
Ali melihat semuanya. Bagaimana Dicky dihajar oleh seluruh bawahannya. Entah itu dendam lama, atau perasaan yang terpendam, mereka bisa melampiaskan itu semua.
Tendangan, pukulan, makian, semua dirasakan Dicky. Ia hanya bisa menahan rasa sakit yang datang bertubi-tubi.
Tiba-tiba, Ali merasakan getaran di saku celananya dan mendapati pesan singkat dari Angel. Pesan tersebut berisi permintaan agar Ali membelikan buah pepaya. Ali tersenyum melihat pesan tersebut.
Ali segera membalas pesan, "tidak ada pesanan lain, Nyonya?"
"Tidak. Cepatlah, perut ibu sepertinya sedang bermasalah."
"Oke, sayang."
Dengan anggukan singkat Ali memutuskan untuk segera memenuhi permintaan itu. Dia tahu ada pasar buah segar di dekat rumah mertua, jadi dia tidak perlu pergi ke mana-mana, cukup menelusuri jalan pulang.
Ali segera membayar tagihan makanannya.
"Ali. Ali!"
"Siapa yang berbisik!" Ucap salah satu preman.
Itu adalah ulah Rio, ia mencoba memanggil Ali, berharap ia bisa membantu mereka dengan menelepon polisi atau sejenisnya.
Ali tentu mendengar ucapan Rio, tapi ia melenggang begitu saja sekan tidak mengenal mereka semua.
"Hey, Ali!" Teriak Dicky, yang mukanya penuh benjolan.
Ali menjadi pusat perhatian, "kau, berhenti!" Ucap salah satu preman, lalu menghadang jalan Ali.
"Saya?" Ucap Ali, menantang.
"Kalian mengenalnya?" Tanya salah satu preman.
Dicky mengangguk, "Dia juga bagian dari kami."
"Apa maksudmu?" Ali membalas. Ali bukan takut, bukan tidak bisa membantu, tapi mendapat perlakuan seperti tadi, siapa juga yang mau menolong?
Mereka para preman tersenyum melihat mangsa mereka bertambah. Mereka berpikir akan mendapat uang lebih dari Ali. Mereka tidak peduli benar atau tidaknya, yang mereka pedulikan hanya uang!
"Kau, kemari dan berlutut. Kemari cepat!"
Ketika ia mendekati para preman, mereka segera memperhatikan gerak-geriknya. Bagi mereka sangat aneh, Ali terlihat tidak gemetar layaknya bayi kijang, justru mereka melihat Ali layaknya naga yang perkasa.
__ADS_1
Dengan sikap yang tenang namun tegas, "aku ada urusan penting di rumahku. Anggap saja aku orang lewat, dan ini tidak akan terjadi apa-apa." Beberapa preman memandangnya tajam, tetapi Ali tidak mundur. Bahkan terkesan menantang.
"Habislah dia." Gumam semua orang di divisi keuangan.
"Berlutut!" Preman tersebut menatap Ali dengan tatapan tajam, tetapi Ali tidak memedulikan mereka. Ali menoleh ke arah para korban yang terlihat takut dan cemas. Beberapa di antaranya berdarah atau tampak terluka. Yang paling parah Dicky, bibirnya lebih besar tiga kali lipat. Ada rasa iba dalam hati Ali.
"Kau tau bicara dengan siapa sekarang?" Preman itu menatap Ali lebih tajam dan lebih dekat.
"Aku tidak peduli kalian siapa, asal kalian dari mana. Sekarang aku hanya ingin segera pulang."
"Pulang? Hahaha... Tidak sebelum kau membayar kepada kami."
"Kenapa aku harus membayarmu?" Tanya Ali tenang.
"Karena kau bagian dari mereka. Mereka harus ganti rugi dengan apa yang dialami salah satu saudaraku!"
"Aku tahu mereka, tapi bukan bagian dari mereka."
"Beraninya kau, Ali!" Ucap Dicky dengan bibir bergelambir.
"Bukankah kita tidak saling kenal?"
"Kau!"
"Saudara-saudara," ucap Ali dengan suara rendah namun lugas, "Mari kita cari solusi yang lebih baik. Bukankah tindakan kalian ini tidak benar. Mengapa kalian melakukan hal-hal kejam seperti ini? Kalian tahu? Aku mendengar kalau dia," Ali menunjuk Dicky, "mengenal bos geng pemburu naga."
"Hahaha... Apa maksudmu. Dia bahkan mengakui jika dia tidak mengenal bos kami!"
"Lalu kenapa tidak kalian buktikan? Telepon dia. Tanya dia." Ucap Ali begitu tenang.
Tentu saja, para preman tersebut tidak begitu saja berubah pikiran. Beberapa dari mereka menatap Ali dengan pandangan sinis dan mencoba mengintimidasi dia. Namun, Ali tetap biasa-biasa saja.
"Kau tahu, ada perintah jika ada yang mengaku kenal dengan bos kami. Langsung habisi!"
"Hubungi saja dan buktikan langsung."
Karena ragu, dan takut jika Dicky memang kenal dengan Karna. Maka preman itu segera menghubungi Karna.
"Bos?"
"Kenapa malam-malam kau menghubungiku?" Ucap Karna, angkuh di seberang sana.
__ADS_1
"Ada kelompok yang mengaku mengenal dirimu."
"Bukankah aku sudah bilang untuk menghabisi mereka!" Ia geram. Urat nadinya sampai terlihat mau keluar.
Ali bisa mendengar pembicaraan mereka, maka ia berkata, "jika tidak ada apa-apa, aku pamit pulang." Ucapnya lantang.
Dan benar saja, Karna diujung telepon mendengar suara yang tidak asing, "siapa tadi yang berbicara?" Ia mulai terguncang.
"Siapa namamu!" Bentak preman itu.
"Ali."
"Namanya Ali, Bos. Hanya bagian dari sekumpulan pecundang. Kami akan menghabisinya nanti." Dengan ringan ia ucapkan.
Karna meledak, "menghabisinya katamu? Kau yang akan dihabisi! Di mana kau sekarang." Preman itu memberikan posisinya, "Jangan berani-berani kau menyinggung Tuan Ali!"
Telepon terputus, sang preman bingung dengan apa yang diucapkan Karna.
Ali, melihat Karna tiba di tempat kejadian. Karna gemetar dan khawatir begitu melihat sosok Ali.
Dicky yang tidak pernah melihat sosok Karna, merasa sangat tertekan bahkan dengan hawa keberadaannya saja. Ia bahkan tidak tau jika Karna akan terlihat sangat menyeramkan dengan bekas luka-luka itu.
Dengan cepat, Ali berusaha memberikan kode kepada Karna agar ia tidak mengungkapkan identitasnya di depan semua orang. Ali melambaikan tangannya kecil-kecil kepada Karna, sambil menyelinapkan pesan dengan gerakan mata yang cepat.
Ali berharap bahwa Karna akan memahami kode tersebut dan menjaga rahasianya. Karna, dengan pengalaman yang dimiliki sebagai bos geng yang cerdik, mampu mengerti pesan yang disampaikan oleh Ali.
Dalam beberapa saat, Karna memberikan senyuman sinis kepada Ali dan berpura-pura tidak mengenalinya.
Bum. Bum. Bum...
Karna memukul para preman itu. "Apa kalian tidak tahu kalau dia dekat denganku?" Karna menunjuk sembarangan.
Betapa terkejutnya dan bingung divisi keuangan. Tadinya Dicky berkata tidak mengenal Karna, sekarang orang dimaksud menunjuk dirinya. Permainan apa yang sedang mereka saksikan sekarang?
Seketika semua orang yang memukuli karna mulai ketakutan, meringkuk semakin dalam. Mereka mengingat setiap detik cacian dan pukulan mereka terhadap Dicky.
Malam yang begitu panjang. Ali segera bergegas kembali ke rumah setelah melihat Karna melakukan tugasnya dengan baik. Sangat baik.
Tiba di rumah, Ali masuk ke dalam dengan pepaya di tangannya. Dia melihat Angel dan Nirmala sedang berbincang-bincang di ruang tamu. Ali dengan senang hati menyodorkan pepaya tersebut kepada Angel sambil berkata, "Ini pepaya yang Anda minta, Nyonya. Saya harap ini sesuai dengan yang Anda inginkan. Mau saya bantu kupas Nyonya?" Ia tersenyum, senyum yang menjadikan jantung Angel berdebar.
Angel merasa senang dengan perhatian Ali. Dia mengucapkan terima kasih padanya sambil mengatakan betapa Ali adalah suami yang baik.
__ADS_1
Namun setiap kebahagiaan pasti ada yang merasa tidak suka.
"Kemarikan pepayanya!" Ucap Nirmala, muak melihat Ali dan Angel semakin mesra.