
Ali sendirian, hanya ia yang tidak ikut bergabung dalam makan malam tersebut.
Sedang Dicky memutuskan untuk duduk menjauh, tidak menghiraukan Ali. Mereka menikmati makanan, bercerita dan bercanda.
Meskipun jauh, Ali mampu mendengar percakapan mereka dengan jelas. Ia penasaran apakah ada informasi yang bisa ia jadikan bukti kebobrokan divisi.
Ketika malam semakin larut, Rio ingin pergi ke kamar mandi. Baru saja berdiri, ia tidak sengaja tertabrak oleh seseorang yang membawa minuman.
"Kau tidak punya mata?" Bentak pria itu, mencengkeram kemeja Rio.
"Maafkan aku. Aku tidak sengaja."
"Maaf katamu? Kau tidak tahu harga baju ini! Aku akan membunuhmu." Pria itu mendorong Rio hingga terjatuh.
Terdengar suara benturan dan gemuruh kecil dari kejauhan. Dicky, yang merasa paling berkuasa, segera melompat dari kursinya, berlari dan mendorong pria itu ganti.
"Kamu yang tidak punya mata! Kami semua melihatmu yang menabrak anak buahku. Dan berani-beraninya kamu!"
Dicky tidak takut dengan pria itu. Ia tahu bahwa ada banyak bawahannya, dan tidak mungkin kalah jika mengeroyok satu orang, meski badan orang tersebut terlihat keras.
"Benar, kamu yang tidak punya mata!" Semua orang berdiri, memberikan ancaman pada pria itu.
Terasa terintimidasi, nyali pria asing itu ciut.
"Kalian lihat saja nanti!" Ucapnya lantas pergi dengan baju basah karena minuman.
Dicky melihat situasi membaik dan dengan sigap merangkul Rio. "Tenang saja, meskipun dia tampak sangar, tapi di hadapan managermu ini semua akan baik-baik saja.
Semua orang memuji keberanian Dicky. Tentu saja memuji, mereka juga punya cara untuk menjilat atasan.
"Hebat, manager! Anda selalu bertindak dengan baik dalam situasi sulit seperti ini."
Dicky merasa di atas awan, "terima kasih, teman-teman. Saya selalu berusaha untuk bertanggung jawab untuk membela kalian. Bagaimana kalau kita melanjutkan makan malam kita?"
"Tentu, manager. Mari saya tuangkan minuman.”
Dalam beberapa saat, suasana menjadi tenang kembali. Orang yang tertabrak sudah pergi, dan masalah terselesaikan. Dicky kembali ke meja dengan senyum bangga di wajahnya, karena rekan-rekan yang mengapresiasi tindakannya.
Acara selesai. Dicky memanggil pelayan untuk membayar.
Dicky menerima tagihan, setelah itu, dia mengeluarkan dompetnya dan menyiapkan kartu kredit untuk membayar.
"Maaf jika kami membuat sedikit kekacauan tadi. Kami sangat menikmati makan malam kami di sini. Berapa total tagihan kami?" Terdengar bijak sekali perkataannya.
"Totalnya adalah 20 juta sekian."
__ADS_1
"Ah, itu murah." Ucapnya, "kalian tidak sekalian membawakan istri atau keluarga?" Tawar Dicky, yang tau kalau bonus dari perusahaan akan jauh lebih besar dari yang dikeluarkannya sekarang.
"Manager baik hati sekali." Sanjung salah seorang, "aku mau bungkus makanan penutup tadi, boleh kan manager?"
"Tentu saja, ini bonus kita."
"Tapi manager, bukankah bonusnya belum cair?"
"Ini masalah sepele, buat apa diributkan." Mudah sekali Dicky berucap.
Setelah membayar, mereka akan bergegas pulang. Akan tetapi mereka dicegat di parkiran oleh pria sebelumnya.
"Hei, hei, hei! Lihatlah siapa yang ada di sini. Kalian!" Ucap pria itu lantang.
Dicky melihatnya, "ada apa? Bukankah masalah kita sudah selesai? Kami ingin pulang setelah makan malam kami. Jangan halangi kami!" Ancam Dicky merasa menang jumlah.
"Masalahnya, aku masih belum selesai denganmu." Ia menunjuk Dicky, bukan Rio.
"Itu adalah kecelakaan dan sudah diselesaikan, kenapa harus diungkit? Sudahlah, kami akan pulang!"
"Oh, jadi kau pikir kejadian tadi akan membuat semuanya hilang begitu saja? Kami ingin membuatmu merasakan konsekuensi atas perbuatanmu!" Sedetik kemudian beberapa orang mengepung mereka.
Kaki-kaki Dicky mulai gemetar melihat banyaknya anggota preman tersebut. Sedang Ali dari jauh, masih tetap pada posisinya hanya melihat dari jendela restoran.
"Kami tidak tertarik untuk membayar ganti rugi!" Ucap Rio menantang.
Semua masih terlihat tenang. Mereka tau manager mereka pasti punya cara untuk meloloskan diri dari masalah ini.
"Hey, asal kalian tahu, manager kami kenalan Karna. Kalian tau siapa dia? Ketua Geng Pemburu Naga!"
Dicky mengingat hal itu, "benar aku mengenal Karna. Dia sahabat baikku! Jika kalian macam-macam, aku akan meneleponnya! Dia tidak akan menolak panggilanku!"
Anggota preman itu menaikkan alis, "Karna?"
"Benar, Karna! Bagaimana? Sudah tahu? Kalian takut?"
Ali, yang diam-diam mendengarkan percakapan tersebut, tersenyum melihat situasi yang memanas. Dengan pendengaran supernya, tak ada yang luput satu katapun.
"Kami tadinya hanya ingin uang kalian. Tapi sepertinya cecunguk seperti kalian tidak pantas untuk diperas."
Bumm...
Salah seorang memukul Dicky hingga tersungkur. "Kami mendapat perintah, jika ada yang mengaku kenal dengan bos kami, langsung hajar!" Ia menyeringai, terlihat kejam dan sangar.
"Hey! Beraninya kamu!" Tanpa dikomando divisi keuangan yang tidak bisa bertarung itu melawan para preman dengan membabi buta. Mereka hanya percaya kalau Karna akan membantu jika Dicky menghubunginya.
__ADS_1
Bum, bum, bummm...
Tidak butuh dua menit untuk membuat semua karyawan bertekuk lutut. Kebanyakan dari mereka memegangi pipi, juga lengan yang ditendang sangat keras.
"Kau, kemari!" Ia menjambak Dicky. Manager itu ketakutan hingga terkencing di celana.
"Maafkan aku tuan, maafkan aku." Ucap Dicky merengek. Memegang celana preman itu. "Aku tidak mengenal Karna."
Plas... Satu tamparan menghujam di pipi Dicky.
"Sudah kuduga, cecunguk sepertimu tidak akan mengenal Bos kami."
Seketika suasana menjadi tidak terkendali. Masing-masing dari divisi keuangan mulai ketakutan mendengar pengakuan gamblang Dicky. Lalu siapa yang akan menyelamatkan mereka, sedang mereka telah menyinggung kelompok yang salah.
"Tuan, maafkan aku. Bukankah Rio yang salah telah menumpahkan minuman itu?"
Tubuh Rio seketika lemas, kencing yang ia tahan dari tadi terlepas begitu saja.
"Baiklah, kalian akan kami lepaskan jika membayar uang ganti rugi seratus juta."
Dicky melihat setitik harapan, "baik tuan. Saya akan mentransfer sepuluh juta, di mana saya akan mentransfernya? Tapi lepaskan saya."
"Siapa bilang sepuluh juta? Kami minta seratus juta tiap kepala!"
Sudah tidak ada harapan, mereka menangis seperti bayi. Bagaimana mereka akan membayar uang sebanyak itu kalau gaji mereka selama satu bulan saja tidak cukup.
"Baik tuan, saya akan membayar seratus juta. Lepaskan saya." Pinta Dicky. Ia tahu membayar uang sebanyak itu tidak akan mengurangi gajinya sama sekali.
"Manager, tolong kami." Ucap mereka bersama, memohon pertolongan.
Dicky meninggikan suara, "kalian tidak tahu malu! Harusnya kalian bersyukur aku tidak meminta uang dari kalian, sedang kalian yang menarikku ke situasi ini."
Hancur sudah wibawa Dicky. Mereka semua sudah tidak ada rasa hormat detik itu juga.
"Manager Dicky. Bukankah Anda yang menantang mereka tadi?"
"Benar!" Mereka saling bersahutan.
Para preman itu melihat api amarah pada masing-masing karyawan.
"Hey, kalian! Kalian ingin bebas?"
"Iya, tuan. Bebaskan kami. Kami tidak tahu apa pun." Begitulah manusia, hanya memedulikan kepentingannya saja
Preman itu tersenyum. "Pukul orang yang kalian sebut manager itu!"
__ADS_1