
Ali naik tangga dengan langkah mantap, hatinya dipenuhi dengan tekad yang kuat. Sudah terlalu lama waktu Ali terbuang untuk menagih hutang dari Bob. Suara langkahnya yang berat terdengar sampai ke lantai selanjutnya, tetapi Bob, yang sedang tidur siang, tidak mendengar kedatangan Ali.
Bob, yang sedang nyenyak tertidur di atas sebuah kursi, tidak sadar dengan kedatangan Ali. Wajahnya terbungkus dalam handuk tebal yang menutupi lemak pipinya. Ali mencoba memanggil Bob dengan suara keras, berharap dia akan terbangun. Namun, tidak ada reaksi dari Bob. Ali mulai merasa frustrasi.
Ali memanggil lagi beberapa kali dengan suara lebih keras, berharap Bob akan terbangun kali ini. Namun, hasilnya sama. Rasa frustrasi mulai menguasai Ali, karena hutang itu sudah terlalu lama belum dibayar.
Tanpa pikir panjang, Ali menendang kursi yang dipakai tidur Bob dengan keras. Kursi itu terlempar dari posisinya, yang membuat Bob berdebam.
Ali memandang Bob yang terjatuh dengan pandangan penuh kekesalan. Sudah berapa lama ia ada di bengket tidak jelas ini? Lima menit? Lama sekali menurut Ali.
Sementara itu, Bob yang terkejut dengan insiden tersebut, cepat menyadari bahwa tersangka ada di depannya. Wajahnya memerah karena rasa marah yang meledak-ledak.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Bob dengan sigap berusaha bangkit dari lantai. Dia menyapu tangan pada handuk yang melilit tubuhnya dan berjalan menuju Ali dengan langkah menantang. Wajahnya terlihat serius saat dia berdiri di hadapan Ali.
"Berani-beraninya. Siapa kau!"
"Ali." Jawabnya tanpa rasa takut sedikit pun.
Ali menatap Bob dengan pandangan tajam, masih tersisa rasa ketidakpuasan di hatinya. Ia terlalu banyak membuang waktu!
Ali, tanpa ragu-ragu, menjelaskan identitasnya sebagai perwakilan dari divisi penagihan. Dia mengungkapkan bahwa Bob memiliki hutang yang belum dibayarkan dan jika Bob tidak segera melunasinya, Ali akan melakukan hal yang tidak perlu.
"Hahaha... beraninya cecunguk sepertimu!" Ia melayangkan sebuah pukulan menuju rahang Ali.
Bum!!! Satu pukulan tepat dihidung Bob. Ia terjungkal, meneteskan butiran cairan kental berwarna merah.
Apa yang dilakukan Ali adalah untuk memberikan peringatan yang tegas kepada Bob tentang konsekuensi yang akan dia hadapi jika tidak membayar hutang segera.
"Jangan berdiri!" Perintah Ali dingin.
Bum!!! Bob tidak mengindahkan perintah Ali.
"Tunggu!" Ucap Bob memohon. "Aku bayar! Tunggu sebentar!” Ali tahu Bob berbohong. Ali bisa dengan mudah mendengar detak jantungnya.
__ADS_1
Bob mendekati sebuah brangkas yang terletak di sebelah tempat tidurnya, kemudian membukanya dengan hati-hati. Ali, yang tetap waspada, mengamati setiap gerakan Bob dengan perhatian. Saat brangkas terbuka, Bob meraih sebuah pistol di dalamnya.
"Jika kau tidak ingin mati, berlutut!" Ancam Bob mengarahkan pistol.
Ali masih bersikap tenang, seakan akan tidak ada hal di dunia yang bisa melukainya.
"Hentikan ini semua dan bayar hutangmu!" Kata Ali, tak mengindahkan ancaman Bob. "Jangan menembak, atau kau akan merasakan sesuatu yang lebih mengerikan dari sekadar hidung berdarah!"
"Berlutut!"
Duar!!! Satu tembakan peringatan melesat melewati wajah Ali. Mata pria itu menajam.
"Siapa pun yang ada di bawah, tangkap orang ini!" Jerit Bob, tapi tidak ada sahutan.
"Orang-orang sedang tidur siang. Mereka tidak bisa diganggu sekarang."
"Bajingan!"
Ali cepat tanggap, dengan sigap meraih pistol tersebut sebelum Bob dapat menarik pemicunya. Ali memanfaatkan kecepatan luar biasanya, juga kelengahan Bob. Ia berhasil merebut pistol itu.
"Kau mengancamku dengan mainan ini?" Ali meremas Pistol hingga hancur seperti sebuah biskuit.
Bob terkejut bukan main. Matanya melotot, tak percaya sebuah pistol bisa dihancurkan begitu mudah. Karena hal itu, ia tidak lagi merasa sakit di kaki dan rusuk yang patah karena tendangan bertubi-tubi Ali.
“Bayar!”
"Maafkan aku, Tuan," kata Bob dengan suara rendah. Juga terbatuk, mengeluarkan darah. "Aku tahu aku terlambat membayar hutangku. Aku akan segera menyiapkan uang dan memberikannya padamu." Ia menyeret tubuh gemuknya meraih beberapa gepok uang yang ada di brangkas.
"Jika ini adalah trik lainnya, kau tidak perlu memanggil ambulance, mereka tidak akan sempat!" Ancam Ali.
Kurang dari sepuluh menit Ali keluar dari bengkel itu dengan sebuah tas penuh dengan uang.
****
__ADS_1
Ali duduk di meja kerjanya dengan tas besar berisi uang di sebelahnya. Ruangan divisi keuangan terlihat sibuk dengan aktivitas sehari-hari. Para staf lainnya sibuk menjalankan tugas-tugas mereka, tetapi pandangan mereka tertarik pada tas besar yang ditempatkan oleh Ali di mejanya.
Rasa penasaran mulai menyelimuti para staf yang melihat tas itu. Mereka bertanya-tanya apa isi sebenarnya dari tas tersebut. Semua orang ingin tahu apa yang ada di dalamnya!
Tanpa bisa menahan keingintahuan mereka lagi, salah seorang staf memutuskan untuk mengajukan pertanyaan langsung kepada Ali. Dengan hati-hati dan sedikit gugup, ia bertanya, "Ali, maaf mengganggu, tapi saya penasaran. Apa yang ada di dalam tas besar itu?"
Ali tersenyum, menyadari bahwa orang-orang penasaran dengan isi tasnya. Ia memandang sekeliling ruangan, melihat ekspresi wajah yang penuh penasaran dari rekan-rekannya. Setelah beberapa saat berpikir, Ali memutuskan untuk memberikan jawaban yang cukup mengejutkan.
Dengan nada santai, Ali menjawab, "ini hutang Bob."
Semua orang di ruangan hampir tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Tatapan mereka beralih antara Ali dan tas besar berisi uang di meja. Mereka terkejut dengan jawaban Ali yang seolah-olah menunjukkan bahwa dia mampu menagih hutang tanpa masalah apa pun.
Terdapat kebingungan sejenak di antara para staf. Mereka saling berpandangan dengan keheranan. Bagaimana mungkin seseorang bisa menagih hutang itu tanpa mendapat lecet sedikit pun? Terlebih dilakukan sendirian di waktu jam makan siang.
Beberapa dari mereka mulai merenung dan berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Bagaimana mungkin kamu bisa menagih uang di sarang preman itu?" Tanya Rio penasaran.
"Bukankah aku sudah bilang kepadamu? Ini pekerjaan mudah."
Rio tak bisa berkata-kata, ia mengambil jalan yang salah. Jika ia tahu hal ini begitu mudah, ia pasti ikut dengan Ali menagih hutang.
"Pasti hanya keberuntungan Bob membayarnya. Mungkin dia memang berniat akan membayarnya?" Celetuk salah satu staf.
Mereka serentak sependapat, beranggapan memang itu adalah keberuntungan Ali.
"Kamu hanya beruntung, jangan sombong." Ucap Rio, kembali duduk di mejanya.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu Rio?" Tanya Ali.
Rio tak bisa berkata-kata. Sedari tadi memang ia menghabiskan waktu dengan para senior. Ia tidak melakukan apa pun karena memang divisi keuangan setiap hari kerjanya hanya bergosip. Seperti sekarang, ingin tahu apa yang dibicarakan Ali dan Rio.
“Bukan urusanmu!” Jawabnya ketus.
__ADS_1
“Dan kenapa kalian semua malah ingin tahu pembicaraan tim kami?” ucap Ali melihat satu per satu dari mereka.
“Kamu itu baru beberapa jam bekerja di sini. Kami seniormu. Jangan melarang atau menegur kami, kamu tidak ada hak sedikit pun!”