
"Kevin, bisakah kamu membantuku satu hal lagi?" tanya Ali dengan penuh antusiasme.
Kevin, yang juga seorang pria yang penuh semangat dan selalu siap membantu, menjawab, "Tentu, Tuan Ali. Apa yang bisa saya bantu?"
Ali tersenyum dan menjelaskan rencananya. "Aku ingin kamu segera menyiapkan pakaian rapi dan profesional untukku. Aku akan bertemu dengan Neli, adikku."
"Kalau boleh saya tahu, untuk acara atau cuma bertemu biasa Tuan?"
"Aku tidak tahu, tapi aku akan bertemu dengan dia di perusahaannya."
Kevin sedikit menimang. Ia berpikir bahwa Ali pasti akan membicarakan bisnis, jadi dia akan menyiapkan yang terbaik. "Baik Tuan." Jawabnya.
Tak lama Ali berganti pakaian. Dari pakaian seadanya, menjadi pakaian yang lebih formal, lengkap dengan jas hitam yang melekat sempurna ditubuhnya.
Setelahnya ia segera menuju perusahaan ayahnya, PT Karunia, perusahaan suku cadang kendaraan. Sebelum sampai, Ali harus melewati lalu lintas yang padat di Kota Suro.
Kendaraan-kendaraan berjajar panjang, bergerak dengan berbagai kecepatan. Bunyi klakson yang berirama, mesin kendaraan yang berdentum, dan desiran ban yang melintas menciptakan hiruk-pikuk yang tak terelakkan.
Di persimpangan, lampu merah menyala bergantian, memberikan waktu bagi kendaraan yang datang dari berbagai arah untuk bergerak maju. Ketika lampu hijau menyala, kerumunan kendaraan mulai bergerak bersama-sama, menciptakan aliran yang terkadang lambat dan terkadang cepat.
Setelah sampai, Ali melangkah keluar dari taksi dan langsung menuju resepsionis di area penerimaan.
Resepsionis menyambut Ali dengan ramah, "Selamat datang di PT Karunia. Ada yang bisa saya bantu?"
Ali menjawab dengan sopan, "Terima kasih. Saya Ali, dan saya ingin bertemu dengan Neli. Bisakah Anda memberitahunya bahwa saya sudah ada di sini."
"Sebelumnya sudah ada janji?" Kata wanita itu ramah.
"Sepertinya sudah diatur oleh Neli." Jawab Ali santai.
Mendengar hal itu, resepsionis melihat ke dalam jadwal pertemuan dan kemudian mengangguk. "Saya akan segera menghubungi Ibu Neli untuk memberitahunya. Silakan tunggu sebentar di ruang tunggu."
Ali mengangguk dan duduk di ruang tunggu, menunggu kesempatan untuk bertemu dengan Neli. Dia merasa sedikit khawatir, karena melihat data keuangan perusahaan adalah hal yang penting dan serius.
Tidak lama kemudian, Neli muncul dengan senyuman hangat di wajahnya. "Kak Ali, kakak benar-benar datang!"
Ali tersenyum lalu membalas. "Tentu saja, kakakmu ini sudah berjanji." Tapi seketika raut wajah Ali berubah, "langsung saja pada intinya. Aku ingin membahas data keuangan PT Karunia denganmu." Kata Ali serius.
__ADS_1
Neli mengangguk ragu dan mengarahkan Ali ke ruang kerjanya. Mereka duduk di sekitar meja dan membuka laporan keuangan perusahaan.
Ali mengamati dengan saksama data keuangan yang tertera di laporan. Dia mulai membaca semua tentang pengeluaran, pemasukan, laba bersih, dan aspek keuangan lainnya.
Ali terdiam beberapa saat. Lalu menyampaikan bahwa data keuangan perusahaan terlihat sangat berantakan dan bahwa terdapat hutang yang gagal ditagih dari beberapa perusahaan lain. Dia meminta Neli untuk memberikan penjelasan lebih lanjut tentang situasi tersebut.
Neli mengakui masalah keuangan yang dihadapi perusahaan. Dia menjelaskan bahwa beberapa klien perusahaan telah mengalami kesulitan keuangan dan gagal membayar tagihan mereka. Hal ini menyebabkan hutang yang belum terbayar dan mengganggu aliran kas perusahaan.
"Untuk saat ini, apa solusi yang dipunyai oleh perusahaan?" Tanya Ali.
Neli sedikit ragu, karena masalah ini sudah sangat lama tidak terselesaikan. "Kami telah mencoba berbagai pendekatan, tetapi sepertinya masih belum efektif. Kami perlu mengkaji kembali strategi kami dalam menagih pembayaran dari klien kami yang berhutang."
Ali mendengarkan dengan serius dan mencoba memahami akar masalah tersebut. Dia menyarankan beberapa langkah yang mungkin dapat diambil untuk mengatasi situasi tersebut. Beberapa saran yang dia berikan termasuk melakukan audit keuangan menyeluruh, mengidentifikasi prioritas pembayaran, dan menjalin komunikasi yang lebih baik dengan klien.
"Sementara itu saja untuk hari ini. Aku akan mencari orang yang tepat untuk melakukan audit." Ucap Ali, mencium hal aneh sedang terjadi di perusahaan Ayahnya. "Kalau begitu aku akan kembali, untuk segera mencari orang yang tepat."
Neli benar-benar bersyukur Ali mau membantunya.
“Jangan bekerja terlalu larut, kamu belum benar-benar pulih. Aku pergi dulu.” Ali mengacak rambut lembut Neli.
Tiba-tiba, saat Ali berbalik untuk kembali ke Hotel Sohoo, dia tanpa sengaja menabrak seseorang yang sedang lewat di lorong yang sempit. Ali langsung berhenti dan terkejut.
"Oh, maaf sekali! Aku tidak sengaja menabrakmu. Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Ali melihat keadaan pria muda itu.
"Saya tidak apa-apa." Ali membantunya berdiri, "kalau boleh tahu, keperluan Anda apa bertemu dengan Ibu Neli?"
Ali tidak senang ditanya urusan yang dia kerjakan, apa lagi orang asing.
"Kamu siapa?" Tanya Ali, tidak senang.
"Aku adalah manager keuangan di perusahaan ini. Ada urusan apa anda bertemu ibu Neli." Ia melihat seperti ingin menelanjangi Ali.
"Untuk sebuah pekerjaan." Jawab Ali sekenanya.
"Oh, sebuah pekerjaan." Kata orang itu. "Cuma pencari kerja saja serapi ini." Cibir orang itu.
Ali memiliki indra pendengaran yang sangat baik, bahkan bisa dikatakan super. Ia mendengar semua cibiran orang ini.
__ADS_1
"Diterima?" Tanya orang itu.
Ali melihat orang ini dengan tatapan tak suka. "Aku diterima." Ucap Ali meladeni omongan orang di depannya.
"Oh, selamat. Di bagian mana?"
"Staff keuangan kantor."
"Oh, bawahanku! Aku Dicky. Bisa mulai bekerja kapan?"
"Bisa kapan pun dibutuhkan."
Dicky yang mendengar itu, merasa Ali sangat angkuh. Ia tidak suka dengan orang yang sombong terhadapnya. "Kalau begitu hari ini ikut saya!" Katanya dengan nada kasar.
Ali mengikuti orang ini dari belakang. Ia mengambil ponsel miliknya, dan segera mengirim pesan untuk Neli.
"Neli, aku menemukan orang yang cocok."
Kebetulan Neli merespons dengan cepat, "Siapa kak?"
"Orangnya sangat keren, tampan, dan pemberani." Ali mengetik sembari tersenyum, "oh, dia juga pintar. Kalau aku seorang wanita, aku pasti mengejarnya mati-matian."
"Kakak berniat menjodohkanku dengannya?"
"Tidak!"
"Lalu buat apa kakak menyanjungnya terlalu tinggi?"
"Karena dia adalah kakakmu ini. Hahaha...." Ali tidak bisa menahan tertawanya, Dicky mulai terganggu.
"Walaupun Ibu Neli yang menerimamu. Aku tetap atasanmu!" Dicky tidak suka dengan perilaku Ali.
"Mulai hari ini jangan memanggilku kakak dulu!" Ia kirim pesan itu dan memasukkan ponselnya kembali.
Ali berdehem, "bicara apa tadi?"
Pria itu berhenti, membalik tubuhnya lalu melayangkan ujung jari telunjuknya, “jangan macam-macam di sini! Aku bisa memecatmu kapan pun aku mau. Bahkan sebelum kamu mulai bekerja, aku bisa memecatmu!”
__ADS_1