
Esok pagi yang cerah, Ali bersiap-siap untuk pergi menemui sepupunya, Diego. Mereka jarang bertemu karena Diego tinggal jauh dari tempat tinggal Ali. Ali dengan senang hati menemuinya. Jika saja sepupu yang lain, mungkin dia enggan untuk pergi. Tapi ayah Diego adalah orang baik, meski tidak bisa membantu Ali mendapat pekerjaan, tapi ia selalu memperlakukan Ali seperti anaknya sendiri.
Ali tiba di rumah Diego dan langsung disambut oleh pamannya Angel. Mereka berdua saling menyapa dengan ramah dan Ali selalu merasa hangat diterima di rumah itu.
"Halo Paman, apa kabar? Sungguh senang bisa bertemu denganmu," ucap Ali sambil tersenyum.
"Masuk Ali, masuk. Silakan masuk," jawab Paman Angel dengan antusias.
Ali masuk ke dalam rumah yang nyaman dan duduk di ruang tamu bersama Pamannya Angel. Mereka berbincang-bincang sejenak tentang kehidupan dan pekerjaan Ali.
"Ali, sudahkah kamu bekerja sekarang?" tanya Paman Angel dengan penuh perhatian.
Ali menjawab dengan bangga, "bisa dibilang seperti itu."
"Syukurlah, apa pun pekerjaannya, syukuri saja. Yang penting bekerja. Paman dulu juga seperti itu, tapi tidak selama kamu juga." Ia tertawa, Ali juga tertawa. "Di mana kamu bekerja?"
"Di Hotel Sohoo."
Paman Angel sedikit terguncang mendengar kabar tersebut. "Bagus sekali, Ali. Aku sangat bangga padamu. Semoga sukses terus dalam pekerjaanmu. Apa pun pekerjaannya, pasti bagus di sana."
Setelah basa-basi sebentar, Ali tidak sabar menanyakan kabar Diego kepada Paman Angel. Namun, ia melihat keraguan di wajah Paman Angel, seolah ada sesuatu yang mengganjal.
"Paman, bagaimana kabar Diego? Aku ingin bertemu dengannya," tanya Ali penuh harap.
Paman Angel menghela nafas sejenak sebelum menjawab, "Lupakan anak itu. Aku tidak ingin membicarakannya!"
"Paman... Sebenarnya aku kemari karena mendengar kabar dari Angel semalam. Jangan khawatir, aku akan mencoba semampuku untuk membujuknya."
Paman Angel mengangguk perlahan. "Ya, Ali. Sepertinya ada masalah di sekolah yang membuat Diego kehilangan minatnya. Kami sudah mencoba berbagai cara untuk membantunya, tetapi dia tetap keras kepala, tidak mau bercerita apa-apa pada kami."
Ali merasa prihatin mendengar hal tersebut. Dia tahu bahwa pendidikan sangat penting bagi masa depan Diego. Dia berpikir sejenak dan kemudian berkata, "Paman, mungkin aku bisa mencoba membicarakannya dengan Diego. Saya akan berusaha meyakinkannya tentang pentingnya sekolah dan membantu dia menemukan semangat belajar kembali. Aku janji."
__ADS_1
Paman Angel tersenyum tulus. "Semoga saja kamu bisa melakukannya. Terima kasih, Ali. Aku sangat menghargai bantuanmu." Ia memegang pundak Ali, "oh, maafkan aku yang sudah tua ini, kamu mau minum apa?"
"Apa pun yang tidak merepotkan Paman." Jawab Ali. "Boleh aku pergi menemuinya sekarang?"
"Tentu saja, dia di kamar. Kalau dia tidak membuka pintu, dobrak saja! Aku akan membuat teh untukmu." Jawab Paman itu.
Tok, tok, tok...
Ali mengetuk pintu kamar Diego dengan lembut, tapi tidak ada sahutan dari dalam. Sekali lagi ia ketuk, tetap tidak ada suara dari dalam. Dia mencoba membuka pintu dan ternyata tidak terkunci. Dengan hati-hati, Ali masuk ke dalam kamar tersebut.
"Diego, bangunlah," ucap Ali dengan suara lembut sambil melihat sepupunya meringkuk di bawah selimut. Diego mengerjap, menunjukkan ketidaknyamanannya karena diganggu. Wajahnya tampak hampir marah.
Ali merasa sedih melihat Diego seperti itu, tetapi dia tetap tegar. Dia duduk di ujung kasur Diego dan mencoba memulai percakapan.
"Diego, aku tahu mungkin kau tidak ingin berbicara sekarang. Tapi tolong dengarkan aku sebentar," kata Ali dengan lembut, memancarkan kepedulian dan perhatian.
Diego menatap Ali dengan ekspresi ragu. Lalu meringkuk kembali ke dalam selimut. "Pergilah, aku tetap tidak ingin sekolah!" Dia merasa sulit untuk mengungkapkan perasaannya.
"Aku ingin tahu apa yang sedang terjadi, Diego. Apakah ada sesuatu yang membuatmu kesulitan atau tidak nyaman? Kau tahu, kau bisa mempercayaiku, kan?" lanjut Ali, berusaha membuka ruang percakapan.
"Pergilah!"
"Hey, sobat. Kau tidak seperti Diego yang aku kenal."
Sedikit lenggang, "aku memang bukan Diego yang kau kenal. Dia sudah mati!"
"Lalu aku bicara dengan siapa sekarang? Hantu?"
Diego masih diam, tapi ekspresinya sedikit melunak. Ali bukan sekadar sepupu baginya.
"Aku cuma khawatir dengan keputusanmu untuk tidak mau bersekolah. Pendidikan itu penting, Diego. Aku ingin kau memiliki masa depan yang cerah dan sukses."
__ADS_1
"Bukankah kau berpendidikan tinggi? Lalu kenapa belum memiliki pekerjaan? Sia-sia bukan kau sekolah? Bahkan kau jauh lebih tinggi dari ayahku!"
Ali sedikit bingung menjelaskan. "Aku tidak bisa menjawab itu Diego. Tapi yang pasti aku sudah punya pekerjaan sekarang. Mungkin sebentar lagi rencana kita untuk memancing di benua lain akan terwujud."
"Itu berita besar!" Diego membuka selimut dengan semangat. "Kau tidak perlu membawaku ke benua lain. Bisakah aku tinggal di rumahmu? Aku bisa membantu kak Angel di sana. Tentunya kau harus membayarku!"
"Hey, tidak bisa seperti itu. Bukankah kita sudah merencanakan ini jauh-jauh hari!" Ali berpura-pura ingin bernegosiasi. Setidaknya teknik memancing Ali tidak buruk.
Ali melihat Diego menggigit bibirnya, seolah-olah berjuang dengan pikirannya sendiri. Dia merasakan adanya keinginan untuk berbicara, meskipun Diego masih ragu untuk membuka hatinya.
"Apa sesulit itu sekolah? Perasaan, dulu sekolah sangat mudah."
"Untukmu mudah!"
"Apakah kau mau berbagi denganku? Aku di sini untuk mendengarkan dan pasti membantumu, kalau tidak aku tidak bisa pulang karena kak Angel melarangku pulang sebelum kau mau bersekolah. Apa kau tega?" ucap Ali dengan penuh ketulusan.
"Pergilah, itu urusanmu!" Ia kembali meringkuk.
"Diego!" Tidak ada sahutan, maka Ali mulai berkonsentrasi, mendengar detak jantung Diego. Semua tampak normal, maka ia beralih melihat tubuh Diego. Semua tampak tembus pandang.
"Bangunlah! Siapa yang berbuat hal ini padamu?" Ucap Ali tegas, ia sepertinya marah.
Ali mendengar detak jantung Diego meningkat.
"Kau tidak bisa menyembunyikan hal itu dariku Diego, tubuhmu penuh luka."
Diego akhirnya mengangkat tubuhnya dan bertatap langsung dengan Ali. Meskipun masih ragu, dengan suara pelan, Diego mulai membuka hatinya dan menceritakan ceritanya.
Ali mendengarkan dengan penuh perhatian, mencoba memahami dan memberikan dukungan yang dibutuhkan oleh Diego. Mereka berdua duduk di samping kasur, saling mendukung dalam menghadapi masalah yang sedang dihadapi Diego.
"Aku bisa saja menyelesaikan masalah ini. Bahkan nanti bisa saja sudah selesai."
__ADS_1
"Benarkah!" Jawab Diego semangat.
"Ya... masalahnya, jika aku menyelesaikannya, selamanya kau tidak bisa menyelesaikan masalah seperti ini." Ucap Ali, "pakai seragammu! Aku akan membantumu sedikit."