Hak Menantu Pengangguran : Kitab Pembunuh Naga

Hak Menantu Pengangguran : Kitab Pembunuh Naga
Tim Penagih Hutang


__ADS_3

Ali dan Dicky memasuki ruang kerja divisi keuangan yang luas dan modern. Ruangan tersebut dilengkapi dengan meja-meja yang rapi dan terorganisir dengan sempurna, komputer, dan peralatan yang diperlukan. Dinding-dindingnya dihiasi dengan grafik keuangan, dan grafik saham.


Suasana di ruangan itu terasa ganjil di mata Ali. Ada anggota tim keuangan yang sedang sibuk mengutak-atik komputer di meja mereka, ada yang mengobrol bukan tentang pekerjaan, berdiskusi tentang laporan keuangan, dan ada juga yang memeriksa lembaran catatan keuangan. Beberapa dari mereka terlihat tetap berkomunikasi meski melihat manager mereka datang.


"Perhatian semuanya!" Teriak Dicky memecah keramaian. "Perkenalkan diri kamu!" Perintahnya mempersilakan Ali.


Ali masih sibuk menyapu setiap sudut ruang, memperhatikan beberapa grafik keuangan yang ditempel di dinding.


"Ali," ucap Dicky, namun Ali tetap tidak mendengar suaranya. "Ali!"


Pria berambut hitam itu kembali memperhatikan.


"Panggil saja saya Ali. Saya akan membantu kalian mulai hari ini. Jika ada yang ingin ditanyakan, atau memerlukan bantuanku, tentu saja tentang pekerjaan. Saya siap membantu kalian." Ucapnya tenang, penuh kewibawaan.


"Memangnya kamu siapa? Kamu cuma anak baru di sini." Dicky geram dengan perilaku Ali yang semakin angkuh.


Beberapa orang mulai mencibir Ali, "anak baru saja sudah bertingkah. Aku tidak ingin bekerja bersamanya!"


Tentu bisa ditebak, mereka hanya mengikuti Dicky agar mereka terlihat bagus dimatanya. Dasar penjilat!


Ali berdiri dengan santai, tidak menganggap perkataan mereka semua. Melihat itu, Dicky semakin geram.


Dicky mengapalkan tangan di belakang tubuhnya. "Ali, silakan duduk di mana pun kamu suka. Aku ingatkan padamu. Di divisi ini, aku bosnya, kamu pekerja yang siap aku suruh apapun itu."


Beberapa orang merasa puas ketika Ali mendapat teguran pertamanya. Sangat cepat, mungkin bisa dimasukkan dalam buku rekor perusahaan. Sebagai yang tercepat mendapat teguran.


"Rio!" Panggil Dicky.


"Ya, manager Dicky." Ucapnya patuh.


"Kamu ajari pria sombong ini. Jika melakukan kesalahan katakan padaku. Aku akan langsung menendangnya."


Ali tersenyum, menyapa Rio yang jauh diujung ruangan. "Tenang saja manager Dicky. Aku tidak akan membuat kesalahan yang akan merugikan perusahaan. Aku akan sangat berguna untuk mendongkrak keuangan perusahaan yang hampir bangkrut ini."

__ADS_1


Manager itu benar-benar geram, sampai beberapa urat di keningnya terlihat. "Ali, saya harus jujur denganmu. Saya tidak senang dengan perilakumu dari tadi. Kamu bilang akan berkontribusi sangat banyak. Kalau begitu saya akan membantumu!"


Sekali lagi manager itu memanggil Rio.


"Saya serahkan dia padamu. Kalian berdua segera tagih hutang yang sudah menumpuk dua tahun terakhir!"


Rio terkejut bukan main. "Tugas penagihan hutang, manager? Tapi saya tidak memiliki pengalaman dalam hal itu. Saya bahkan masih baru beberapa bulan disini."


"Cukup! Saya akan berkata pada kalian semua, saya benci pembangkang yang tidak menjalankan tugas yang saya berikan! Jika kalian berdua tidak bisa menyelesaikannya, silakan kalian angkat kaki dari perusahaan ini!" Dia memijit matanya, lali berbalik.


Setelah meninggalkan divisi keuangan dengan geram, Dicky kembali ke ruangan manajernya. Wajahnya terlihat tegang dan frustrasi saat ia masuk ke dalam ruangan tersebut.


Semua orang menyadari kemarahan Dicky, tidak berani berkata-kata, hanya menatap Ali tajam.


"Apa salahku?" Tanya Ali acuh.


Ali mulai mendekat ke meja kosong yang ada di samping Rio.


"Tenang saja, aku bisa mengatasinya. Mana datanya!"


Semua orang yang mendengar tertegun dengan Ali, mereka berpikir Ali memiliki muka cukup tebal, dan tidak tahu diri.


Brak.


Tumpukan kertas yang lebih tebal dari lima kamus ada di mejanya.


"Kamu bisa mengatasinya bukan? Saya tidak mau lembur, kamu yang selesaikan!" Ucap Rio.


Ali tersenyum menanggapi hal tersebut. Tidak membuang banyak waktu, ia segera mulai menganalisis.


Ali duduk di mejanya dengan serius, menggenggam tumpukan dokumen yang berisi data hutang yang belum terbayar. Ia menatap dengan saksama setiap lembaran kertas yang ada di hadapannya. Matanya terfokus pada detail-detail penting yang tercatat di dalamnya.


Ali membaca dengan cermat data hutang tersebut, mencatat jumlah hutang, tanggal terakhir ditagih, dan alasan-alasan yang tertera belum terbayar. Ia melipat kening ketika melihat beberapa alasan yang sama muncul berulang kali. Dalam keheningan ruangan, ia mulai memahami permasalahan yang dihadapi oleh para peminjam.

__ADS_1


Mereka menganggap perusahaan ini tidak lebih dari badut yang bisa mereka permainkan. Ali suka permainan ini!


“Hey, Rio! Kita kan satu tim. Nanti siang aku akan mendatangi bengkel Arata. Mereka berhutang cukup banyak. Satu milyar sudah mereka tunggak selama satu tahun!”


“Saya tahu. Tapi jika ingin ke sana, lebih baik kamu sendiri saja yang pergi. Aku tetap di sini.”


Mendengar jawaban itu, Ali bisa menyimpulkan kalau Rio seorang pengecut yang hanya berani bermain di rumahnya.


“Kau tahu Rio? Meski ada laporan kalau penagih kita selalu babak belur sesampainya dari menagih, kita tidak bisa mundur. Ingat! Pekerjaan kita dipertaruhkan.”


Rio naik pitam, mukanya semerah tomat. “Kau yang menyebabkan ini semua! Aku harusnya tidak satu tim denganmu!” ia terengah sehabis mengatakannya.


Ali terkejut dengan reaksi Rio. Itu menyebabkan mereka jadi pusat perhatian seisi divisi.


“Rio, duduk di sebelahku. Tinggalkan pria sombong macam Ali.” Ucap salah satu dari mereka.


Dicky kembali ke ruang divisi keuangan setelah mendengar keributan yang terjadi di sana. Saat ia tiba, suasana ruangan menjadi hening dan tenang karena keberadaannya sebagai manajer keuangan.


Para karyawan yang sebelumnya geram melihat Ali, sekarang melihat Dicky dengan harapan dan kepercayaan. Ekspresi wajah mereka seakan mengisyaratkan agar Dicky mengambil tindakan tegas. Mereka semua tahu bahwa hanya Dicky sosok yang dapat mengatasi masalah dengan tepat.


“Saya memberi kalian berdua waktu satu minggu! Tidak ada kata terlambat! Jika belum ada satu pun yang membayar, kalian berdua akan menanggung konsekuensinya!”


“Aku sudah bilang beberapa kali. Aku akan menyelesaikan ini.” Ali benar-benar yakin bisa membereskan ini semua. Tanpa dipinta sekalipun ia tetap akan menjalankannya, karena uang perusahaan ini adalah uang keluarganya, yang juga termasuk uangnya.


Dicky tersenyum penuh maksud, “kalau kamu tidak bisa mengatasinya, ini akan berakhir jauh lebih buruk dari sekadar dikeluarkan. Kamu pasti dituntut perusahaan karena sangat merugikan. Saya pastikan itu!”


“Ya, ya, ya, terserah.” Ucap Ali dingin.


Tak berapa lama setelah itu, jam menunjukkan waktu istirahat. Ali merasa tidak sabar untuk pergi ke bengkel Arata, tempat yang ingin dia kunjungi. Dalam pikirannya, dia membayangkan bisa meminta hutang dengan damai. Ali cukup malas untuk berurusan dengan yang lemah.


“Aku tawari sekali lagi,” Ali menepuk pundak Rio. “jika kamu tidak ikut, sama artinya kamu makan gaji buta! Aku tidak menyukai itu!”


“Terserah!” Jawab Rio meninggalkan meja.

__ADS_1


__ADS_2