Hak Menantu Pengangguran : Kitab Pembunuh Naga

Hak Menantu Pengangguran : Kitab Pembunuh Naga
Pengguna Aura


__ADS_3

Robi menyeringai, "sudah lama kita tidak beradu pukulan. Em... Empat tahun yang lalu bukan?"


Karna terdiam. Ia masih berpikir bagaimana cara keluar dari situasi.


"Aku ingin sedikit mengetes hasil latihanku selama ini. Sangat tidak disangka, bos Pemburu Naga ada di depanku."


"Aku akan meladenimu. Tapi lepaskan semua orang yang ada di tempat ini." Karna menggigit rahangnya, siap mengoyak Robi.


"Tergantung situasi. Jika kau menang, aku akan melepas mereka."


Karna mengangguk setuju, "pegang kata-katamu! Aku tidak akan bermain-main lagi. Ini akan menjadi pertarungan terakhir kita!"


"Ush... Jangan terlalu cepat menyimpulkan. Aku memang akan melepas mereka, tapi aku tidak tau dengan anak buahku."


Karna sungguh merasa sangat terbakar. Tubuhnya seketika terasa panas, hingga ia tidak lagi mendengar teriakan dari anggota Geng Badak Batu.


Seketika aula pertemuan dipenuhi dengan hawa membunuh yang mengerikan.


Karna dan Robi akan mulai bertarung dalam pertarungan yang penuh gairah ini. Mereka berdiri di tengah aula dan mirip arena pertarungan jalanan karena dikelilingi banyak orang. Karna bersiap, melakukan pemanasan kecil meski ia tau jika ia menang sekalipun tak akan selamat, yang ada di tempat itu tidak akan hidup. Karna hanya ingin membunuh Robi. Dengan begitu masih ada kesempatan Ali dan yang lain bisa kabur.


Karna siap untuk menunjukkan keahlian bertarung.


Karna adalah seorang petarung berotot yang tangguh, ia mengeluarkan tinju miliknya dengan yakin. Tinju itu yang membuat dirinya pantas menjadi bos Geng Pemburu Naga. Dia percaya bahwa kekuatannya akan menghancurkan lawannya dengan mudah. Di sisi lain, Robi, seorang pria yang sedikit lebih kecil dari Karna, dengan gerakan kaki yang lincah, ia melompat-lompat kecil, siap untuk menghadapi Karna penuh kepercayaan diri.


"Persiapkan dirimu, Robi!" seru Karna sambil mengayunkan tinjunya ke arah Robi.


Namun, dengan kelincahan yang luar biasa, Robi dengan mudah menghindari serangan itu. Dia menggerakkan tubuhnya dengan keanggunan, seolah-olah bermain-main dengan serangan Karna. Dalam sekejap mata, Robi meloncat dan berputar di udara, menghindari tinju yang melintas tepat di depannya.


"Sial!" Batin Karna kesal.

__ADS_1


"Haha... selama empat tahun aku tidak hanya duduk diam, Karna!"


Karna mulai menyerang Robi dengan serangan bertubi-tubi. Karna semakin frustrasi dengan kegagalan-kegagalan serangannya. Dia merasa seperti berusaha menangkap angin dengan tangan kosong. Setiap serangan yang dia lakukan hanya bertemu dengan kekosongan, sementara Robi terus menghindar dengan gerakan yang cepat dan gesit.


Ali melihat pertarungan itu dengan tenang. Tak ada ekspresi yang bisa digambarkan dari wajah Ali.


"Bagaimana kau bisa begitu lincah?" desak Karna, napasnya terengah-engah.


Robi tersenyum dengan tenang. "Kekuatanmu masih sama besarnya seperti dulu, tapi kekuatanmu tidak cukup, Karna. Dalam pertarungan, kecepatan dan ketangkasan sama pentingnya dengan kekuatan fisik."


Karna menggertakkan giginya, menyerahkan diri pada kekesalannya. Dia tidak bisa mengerti bagaimana Robi bisa menghindarinya dengan mudah. Seingatnya dia pernah bertarung dengan Robi, dan hasilnya masih cukup imbang.


Karna tidak ingin menyerah begitu saja. Ia tidak mau Ali berakhir terluka karena kesalahannya tidak membawa pasukan.


Dengan tekad yang kuat, Karna mengayunkan tinjunya sekali lagi, kali ini dengan gerakan yang lebih terarah dan hati-hati. Dia berusaha memprediksi gerakan Robi, berharap bisa mengenainya.


Namun, Robi hanya menggelengkan kepala dengan lembut. "Kamu perlu lebih dari itu, Karna. Pertarungan bukan hanya soal serangan fisik, tetapi juga soal kecepatan."


Anggota geng badak batu bersorak. Sedang yang lain semakin merasa tertekan.


"Terkadang, serangan paling efektif bukanlah yang paling kuat, tetapi yang paling cepat," kata Robi sekali lagi memamerkan kecepatannya.


Karna terus saja batuk, memuntahkan darah semakin banyak tatkala Robi menendang bagian perutnya hingga terlempar.


Robi terus menendang Karna meski karna sudah tidak berdaya.


"Cukup!"


Terdengar teriakan yang menghentikan pertarungan sejenak. Seorang pria berusia 40-an memasuki arena pertarungan dengan penuh keyakinan. Dia terlihat berpengalaman dan memiliki postur yang kuat.

__ADS_1


Semua orang merasa mendapat angin segar. Mereka berharap ketegangan ini akan berakhir, mereka hanya ingin pulang.


"Kau sudah memanggil anak buahmu?" Tanya Vino pada pria itu. Pria itu mengangguk.


Pria itu adalah pengawal pribadi dari Vino. Sudah sejak sepuluh tahun terakhir Vino memperkerjakan pihak militer untuk melindungi serikat perdagangan.


Tanpa ragu, pria itu mulai melancarkan serangan dengan menggunakan tangan dan kakinya. Gerakannya terarah dan cepat, menunjukkan keahlian bertarung yang terlatih. Namun, meski menggunakan beladiri militer, Robi dengan kecepatan dan keluwesan yang luar biasa, tetap dengan mudah menghindari setiap serangan dan bahkan membalasnya dengan serangan balik yang tajam.


Pria itu terkejut dengan ketangkasan Robi. Setiap gerakannya diantisipasi dan dihindari dengan gesit oleh Robi. Meskipun pria tersebut menggunakan teknik beladiri militer yang tangguh, kecepatan dan kelincahan Robi mengungguli setiap serangannya.


"Dengan segala pengalamanmu, kau masih belum cukup untuk mengalahkanku," kata Robi dengan tenang sambil melontarkan serangan balik yang mengenai pria tersebut.


Pria itu mulai kehilangan kendali atas pertarungan. Kecewa dan frustasi, dia semakin memaksakan diri dalam serangan-serangannya. Namun, setiap upayanya hanya bertemu dengan kegagalan saat Robi terus menghindari dan menyerang balik dengan tepat.


Pertarungan berlanjut dengan intensitas yang tinggi, tetapi pada akhirnya, pria itu jatuh ke tanah, terengah-engah dan tak berdaya.


"Ada lagi yang mau mencoba melawanku?" Ucap Robi dengan sombong."


Sedari tadi Ali, telah memperhatikan pertarungan dengan tenang, melihat sesuatu yang menarik tentang Robi. Dia melihat ada sedikit aura yang terpancar dari tubuh Robi, menandakan bahwa Robi bukanlah orang sembarangan dalam hal bertarung. Ini membuat Ali semakin penasaran.


Ali mendekati Robi dengan hati-hati. "Maaf, anggap aku hanya orang lewat yang penasaran. Sungguh, aku tidak bisa menahan rasa ingin tahuku. Aku melihat ada sesuatu yang istimewa pada kemampuan bertarungmu. Apakah kau bisa memberitahuku di mana dirimu berlatih?"


Robi tersenyum sombong dan melihat ke mata Ali. "Tentu, dengan senang aku akan memberi tahumu, calon mayat!” ia tersenyum mengerikan. “Pelatihanku berasal dari seorang guru yang bijaksana dan berpengalaman. Dia adalah seorang pria tua yang memiliki pengetahuan yang mendalam tentang teknik bertarung." Dia menjelaskannya dengan bangga.


Ali semakin tertarik. "Di mana aku bisa menemukan pria tua ini? Aku juga ingin belajar dari kebijaksanaannya." Sungguh baru kali ini Ali bertemu sesama pengguna aura.


"Jangan biarkan dia terbunuh dengan mudah!" Teriak Indra. "Siksa dia, aku akan memberimu bonus!"


Robi memutar kepalanya, menghadap Ali. "Kau dengar? Itu bukan salahku kalau aku menyiksamu."

__ADS_1


Ali membalas ancaman itu dengan senyuman.


__ADS_2