Hak Menantu Pengangguran : Kitab Pembunuh Naga

Hak Menantu Pengangguran : Kitab Pembunuh Naga
Sekolah Diego 5


__ADS_3

Diego tidak pernah menunggu saat-saat seperti ini, sekolah terbilang sepi sekarang. Setengah jam lebih ia menunggu di bawah pohon jambu. Bosan, tentu saja. Kalau saja pohon ini berbuah, mungkin ia akan memilih memanjat dan memetik beberapa buah, bukan malah memandangi langit biru yang tak kan berubah warna.


Ini adalah apa yang dikatakan Ali pada Diego. Dia harus menghadapi semua sendiri dengan berani.


Pintu samping gedung itu tak terkunci, pintu kaca berwarna gelap itu memang tak pernah di kunci. Ada hubungannya dengan sebutan gedung serba guna, terkadang gedung ini disulap oleh guru olahraga menjadi gedung olahraga.


Ia masuk begitu Bobby, Brian, dan Ari memasukinya lebih dulu. Tak ada siapapun kecuali mereka berempat, sepi, lenggang. Anak itu menerawang ketiganya dengan tatapan kebencian yang tumbuh liar karena prasangka-prasangkanya, salah satunya adalah bayangan penyiksaan selama ini.


“Jadi, siapa yang pertama maju? Atau seperti biasa? Para pecundang yang beraninya main keroyokan?” Ujar Diego memprovokasi setelah ia melonggarkan dasinya sekali lagi. Itu terlihat mirip seperti Ali.


“Benar kan, anak ini sudah tidak punya otak.” Kata Bobby menyerahkan tasnya kepada Ari. “Biar aku yang urus ini anak!” lanjutnya bersiap merenggangkan lengannya seperti atlet profesional.


Tiga detik Diego menunggu lawannya pemanasan, ia hanya melempar sembarangan tasnya.


“Maju!” perintah Bobby, menjentikkan telunjuk kearah Diego.


“Jangan parah-parah, nanti kalau ada apa-apa kita yang repot berurusan dengan guru!” kata Brian menunjukkan deretan giginya. Meremehkan Diego.


Diego melirik ketiganya bergantian dengan mata setenang air, “tidak usah repot-repot menahan diri, nanti aku juga yang bingung harus jawab apa kalau kalian kalah.” Timpalnya.


“Maju, tidak usah banyak bicara!”


Bum!.


Satu tendangan lurus, telak menghantam perut Bobby yang tidak siap dengan perkelahian tak terduga ini. Ia sampai terlempar beberapa meter ke belakang. Anak itu akan lebih jauh jika saja tak menabrak kedua temannya.


Dibalik kakinya yang masih terangkat, Diego berkata, “apa aku bilang, keluarkan semua. Jangan setengah-setengah!”


Sementara Bobby mengaduh kesakitan memegangi perutnya. “Habisi!” menunjuk Diego, bergetar. Ia berusaha bangkit dibantu Brian.


Ari maju, cepat ia masuk ke dalam jangkauan dari Diego. Dengan yakin ia melayangkan sebuah pukulan, dengan sigap pula Diego menghindari serangan itu dengan menepisnya. Satu pukulan lagi datang dari Ari, anak berambut pendek itu.


Kecepatan Diego jelas di atas Ari, lihat saja cara ia membaca gerakan dan menghindari pukulan Ari, licin sekali seperti belut.


Diego mundur selangkah demi selangkah menghindari pukulan mentah bertubi dari yang satu ini. Tak jarang lompatan kecil kearah samping menghindari tendangan Ari.


Begitu nafas Ari terdengar tak teratur, di sana counter Diego terjadi. Satu pukulan agaknya dibuat pelan karena menyasar wajah Ari. Diego tak ingin membuat wajah musuhnya ini babak belur, toh dirinya juga tak pernah pulang dengan babak belur.

__ADS_1


Jab lurus menusuk pertahanan Ari, anak berambut pendek itu tersengal. Hampir saja wajahnya terhantam. Ia mulai membuat jarak, bergerak mundur.


“Kenapa mundur?”


“Heh... Banyak bicara!” sentak Ari.


Diego mulai mempercepat gerakan. Ia melesat seperti peluru dari serdadu. Ari yang tau akan hal itu, tak menyangka, bagian perutnya terbuka, yang pada akhirnya menjadi sasaran empuk dari Diego.


Bugh...


Ari tergeletak. Diego tak lagi memikirkan wajah musuhnya akan jadi apa. Ia akan menyasar bagian itu sekarang.


Beberapa mili detik hampir ia mendapatkan sasaran, Faris menendang punggung Diego. Anak itu terjungkal.


“Nah, sekarang kalian terlihat pengecutnya.” Ia bangkit membersihkan celananya yang agak kotor karena terjungkal tadi. Setelahnya, ia menarik keras dasinya, copot. “Boleh minta waktu sebentar? Panas.” lanjutnya, bermaksud melepas seragam.


Brian melayangkan pukulan, dengan santai Diego menghindar ke kanan, menghindari jangkauan, lalu satu kakinya mengait kaki Brian sampai tersandung.


Bugh, ia injak tubuh, menendang Faris berkali-kali, “Sebentar saja aku bilang!” Diego mengucapkannya dengan rahang masih tertutup, sembari melepas satu demi satu kancing bajunya. Sepertinya ia kesal.


“Hey...” ia menepuk pundak Brian, memastikan ia tak sampai membunuhnya. “Jangan mati! Ini baru mulai!” Diego melempar seragamnya sembarangan. “Nah, ayo lanjut!” katanya melihat Faris ingin menggaet tangan Diego tapi tak kena.


Dua teriakan terdengar dari arah berlawanan, Ari dan Bobby sepertinya telah pulih dalam waktu yang singkat itu. Diego melirik satu demi satu mereka yang bergerak cepat. Dalam pikirannya secara otomatis menyimulasikan apa yang akan diperbuat oleh keduanya.


Diego merangsek ke arah Ari, karena tubuhnya lebih besar dari Bobby, pastinya akan sangat berbahaya jika terkena pukulannya secara telak. Tangan Ari lebih panjang darinya, ia memilih menepis, lantas menyerang balik kearah telinga diikuti dua pukulan berikutnya. Ari merasakan darah mulai mengalir keluar dari hidung, pandangannya mulai berkunang-kunang, setelah itu ia ambruk. Untung saja ia ambruk lebih dulu sebelum pukulan berikutnya tepat sasaran.


Gambaran dirinya yang tertindas melintas, ia langsung memutar tubuhnya dengan beringas. Menendang pelan lutut Bobby. Jangan dengarkan suara pelan seperti retakan itu, karena suara itulah yang membuat keseimbangan Bobby menghilang. Ia hampir ambruk, tapi Diego tak membiarkannya begitu saja. Pukulan keras disertai suara ceprak... melempar Bobby ke belakang.


Bobby tergeletak, Ari juga sama, sedang Brian susah payah berusaha berdiri.


“Jadi mau dilanjut!” Ingatan hari kemarin berkelebatan, amarahnya kian memuncak, matanya menajam, air mukanya mengerikan. “Kalian berdua berlutut! Jangan pura-pura pingsan! Atau aku tambah pukulan buat kalian!” Diego meniru nada bicara Ali.


Suaranya menggema di seluruh ruangan kosong nan luas itu.


Mekanisme purba, agar tubuh terlihat lebih besar jika dilihat oleh pemangsa, alias merinding menjalar ke seluruh tubuh mereka bertiga. Sigap mereka berusaha keras, juga secepat mungkin membentuk barisan.


Bobby meringis kesakitan, Ari menahan pusing yang berkelanjutan, Faris satu-satunya yang tak terkena pukulan dikepala menggigil ketakutan. Satu kesamaan mereka, nafasnya tersengal. Mereka tak mengira bahwa Diego akan sebrutal ini jika melawan.

__ADS_1


“Jadi, apa kalian akan terus menggangguku?”


Mereka bertiga diam, tak berani menatap Diego.


“Kalau ditanya, jawab!” teriak Diego, kesabarannya berkurang. “Setiap hari kalian memalakku?” Diego membentak, tapi yang terdengar ditelinga mereka bertiga adalah pernyataan yang menghasilkan diam seribu bahasa.


“Wajahmu yang paling bersih dari darah, jawab atau aku buat seperti mereka berdua,” kata Diego menaikkan paksa pandangan Brian. Hasilnya, Brian menggeleng dengan cepat. Ia tak tau kalau tatapan anak di depannya benar-benar mengerikan.


“Kalian mau minta maaf?” bisiknya.


“Maafkan kami...”


“Aku maafkan kalau tangan kalian aku patahkan satu.” Sergahnya.


Apa yang akan terjadi jika kalian mendengar hal itu, dan kemungkinan terjadi sangat tinggi karena Diego tak terlihat bercanda. Apa sama seperti mereka bertiga yang secara tidak sadar melebarkan matanya ke titik maksimal.


“Kami memang memalakmu, mengintimidasi, dan mengancam kalau nilaimu lebih besar dari kami akan mematahkan tanganmu. Tapi kami tidak pernah benar-benar memukulmu bukan? Dan... dan mematahkan lengan kami, apa itu ti... tidak berlebihan?” Kata Bobby mulai ketakutan mendengar suaranya yang bergetar hebat.


Mendengar itu, Diego mengepalkan tangannya. Ototnya siap untuk menghantam ketiga anak itu.


“Hahaha...” Tawanya begitu sadis, ia tak percaya jika mereka tak bermaksud menyakitinya. Tapi apa yang dirasakan Diego begitu berbeda. “Tidak benar-benar memukulku kau bilang?”


“Maafkan kami.”


“Baik. Aku pernah merasa ketakutan seperti kalian. Jadi, sebagai gantinya. Setiap hari sampai hari kelulusan kalian harus mengirim sarapan ke rumahku. Dua bungkus, terserah, tapi aku tidak mau itu-itu saja. Harus bervariasi!” Katanya tepat menetap mata Bobby.


“Dua... bungkus?”


“Jangan bertanya dan turuti saja. Kalau satu hari saja tidak aku temukan sarapan itu, ucapkan selamat tinggal pada lengan kalian!”


Ketiganya menelan ludah.


“Kami tidak tau...”


“Alamatnya nanti aku kirimkan!” memotong kalimat Ari, ia menyodorkan ponselnya. Beberapa saat Ari tertegun, tak tau apa maksudnya.


“Masukan nomormu, nanti aku hubungi!” Terlihat wajah mengerikan milik Diego. Sepertinya Ali sudah meracuni Diego dengan menjadikannya psikopat.

__ADS_1


__ADS_2