
Ali telah menghabiskan banyak waktu mempelajari kitab pembunuh naga akhir-akhir ini. Salah satu kekuatan yang menarik perhatiannya adalah kemampuan untuk menghilangkan energi negatif dari benda-benda yang tercemar.
Ia menggenggam kalung giok itu. Kalung itu terasa begitu gelap dan menyimpan aura yang mengerikan. Ali semakin tertantang untuk membersihkan kalung itu.
Ali mempersiapkan diri dengan mengingat dan mulai mempraktikkan bab dalam kitab pembunuh naga yang berkaitan dengan penyucian dan transformasi energi. Dia telah mempelajari mantra rumit, dan dengan yakin melafalkannya di hadapan kalung giok itu.
Karna dan Vino melihat tidak ada yang janggal. Mereka hanya melihat Ali memejamkan mata, menggenggam kalung itu seraya berkomat-kamit. Tapi yang tidak mereka ketahui, aura keemasan mulai menyelubungi Ali.
Ali mulai mengalirkan energi miliknya ke tangan. Namun, ketika Ali mencoba menghilangkan energi negatif, dia terkejut oleh aura kematian yang melampaui perkiraannya. Energi negatif dalam kalung itu berjuang melawan usaha Ali untuk membersihkannya. Dalam perkelahian antara energi positif dan negatif, Ali merasakan tekanan yang kuat, dan darah pun mengalir dari mulutnya.
"Tuan Ali!" Pekik Karna, takut terjadi hal yang tidak diinginkan padanya.
Ali memberi isyarat agar tidak mengganggu konsentrasinya.
Meskipun Ali mulai lemah dan berdarah, dia tidak menyerah. Dengan tekad yang kuat dan keyakinan pada kitab pembunuh naga yang dipelajarinya, dia melanjutkan upayanya untuk memurnikan kalung itu. Dia mengulangi mantra dengan suara serak, menyatukan kekuatannya dengan energi positif yang ada di sekitarnya.
Akhirnya, setelah pertempuran yang panjang dan melelahkan, Ali merasakan kekuatan energi negatif dalam kalung itu mereda. Hanya energi positif yang sangat lemah tersisa di kalung itu. Ali telah berhasil membersihkan sebagian besar energi negatif yang ada sebelumnya. Ali dengan hati-hati mengangkat kalung itu, merasa lega dan bangga atas pencapaiannya.
Ia bergumam, "tadinya aku pikir, aku akan mati." Ali tersenyum senang melihat keberhasilannya.
"Apa kau baik-baik saja, Nak? Aku akan memanggil dokter." Vino khawatir melihat banyaknya darah segar yang keluar dari muntahan Ali.
Setelah benar-benar memastikan telah memurnikan kalung itu, "tidak perlu memanggil dokter, Tuan Vino. Aku tidak apa. Ini kalung keluargamu." Ia meletakkan kalung itu pada telapak keriput Vino.
"Benarkah kamu tidak apa?" Vino masih khawatir.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa. Beberapa jam tenagaku akan pulih."
"Kalau begitu, saya akan menyiapkan tempat untuk istirahatmu Nak." Vino mengusap pundak Ali, "siapa pun, siapkan satu ruang istirahat untuk tamu terhormat kita.
Beberapa orang dengan sigap memberi pelayanan terbaik untuk Ali. Dengan bantuan Karna, Ali sampai pada ruang istirahat yang tampak mewah dan nyaman itu.
"Saya akan berjaga di luar, Tuan." Ucap Karna.
Ali mulai merebahkan dirinya. Entah kenapa ia merasa sangat kelelahan. Semua persendiannya terasa linu, kepala bagian belakang terasa sangat berat.
Ia memejamkan mata. Ia mengingat teknik pemulihan yang tertulis di kitab pembunuh naga. Dengan tenang ia mulai bernapas, merasakan energi-energi sekitarnya. Ali mulai menyerap semua aura yang terkumpul di sekitarnya. Itu seperti gumpalan awan berwarna perah yang terisap melalui lubang hidung Ali.
Setelah beberapa jam berlalu, Ali pulih. Ia keluar dari kamarnya dan terkejut melihat Karna dan Tuan Vino berdiri di depan pintu kamar. Kedua orang itu tampak khawatir dan segera mendekati Ali.
Karna, dengan wajah yang penuh kekhawatiran, bertanya dengan cepat, " Tuan Ali, apa Anda baik-baik saja? Saya sangat khawatir setelah melihatmu muntah darah tadi."
Ali menghela nafas, melihat perhatian dan kekhawatiran yang tulus dari Karna dan Tuan Vino. Dia tersenyum dan menjawab, "Terima kasih atas kekhawatiran kalian berdua. Aku baik-baik saja sekarang. Ketika aku berusaha membersihkan energi negatif dari kalung giok tadi, terjadi pertempuran energi yang cukup kuat. Namun, aku berhasil memurnikannya dan energi negatifnya telah berkurang. Sekarang kalung itu aman untuk kau pakai setiap hari. Dan itu akan baik untukmu."
Ali melanjutkan, "Muntah darah yang tadi terjadi karena tekanan dan pertarungan energi yang terjadi di dalam tubuhku. Namun, setelah beristirahat dan memulihkan diri, aku merasa jauh lebih baik sekarang. Kalian tidak perlu khawatir."
Karna dan Vino menghela nafas lega mendengar penjelasan Ali. Karna mengusapkan air matanya yang terjatuh, sementara Vino mengangguk dengan penuh lega.
Vino memberikan Ali sebuah gelas air dan berkata, "ini akan memulihkan staminamu. Air ini diambil dari Gunung Brahma." Ali ingat bahwa kitab pembunuh naga juga berasal dari sana.
"Terima kasih. Aku juga pernah meminum air ini. Ini sangat segar." Terakhir, Ali mendaki gunung itu, pasti pernah minum dari sumber mata air gunung.
__ADS_1
"Nak Ali, perjuanganmu sangat mengesankan. Pria tua ini malu karena memintamu membayar untuk penagihan hutang itu."
"Itu sudah seharusnya dilakukan. Apalagi tempat ini disebut serikat perdagangan." Ucap Ali lalu meminum air itu.
Saat air masuk ke dalam tubuh Ali, dia merasakan sensasi yang luar biasa. Setiap tetes air itu seakan meresap begitu cepat ke dalam setiap sel tubuhnya, memberikan rasa kesegaran dan kehidupan baru. Rasanya seperti setiap sel tubuhnya diberkahi dan diberi kekuatan baru.
Suhu tubuh Ali merasa lebih sejuk, dan sensasi dingin yang menyegarkan menyebar ke setiap bagian tubuhnya. Air dari Gunung Brahma tersebut memberikan perasaan kesegaran yang tak terlukiskan, seolah membersihkan dan menyegarkan setiap bagian tubuh Ali.
Ali merasa energi dan kekuatan mengalir dalam dirinya, mempercepat proses pemulihan tubuhnya. Dia merasa sehat dan penuh vitalitas, seperti memiliki energi baru yang memancar dari dalam. Dengan ini Ali tahu jika air pegunungan Brahma cocok dengan tubuhnya.
Vino merasa punya hutang budi yang menyangkut nyawanya. "Apakah kamu sibuk akan sibuk hari ini, Ali?"
"Ya, Tuan Vino, seperti yang kau tahu sebelumnya, aku sibuk mengurus keuangan perusahaan saya."
"Saya bisa membantu kamu lebih cepat. Saya menawarkan bantuan ini gratis untuk menyelesaikan masalah keuanganmu. Namun, ada syaratnya." Ucap Vino.
"Memang tidak ada yang gratis didunia ini." Gumam Ali.
"Apa syaratnya?" Tanya Ali penasaran.
"Syaratnya adalah kamu harus bersedia menjadi tamu terhormatku nanti malam. Kebetulan aku telah mengundang seluruh anggota serikat perdagangan baru-baru ini. Melihat dirimu adalah tamu terhormatku, saya yakin mereka tidak akan berani menunggak lagi. Bahkan mereka akan membayarnya tanpa diminta."
Mata Ali bersinar mendengar hal menyenangkan itu. Ia menarik kata-katanya tentang tidak ada yang gratis. "Saya sangat menghargai tawaranmu, Tuan Vino. Saya dengan senang hati setuju menjadi tamu terhormatmu dalam acara tersebut. Jika itu bisa membantu saya menyelesaikan masalah keuangan perusahaan saya, saya tidak akan ragu untuk melakukannya."
"Tidak perlu berkata formal. Aku lebih suka dirimu yang seperti tadi." Kata Vino dengan sebuah senyum persahabatan.
__ADS_1
Sedikit malu Ali berucap, "Terima kasih, Tuan Vino. Aku sangat berterima kasih atas bantuannya. Aku sangat berharap bahwa acara ini akan membawa solusi yang diharapkan bagi perusahaanku."
Dengan demikian, Ali setuju menjadi tamu terhormat dalam acara yang diadakan oleh Vino. Dia percaya bahwa dengan didampingi Vino, perusahaan-perusahaan yang menunggak hutangnya akan segera membayar hutang tersebut.