Hak Menantu Pengangguran : Kitab Pembunuh Naga

Hak Menantu Pengangguran : Kitab Pembunuh Naga
Sekolah Diego 2


__ADS_3

Tidak mendengar semua cerita Diego, Ali segera menggendongnya masuk ke kamar mandi.


"Lepaskan aku!"


Ayah Diego melihat adegan itu, dan bertanya. "Ali, apa yang kau lakukan?"


"Tidak apa, paman. Kita hanya perlu mendorongnya sedikit. Percayakan Diego padaku dan kembalilah membuat sesuatu untuk diminum. Aku haus sekali." Ali menunjukkan deretan gigi putihnya. Canggung.


"Terserah, mungkin kau benar." Ia berbalik, "kau mau panas atau dingin?"


"Terserah paman saja." Balas Ali melanjutkan perjalanan.


"Lepaskan!"


"Tidak bisa, aku datang pagi-pagi sekali untuk memaksamu bersekolah. Ini bukan negosiasi!" Setelah mereka sampai di kamar mandi, "lepaskan bajumu!"


Diego bergeming.


"Lepaskan bajumu, ayahmu tidak akan melihatmu. Aku janji."


Anak itu masih bergeming, tidak merespons kata-kata Ali.


Karena tidak sabaran, Ali langsung merobek baju Diego seperti kertas. Mudah sekali bagi Ali.


"Pasti sakit." Ucap Ali melihat begitu banyak memar di tubuh Diego. "


“Aku tidak ingin pergi ke neraka itu! Tidakkah kau mengerti?” ucapnya putus asa.


“Aku mengerti. Aku tahu. Aku juga pernah dalam kondisi tidak berdaya sepertimu. Itu sebabnya, kau harus melawannya.”


“Kau ingin aku dihajar lebih parah lagi?” hampir menangis Diego mengatakannya. “Jangan berpura-pura tahu akan masalahku. Bahkan kau tidak tahu beratnya mengingat semua hal!”


“Aku memang tidak tahu apa-apa. Tapi kau harus sekolah.” Ali menggenggam tangan Diego, penuh kehangatan. “percayalah, aku akan membantumu dengan caraku. Selama kau percaya, harimu akan lebih ringan. Sekarang mandi dan pakai baju sekolahmu. Untuk bajumu itu,” Ali melirik robekan baju, “aku akan menggantinya dengan yang lebih bagus.”


Diego mengenakan seragam sekolahnya dengan rapi, namun serasa terimpit oleh perasaan cemas yang memenuhi hatinya. Setiap langkahnya terasa berat saat ia memasuki gerbang sekolah, dan seolah udara pagi yang dingin dan sepi itu menambah kebekuan di dalamnya. Hembusan angin menusuk tubuhnya, mengirimkan getaran kecil yang membuatnya merinding.

__ADS_1


"Ada apa? Masuk!" Ucap Ali.


"Bisakah kita pergi dari sini?" Balas Diego gemetar.


Ali menatapnya, "tidak bisa. Kau harus sekolah, mencari ilmu sebanyak-banyaknya dan membuat teman yang banyak."


Diego menelan ludah.


"Tunggu apa lagi, ayo masuk. Apa aku perlu menggendongmu lagi?"


Diego merinding, dengan enggan mulai melangkah masuk.


Saat melihat sekeliling, Diego mencoba mencari celah yang aman di antara kerumunan siswa yang berlalu-lalang dengan riuh. Wajah-wajah asing dan akrab berlarian di depan matanya, sementara suara tawa dan percakapan bergabung menjadi hingar-bingar yang semakin membingungkannya. Tetapi di mana pun dia melihat, tatapan tajam dan ejekan sepertinya menghantuinya, menyusup masuk ke dalam hatinya dan mengganggu pikirannya.


Mata Diego melirik ke sekeliling, berharap menemukan seorang teman atau seorang yang bersimpati, tetapi tampaknya semuanya sibuk dengan urusan masing-masing. Dia merasa seperti sebatang pohon kesepian yang terabaikan di tengah hutan. Hati Diego merasa remuk, dan keinginannya untuk melarikan diri semakin kuat.


Dengan hati yang berat, Diego melangkah maju menuju lorong sekolah yang ramai. Suara langkahnya seolah-olah tenggelam dalam kebisingan di sekitarnya. Dia mencoba menjaga kepala tetap tegak, tetapi dalam-dalam dia merasa hancur oleh tekanan sosial yang begitu besar.


"Kau sudah kembali, Diego? Dari mana saja? Kami kesepian."


"Akhirnya isi dompetku akan aman sekarang."


"Hey, cupu! Jangan berani membolos lagi, kami kesusahan karenamu."


"Jangan bicara seperti itu," seseorang merangkul Diego tiba-tiba, "jika dia menangis, ibunya bisa saja mendatangi kita nanti malam. Dalam bentuk hantu!" Ucap Bobby, siswa yang cukup terkenal di sekolah. Terkenal dengan kenakalannya. Semua siswa akan enggan berhadapan dengan dirinya, dan dia juga yang bertanggungjawab dengan semua hal yang dialami Diego.


Ejekan dan celaan mulai terdengar di telinganya. Kata-kata yang menusuk hati, tertawaan mengejek, dan rasa malu melingkupi Diego seperti awan kelabu yang tak terhindarkan. Matanya memandang ke lantai, mencoba menghindari tatapan yang bisa merusaknya lebih jauh. Segala usaha untuk mempertahankan kepercayaan diri dan keberanian menjadi semakin sulit seiring waktu.


Dalam keheningan yang dalam, Diego merasakan dirinya terisolasi, terlempar ke tempat yang gelap dan sepi. Tangannya berkeringat dingin, dan detak jantungnya semakin cepat. Dia berjuang melawan perasaan cemas yang menggelegak, berusaha mencari kekuatan dalam dirinya untuk bertahan.


"Kau tidak lupa dengan traktiran minggu kemarin bukan?" Ucap anak itu meninggalkan Diego.


Tak lama kemudian, bel sekolah berbunyi, mengumumkan dimulainya pelajaran. Diego berjalan dengan hati yang berat menuju mejanya, menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Tetapi saat dia duduk, kursi tempat duduknya penuh dengan coretan yang tidak layak untuk diceritakan. Diego merasa ketegangan dan kecemasan semakin memenuhi ruang di sekitarnya. Dia merasa jantungnya berdebar keras, menangkap setiap tatapan yang ditujukan padanya.


Ketika guru memulai pelajaran, Diego mencoba untuk fokus, tetapi pikirannya terus melayang ke penghinaan dan penyiksaan yang dia alami selama ini. Dia ingin mengungkapkan keberaniannya, tetapi takut menghadapi ejekan dan kekerasan yang lebih buruk.

__ADS_1


Bel istirahat harusnya bel yang ditunggu oleh murid. Tapi tidak bagi Diego, justru ia tidak pernah mengharapkan hal itu terjadi.


"Diego, belikan roti isi!"


Diego merasa jantungnya berdetak kencang saat dia menyadari bahwa dia lupa membawa uang saku. "Maaf, aku lupa membawa uang."


"Apa?"


Seketika Diego diseret ke kamar mandi oleh anak itu. Diego sedikit meronta, tapi semua terasa begitu sulit. Diego tidak punya tenaga maupun keberanian untuk melepaskan diri.


Di kamar mandi, suasana menjadi tegang. Siswa-siswa lain berkumpul di sekitar Diego, mengeluarkan ejekan dan celaan mereka. Raut wajah Diego ketakutan dan keputusasaan saat ia melawan rasa sakit dan malu yang dia rasakan.


"Kau bodoh atau ceroboh?" Bobby marah, mengeratkan gigi-giginya.


Byur.... Wajahnya kini kuyup oleh guyuran salah satu dari mereka.


"Sudah satu minggu kau tidak masuk, apa kau tau kesulitan apa yang kami rasakan?" Bentak Bobby.


Satu siraman kembali mengenai muka Diego. Satu pukulan menghantam tubuhnya. Ia kesakitan, menahan sakit, lalu dipukul kembali, saat ia berteriak, kepalanya langsung ditenggelamkan ke bak mandi. Hanya gelembung-gelembung yang terdengar, meredam jeritan Diego.


Wajahnya terangkat dengan paksaan tenaga Bobby.


"Dengar, aku hanya memiliki 30 ribu. Catat itu dan masukkan ke dalam hutang yang harus kau bayar nanti!" Ancam Bobby, wajahnya penuh dengan intimidasi.


Diego meringis, pasrah mengangguk.


"Hey, tidak adil. Kami juga!"


Lagi-lagi Diego mengiyakan apa yang bukan menjadi tanggung jawabnya.


"Ayo kita ke kantin."


Mereka meninggalkan Diego sendirian. Meringkuk di pojok kamar mandi. Selama istirahat, ia hanya menghabiskan waktu di temani dingin air yang merangkul tubuhnya.


“Semua ini tidak akan terjadi jika Ali tidak memaksaku kembali ke neraka ini. Aku membencinya!” Batin Diego memanas. Seperti semua orang lemah atau dalam keadaan tidak menguntungkan, mereka hanya akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Entah untuk apa.

__ADS_1


__ADS_2