Benar, di mana tempatnya?" Ucap Ali sopan.


"Kalau kamu benar-benar mau ke sana, aku bisa menunjukkan jalannya. Mari aku antar kamu."


Ali merasa bingung dengan tawaran pria tersebut. Ia mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Bersama-sama, mereka melangkah menuju alamat yang tertera di kertas tersebut. Setelah beberapa menit berjalan, Ali melihat beberapa bangunan berderet yang terlihat agak mirip.


Namun, betapa terkejutnya Ali saat mengetahui fakta bahwa bangunan itu tidak sama dengan yang tergambar di foto. Daripada menjadi bengkel yang rapi dan tertata, bangunan itu lebih mirip sarang preman yang kumuh dan tak terurus. Dindingnya dipenuhi dengan coretan grafiti, sementara pintu masuknya tertutup dengan papan berkarat.


Ali melihat ke arah pria yang menunjukkan jalan. "Maaf, ini bukan bengkel yang saya cari. Apakah Anda yakin ini tempatnya?"


Pria tersebut tersenyum pahit. "Alamat yang kamu cari memang di sana. Aku juga kaget kamu mau mencari tempat itu. Dulu tempat itu memang sebuah bengkel, namun entah sejak kapan tempat ini menjadi sarang preman dan menjadikannya sebagai markas mereka."


Ali merasa sedikit bingung dan tidak yakin apa yang seharusnya dia lakukan selanjutnya. pantas saja rumor mengatakan kalau yang menagih ke sini pasti pulang babak belur.


Pria tersebut melihat ekspresi kebingungan di wajah Ali dan memberinya nasihat.

__ADS_1


"Anak muda, nasihatku adalah untuk tidak pergi ke bengkel ini. Preman-preman ini sangat berbahaya, dan jika kamu masuk ke dalam, kamu mungkin berakhir dalam masalah besar."


"Terima kasih atas sarannya. Tapi aku akan tetap ke sana."


"Aku tidak melihat kamu membawa sebuah kendaraan. Untuk apa kamu ke sana?"


"Menagih hutang!"


Ali berterima kasih pada pria tersebut, dan mulai mendekati bengkel bobrok itu.


Ia sudah memasuki halaman bengkel yang terlihat kumuh tersebut. Meskipun penuh keraguan, mungkin Ali bisa menemukan petunjuk mengenai bengkel yang sebenarnya.


Begitu Ali melihat bagian dalam dari bangunan, pemandangan yang ditemuinya memenuhi dugaannya yang paling buruk. Suasana di dalam bengkel itu jauh dari kondisi yang seharusnya ada di sebuah tempat perbaikan mobil. Orang-orang yang ada di sana sebagian besar tampak tidak teratur dan tidak jelas.


Ali melihat sekelompok orang duduk di sudut ruangan, memegang botol-botol minuman keras dan tertawa riang. Mereka tampak acuh tak acuh terhadap bising dan kekacauan di sekitar mereka. Di tempat lain, beberapa pria dan wanita bermesraan dalam keintiman yang tidak pantas.


Tidak jauh dari situ, Ali melihat sekelompok orang yang berkumpul di sekitar meja judi yang sederhana. Mata mereka terfokus pada kartu-kartu yang mereka pegang, dan Ali bisa mendengar suara taruhan yang dilempar ke meja dengan sembrono.


Meskipun suasana bengkel yang penuh dengan aktivitas yang mengejutkan Ali, ia berniat bertanya pada pria itu. Ali melangkah acuh.


Ali berjalan dengan santai di antara orang-orang yang mabuk dan berkelahi ringan. Beberapa mata penasaran memandanginya dengan rasa curiga. Meskipun demikian, Ali terus maju, mencari petunjuk apa pun yang bisa membantu menemukan bengkel yang sebenarnya.


Ali terlihat oleh pria di dekat etalase. Orang itu mulai berdiri di belakang sebuah meja yang dipenuhi dengan alat-alat yang tampaknya digunakan untuk perbaikan mobil. Pria itu memakai pakaian yang kotor dan wajahnya tampak kasar.


"Maaf, kawan. Aku mencari bengkel ini, tetapi sepertinya aku telah tersesat." Kata Ali memperlihatkan sebuah foto.


Pria itu menatap Ali dengan pandangan curiga, lalu memberikan senyuman sinis. "Ini bukan bengkel yang kamu cari! Jika kamu tidak ingin mendapatkan masalah, sebaiknya kamu segera pergi."


“Baiklah.” Jika tidak bisa bertanya di sini, maka di luar masih banyak orang. Dia mengucapkan terima kasih pada pria itu dan melangkah mundur, bersiap untuk meninggalkan tempat yang tidak ramah itu.


Namun, ketika Ali hampir mencapai pintu keluar, ia melihat sebuah plakat yang ada dalam foto. Maka ia kembali ke pria di dekat etalase.

__ADS_1


"Aku ingin bertemu dengan pria bernama Bob!" Ucapnya sedikit menaikkan nada, karena sempat di tipu.


"Ada urusan apa dengan Bos Bob?"


"Dia belum membayar hutang!"


"Dari PT Karunia?" Ucap pria itu membungkuk, mengambil sebuah kunci inggris. "Kawan-kawan, dia dari PT Karunia!" Pria itu berkata keras.


Serentak mata para preman itu menelanjangi Ali dengan tatapan tajam, menciptakan ketegangan yang mencekik. Namun, Ali tidak membiarkan intimidasi itu menghentikannya. Beberapa detik kemudian ia sudah dikelilingi.


Ali dengan tenang mengalihkan pandangannya dari satu preman ke preman lainnya, tanpa menunjukkan tanda-tanda ketakutan.


"Jika ini dilanjutkan, kalian akan menyesal!" Ucap Ali mengancam.


"Ada lebih dari dua puluh orang di sini. Kami tidak akan segan membunuhmu!" Ucap pria itu mengancam balik.


Seketika Ali mengeluarkan aura keemasan yang tidak terlihat oleh preman-preman tersebut, tetapi mereka merasakan suasana dingin. Namun, alih-alih mundur, tanpa komando mereka tetap memilih untuk menyerang Ali secara bersamaan.


Ali, dengan cepat bergerak menghadapi serangan-serangan mereka. Dia menggunakan kecepatan, ketepatan, dan kekuatan yang luar biasa untuk melawan para preman yang mencoba melukainya.


Dia menghindari pukulan mereka dengan gerakan lincah, memanfaatkan setiap celah untuk memberikan serangan balasan yang telak. Tendangan-tendangan yang kuat dan pukulan-pukulan yang terarah membuat preman-preman itu berguguran satu per satu.


Ali tidak berlebihan dalam melawan, ia membatasi cedera pada mereka yang mencoba melawannya.


Preman-preman itu, yang sebelumnya percaya diri dan berani, kini tersungkur di tanah dengan wajah yang penuh rasa sakit dan keputusasaan. Mereka menyadari bahwa mereka telah menantang seseorang yang jauh lebih kuat dari yang mereka duga. Hanya ketakutan yang berkumpul dalam ruang itu.


"Di mana Bob!" Bentak Ali memancarkan hawa membunuh yang lebih pekat.


Ia merasa telah banyak membuang waktu. Tapi dalam perasaan terdalamnya, ia merasa tidak puas dengan pertarungan yang berat sebelah ini.


Dalam ketakutan dan merasa hidupnya di ujung tanduk, salah satu dari mereka dengan gemetar menunjuk sebuah tangga yang mengarah pada Bob, pemilik bengkel yang dicari Ali.

__ADS_1


__ADS_2