Hak Menantu Pengangguran : Kitab Pembunuh Naga

Hak Menantu Pengangguran : Kitab Pembunuh Naga
Sekolah Diego 3


__ADS_3

Matahari terus merayap ke arah cakrawala saat Diego berjalan keluar dari pintu sekolah, langkahnya berat setelah hari yang sulit. Tidak ada suara riuh di lorong sekolah lagi, kecuali suara langkah kaki Diego yang terdengar seperti derap hati yang penuh kekecewaan.


Namun, di luar pintu sekolah, dia menemukan Ali, yang sudah menunggunya dengan sabar. Ali tampak tenang dengan senyum di wajahnya, menunjukkan kebijaksanaan dan ketenangan.


"Kau!"


Diego tidak dapat menahan diri untuk tidak menyalahkan Ali atas semua kesulitan yang dialaminya hari ini. Dengan nada frustrasi, dia mulai melontarkan semua keluhannya kepada Ali, membagikan semua peristiwa buruk yang telah menimpanya. Dia menyebut gangguan, ejekan, dan nasib sial yang menghantuinya di sekolah.


"Karena kau, aku mengalami nasib buruk! Jika bukan karenamu aku masih bisa tidur dirumah! Jika bukan karena kau aku masih bisa mandi dengan tenang! Jika bukan karena kau aku masih bisa memakan makan siangku!"


Ali hanya mengangguk sambil tersenyum. Ekspresinya menunjukkan pemahaman yang dalam. Dia tahu betapa beratnya hari itu bagi Diego, tidak ada kekhawatiran atau ketidaksetujuan dalam senyumnya.


"Diego," kata Ali dengan lembut, "Hari ini mungkin berat bagimu, tapi percayalah, besok bisa jadi lebih baik. Kita semua menghadapi rintangan dan cobaan dalam hidup ini, tapi yang penting adalah bagaimana kita meresponsnya."


Diego menatap Ali, mencoba mengerti apa yang dia maksud. Tidak, Diego tidak mengerti, amarahnya kian memuncak.


"Diamlah!"


Satu pukulan, dua pukulan, tiga pukulan Ali terima. Bukan Lai yang kesakitan, malah Diego yang meringis memegangi tangannya.


"Hanya itu kemampuanmu?" Kata-kata Ali membuatnya mendapat satu pukulan tambahan daro Diego, "jika hanya ini, bagaimana kau akan menyalahkanku? Tidak berguna, pemalas, penakut, lemah!"


"Aku memang lemah!" Pekik Diego. Ia ingin berlari, tapi Ali dengan mudah menangkapnya.


"Dengar kata-kataku! Jika kau mendengar hal itu dari anak-anak yang mengganggumu, lawan mereka sepenuh tenaga."


Diego meronta.


"Karena saat kau melawan mereka, kau tidak akan percaya dengan apa yang terjadi!"


"Benar, mereka akan segera membunuhku."


"Tidak, Diego. Kau akan menang. Mereka tidak akan berdaya di hadapanmu."

__ADS_1


"Hanya dalam mimpi!"


"Aku serius!" Ucap Ali, ia membentak Diego hingga seluruh tulangnya serasa bergetar. "Dengarkan aku! Kita pulang sekarang, kau tidak akan tidur sampai kau bisa mengalahkan mereka!"


"Apa maksudmu?" tanya Diego ketakutan.


Ali menjawab dengan bijaksana, "Hari ini mungkin sulit, tapi mari kita hadapi dengan kepala tegak. Kita tidak bisa mengendalikan apa yang orang lain lakukan atau katakan, tapi kita bisa mengendalikan cara kita meresponsnya. Jangan biarkan mereka mempengaruhi siapa kita. Jadilah lebih kuat, lebih bijaksana, dan terus maju. Besok adalah kesempatanmu untuk membalas mereka!"


"Kata-katamu bagus, tapi tidak akan mengubah apapun!" Bantah Diego kembali.


"Oh, ya?"


Brak...


Tanah di sekitar kaki Ali berpijak retak. Diego tak percaya dengan apa yang ia lihat. "Kau tidak akan bisa melakukan ini, tapi kau bisa mengalahkan mereka. Aku janji."


Melihat kenyataan yang terjadi, Diego merenungkan kata-kata tersebut, merasakan semangat baru yang muncul di dalam dirinya. "Ada kesempatan untuk bebas dari neraka ini!" Batin Diego. Dia menyadari bahwa dia tidak sendirian dalam perjuangannya, bahwa Ali ada di sampingnya.


Dengan Ali di sisinya, Diego tahu bahwa tidak akan ada lagi yang mengganggunya.


****


Saat mereka tiba di rumah, Ali melemparkan baju olahraga baru kepada Diego. "Pakai itu. Aku akan mengajarimu beberapa hal yang akan membuatmu tidak lagi diganggu oleh mereka," kata Ali dengan tegas.


Diego sedikit bingung dengan ucapan Ali. Sebelumnya, dia berpikir bahwa Ali akan langsung menghadapi mereka dengan kekuatan fisik, tetapi sepertinya ada sesuatu yang berbeda kali ini.


"Kenapa aku harus memakai ini?"


"Kau tidak berpikir jika aku langsung menghajar mereka kan?" Ali menangkap keraguan dalam wajah Diego. "Huft, sudah kuduga. Aku akan memberimu beberapa petunjuk."


Ali mengajari Diego beberapa gerakan yang ada dalam kitab pembunuh naga. Gerakan-gerakan tersebut tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga mengajarkan Diego untuk menggunakan kekuatan alam dan energi di sekitarnya. Ali menjelaskan bagaimana memusatkan perhatian, mengendalikan pernapasan, dan menggabungkan kekuatan alam ke dalam setiap gerakan.


Malam itu berlalu dengan latihan yang intens. Ali melatih Diego dengan tegas dan keras, memperbaiki setiap kesalahan yang dia buat. Diego merasakan otot-ototnya terasa kaku dan lelah, tetapi ia tidak menyerah.

__ADS_1


"Aku tidak sanggup!" Ia terbaring, dengan napas yang menderu. "Ini lebih buruk dari neraka itu!"


"Tidak ada yang instan Diego. Ayo bangun!"


"Lebih baik aku tidak sekolah, atau pindah sekolah saja."


"Lalu jika kau dihajar di sekolah barumu, kau akan keluar lagi? Bangun atau aku yang akan menghajarmu!" Ancam Ali.


Diego membayangkan retakan di sekolahnya. Ia segera kembali ke posisi kuda-kuda. Seperti apa yang tergambar di kitab pembunuh naga.


Meski sering melakukan kesalahan dan dibentak oleh Ali, Diego tidak berhenti karena kengerian yang sudah ditanam dikepalanya. Ia sekarang lebih takut dengan Ali ketimbang Bobby dan kawan-kawannya.


Ali mulai menuntun perlahan gerakan Diego. Memerintahkannya menarik napas serta menikmati udara malam. Memang udara malam tidak baik, tapi dengan cara bernapas yang berbeda, hal itu kan mengubah segalanya. Termasuk yang buruk-buruk.


Diego mengikuti perintah Ali. Ia memang tidak memiliki fisik yang bagus, tapi entah kenapa badan Diego sedikit demi sedikit lebih tegak. Tidak lagi membungkuk. Ia mulai melakukan gerakan pukulan, pukulan yang tidak pernah Diego sadari kalau pukulan itu lebih keras dari pukulan sebelumnya. Semakin ia melakukan gerakan yang sama, semakin kuat juga pukulan Diego.


Seiring berjalannya waktu, Diego mulai merasakan perubahan yang signifikan dalam kemampuannya. Tubuhnya menjadi lebih ringan dan lincah, gerakannya menjadi lebih mantap dan kuat. Dia mulai menguasai gerakan-gerakan yang diajarkan oleh Ali, dan kepercayaan dirinya mulai tumbuh.


Keesokan paginya, Diego merasa siap untuk kembali ke sekolah. Dia mengenakan baju olahraga yang diberikan oleh Ali. Dengan Ali sebagai mentornya, dia merasa yakin bahwa dia bisa menghadapinya dengan lebih baik.


"Apa yang kau lakukan?" Ucap Ali dibalik sofa.


"Pergi sekolah."


"Dengan baju itu? Kepalamu tidak terbentur kan tadi malam?"


"Tidak. Kepalaku aman. Aku memakai baju yang kau berikan karena baju ini sepertinya memberikan kekuatan untukku."


"Anak ini!" Ali menggaruk lehernya, kesal. "Bukan karena baju yang kau kenakan. Tapi lebih percaya dirilah pada kemampuanmu!" Teriak Ali begitu keras.


Saat Diego tiba di sekolah, dia merasa tatapan dan ejekan tidak lagi mempengaruhinya seperti sebelumnya. Dia telah menemukan kekuatan dalam dirinya sendiri dan memiliki Ali sebagai pendukung yang kuat. Dia berjalan dengan langkah tegap, memancarkan aura kepercayaan diri yang baru ditemukan.


Para siswa yang sebelumnya mengganggunya tercengang melihat perubahan ini.

__ADS_1


__ADS_2