Hak Menantu Pengangguran : Kitab Pembunuh Naga

Hak Menantu Pengangguran : Kitab Pembunuh Naga
Bonus Ali


__ADS_3

Dicky memasuki ruang kerja divisi dengan langkah yang terburu. Dia bisa merasakan atmosfer yang agak tegang dan penasaran tentang apa yang sedang terjadi. Ketika ia mendekati meja Ali, ia melihat tas besar berisi uang di sampingnya.


Dengan penuh keheranan, Dicky menghampiri Ali dan para staf yang berkumpul di sekitar meja tersebut. Ia bertanya dengan rasa ingin tahu, "Ada apa ini? Mengapa kalian berkumpul?"


Para staf yang melihat kedatangan Dicky segera memberi tahu dia tentang kejadian yang baru saja terjadi. Mereka menjelaskan bahwa Ali meletakkan tas besar berisi uang di mejanya dan ketika ditanya, ia menjawab bahwa itu hutang Bob.


"Semua hutang Bob?" Tanya Dicky kepada Ali.


"Lunas, tidak menunggak sepeser pun." Jawab Ali.


"Bagaimana bisa?" Dicky kaget bukan main. Tapi seketika ekspresinya berubah.


Dicky tersenyum, sangat kentara ada sesuatu, "kamu tahu itu semua tidaklah instan seperti yang kamu alami. Kita semua sudah pernah menagihnya, pasti dia sudah sadar dan mau membayar. Kebetulan kamu yang menagihnya."


"Benar!" Semua staf mendesak Ali.


"Jadi berterima kasihlah pada kami. Bagi rata semua bonus yang didapatkan!" Ternyata hal itu yang diincar Dicky.


"Kenapa aku harus membagi bonus pada orang-orang yang tidak mengerjakan pekerjaannya?" Tanya Ali tenang.


Sebenarnya Ali tidak mempermasalahkan jika bonusnya dibagi atau ia tidak mendapat hal apa pun. Masalahnya, itu adalah kerja keras Ali, dan juga uang perusahaan adalah miliknya juga. Tidak mungkin Ali mau berbagi pada orang yang tidak melakukan apa-apa.


"Kamu tahu Ali? Sebenarnya satu minggu lalu, saya menghubungi seorang teman, dan saya juga meminta bantuan pada dirinya untuk membantu menagih hutang Bob. Kamu tidak akan bisa pulang dengan selamat jika bukan karena temanku."


"Benar! Berarti semua hal baik yang kamu dapatkan berasal dari manager." Kata salah satu staf.


"Siapa temanmu?"


"Kamu tidak perlu tahu. Yang pasti dia kenal dengan Karna!" Semua orang terkejut, "kamu tau siapa Karna? Preman paling di segani di wilayah ini!"


Seisi ruangan tercengang mendengar Dicky bercerita, tetapi Ali hanya merasa biasa saja. Malah tidak percaya sama sekali. Baru saja Ali mendengar detak jantung yang manager terdengar aneh. Indikasi berbohong.


"Berarti bonus yang paling besar harusnya diberikan untuk teman manager!" Mereka semua mengangguk, sepakat tanpa persetujuan Ali.


Ali tersenyum dan melihat ke arah Dicky dan mereka semua. Ia menyadari bahwa pembahasan ini semakin meluas, dan dia memutuskan untuk diam tidak meladeni mereka.


"Kalian semua ikut saya nanti sore, kita pergi ke Restoran B5?" Ucap Dicky.


Semua orang terlihat senang mendengar itu. Hanya Ali yang tidak merespons sama sekali. Ia hanya menonton kejadian itu, dengan tenang. Seperti menikmati film di bioskop.

__ADS_1


Dicky bermaksud menggunakan uang bonus dengan dalih merayakan prestasi divisi. Ia akan mencairkan bonus itu, setelahnya ia memberi makan para staf, sisanya akan ia masukkan ke dalam kantungnya sendiri.


Sore hari, mereka semua pergi ke restoran B5. Masing-masing dari mereka membawa mobil. Tidak ada yang mau menawari Ali sebuah tumpangan.


Ali berjalan dengan santai melewati gerbang perusahaan. Mereka yang melewati Ali sebatas membunyikan klakson.


Tin...


"Ali, bergegaslah! Jika tidak semua makanan akan mereka habiskan." Ucap Dicky setelah membuka kaca mobil.


Ali tidak menyangka bahwa akan sangat cepat mengetahui apa yang salah dalam divisi keuangan ini. Ternyata ada biang kerok yang meracuni perusahaan ini.


Ali melihatnya datar. Jika dia tidak ingin tahu apa yang akan Dicky lakukan, Ali tidak akan datang.


"Silakan lebih dulu."


Mobil silver keluaran terbaru itu melaju, meninggalkan Ali yang berjalan di terotoar. Ia hendak mencari taksi, akan tetapi sebuah mobil yang ia kenal mendekat.


"Kak Ali. Kakak sedang ada di situ? Ayo ikut aku!" Ucap Neli.


"Kebetulan sekali." Ia menarik pintu mobil sport benua barat itu, "antarkan aku ke Restoran B5, ya?" Ucapnya memakai sabuk pengaman.


"Neli, kamu harus bergegas. Tolong kakakmu ini, aku ingin menghadiri acara." Ucap Ali mengatupkan telapak tangan.


"Ya, baiklah." Hanya dengan memasukkan gigi satu, mobil itu sudah mencapai 90km/jam. Hanya butuh kurang dari dua detik.


Dalam sekejap mata, mobil sport itu melewati pusat kota dengan kecepatan yang luar biasa. Orang-orang yang berada di trotoar menoleh dengan kagum, melihatnya melesat dengan keanggunan dan kecepatan yang tak tergoyahkan. Pejalan kaki merasakan embusan angin ketika mobil itu melewati mereka, meninggalkan kesan yang tak terlupakan.


Warna mobil sport itu terang dan mencolok. Garis-garis aerodinamis pada bodinya memberikan kesan elegan dan memberikan keuntungan aerodinamika yang signifikan. Roda-roda yang besar dengan velg khusus memberikan tampilan yang sporty dan menambah daya tarik visual mobil tersebut.


Mobil itu melaju lincah meski seorang perempuan yang mengendarainya.


"Aku kira kita punya banyak hutang. Tapi kenapa mobil lama ini masih ada?"


"Kakak kira aku akan menggadaikan atau menjual mobil ini? Tidak mungkin. Aku bisa tidur di mana saja, tapi tidak untuk mengendarai kendaraan apa saja."


'Ouh. Sebaiknya kamu buang sifatmu yang ini."


Mobil itu melewati beberapa mobil dengan mudah.

__ADS_1


"Kenapa? Kakak dari dulu juga tau aku sangat suka mobil satu ini, meski versi terbaru meluncur, aku tetap sayang sama mobil ini.” Neli memperhatikan depan.


"Iya, kakak tau. Sudahlah, lagi pula perusahaan ayah akan bangkit kembali secepatnya."


"Dari mana keyakinan besar itu?" Ucap Neli.


"Tidak akan kakak jelaskan sekarang. Mungkin besok."


Neli berdecak, "ah, kakak!"


Ali dan Neli sudah tiba di Restoran B5. Neli hendak memarkir mobilnya, akan tetapi Ali mencegahnya.


"Kenapa aku tidak boleh ikut kakakku?" Ucap Neli, merajuk.


"Ini sangat penting Neli. Kakak mohon, ya?"


Neli menyerah. Meski seratus tahun, dia percaya tidak akan bisa memenangkan perdebatan dengan Ali.


Ali duduk di dekat pintu masuk, lantas ia memesan sebuah jus dan beberapa kudapan kecil.


Suasana restoran begitu nyaman, dengan lampu hangat yang menyala di sekitar dan aroma makanan yang menggugah selera mengisi udara. Ali memperhatikan orang-orang yang masuk dan keluar, sambil mengamati dengan seksama setiap gerakan di sekitarnya.


Restoran ini memang terkenal dengan hidangan lezatnya, dan Ali tidak sabar untuk mencoba beberapa hidangan yang sudah dia lihat di menu.


Ali melihat keluar jendela, memperhatikan lalu lintas yang sibuk di jalan raya. Waktu terasa berjalan lebih lambat saat dia menunggu kedatangan Dicky dan kawan-kawan.


Waktu terus berlalu, dan Ali tetap setia di tempatnya dan sudah menyantap apa yang ia pesan.


Akhirnya, melalui pintu masuk, dia melihat Dicky dan yang lainnya muncul.


"Bagaimana kamu?" Ucap Dicky tak percaya Ali sudah ada di tempat itu. Bahkan sudah memesan.


Dicky sepertinya tidak suka jika Ali mendahuluinya. "Karena kamu memesan sebelum ada aku. Bayar sendiri pesananmu!" Ucap Dicky.


Dengan tenang Ali menjawab, "tidak masalah."


"Kami tahu tempat ini mahal. Mungkin bisa menghabiskan sepertiga gaji bulanan. Tapi kamu yang baru saja masuk kerja sudah sok-sokan memesan sendiri!" Celetuk salah satu di antara mereka.


"Lupakan, ayo kita cari tempat. Aku tidak sabar melihat bagaimana cara dia akan membayar." Dicky melangkah menjauh dari Ali.

__ADS_1


Lagi-lagi Ali ditinggalkan, meski harusnya dialah orang yang menerima seluruh bonus dari penagihan hutang itu.


__ADS_2